8 Hari Menuju Kematian

dnamoraGA1

Aku mengernyit. Sakit di kepalaku rasanya semakin menjadi. Ku pejamkan mata sejenak, berharap agar sakit kepala ini bisa segera hilang. Satu menit, dua menit, lima menit…. Sakit kepala ini semakin menjadi. Aku menyerah. Kembali ku buka mata. Terkejut aku melihat sosok hitam berdiri di depan ku. Badannya yang tinggi besar membuat bulu kuduk ku berdiri. Tapi anehnya, sakit kepala yang menyerangku tadi kini menghilang.

“Siapa kamu?” ku beranikan diri bertanya dengan suara yang gemetar.

“Aku adalah malaikat pencabut nyawa. Aku datang untuk mengingatkanmu, bahwa waktu mu di dunia ini tinggal 8 hari lagi. Bersiaplah menuju kematian.”

“Mati? Tapi…tapi aku belum siap. Tidak. Jangan dulu,” sahutku panik. Aku takut. Badan ku gemetar hebat. “Ga mau!!” aku berteriak sekencang mungkin. Tangisku pun pecah.

Aku terbangun oleh guncangan halus. Saat ku buka mata, ku lihat suami ku yang tengah membangunkan ku. “Bangun, kamu mimpi buruk ya? Sudah mau subuh, siap-siap shalat yuk.” Aku hanya merespon dengan anggukan. Apakah benar tadi itu hanya mimpi buruk? Bagaimana bila itu bukanlah sekedar mimpi? Bagaimana bila aku memang hanya memiliki 8 hari tersisa di dunia ini? Apa yang harus aku lakukan?

Day 1

Satu hari ini aku hampir ga bisa apa-apa. Aku sibuk menenangkan diri dengan memperbanyak dzikir. Air mata kerap kali mengalir membasahi pipi. Ada rasa ingin berbagi cerita dengans suami, tapi lidah terasa kelu tiap kali ingin berucap. Satu sisi aku takut menghadapi kematian. Tapi di sisi lain aku sadar, kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, cepat atau lambat.

“Tinggal 7 hari lagi,” bisikku. Aku harus memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya. Jika boleh meminta aku ingin meninggalkan dunia ini tanpa memiliki beban apa pun lagi. Aku harus mempersiapkan kematianku. Aku lupa pernah membaca dimana, bahwa sebaiknya bukan “hidup cuma sekali” yang kita ingat, tapi sebaiknya adalah “kematian hanya sekali”.

Day 2

Hari ini aku pamit ke pasar langganan. Biasanya aku membeli kain-kain cantik untuk aku jahit jadi berbagai macam barang. Tapi kali ini kedatangan ku adalah untuk membeli kain kafan dan beberapa batik untuk menutup jenasah ku saat disemayamkan nanti. Bukan batik yang bagus, hanya batik biasa. Aku teringat cerita mama beberapa tahun lalu soal salah satu tetangga kami, yang ketika jenasahnya disemayamkan terpaksa ditutupi oleh batik-batik sutra. Waktu itu aku tengah menemani mama membeli kain batik yang katanya untuk persiapan jika meninggal.

“Bu, tumben beli kain kafan. Ada yang meninggal?” pertanyaan itu dilontarkan oleh pedagang kain langganan ku.

“Buat siap-siap aja, mba. Kita kan ga akan tahu kapan kematian datang. Biar kalau kenapa-napa ga panik.”

Day 3

Aku memeriksa seluruh buku catatanku. Memastikan apakah ada hutang-hutang yang tertunda. Bagaimana penyelesaiannya nanti. Hutang bukan semata-mata dalam bentuk uang. Tapi juga janji. Tak jarang aku lalai dalam menepati janji ku, terutama pada teman-teman yang mengajak bertemu. Mungkin sekarang adalah saatnya aku menepati janji-janji itu. Jangan sampai hutang-hutangku nanti membebaniku saat aku mati nanti.

