Klenteng Sam Poo Kong, Napak Tilas Jejak Laksama Cheng Ho di Semarang, Indonesia

Bismillahirohmanirohim,

Hari mulai beranjak sore. Matahari sudah tidak terlalu terasa terik lagi, bahkan cuaca mendadak cenderung mendung. Hanya menyisakan keringat-keringat yang terlanjur membasahi tubuh kami sisa perjalanan siang tadi. Aku keluar dari taksi setelah membayar ongkos perjalanan yang membawa kami dari Lawang Sewu hingga ke Sam Poo Kong. Aku lupa berapa persisnya yang kubayarkan, karena kejadian ini berlangsung di 2014 lalu. Tapi aku masih ingat betapa sejuknya ac taksi itu menghapus jejak-jejak keringat akibat seharian berjalan kaki dari Kota Tua hingga Lawang Sewu.

Sam Poo Kong! Aku menatap pintu masuk yang didominasi warna merah itu. Akhirnya aku berhasil juga menjejakkan kaki di Sam Poo Kong ini. Setelah dua tahun sebelumnya aku gagal mengunjungi tempat ini karena mama lebih ingin mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah.  Aku bergegas membayar tiket masuk sebesar Rp 6.000 untuk 2 orang. Bukan apa-apa, aku terlalu khawatir kalau Klenteng ini akan keburu tutup mengingat hari sudah sore. Tak ada keterangan jam bukanya saat aku masuk ke dalam. Tapi begitu aku melihat tanda “MUSHOLA” tak jauh dari gerbang utama, aku pun mengajak Mas Met untuk menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu sebelum kami melihat-lihat napak tilas Jendral Cheng Ho di Semarang.

“Ngapain harus ke sini sih? Ga bosen apa dari kemarin kita udah udah wisata dari Klenteng ke Klenteng? Ga ada bedanya kalau menurut aku sih,” Mas Met akhirnya mengeluarkan unek-uneknya yang kayanya sudah dia pendam sepanjang perjalanan dari Lawang Sewu menuju Sam Poo Kong, usai shalat.

Aku cuma tersenyum menanggapi protesnya. Iya juga sih, dua hari kemarin kami sudah menghabiskan waktu di Lasem dengan mengunjungi wisata budaya di Lasem. Ada 2 Klenteng yang kami kunjungi saat itu. Ga heran kalau Mas Met merasa bosan lagi-lagi melihat bangunan yang selalu didominasi warna merah.

“Tapi Sam Poo Kong ini punya cerita yang beda loh sama Klenteng yang kita kunjungi di Lasem kemarin,” akhirnya aku menjawab pertanyaan Mas Met, sambil melangkahkan kaki memasuki area klenteng yang seluas 1.020 meter persegi ini.

“Karena Klenteng ini bekas peninggalan Cheng Ho? Kalau cuma itu aja sih aku juga tahu.” Meski pun protes terus dikeluarkan dari mulutnya, tapi kamera nikon kesayangannya pun mulai mengabadikan gambar demi gambar. Aku cuma bisa tersenyum aja kala melihat suamiku seperti ini. Kok bisa mulut protes tapi ngambil gambar mah tetep jalan. Artinya kan dalam hatinya senang, cuma karena capek aja jadi protes.

“Iya, Klenteng Sam Poo Kong ini memang bekas peninggalan dan pendaratan pertamanya  Cheng Ho, seorang Laksama Tiongkok. Tapi menurut cerita, sebenarnya bangunan ini didirikan Jendral Cheng Ho sebagai masjid.”

Mas Met menurunkan kamera dan menatap ke arah aku. Dari tatapannya aku tahu, dia mulai tertarik dan meminta aku menjelaskannya lebih lanjut.


“Kalau soal Cheng Ho itu seorang muslim kamu pasti udah tahu kan ya. Cheng Ho atau Zheng He yang punya nama arab Haji Mahmud Shams dan nama asli Ma He, merupakan seorang kasim muslim kepercayaan Kaisar Yongle di jaman Dinasti Ming. Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke 15. Namanya jelas bisa bersanding dengan penjelajah besar lainnya seperti Bartolemus Dias, Marco Polo, Vasca de Gama, hingga Christopher Colombus. Bahkan katanya kapal laut yang dibawa oleh Cheng Ho ini 7 kali lebih besar dari kapal lautnya Christopher Colombus.

“Ketika sedang melewati laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, sehingga ia memerintahkan untuk menepi di pantai utara Semarang dan berlindung di sebuah goa dan mendirikan masjid. Nah di sini ini tempatnya, di sebelah barat daya kota Semarang.

“Karena bangunan ini memiliki arsitektur bangunan Cina, akhirnya banyak yang menganggap kalau tempat ini adalah Klenteng. Akhirnya pun memang tempat ini dijadikan sebuah Klenteng. Bahkan Laksmana Cheng Ho sendiri dianggap seorang dewa di Klenteng ini.”

“Pantes kalau kamu maksa banget harus ke sini. Ternyata kamu emang udah baca-baca sejarahnya ya.”

Kali ini aku menyengir lebar. Bangga karena kali ini aku sudah tahu lebih dulu dari Mas Met. Padahal suamiku ini senang sekali belajar sejarah. Bahkan pernah sampai bilang pengen kuliah lagi tapi  jurusan sejarah. Usai bercerita kami pun mulai menikmati komplek Sam Poo Kong ini.

Komplek Sam Poo Kong ini selain luas juga terasa nyaman. Ada banyak pohon yang membuat teduh. Bangku-bangku untuk duduk pun tersedia.

Ada beberapa bangunan di Klenteng Sam Poo Kong. Tapi bangunan utama yang paling besarlah yang dulunya merupakan gua batu tempat Laksamana Cheng Ho menjalankan ibadah shalat. Karena sekarang sudah menjadi Klenteng, tentu saja tak sembarang orang yang boleh masuk, hanya yang akan beribadah saja yang boleh masuk ke dalam.  Padahal katanya di dalam terdapat patung  Cheng Ho yang dilapisi emas untuk sembahyang memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Di bangunan ini juga di dindingnya dihiasi relif yang mengisahkan perjalanan Cheng Ho dari daratan Cina sampai ke Jawa.

Aku  harus berpuas diri hanya melihat dari luar saja. Untung saja di depan terdapat patung Laksama Cheng Ho yang besar. Sehingga paling tidak aku bisa menghibur diri dengan berfoto di patung ini.


Di seberang bangunan utama tampak sebuah bangunan yang tak kalah besar. Di depannya terdapat patung dewa-dewa yang tak bisa aku sebutkan namanya meski Mas Met sudah bolak-balik mengabsenkannya pada aku.  Aku pribadi kurang tahu fungsi bangunan ini. Sepertinya semacam aula, karena ketika kami masuk hanya ada ruangan kosong saja. Kami pun bisa leluasa berpoto-poto di sini.

Sam Poo Kong yang berdiri saat ini merupakan hasil dari renovasi besar-besaran yang berlangsung dari tahun 2002 hingga 2005, menjadi salah satu wisata sejarah sekaligus wisata religi yang berada di ibukota Jawa Tengah. Rasanya buat siapa pun yang belum pernah mengunjungi Sam Poo Kong, tak ada salahnya untuk menyempatkan diri berkunjung saat berada di Semarang. Untuk mencapainya, silakan menuju jalan Simongan Raya. Kalau bawa kendaran pribadi, mbak google maps tentunya akan siap membantu memberi arahan jalan.


Posisi matahari semakin rendah. Kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sebenarnya rencana semula kami masih ingin mengunjungi rumah kerabat di Semarang, tapi baik aku dan Mas Met langsung ga pede mengingat kucel dan bau keringatnya kami akibat bertualang seharian. Lebih baik kami bebersih diri dan bersiap untuk kembali ke ibukota dengan kereta api besok pagi.

source: wikipedia
All photo are taken by Metra Ravi

Ketika Cinderella Bersepatu Sneakers

Bismillahirohmanirohim,

Judul : Can I Have My Fairytale at 30?

Penulis : Astria Soedomo

ISBN : 978-602-336-154-0

Penerbit : Diandra Kreatif

Cetakan : 1

Tahun Terbit : 2016

Tebal : 334 halaman

Harga : Rp 65.000

Waktu melihat buku dengan cover dominan pink dengan gambar sepatu kaca ini muncul di timeline facebook, aku langsung penasaran ingin memesan dan membacanya. Kenapa? Di saat orang-orang selalu nasihatin aku dengan kalimat bijak “Don’t judge book by it’s cover“, aku malah selalu memilih buku dari cover dan judul terlebih dahulu sebelum membaca bagian cover belakangnya. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menolak godaan buku pink ini yang sekilas mengingatkan aku akan novel Princess Diaries-nya Meg Cabot.

Alasan lain untuk membeli buku ini tak lain dan tak bukan adalah penulisnya. Buku ini pertama kali aku lihat di timeline seorang teman masa kuliah, yang tak lain adalah penulis dari buku ini sendiri, Astria Soedomo. Melihat luapan kebahagiaan dia akhirnya menerbitkan novel pertamanya, hati kecilku seperti kembali diiingatkan pada sebuah mimpi yang belum terwujud, menulis novel. Tapi ah sudahlah, postingan ini kan bukan tentang aku, mari kita lanjutkan.


Dan yang menjadi alasan terakhir aku akhirnya membeli novel ini adalah karena memang aku selalu rajin membeli buku tapi kemudian lupa untuk membacanya. Selalu ada alasan untuk membaca buku bagi aku, baik itu menambah ilmu, meningkatkan kemampuan menulis, serta memainkan imajinasi.

And the best female jomblo goes to.....

Can I Have My Fairytale at 30? ini menceritakan tentang Eby Sulistomo, seorang produser TV, 30 tahun, single, dan penggemar K-Pop. Cerita di awali ketika Eby dan seorang sahabatnya tengah menonton konser 2PM, salah satu boyband Korea favoritnya, tepat di malam pergantian umurnya yang ke 30.

Pertemuan pertama Eby secara ga sengaja dengan Dio, yang juga seorang produser TV, terjadi ketika salah seorang fans K-Pop merekam gambar Eby untuk tayangan acara konser 2PM. Eby yang takut ketahuan kalau dirinya penggemar K-Pop pun mendatangi Dio, meminta agar cuplikan dirinya jangan ditampilkan. Dio menyanggupi dengan syarat Eby menyerahkan CD 2PM miliknya.

Pertemuan kedua Eby dan Dio berada di stasiun TV tempat Dio bekerja. Cuplikan Eby berada di konser 2PM tetap tayang. Padahal Eby sudah menyerahkan CD 2PM kesayangannya. Eby berusaha meminta tanggungjawab Dio.

Pertemuan Eby dan Dio berikutnya justru terjadi di stasiun TV Eby bekerja. Kali ini Dio menjadi ancaman karena posisi Eby sebagai produser TV acara Danish Show harus berbagi dengan Dio. Demi mengejar rating Eby diminta bekerja sama dengan Dio untuk merombak Danish Show, yang selama ini Eby pegang.

Selain beban menjadi jomblo, beban Eby pun terpaksa bertambah dengan ancaman posisinya sebagai Produser TV akan digeser dan digantikan oleh Dio. Bagaimana mungkin dia bekerja sama dengan Dio kalau diam-diam ada rasa takut kehilangan pekerjaan yang dia sukai ini.

Witing tresno jalaran soko kulino, begitu yang biasa dikatakan oleh orang Jawa. Cinta tumbuh karena terbiasa. Begitu juga mungkin yang dirasakan oleh Eby. Setelah mulai mengenal Dio, bekerja sama dengan Dio, diam-diam muncul perasaan suka terhadap Dio. Masalahnya apakah Dio juga memiliki perasaan yang sama?

Dari awalnya aku mengira ending novel ini akan berakhir bahagia seperti umumnya cerita-cerita cinta.  Tapi ternyata aku salah. Astria menggunakan penutup yang cukup unik untuk mengakhiri novel pertamanya ini. Kisah yang dibikin menggantung mengingatkan aku akan film Ada Apa dengan Cinta belasan tahun yang lalu. Jadi, apakah nantinya Astria pun akan membuat sequel-nya? Ayo, Tria, we need closure to Eby and Dio!

Buku ini memang masuk kategori drama percintaan yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan selera humor yang sukses bikin aku ketawa sendiri. Tapi buku ini bukan cuma mengangkat masalah jomblo dan percintaan semata. Lewat pekerjaan Eby sebagai produser TV, Astria juga mengangkat isu soal acara kebiasaan TV yang saat ini cenderung menyebarkan sesuatu yang belum jelas, ga akurat, dan kemudian masyarakat akan menganggapnya sebagai fakta. Semua semata-mata demi rating yang tinggi. Mereka menganggapnya karena memang masyarakat senang diperlakukan seperti itu. Tapi karakter Eby malah berpikir sebaliknya.

Kita yang ngebentuk apa yang akan masyarakat suka. Kita yang mengontrol rating, bukan rating yang mengontrol kita.

 

So, what do think guys? Do you agree with that? Apakah sudah saatnya acara televisi kita mulai berubah? Kalau aku sih yes.

Kembali ke novel Can I Have My Fairytale at 30? ini, jadi apakah akhirnya Eby berhasil mendapatkan kisah dongengnya meski sudah di usia 30? Apakah pangeran tampan akhirnya datang menjempunya dan membawanya ke istana seperti Cinderella? Well, I’m not allowed to make a spoiler kan ya. Jadi, silakan dibaca aja.

 

Di Balik “Horor”nya Foto Mountain Swing di The Lodge Maribaya

Bismillahirohmanirohim,

“Dian, itu fotonya ngeri banget!”

“Ga takut jatuh apa itu?”

“Itu gimana sih naik ayunannya? Ngeri gitu.”

“Mau….Tapi takut….”

“Ih seru banget!!!”

“Kalau aku naik itu kira-kira berani ga ya, Mbak?”

Itu lah kiranya beberapa komentar saat aku pamer foto lagi naik ayunan di The Lodge Maribaya. Ga heran juga sih sama komentar-komentar itu. Wong aku sendiri membuat komentar serupa ketika Teh Lala, kakak sepupuku memamerkan foto dirinya tengah naik ayunan yang sama. Sejauh mata memangdang hanya hijaunya pohon pinus yang nampak. Gimana ga ngerasa ngeri coba liat poto itu.

Tapi karena foto dari Teh Lala itu jugalah akhirnya aku nekad pengen main ke The Lodge Maribaya juga. Meski hati belum 100% mantap bakal berani naik ayunan itu atau engga.

“Jangan weekend ya, Di. Rame banget kalau akhir pekan. Teteh juga kemarin akhir pekan ke sana ga bisa naik apa-apa akhirnya.”

Iya, Bandung di akhir pekan emang udah barbar banget rasanya. Aku juga cukup tahu untuk ga coba-coba main ke Bandung pas Sabtu-Minggu, apalagi kalau ada tanggal merah. Yang ada nanti manyun bukannya tersenyum. Atau sejauh kamera mengabadikan gambar, yang tampak adalah kepala orang. Tapi buat yang terpaksa berakhir pekan di Bandung ga ada salahnya juga sih. Cuma bagusnya jangan sampai kesiangan.

Aku mencoba mencocokkan jadwal mama kerja di Bandung, biar hemat ongkos sekalian ada kendaraan buat hilir mudik di Bandungnya. Tak lupa aku pun berkoar-koar mengajak beberapa sepupu untuk turut serta ikut main ke The Lodge Maribaya ini. Akhirnya ditentukanlah tanggal 7 Desember 2016 lalu kalau aku akan ke Bandung. Sayangnya justru kedua sepupuku yang lain batal ikut bermain karena kesibukkan dadakan. Jadi tinggal aku dan Bunga-lah yang akan main ke The Lodge Maribaya Rabu itu.

Aku janjian jemput Bunga di kantor ibunya, di pusat kota Bandung, setelah mengantarkan mamaku ke tempat kerjanya. Senyum manis mengembang (karena mau main pastinya) saat aku menyapa kakak mama-ku.

“Duh yang udah siap mau main tuh auranya bahagia ya. Mau main kemana kalian?”

Dan dengan bangganya aku menjawab, “Kita mau ke Maribaya, Wa. Mau ke The Lodge Maribaya.”

“Hah? Jauh banget!!” adalah reaksi spontan yang keluar dari mulut wanita separuh baya itu. Aku bingung ketika dibilang jauh. Karena rasa-rasanya, aku sudah cukup sering juga main ke daerah Lembang dan sekitarnya.

Baca juga: Bergaya Di Antara Bunga-Bunga di Kebun Bunga Begonia – Lembang dan Main ke Maribaya Natural Hot Spring Resort

Tapi ternyata, main ke Maribaya itu memang jauuuuhhhh banget kalau dari pusat kota. Aku lupa kalau biasanya kan aku main-main ke Lembang itu dari rumah nenekku yang memang di daerah Sersan Bajuri. Kalau dari rumah beliau paling hanya sektiar 1 jam perjalanan. Nah karena karena kali ini dari tengah-tengah kota Bandung, dan Bandung sekarang mulai kaya Jakarta macetnya, jadilah total perjalanan kami untuk bisa tiba di The Lodge Maribaya adalah sekitar 2 jam.

Buat yang belum kebayang dimana lokasi The Lodge Maribaya itu, aku kasih banyangan sedikit ya. Kalau dari perempatan Lembang kita ambil yang lurus (kaya ke De Ranch), nah dari situ masih sekitar 10 km lagi. Maribaya Natural Hot Spring masih lewat deh. Karena lokasi The Lodge Maribaya ini sudah masuk Cibodas.

Welcome to The Lodge Maribaya

Aku tiba persis ketika adzan dhuhur berkumandang. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 15.000 per orang kami pun mulai menjelajah. Kamera pun langsung aku keluarkan dari tas dan siap untuk mengabadikan segala momen. Escape to nature benar-benar tagline yang pas buat The Lodge Maribaya ini. Karena sejauh mata memandang aku benar-benar merasa seperti berada di alam bebas. Tempat yang cocok untuk melepas kejenuhan.

Aku dan Bunga langsung menghampiri kasir untuk membeli tiket wahana. Tapi rupanya sedang tutup untuk istirahat. Ternyata wahana bermain ini tutup dari jam 12 hingga jam 1 siang. Tapi  untuk tempat pembelian tiket tutup lebih dahulu, yaitu dari jam 11 siang. Jadi kami pun memutuskan untuk melihat se-horor apa ayunan itu terlebih dahulu, foto-foto, kemudian mencari makan siang, dan menikmati secangkir kopi sambil menanti jam  1.

Ada 3 pilihan tempat makan di Maribaya Lodge ini. Ga perlu takut kelaperan deh pokoknya. Pilihan menunya juga beragam. Suasananya juga berbeda-beda.

Yang pertama yang pasti kelihatan terlebih dahulu ketika menuruni tangga dari pintu masuk adalah warung-warung berupa saung. Sesaat aku seperti tengah berada di desa-desa di daerah Jawa Barat, karena pilihan makanan yang ditawarkan pun seperti baso tahu,siomay, mie kocok, surabi, dan masih banyak lagi.

Tak jauh dari warung-warung tadi, ada Dapur Hawu, sebuah tempat makan dengan menu Sunda. Ternyata ada pilihan tiket masuk yang sudah termasuk paket makan di Dapur Hawu ini. Sayangnya petugas kasir ga menawarkannya ke aku. Dia cuma langsung menyebut nominal Rp 30.000 sebagai tiket masuk bagi kami berdua. Aku tahu soal ini pun ketika tak sengaja mendengar percakapan pengunjung yang lain. Padahal tempatnya sangat menarik, cukup luas, dan memberikan pemandangan ke hutan pinus.

Tempat yang terakhir adalah The Pines, yang mengunsung konsep cafe dengan suasana semi out door. Siang itu setelah makan siang, kami pun ngopi-ngopi cantik sambil menanti jam 1 siang. Aku menikmati green tea latte, dan Bunga memilih menghangatkan diri dengan secangkir cappuccino.

Belum ada jam 1 siang, aku merasa terusik melihat antrian yang cukup ramai di tempat penjualan tiket. Padahal ini bukan hari libur, tapi ternyata The Lodge Maribaya tetap ramai pengunjung. Melihat antrian itu aku pun langsung bergegas untuk ikut mengantri juga, meski loket sebenarnya masih tutup.

Ada 4 wahana yang bisa kita nikmati di sini, yaitu  bamboo sky, sky tree, mountain swing, serta zip bike. Untuk harga per wahana berkisar Rp 10.000 – Rp 15.000 sekali naik. Ini bukan seperti wahana seperti di DUFAN ya. Kayanya akan lebih pas kalau aku menyebutnya wahana instagramable. Karena cuma dibutuhkan sedikit keberanian untuk naik wahana ini dan dijamin akan mendapatkan foto-foto yang sangat layak untuk dipamerkan ke instagram kita. Ga perlu takut kalau merasa kamera kita kurang canggih, karena hampir di setiap wahana tersebut sudah disediakan fotografer yang akan mengabadikan momen kita. Kita hanya perlu membayar Rp 10.000 per satu file fotonya.

Hari itu aku memutuskan untuk menguji nyali cukup dengan mencoba mountain swing dan sky tree saja. Oh iya, mountain swing ini ada 2 pilihan, di atas dan di bawah. Maksudnya adalah, terdapat 2 ayunan dari 2 ketinggian yang berbeda. Aku ngerasa ayunan yang di bawah rasanya lebih tinggi, karenanya aku cukup memilih ayunan di atas. Berbeda dengan sepupuku yang justru penasaran dan memilih untuk mencoba ke duanya.

Time To Action

Sky Tree ini rumah pohon yang mirip dengan yang ada di Kalibiru, Jogja. Cuma dibutuhkan sedikit keahlian naik turun tangga aja untuk berfoto di tempat ini. Antriannya pun rasanya lebih lama, mengingat kemampuan tiap orang naik turun tangga kan berbeda. Belum lagi ada yang teriak-teriak dulu “Ini gimana turunnya! Tolongin dong!” Eh tapi ini bukan aku. Alhamdulillah aku punya sedikit kemampuan memanjat ala monyet sehingga meski pakai gamis rasanya cukup cepat juga naik turun tangga ini.

Nah kalau Mountain Swing kayanya memang menjadi icon dari tempat ini. Foto-foto naik ayunan dengan latar belakang hutan ini rasanya cukup ramai beredar di Instagam. Sekilas kalau lihat pasti pada ngeri. Ketika aku pamer foto ini di sosial media mulai banyak pertanyaan “Itu gimana sih naiknya? Beneran ngeri ga?” So, me reveal the secret. 

Ayunan raksasa ini sebenarnya semacam tuas. Kita ga berayun seperti normalnya ayunan. Kita cuma diminta duduk manis di kursi ayunan yang memang berada di pinggir tebing, kemudian petugasnya akan memutar kita ke arah tebing itu. Dan sang juru foto akan menyuruh kita beraksi di depan kamera. Tentunnya pakai pengaman terlebih dahulu. Biar lebih jelas, ini aku tunjukin foto kondisi di lapangan sebenarnya.


ayunan di atas

 

Belanja Foto

Main di Maribaya Lodge ini terasa ramah dompet di awal tapi berujung boros. Ketika selesai bergaya di beberapa wahana tibalah saatnya menghampiri counter pengambilan foto. Awalnya aku sudah bisik-bisik ke Bunga, nanti ga usah milih foto banyak-banyak. Pilih aja foto yang kiranya bagus. Kami pun mengantri kembali.

Ada dua bagian di tempat pengambilan foto ini. Yang pertama adalah semacam tempat melaporkan diri kalau mau ambil foto. Kita bakal ditanya main wahana apa sajanya, kemudian sang petugas dengan gesit akan memasukkan foto-foto kita ke dalam sebuah telepon pintar milik mereka, dan menyerahkan telepon tersebut ke kita untuk kita pilih mau foto yang mana saja.

Aku pun segera menyingkir dari antrian setelah menerima gadget tersebut. Mencoba memilah-milah foto mana kiranya yang akan kami tebus. Ternyata, ga semudah itu milihnya. Ada banyaaaaak sekali foto yang menurut aku bagus. Duh, gini kali ya kalau difotoin sama tukang poto profesional yang memang sehari-harinya sudah menguasai sudut foto tersebut. Rasanya aku mau borong semua. Aku pun akhirnya dengan ikhlas memilih 10 foto untuk ditebus. Itu cuma dari 2 wahana, gimana kalau aku main lebih banyak lagi coba?

Setelah memutuskan foto-foto mana saja yang akan dipilih, aku pun menghampiri tempat kedua. Dibantu petugasnya dia pun mulai memindahkan file foto ke telepon pintar aku via aplikasi SHAREit. Dalam hitungan detik foto-foto cantik itu pun pindah ke teleponku dan siap dipamerkan di akun media sosial milikku.


sebagian hasil foto yang dipilih


Selain tempat wisata, The Lodge Maribaya ini juga ada tempat camping-nya. Katanya sih konsepnya bukan glamour camping yang sekarang ini lagi naik daun. Toilet dan kamar mandi berada di luar tenda, tapi tidak terlalu jauh. Sementara untuk tendanya sudah ada fasilitas kasur, sleeping bag, bantal, selimut, serta colokan. Sepertinya asik ya? Kapan-kapan pengen coba ajak Mas Met ke sini ah.

Kalau kalian gimana, mau juga coba ke tempat ini? Yuk main ke Lembang. Usahakan datang agak pagi biar ga keburu ramai. Dan jangan lupa untuk jaga kebersihan. Selamat menikmati liburan!

#LawanNeuropati dengan Hidup Sehat Bersama Neurobion Agar Aktifitas Tidak Terganggu

Bismillahirohmanirohim,

Sudah agak lama aku sering merasakan sensasi rasa kebas di telapak tangan dan kaki. Seringkali aku merasakannya ketika bangun tidur. Tak jarang ketika aku hendak ber-wudhu untuk shalat subuh, aku turun dari tempat tidur sambil berteriak “aw! aw!” akibat ada rasa semacam terbakar ketika telapak kaki menyentuk lantai kamar. Tapi biasanya semua rasa itu tak berlangsung lama, ga sampai 30 menit juga sudah hilang. Jadi aku tak pernah menghiraukan.

Beberapa bulan lalu, rasa kebas itu mulai rutin datang lagi. Kebetulan saat aku berobat ke dokter umum aku mencoba mengkonsulasikan gejala ini. Dokter tersebut tidak memberikan diagnosa apa pun, hanya memberikan aku resep berupa Neurobion. Desember lalu, rasa sakit ini bukan cuma sekedar rasa kesemutan ataupun kebas saja. Seluruh tanganku mendadak sakit ketika digerakkan. Kegiatan blogging dan membuat kerajinan tangan pun terpaksa aku hentikan selama seminggu lebih, akibat rasa sakit itu. Jangankan untuk bekerja, mengancingkan lengan baju aja aku terpaksa minta bantuan Mas Met karena jari-jari tangan ga ada yang mau diajak kerja sama untuk bergerak. Sayangnya aku terlalu malas untuk kontrol ke dokter lagi, meski Mas Met sudah beberapa kali mengajak. Aku cuma berinisiatif aja meminum Neurobion kembali sambil berdoa segera diberi kesembuhan.

Baru-baru ini aku mendengar istilah “neuropati“. Hasil bertanya ke mbah google, kata neuropati memiliki arti kerusakan saraf. Neuropati adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi-kondisi yang terkait dengan ganguan fungsi saraf. Saraf yang berada di seluruh tubuh berpotensi mengalami kerusakan akibat penyakit maupun cedera tertentu.  Gejala awal Neuropati umumnya berupa kesemutan, kebas, nyeri seperti terbakar, serta rasa nyeri seperti tertusuk.

Namun apabila Neuropati terus menjadi, hal-hal lain yang bisa dirasa adalah seperti ini:

  • kram
  • lemah otot
  • kesemutan
  • mati rasa  atau kaku otot
  • kebas
  • rasa terbakar
  • kehilangan kontrol pada kantung kemih
  • kulit mengkilap dan rambut rontok
  • kecemasan
  • sering buang air kecil
  • sensitif bila disentuh

Kalau membaca gejala-gejala tersebut, sudah ada beberapa tanda yang aku rasakan, seperti lemah otot, kesemutan, mati rasa, kebas, rasa terbakar, juga rambut rontok (yang selama ini aku pikir akibat kurang rajin melakukan perawatan rambut saja). Tapi tentu saja untuk memastikan apa benar aku mengalami neuropati atau tidaknya aku harus melakukan pemeriksaan ke dokter terlebih dahulu. Biasanya harus dilakukan test darah, X-ray, CT-Scan atau MRI untuk memastikannya. Dokter perlu mengukur kadar besi, vitamin B12, dan faktor-faktor lainnya untuk mengetahui adanya malnutrisi. Ada juga test yang dilakukan khusus untuk melihat fungsi syaraf, salah satunya adalah Elektromiografi (EMG).

Berdasarkan hasil pemeriksaan 5.478 orang di Neuropaty Check Points Neurobion yang diselenggarakan di 8 kota besar di Indonesia 2015 lalu, sekitar 42 persen peserta memiliki resiko terkena neuropati. Bahkan 1 dari 4 orang yang merasakan gejala Neuropati berada di usia 26-30 tahun. Hal ini disebabkan tingginya ativitas dan gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini beresiko neuropati, seperti bermain gadget, mengetik, memasak, mengendarai motor, serta menggunakan sepatu hak tinggi.

Umumnya Neuropati itu disebabkan oleh karena kekurangan vitamin Neuroptik (B1, B6, dan B12), bertambahnya usia sehingga terjadi penurunan fungsi syaraf, serta penderita diabetes. Tapi tanpa disadari, kebiasaan kita sehari-hari juga dapat menyebabkan penyakit saraf serta membuat memperburuk kondisi yang sudah mengalami Neuropati. Ada 4 kebisaan buruk yang baiknya kita hindari untuk mencegah penyakit saraf.

1. Terlalu lama duduk

Duduk yang terlalu lama dapat menyebabkan naiknya gula darah, kompresi saraf, serta menghambat aliran darah. Sayangnya aku ketika sedang asik berkerja justru cenderung duduk dalam waktu lama. Ada tips untuk menghindari kebiasaan ga baik ini yang mungkin kalau kalian juga punya kebiasaan ini bisa diterapkan, yaitu  berdiri dari tempat duduk setiap 25 menit sekali,lakukan stretching, duduk dengan posisi tegak dengan punggung lurus, atau bisa juga berjalan-jalan di sekitar ruangan sejenak. Dengan begitu tubuh kita jadi lebih banyak bergerak.

2. Kurang tidur

Sudah bukan rahasia lagi, kalau kita kurang tidur, umumnya badan akan lebih mudah terserang penyakit. Masalahnya insomnia sepertinya sudah jadi hal yang biasa saat ini. Aku sih sebenarnya ga mengalami susah tidur, tapi demi menanti kekasih pulang kerja mau tak mau aku pun ikutan melek, karena biasanya Mas Met pulang udah cukup malam. Padahal begadang itu ternyata akan mempengaruhi saraf pusat hingga mengakibatkan melemahnya sistem saraf.

3. Konsumsi terlalu banyak gula/pemanis


Makanan dan minuman manis memang rasanya selalu menggoda, mulai dari kopi, teh, kue, sampai coklat. Padahal makanan manis itu dapat memicu meningkatnya glukosa darah yang nantinya membuat sistem saraf terganggu. Neuropati memang berkaitan erat dengan diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat mencederai serat-serat saraf, hingga menyebabkan rasa nyeri,  mati rasa, gangguan pada saluran pencernaan, kemih, pembuluh darah, dan jantung. Satu-satunya cara adalah mulai mengontrol asupan gula ke dalam tubuh. Jangan lupa, gula bukan cuma ada dalam makanan dan minuman manis saja, tapi juga pada nasi.

4. Aktivitas dengan gerakan berulang


Sadar ga sih, kalau kita sering kali melakukan sebuah kegiatan dengan gerakan yang diulang-ulang, seperti memasak, bermain gadget, mengetik, menjahit, serta mengemudikan motor. Nah, aktivitas yang berulang itu sebenarnya cenderung merusak sistem saraf. Gerakan tangan atau kaki yang berulang-ulang ke atas dan ke bawah menyebabkan tendon di pergelangan tangan atau kaki mengalami peradangan yang nantinya menekan saraf di daerah pergelangan tersebut. Jadi, sangat dianjurkan untuk melakukan peregangan setiap 1 hingga 2 jam sekali agar saraf tidak mengalami kekakuan.

Sekilas mungkin menghindari Neuropati itu memang mudah untuk dilakukan. Tapi karena ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari pastinya terasa berat untuk dilakukan. Iya ga sih? Kalau aku sih iya. Ga heran ya kalau akhirnya tangan dan kakiku sering mengalami kesemutan tanpa sebab. Tapi demi kesehatan, tentu saja aku akan terus berusaha untuk #lawanNeuropati. Jadi selain menghentikan kebiasan buruk tadi, apalagi yang harus dilakukan untuk #lawanNeuropati?

Ayo #LawanNeuropati dengan Senam NeuroMove

NeuroMove adalah senam kesehatan saraf yang dikembangkan dari senam aerobik berdurasi sekitar 20 menit. NeuroMove ini diciptakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) serta Merck, sebagai bentuk kepedulian terkait tingginya angka Neuropati.  Selain untuk mencegah Neuropati senam NeuroMove ini juga berguna untuk membuat tubuh menjadi rileks, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kesehatan otot, serta membuat perasaan jadi lebih baik.

NeuroMove ini sebaiknya dilakukan 3 kali dalam seminggu. Gerakannya pun cukup mudah, yang penting kita mau meluangkan waktu 15-17 menit saja. Ga percaya? Coba liat video ini buat ikutan senam NeuroMove

Ayo #lawanNeuropati dengan Neurobion

Waktu aku konsul ke dokter beberapa bulan lalu itu, dokternya cuma memberikan resep Neurobion untuk aku minum. Rupanya Neurobion merupakan kombinasi vitamin neuroptik (B1, B6, dan B12) yang dapat memperbaiki sel saraf tepi penyebab kebas dan kesemutan. Ada dua jenis Neurobion yang beredar di pasaran, yaitu Neurobion putih dan Neurobion Forte.

Yang membedakan dari kedua jenis Neurobion ini adalah Neurobion Putih dikonsumsi untuk mengatasi gejala-gejala ringan, sedangkan untuk Neurobion Forte dikonsumsi untuk mengatasi gejala-gejala yang berat dan sudah mengganggu aktifitas sehari-hari. Mengingat gejala yang sudah aku rasakan kemarin itu benar-benar mengganggu, jadinya aku sekarang mulai mengkonsumsi Neurobion Forte, paling tidak sampai rasa sakitnya benar-benar terasa berkurang jauh baru aku kembali mengkonsumsi Neurobion Putih.

Kenapa aku memilih Neurobion? Bukan semata-mata karena anjuran dokter saja sebenarnya. Tapi Neurobion yang diproduksi oleh Merck, perusahaan farmasi dari Jerman terkemuka dan terpercaya ini cukup mudah untuk didapatkan. Selain di toko obat, di mini market pun bisa kita beli dengan mudahnya, sehingga rasanya sangat praktis ga pakai repot. Neurobion ini juga cukup aman untuk dikonsumsi sehari-hari dan tidak memiliki efek samping yang berat. Selain itu ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari mengkonsumsi Neurobion, seperti:

  1. Mencegah penyakit beri-beri
  2. Meredakan nyeri sendi, memperbaiki sistem sel saraf, dan mencegah kerusakan pada sel saraf
  3. Mencegah dan mengurangi gejala kesemutan
  4. Membantu kebutuhan asupan vitamin B1, B6, dan B12
  5. Mencegah kulit kering dan bersisik
  6. Membantu tubuh memperoleh energi
  7. Membantu meningkatkan proses pencernaan vitamin
  8. Mencegah munculnya kram pada otot
  9. Membantu proses pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia
  10. Mencegah menurunnya imunitas

Rasanya memang tak salah untuk #lawanNeuropati dengan Neurobion. Kalau sudah kena sakit saraf seperti yang aku alami kemarin benar-benar tak nyaman. Sampai sekarang, aku masih kebayang ketika mau wudhu di sebuah mall, aku sampai terpaksa minta bantuan Mas Met untuk membukakan kancing dipergelangan tangan, karena udah coba buka sendiri ga bisa-bisa. Sudah harus menahan sakit, aktifitas terganggu, kita pun jadi bergantung pada orang lain untuk melakukan sesuatu, ga nyaman bukan? Karenanya yuk kita #lawanNeuropati mulai dari sekarang!

Referensi tulisan:

http://sarafsehat.com/

http://sarafsehat.com/lawanneuropati/

 

*** Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #LawanNeuropati Blogging Competition ***

4 Hal yang Dilakukan Saat Mengunjungi Malang Raya


Kota Malang adalah kota kedua terbesar di Jawa Timur setelah Surabaya. Selain itu  kota Malang ini juga merupakan kota tempat Mas Met mengenyam pendidikan tingkat setara SMA-nya. Pastinya dia punya banyak banget kenangan mengenai kota memiliki julukan Kota Apel ini. Tapi ga ada kenangan dia dan kota Malang ini yang berkaitan dengan aku. Sebagai istri posesif  yang menginginkan kenangan indah dimana-mana bersama suami tercinta, aku pun ingin punya kenangan sama Mas Met di kota Malang ini.

Akhir Januari lalu merupakan ulang pernikahan kami (baca juga: A Love Letter on 13th Annyversary) . Apa daya ternyata Lombok masih belum memungkinkan untuk kami kunjungi (baca juga: 6 Tempat Wajib Dikunjungi di Lombok). Sebagai gantinya, Mas Met menawarkan untuk mengunjungi orangtuanya sambil mampir-mampir. Menurut aku inilah hal yang menyenangkan ketika kampung halaman itu jauh, bisa menikmati perjalanan menuju rumah mertua dengan jalan-jalan.

Setelah melewati Solo dan Tawangmangu, akhirnya aku tiba di Batu minggu malam. Masih sekitar jam 8 malam saat itu, tapi rasanya kami sudah terlalu lelah untuk meng-explore kota Batu malam iyu. Akhirnya aku dan Mas Met memutuskan lansung beristirahat di hotel dan baru Seninnya menikmati wisata di kota Batu dan kota Malang.

Ada beberapa tempat wisata yang aku kunjungi selama di Batu dan Malang ini. Ga banyak tempatnya memang, mengingat waktu kami yang terbatas. Yuk disimak tempat-tempat yang aku kunjungi seharian ini di Batu dan Malang.

4 Tempat yang Dikunjungi di Malang Raya

1. Flower Garden Batu

Setelah check out dari hotel tempat kami menginap, pagi tadi kendaraan langsung mengarah ke desa Oro-Oro Ombo dibantu dengan google maps. Tempat yang baru diresmikan pertengahanan Desember 2016 lalu katanya lagi hits saat ini. Sebenarnya tempat ini sekilas mengingatkan aku tentang Maribaya Lodge di Lembang. Kenapa? Karena aktivitas di tempat ini memang judulnya foto-foto di gardu pandang dan ayunan.

Harus aku akui tapi, ayunan di sini lebih mengerikan rasanya apabila dibanding dengan ayunan di Lodge Maribaya. Terbukti aku reflek berteriak kencang saat mas-masnya mulai mengayunkan aku dengan cukup tinggi. Ah, semua itu padahal hanya untuk sebuah foto yang menarik.

2. Museum Angkut

Karena sebelumnya aku sudah pernah ke Jatim Park 1 dan 2, maka yang jadi incaran aku kali ini adalah Museum Angkut. Sejujurnya ini hanya demi kalimat “sudah pernah ke Museum Angkut”. Wisata foto-foto seperti ini jelas bukan pilihan Mas Met. Tapi demi nemenin istrinya, dia pun rela mengeluarkan uang untuk tiket masuk yang sebesar Rp 70.000 (inget, ini weekdays) untuk berselfie ria.

Soal Museum Angkut rasanya aku tak perlu menceritakan lebih banyak lagi, karena pastinya sudah banyak yang punya pengalaman ke tempat ini. Yang pasti, tempat ini sangat luas diisi oleh segala macam jenis kendaraan, kemudian ada penataan kota-kota di dunia untuk kita berfoto-foto.

3. Alun-Alun Batu

Tadinya aku  berencana mengunjungi alun-alun Batu tadi malam ketika aku baru tiba di kota Batu, sambil mencari makan malam. Tapi karena fisik yang sudah terkuras, jadilah kami menyempatkan mengunjungi Alun-Alun Batu sebelum menuju kota Malang. Anggap sajalah ini pamitan.

Alun-alun ini tidak terlalu besar sebenarnya, tapi aku salut pada kota Batu yang mempertahankan imagenya sebagai kota wisata dengan menjadikan tema wisata di alun-alunnya. Lihat saja kincir raksasa dan komedi putar yang terdapat di alun-alun ini. Coba cari di alun-alun kota lain, pasti adanya cuma odong-odong.

4. Bakso President

Kalau kata Mas Met, semua bakso di Malang itu enak. Ga ada yang ga enak. Tapi tetap saja rasanya aku ingin mencicipi Bakso President yang terkenal itu. Masa jauh-jauh ke Malang tapi ga sempat mencicipi wisata kuliner tersohornya.

Warung bakso yang terletak di jalan Batanghari ini berada persis di pinggir rel kereta api. Aku pun sempat merasakan sensasi getaran dari kereta api yang lewat saat sedang menyatap baksonya. Dan terbukti rasanya memang enak. Kok rasanya aku malah pengen minta ke sini lagi sebelum menuju timurnya pulau Jawa lagi.

Benar kan, list ini cuma sedikit sekali. Tapi biar bagaimana pun aku puas kok mengunjungi kota tempat Mas Met sempat mengenyam pendidikan STM-nya dulu. Sebenarnya tadi pagi setelah check out dari hotel aku berencana sarapan di Depot Hok Lay. Tapi kami datang kepagian, belum buka. Terus sempat salah-salah jalan dan ngelewatin Jodipan, kampung warna-warni yang lagi trend di Malang. Lagi-lagi aku cuma sempat lewat, dan lupa menyiapkan kamera. Semoga aja suatu saat nanti aku bisa mengunjungi kota ini lagi. Masih banyak yang ingin aku kunjungi.

tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog tema Malang Raya yang diadakan oleh Malang Citizen

Temukan Cinta dalam Rangkaian Promo Valentine dari A&W Restaurants Indonesia

Bismillahirohmanirohim,

Bulan Februari sudah tiba! Bulan yang disinyalir bulan penuh cinta karena adanya sebuah event yang bertemakan kasih sayang. Sebentar lagi pasti di sana sini akan penuh dengan hiasan-hiasan yang didominasi warna favorit aku, yaitu pink. Nuansa pink-putih ini sudah aku rasakan duluan ketika menghadiri acara dari A&W Restaurans Indonesia di hari terakhir bulan Januari. Acaranya sendiri berlangsung di A&W Restaurants yang berlokasi di Cipete Raya.

A&W Restaurants Indonesia ini sudah ada sejak tahun 1985, dan sampai saat ini sudah memiliki outlet lebih dari 230 restauran di seluruh nusantara. Pilihan menunya sangat beragam, mulai dari ayam yang lezat, burger yang nikmat, kentang goreng keriting dengan rasa istimewa, wafel es krim, dan mug root beer yang menjadi ciri khas A&W, dan juga minuman soda favorit aku.

Agar Hari Kasih Sayang bisa dirayakan secara istimewa bersama pasangan kita, A&W Restaurans Indonesia meluncurkan Best Friends Forever (BFF) Barrel mulai tanggal 1 Februari 2017 bagi A&W lovers di seluruh Indonesia.

Kebetulan di acara peluncuran promosi A&W Restaurants Indonesia edisi valentine kemarin aku berkesempaItan bertemu dengan Ibu Olivia Amelia, selaku Brand Manager A& Restaurants Indonesia. Beliau menjelaskan:

A&W Restaurants sangat menyadari bahwa Hari Kasih Sayang adalah salah satu momen yang sangat ditunggu-tunggu, terutama bagi para anak muda. Untuk itu, kami ingin berpartisipasi merayakan momen ini dengan cara unik kami yaitu meluncurkan paket hemat combo Best Friends Forever (BFF)  Rooty Barrel yang didesain untuk dikonsumsi oleh dua orang. Kami ingin mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi merayakan kesempatan ini bersama dengan sahabat, pasangan, dan keluarga.


Jadi dalam rangka memperingati Hari Kasih Sayang, A&W Restaurans Indonesia menghadirkan dua rangkaian promosi yang bisa kita nikmati, yaitu:

Promo paket combo hemat: Best Friends Forever (BFF) Rooty Barrel (untuk konsumsi berdua) dengan harga mulai dari Rp 64.000 (belum termasuk pajak), yang terdiri dari:

  • 2 Golden Aroma Chicken
  • 2 Perkedel
  • 2 RB (regular)

BFF Rooty Barel ini ditawarkan dengan harga ekonomis mulai dari Rp 64.000 (belum termasuk pajak) dengan berbagai macam makanan untuk dinikmati bersama dengan orang yang kita cintai. Kita akan dapat keuntungan berhemat hingga 27% jika membeli promo ini.

A&W lovers juga bisa mendapatkan promosi BFF Rooty Barrel melaui layanan pesan antar (delivery) 14061 atau menggunakan jasa GO FOOD.

Kalau biasanya merayakanan Hari Kasih Sayang di mall atau tempat makan, kali ini kita bisa merayakan Hari Kasih Sayang dengan cara yang berbeda. Coba ajak pasangan untuk piknik di tempat terbuka sambil menikmati BFF Rooty Barrel ini. Atau untuk suami istri yang kebetulan tak bisa keluar rumah karena tak bisa meninggalkan anak-anak, bisa juga menikmati makanan romantis dengan BFF Rooty Barrel ini di rumah saja.

Tidak hanya itu, A&W Indonesia juga mempersembahkan Valentine Mini Coupon. A&W lovers dapat  menikmati sajian penutup dan minuman khas A&W dengan harga khusus, yaitu diskon 50% untuk setiap pembelian kedua dari Mountain Sundae, Milk Shakes, Tower, dan RB Float.

Kupon ini juga bisa didapatkan secara online di http://awrestaurants.co.id/valentine/.  A&W lovers  cukup men-download saja 4 varian kupon yang berbeda. Save gambar tersebut, dan tunjukan saat pemesanan kedua untuk bisa menikmati diskonnya.


tampilan landing page A&W

Di page tersebut juga terdapat formulir untuk bergabung dengan A&W Rooty Bear Club. Caranya cukup mudah, tinggal isi saja semua data-data yang diminta. Nantinya kita akan  dapat informasi berupa newletter, promosi, juga tester produk baru (untuk yang terpilih) setiap bulannya.

Sekedar mengingatkan, promo valentine ini cuma akan ada selama bulan Februari 2017 ya! Jadi ga usah kelamaan mikir untuk segera memesan A&W.

Membangun Bisnis Wisata Halal,  Sebuah Book Review

Bismillahirohmanirohim,

Cheriatna kecil adalah anak petani yang sederhana, petani bunga yang suka berjualan di Pasar Kembang di Rawabelong, Jakarta. Bangun sebelum subuh untuk membantu ayahnya membereskan bunga anggrek, sesekali juga ikut membatu menyiram tanaman anggrek di kebun belakang rumah.

Semasa kecilnya setiap kali melihat pesawat terbang melintas di atas, ia bertanya-tanya, “Akan kemakah kiranya pesawat itu pergi?”. Ia pun berimajinasi kalau dirinya tengah berada dalam pesawat, membawanya bertualang ke belahan bumi yang lain. Tak jarang imajinasinya itu pun masuk ke alam mimpi, menghiasi bunga tidurnya.

Siapa yang sangka, mimpi itu benar-benar menjadi nyata. Pada tahun 1998, ia pun diberi kesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman di Jepang selama 8 bulan. Semenjak itu ia pun semakin penasaran dengan pesona dunia. Ia pun mulai mendapatkan banyak kesempatan untuk mengunjungi negara-negara lain. Bukan karena ia telah berhasil memiliki banyak uang, tapi ia justru berhasil mendapatkan jalan-jalan secara gratis meski saat itu masih belum memiliki travel dan belum memiliki usaha sendiri.

Pada kata pengantar di buku Laris Manis Bisnis Wisata Halal yang ditulis oleh Cheriatna, yang merupakan seorang praktisi Bisnis Wisata Halal, tertulis “Buku ini dibuat untuk siapa saja yang ingin terjun ke bisnis travel, baik untuk yang ingin fulltime maupun yang hanya sekedar sambilan, baik yang memang punya hobi jalan-jalan atau yang ingin punya income ribuan dollar, baik yang sudah punya modal maupun yang hanya punya modal keinginan untuk merubah arah hidup, baik yang punya waktu sedikit di rumah atau bagi yang punya waktu banyak luang, semua punya kesempatan yang sama untuk berhasil di Industri yang bagi saya traveling adalah sebuah hobi yang dibayar mahal.”

Baru membaca satu paragraf itu saja, aku langsung merasa tertarik. Traveling. Kata itu seperti memiliki magnet yang selalu menarik aku untuk masuk ke dalamnya beberapa tahun terakhir. Dan aku cukup yakin, kalau aku ga sendirian. Beberapa tahun terakhir ini traveling sudah menjadi gaya hidup di Indonesia. Coba lihat saja betapa banyaknya foto-foto yang bertemakan traveling di sosial media.

Pak Cheriatna baru memulai usaha travel di tahun 2010, ketika ada seorang temannya yang mengajak untuk berbisnis jualan paket umroh  dari sebuah travel di Jakarta Selatan.  Di tahun itulah Cheria Travel memulai langkahnya menggeluti dunia travel umroh dan haji. Namun pemerintah mengubah peraturan bahwa travel haji dan umroh harus memiliki izin sebagai penyelenggara dari Departmen Agama. Hal itu membuah Cheria Travel bebenah diri. Tour Wisata Halal dijadikan pilihan untuk melebarkan sayapnya agar terus bisa berada di dunia traveling.

Dalam buku bisnis penulis menjelaskan kenapa harus memilih Tour Wisata Halal. Selain karena keuntungan bisa jalan-jalan gratis dan mendapat penghasilan, penulis juga melihat potensi pasar halal global yang terus meningkat.

“Tahun 2014 saja sudah ada 116 juta yang diperkirakan meningkat hingga 180 juta traveler muslim dunia yang menjalankan wiasta. Sedangkan di Indonesia, wisatawan muslim naik rata-rata 15,5% di 3 tahun terakhir ini”

Dan negara-negara yang menjadi destinasi wisata pun tak selamanya merupakan negara muslim. Hal ini bisa dilihat berdasarkan tabel berikut ini:

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan, trend wisata halal meningkat di tengah masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan wisata halal harus mencakup kriteria tersedianya fasilitas halal, seperti makanan halal,  mudah ditemukannya masjid atau tempat untuk shalat, jam shalat,  tempat wudhu, serta arah kiblat. Selain itu tidak adanya aktivitas non halal seperti perjudian dan minum-minuman yang mengandung alkohol selama perjalanan wisata juda menjadi sorotan dalam wisata halal.

Geliat bisnis wisata halal ini bukan hanya untuk wisata luar negeri saja, tapi juga di dalam negeri. Pemerintah Indonesia sedang melakukan pembenahan dari segala sisi untuk siap menjadi negara terunggul halal di tahun 2020. Keragaman destinasi wisata dan budaya di Indonesia merupakan modal dan peluang besar untuk mewujudkan cita-cita ini.

Seperti di awal sudah disebutkan, buku ini ditujukan diantaranya untuk orang-orang yang mungkin ingin bisa berkeliling dunia secara gratis.  Seringkali rejeki datang tidak terduga, bukan tak mungkin dengan ikut terjun dalam industri bisnis Wisata Halal, kita pun bisa mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan. Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana cara memulai bisnis ini?

Ada beberapa langkah yang dijabarkan dalam buku ini untuk mememulai bisnis wisata halal. Langkah pertama adalah kuatkan azzam. Tekad yang kuat merupakan modal awal, karena ini akan menjadi penyemangat ketika menemui tantangan dalam perjalanan bisnis. Langkah kedua adalah pengalaman vs knowledge. Kemudian tentukan biaya operasional. Bagaimana nantinya bentuk usaha kita. Langkah yang terakhir tentukan pendapat yang diinginkan. Seberapa besar pendapatan yang ingin kita peroleh tentunya harus berbanding lurus dengan seberapa besar usaha yang kita kerahkan.

 

Penulis membocorkan rahasianya dalam mengembangkan bisnis wisata halal ini. Kuncinya terletak pada mendigitalkan bisnis. Dalam buku ini dibahas bagaimana Cheria Travel mempromosikan bisnisnya melalui cara-cara digital seperti Facebook Adds, aplikasi pada Google Play Store, tulisan di blog, dan Google Adwords.

Di buku ini pula dijabarkan komponen-komponen pendukung dalam bisnis wisata halal, seperti Halal Travel Konsorsium (HTK), Asosiasi Travel Halal Indonesia, juga lomba-lomba blog wisata halal.

Total halaman pada buku ini berjumlah 80 lembar. Terkesan terlalu tebal dan membosankan? Justru sebaliknya. Karena bahasa yang digunakan oleh penulis cukup sederhana. Selain menceritakan soal bisnis wisata halal, di buku ini juga terdapat tesmoni dari penikmat wisata halal, testimoni dari yang sudah berkecimpung dalam wisata bisnis halal, foto-foto perjalanan wisata halal yang diadakan oleh Cheria Travel, serta lampiran daftar destinasi wisata halal  andalan Cheria Travel.

Bagi yang berminat ingin membaca buku ini, buku ini bisa di-download secara gratis disini

Pertanyaan terakhir dari aku adalah, sudah siapkah untuk ikut terjun dalam bisnis wisata halal?

 

My Best Traveling Moment 2016 Goes To……..

Bismillahirohmanirohim,

Ga kerasa tahu-tahu sudah dipenghujung Januari aja sekarang. Bulan Januari ini aku agak jenuh akibat kurang piknik. Rasanya aku rindu sekali berada di jalanan luar kota, menghirup polusi truk-truk (namanya juga di jalur Pantura), membaca google map sambil memberi arahan jalan pada pak suami. Hmm…piknik, kapan kau menjemputku ya? Maklumlah, 2016 lalu kan aku lebih fokus ke program hamil sehingga jadi ngurangin agenda traveling.

(Baca juga: Sepenggal Kisah di Akhir Tahun 2016)

Untungnya di Januari ini aku cukup banyak lomba blog yang bertemakan traveling. Lumayan agak menghibur diri meski masih sebatas imajinasi. Aku pun tetap bisa menulis dengan tema traveling.  Nah sekarang, aku malah ingin menulis tentang ‘The Best Traveling Moment 2016’. Kebetulan Indonesia Corners mengajak bikin postingan bersama dengan tema tersebut. Dari pada suntuk mikirin kapan diajak liburan, kan lebih baik aku bernostalgia sambil ikut memeriahkan agenda postingan bersama yang akan berakhir persis sebelum 1 Februari 2017 nanti.

Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, 2016 kemarin aku ga banyak melakukan perjalanan. Total acara jalan-jalan yang aku jalani cuma sejumlah jari dalam satu tanganku. Itu pun semua terbatas pulang ke kota kelahiranku alias Bandung, dan pulang ke rumah mertua di Bondowoso. Memang sih, aku juga sempat dapat rejeki untuk pergi ke Korea Selatan berama teman-teman mama untuk menikmati cherry blossoms. Jadi, yang manakah jadi juara momen terbaik traveling-ku tahun lalu?

For The Best Traveling Moment 2016, nominasinya adalah:

  • Dufan with BFF
  • Sweet escape to Bandung
  • Korea Selatan Bersama Para Dosen
  • Mendadak Ciwidey
  • Menyusuri Pantura Untuk Bertemu Mertua

And the winner is……. *jeng jeng jeng jeeeengggg……*

MENDADAK CIWIDEY!!
Kisah selengkapnya bisa dibaca disini. Karena kalau aku tulis ulang secara detail namanya pemborosan. Di tulisan ini aku cuma mau menceritakan garis besarnya saja berserta alasan kenapa aku memutuskan trip ke Ciwidey ini menjadi the best traveling moments 2016 versi aku.


Jadi jalan-jalan ke Ciwidey di sabtu-minggu bulan Mei 2016 lalu benar-benar acara dadakan yang aku usulkan setelah aku divonis ada polyp yang memenuhi rahimku sehingga harus menjalani operasi kecil. Itu memang bukan operasi pertamaku di 2016. Tapi rasa takut tetap saja rasanya memenuhi isi kepalaku. Di tengah banjir air mata karena khawatir aku pun langsung mengajak Mas Met untuk berakhir pekan di Ciwidey, persis 2 hari sebelum hari dimana aku harus menjalani operasi. Untungnya ajakan itu pun disambut dengan senang hati. Dan berangkatlah kami untuk menikmati camping pertama kami selama 12 tahun menikah.

Memang cuma satu malam aja, dan ga banyak juga yang kami kunjungi. Kami cuma ke Situ Patenggang, kebun teh, dan Kawah Putih, dan tentu saja ke Bumi Perkemahan Ranca Upas, karena ditempat itulah tenda kami didirikan untuk menginap. Tapi semua itu rasanya indah, bisa tertawa lepas bahagia setelah menghabiskan beberapa minggu terakhir dengan perasaan was was.

Yang menjadi alasan kenapa Mendadak Ciwidey ini bisa mengalahkan Korea Selatan Bersama Para Dosen semata-mata karena partner jalan-jalan aku. Biar bagaimana pun buat aku akan lebih membahagiakan pergi bersama orang yang kita sayangi.

It’s not about the destination. But with whom do we share that destination.

Dan dari liburan ini pun aku jadi belajar bahwa tak ada salahnya menjadi orang yang spontaneous. Cukup tiba-tiba kita bilang “Ke sini yuk!” ketika ada waktu senggang dan berangkatlah. Serahkan kisah perjalanan sama rencana Allah.

Semoga saja di 2017 ini aku bisa mengulang kembali berkenala bersama orang-orang  yang aku sayangi. Mari berdoa biar ajakan piknik kembali berdatangan. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Postingan Bersama – The Best Traveling Moment 2016″ oleh Indonesia Corners

 

 

Semakin Kreatif Menjadi Blogger Ditemani ASUSPRO Notebook P2430UA

Bismillahirohmanirohim,

“Dian lo sekarang nge-blog ya? Udah berapa lama jadi blogger, Yan?”

Pertanyaan itu belakangan ini beberapa kali diajukan oleh teman-teman yang kebetulan melihat timeline-ku belakangan ini memang semakin marak dipenuhi oleh hasil tulisanku sendiri di blog. Sebenarnya aku mulai mengenal blog dari sekitar tahun 2005. Waktu itu masih jaman-jamanya Multiply. Kemudian aku pun mencoba WordPress, Blogspot, Tumblr, dan segala yang ber-platform blog pokoknya aku bikin dan isi. Aku memang suka menulis dari kecil. Dulu cita-citaku adalah menjadi penulis atau jurnalis. Tapi isi blog aku jaman dulu itu umumnya hanya sebatas curhat-curhatan, sesekali menulis fiksi. 15 bulan lalu, aku mulai beralih ke blog tld, dengan tujuan untuk lebih serius dalam nge-blog. Sambil berharap bisa dapat penghasilan dari blog.

Ternyata ketika mulai serius nge-blog, aku mulai menyadari yang dibutuhkan bukan cuma tulisan yang menarik. Tapi keseluruhan content  harus menarik. Termasuk dari sisi desain grafis. Bahkan ga jarang yang menuntut blogger juga harus bisa menjadi vlogger, harus bisa meyuguhkan video yang  menarik sebagai pelengkap tulisannya. Laptop jadulku rasanya ga sanggup untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Sepertinya aku butuh laptop dengan prosesor Intel Core i3/Intel i5/Intel i7 agar bisa membuat desain grafis yang lebih profesional lagi.

pic source: ASUS.com

Hasil searching sana sini, akhirnya hati ini jatuh pada ASUSPRO Notebook Seri P2430UA untuk menemani rutinitas blogging sehari-hari. Alasan pertamanya sudah tentu karena prosesor Intel di laptop ini merupakan Intel Core generasi ke 6, yaitu Intel i7, sehingga sudah tentu selain memiliki kinerja yang tinggi, prosesor seri ini juga menawarkan efisiensi energi yang lebih baik dibanding seri sebelumnya. Kita juga bisa menggunakan grafis Nvidia GForce seri 900 yang dibuat berbasis arsitektur Maxwell yang punya performa grafis mumpuni.

Selain itu laptop ASUS ini juga memiliki desain yang simple namun tetap premium dengan adanya tekstur bergaris berbahan aluminium. Kesan yang aku dapatkan ketika melihat ASUSPRO Notebook seri P2430UA ini adalah, elegan. Laptop ini juga dilengkapi display anti-glare pada LCD-nya untuk mencegah refleksi yang tidak diinginkan, ini berguna untuk mengurangi kelelahan pada mata. Hal ini juga berguna untuk mencegah adanya noda sidik jari yang suka bikin ga enak dipandang.

Ukuran laptop ini 14″. Sekilas memang aku merasa kok besar ya? Memang sih sisi positifnya adalah aku bisa lebih puas ketika mengedit foto dan video. Tapi mengingat belakangan ini aku cukup sering traveling dengan membawa laptop, apakah nantinya ga jadi berat? Ternyata dengan ketebalan notebook ini cuma antara 2,3 cm – 2,6 cm, dan tak sampai 2 Kg sudah termasuk baterai 4 – cell, artinya cukup nyaman traveling membawa ASUSPRO Notebook Seri P2340UA.

Dari SD selain memiliki hobi menulis, aku juga suka memoto. Sekarang dengan adanya kamera digital, baik yang berbentuk kamera maupun di telepon genggam, koleksi poto hasil jepretan aku (termasuk foto selfi sih), hampir memakan memori laptop lamaku. Nah ASUSPRO Notebook Seri P2340UA ini memiliki memori utama sekitar 4 GB dan masih 2 slot memori yang tersisa bisa menampung RAM hingga 16 GB, jelas membuat aku tak perlu takut lagi kalau ga bisa menyimpan file-file foto dan video.

                                               USB 2.0                                                                          DVD

VGA                                               HDMI                               USB 3.0

pic source: ASUS.com

Untuk fasilitas input/output laptop ini juga memberikan fitur yang menarik dengan menyediakan 4 buah port USB. Yang bikin lebih menarik, 3 port USB tersebut USB 3.0 yang menawarkan kecepatan transfer data 10 kali lebih cepat dari USB 2.0. Sudah gitu salah satu port USB  3.0-nya mendukung USB charger+ yang memudahkan kita untuk menge-charge gadget kita. Ini kan cocok banget kalau pas lagi di perjalanan kepepet batrai handphone habis.

Kita juga bisa mengunci fungsi USB dengan password loh. Jadi orang lain ga ada yang bisa asal mengambil data dari latop kita. Harddisknya juga dapat dikunci menggunakan password dengan menggunakan fitur HDD user password protection.

Soal baterai ASUSPRO Notebook Seri P2340UA ini juga ga usah khawatir cepat habis. Karena kita bisa mengganti baterai dengan baterai yang waktu menyalanya lebih lama. Bahkan kita juga bisa baterai eksternal sehingga berkekuatan ganda. Duh, ini laptop emang cocok banget buat aku yang suka ngaku-ngaku travel blogger.

Last but not least, yang bikin aku memilih produk ASUS adalah julukan Green Asus-nya. Hal ini karena ASUS memimpin industri dalam hal ramah lingkungan. ASUS memfokuskan menjaga planet dengan produk yang bertanggung jawab. Keren banget kan ya? Pokoknya aku mau menabung demi ASUSPRO Notebook Seri P2340UA ini, biar bisa terus meng- #ekspresikandiri lewat blog bersama #ASUSINTEL. Ga ada salahnya kan seorang blogger pakai laptop profesional?

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Asus yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Asus Indonesia

6 Jenis Singkong Untuk Membuat Keripik Singkong

Bismillahirohmanirohim,


Salah satu makanan khas tradisional Indonesia adalah singkong, ketela pohon atau yang biasa di sebut dengan umbi kayu. Singkong memang bisa di bilang fungsi nya cukup banyak karena singkong ini biasa digunakan untuk mengganti fungsi beras atau nasi sebagai makanan utama atau makanan pokok sebagian orang yang ada di Negara ini.

Kebanyakan para petani memang selain menjual nya, juga mengkonsumsi nya sendiri sebagai makanan mereka, karbohidrat yang ada pada singkong memang bisa membuat orang yang memakan nya merasa kenyang meskipun tidak mengkonsumsi nasi dari beras pada atau lain nya, sehingga tidak heran jika banyak petani yang menanam singkong untuk dijual dan bertahan hidup.

Jenis Singkong yang Enak Untuk Membuat Keripik Singkong:

Singkong Manggu

Singkong manggu adalah singkong yang berasal dari jawa barat dan sudah lama dikenal oleh masyarakat, singkong yang satu ini memiliki diameter sekitar 4 hingga 5 cm. singkong manggu bisa di oleh menjadi berbagai jenis makanan karena rasa nya yang enak dan manis. Singkong manggu ini mudah untuk di tanam, mudah dikupas, renyah dan daging nya juga empuk, dan kadar pati nya juga cukup tinggi.

Singkong Menterga atau Singkong Kuning

Singkong mentega ini juga sering disebut dengan singkong kuning karena warna singkong nya memang lebih kuning di bandingkan dengan yang lain nya, banyak orang yang menyukai singkong mentega karena singkong ini memiliki rasa yang lebih legit dan kenyal di bandingkan singkong lain nya. Keripik singkong yang terbuat dari singkong mentega akan memiliki tampilan yang lebih bagus dan cantik serta menggugah selera. Ketika digunakan untuk membuat tape juga rasa nya lebih enak dan manis.

Singkong Gajah

Singkong gajah berasal dari Kalimantan timur dan memiliki umbi yang besar dengan diameter 8 cm. Singkong ini bisa dikonsumsi karena memiliki rasa yang gurih dan seperti mengandung mentega. Singkong ini biasa nya di jadikan tepung atau bahan baku bioetanol. Singkong gajah ini memang memiliki umbi yang besar, mudah di tanam, bisa langsung dikonsumsi untuk pengganti makanan beras dengan rasa nya yang mirip seperti ketan.

Singkong Putih

Singkong yang satu ini memiliki tekstur yang lebih keras dan memiliki warna yang putih, singkong ini memang cocok untuk di rebus atau di kukus dalam pengolahan nya, seperti dalam membuat kolak singkong, sup singkong dan lain sebagainya.

Singkong Mukibat

Singkong yang satu ini merupakan hasil dari percobaan seseorang yang memadukan antara singkong biasa dengan singkong karet, singkong ini adalah perpaduan okulasi kedua nya, dan ternyata hasil nya cukup bagus karena singkong ini bisa digunakan untuk di ambil pati nya dan di olah menjadi bieotanol.

Singkong Emas

Singkong yang satu ini juga merupakan salah satu dari percobaan antara singkong karet lokal dengan singkong Thailand, umbi yang satu ini pertama kali di kenalkan di daerah Bengkulu dan di tanam oleh petani Bengkulu. Singkong yang satu ini bisa di oleh dengan untuk berbagai jenis makanan seperti tepung terigu, spirtus, bahan pembuatan jamu, minyak kompor hingga pakan ternak.

Demikian informasi tentang 6 jenis singkong untuk membuat keripik singkong yang bisa kami berikan untuk anda, semoga informasi di atas bisa bermanfaat bagi anda yang sedang mencari informasi seputar jenis singkong yang bisa digunakan untuk pembuatan keripik singkong atau pembuatan produk lain nya.