Aku teringat akan sebuah janji. Aku pernah berjanji untuk membuatkan cupcakes bagi seorang teman. Janji itu belum aku tepati karena aku sibuk mengurusi pindahan rumah hingga akhirnya terlupakan.

“Baiklah, let’s bake a cupcakes.” Menimbang bahan kue, membuat adonan, memanggang, dan akhirnya dihiasi menjadi kue-kue kecil yang cantik. Aku menelepon kurir untuk mengantarkan kue-kue itu ke rumah teman-temanku. Tak lupa aku membuatkan kartu dengan pesan-pesan postif. Jika memang ini minggu terakhirku, aku ingin ini menjadi kenangan bagi mereka.

Day 4

Aku pamit ke Bandung, pulang hari. Aku ingin menghabiskan hari ini bedua bersama mama. Sudah lama kami ga menghabiskan waktu bersama seiring kesibukan mama di Bandung. Tapi aku minta satu hari ini saja agar mama bisa berlibur sejenak. Kami mencicipi aneka kuliner khas Bandung, duduk-duduk di kedai kopi sambil bercerita akan apa saja kecuali kematian. Tak lupa kami pun berfoto sebanyak mungkin. Hingga tak terasa malam tiba, aku pun harus kembali ke Jakarta.

Day 5

Badanku sedikit capek setelah kemarin satu harian menghabiskan waktu berdua mama. Hari ini aku hanya ingin menikmati waktu sendiri, menyelesaikan tulisan-tulisan yang terpending. Selama ini aku selalu bermimpi menjadi penulis, tapi terlalu pengecut untuk menyelesaikan satu cerita saja. Now, there are no more time. Aku hanya ingin sebuah tulisan atas nama ku bisa tercetak.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

(Pramoedya Ananta Toer)

Day 6

Pagi-pagi sekali aku sudah mencari tiket pesawat tujuan Surabaya – Jakarta. Aku ingin mertua ku ada di sini seandainya aku beneran akan meninggal beberapa hari lagi. Aku ga mau membayangkan kala berita duka itu terdengar mertua ku masih berada di Bondowoso dan panik memikirkan harus ke Jakarta secepatnya. Jadi pagi itu aku mengabarkan mertua mengundang mereka untuk ke Jakarta, besok.

Sisa hari ini aku gunakan untuk beres-beres barang-barangku. Baju, sepatu, tas, koleksi buku bacaanku, aku ga akan membutuhkan semua itu nantinya. Jadi lebih baik aku berikan pada yang membutuhkannya.

Day 7

Mertua ku datang. Mama papa pun aku minta untuk berada di Jakarta. Alasannya kapan lagi ketemu besan. Hari ini aku hanya ingin menikmati berdiam diri di rumah bersama orang-orang yang aku sayangin. Suami, mama, papa, ibu, juga bapak. Sakit kepala yang aku rasakan saat malam saat pria yang mengaku malaikat kematian itu datang, kini mulai terasa lagi. Apakah aku akan mati akibat sakit kepala? Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya.

Day 8

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng¬† yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”, Katakanlah:”Semuanya (datang) dari sisi Allah”, maka mengapa orang orang itu (orang munafik) hampir hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS. An Nisaa’ : 78)

This is it. Hari terakhir aku. Sejak pagi aku sudah melakukan ritual mandi besar. Aku berusaha untuk terus menjaga wudhu. Siap ga siap, aku harus siap. Aku cuma berdoa semoga aku mati dalam keadaan husnul khotimah.

“Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway”

5 Comments

  1. Sukaaaak…
    Tema sih boleh menyeramkan yaaa…tulisanmu sm skali ga serem jdnya. Aku sih nikmatin dari hari ke hari nya.
    Aku jd mikir, kematian itu sebenernya mending kita tau atau ngga yah???#eaaah pancingan buat tulisan berikutnya haha

    • Nikmatin? AKu nulisnya merinding disko loh, Cha. Rasanya kaya beneran bakal mati minggu depan. Kayanya mendingan ga tau deh kapan kematian itu datang. Tapi mulai sekarang, be prepare!! Dari sisi bekal agama dan buat yang ditinggalin :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *