Menemukan Teluk Cinta di Pantai Payangan, Jember

2016-07-26 06.46.11 1

Assalamu’alaikum,

Ketika pulang ke rumah mertua Desember lalu dengan bawa kendaraan sendiri, aku berakhir dengan ngambek. Bukan, bukan ngambek karena capek, bukan juga karena ga betah. Tapi ngambek karena ga diajak jalan-jalan sama pak suami tercinta setelah beberapa hari berada di rumah mertua.

Ok, silahkan bilang aku egois, ngambekan, manja, ga pengertian, atau apa pun yang mungkin terlintas dibenak kalian. Bukannya aku ga mau mengerti kalau Mas Met pun pastinya lelah setelah mengemudi selama 3 hari. Tapi biar gimana pun, ada rasa sayang udah jauh-jauh hampir di ujungnya Jawa Timur, bawa kendaraan sendiri dan gagal mengunjungi tempat-tempat wisata yang selama ini list-nya selalu bermain dipikiran aku. 

Tapi aku mesti bersyukur punya suami yang sangat mengerti kecintaan istrinya buat pergi bermain. Akhirnya hari terakhir kami di Bondowoso, Mas Met pun mengajak aku untuk mengunjungi Pantai Payangan yang terletak di selatan kota Jember. Senyum di bibir aku pun kembali merekah. Meski diingatkan kalau cuaca lagi ga menentu, aku tak peduli. Hanya doa dalam hati tak berhenti aku ucapkan agar langit biru menanti kami saat tiba di pantai nanti.

Kurang lebih hanya sekitar satu jam, mobil putih kami melaju dari pusat kota Bondowoso menuju  kecamatan Ambulu di Jember. Ini bukan pertama kalinya aku main-main ke kecamatan yang terkenal dengan beberapa pantai cantiknya. Beberapa tahun lalu aku dan Mas Met pernah menyambangi Pantai Papuma, hanya waktu itu kami mencarter angkutan umum dari kota Jember. 

Ada 3 pantai di kecamatan Ambulu ini, Pantai Papuma yang terkenal akan pasir putihnya, Watu Ulo, serta Pantai Payangan yang katanya pantai nelayan tapi belakangan ini terkenal dengan Teluk Cinta-nya. Mas Met sempat protes ketika aku bersikeras ingin mengunjungi Pantai Payangan ini, “Cuma pantai nelayan gitu, mau liat apa?” begitu komentarnya. Tapi begitu aku ceritakan soal Teluk Cinta ini akhirnya dia bersedia mengantarkan aku dan Tika, sepupunya yang masih duduk di bangku SMA kelas 3 untuk menuntaskan rasa penasaran kami akan pantai yang lagi nge-hits ini.

Mobil melaju mengikuti instruksi google map. Papan petunjuk di jalan hanya sampai menunjukan arah ke Watu Ulo dan Papuma saja. Tapi tak usah khawatir. Ikuti saja jalan lurus sampai habis. Karena Pantai Payangan berada persis di ujung jalan. Ketika jalanan aspal mulai hilang dan berganti dengan jalan bebatuan terlihat beberapa kendaraan tengah terparkit di sisi kiri  dan kanan jalan. Tak lama seorang tukang parkir pun menghampiri  kami, kami diminta mengikuti arahannya agar parkir tak jauh dari sisi pantai.

2016-07-26 03.54.09 1

2016-07-26 04.21.14 1

2016-07-26 06.30.25 1

2016-07-26 04.21.06 1

Memasuki area pantai aku terpesona akan panjangnya garis pantai yang nampak di depan mata. Langit biru dipadankan dengan pasir hitam yang eksotis bersanding dengan hijaunya rerumputan tak jauh dari pinggir pantai  memanjakan kamera aku untuk tak berhenti membidik ke segala arah. Belum lagi bukit-bukit berwarna coklat kehitaman serta bukit-bukit yang hijau berjejer ikut memanggil. Tak jauh dari tepi pantai kapal-kapal nelayan yang didominasi warna kuning dan biru ikut menjadi daya tarik pantai ini. Air laut disini memang tak tampak berwarna biru menggoda, melainkan cenderung kecoklatan. Tapi itu bukan karena kotor, melainkan karena memang warna pasir yang hitam. Pantai Payangan ini terdapat 4 pantai, 3 bukit, dan 1 pulau. Aku pun mulai bertanya-tanya yang manakah Teluk Love yang menjadi ikon pantai ini.

2016-07-26 06.30.27 1

Karena hari sudah hampir sore, aku khawatir kami tak memiliki waktu banyak untuk menjelajahi pantai ini satu persatu. Akhirnya aku pun bertanya pada nelayan setempat perihal lokasi Teluk Love. Nelayan tersebut menunjuk pada sebuah bukit di paling ujung sambil berkata, “Harus naik ke bukit itu.”

2016-07-26 06.34.12 1

2016-07-26 06.34.10 1

Bukit Seroyo atau biasa disebut Bukit Domba disebut-sebut sebagai bukit termegah dan bersejarah di Pantai Payangan ini. Kami hanya diminta membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang. Setelah membayar tiket untuk 3 orang, aku tak segera naik ke atas bukit melainkan duduk sejenak di warung yang terletak persis setelah gerbang masuk Bukit Seroyo sambil membeli minuman penyejuk dahaga. Aku menyapa seorang pemuda yang tampaknya baru turun dari bukit itu. Dia bercerita tentang pemandangan cantik yang dia lihat dari atas sana. Tak lama seorang bapak-bapak yang nampaknya penjaga di bukit ini bergabung dengan kami dan ikut bercerita. Beliau bercerita kalau di bukit ini adalah bukit paling aman, karena katanya ada kamera CCTV di dalam bukit. Di bukit ini juga tersedia camping ground bagi yang ingin berkemah.

2016-07-26 06.34.21 1

2016-07-26 06.34.17 1

2016-07-26 06.34.15 1

Tak sabar, akhirnya aku pun mulai menaiki bukit ini. Akses naik tak terlalu sulit, karena sudah dibikin membentuk anak tangga. Tapi meski begitu, aku terpaksa berhenti beberapa kali akibat rasa lelah sebelum tiba di puncak bukit. Mas Met bolak balik ngeledekin aku karena sebelumnya aku justru minta mengunju Kawah Ijen. Iya, aku memang payah dalam menanjak, tapi kalau sekedar jalan datar aku jarang menemui masalah.

2016-07-26 06.39.25 1

2016-07-26 06.39.27 1

2016-07-26 06.41.07 1

2016-07-26 06.41.12 1

2016-07-26 06.41.21 1

2016-07-26 06.41.31 1

Ada dua tempat cantik untuk menikmati laut dari atas bukit ini. Jalan Cinta (jangan tanya aku kenapa namanya jalan Cinta, karena ga ada penjelasannya sama sekali) juga pucak yang sesuai namanya merupakan titik tertinggi di bukit ini. Puncak ini disebut-sebut sebagai tempat paling bagus untuk melihat sunset dan sunrise. Sayang aku tak berkesmpatan melihat keduanya. Lagi asik duduk manis memandangi lautan lepas, aku dikejutkan oleh botol minum yang dilempar begitu saja tak jauh dari tempat aku duduk. Aku melotot ingin menegur oknum yang membuat sampah sembarangan ini. Sayang begitu aku menoleh orang tersebut telah hilang. Padahal tak jauh juga dari tempat aku duduk terdapat tempat sampah. Siapa pun yang mengelola bukit ini telah cukup hebat menyediakan tong sampah agar lingkungan bersih tetap terpelihara. Sayang masih ada segelintir orang yang tak mau menjaga kebersihan.

2016-07-26 06.43.55 1

Puas menikmati pemandangan, bermain gelembung sabun agar bisa difoto keren, aku masih punya satu pertanyaan, “Teluk Love-nya dimana? Masa dari tadi kita cuma main tebak-tebakan aja yang disebut Teluk Love yang mana.” Iya, sepanjang jalan naik kami bertiga saling tunjung menunjuk tiap menemukan cekungan dan bilang itu Teluk Love. Tapi rasanya kok ga ada yang mirip sama gambar di instagram yang pernah aku lihat. Akhirnya aku menoleh mencari jalan pulang. Justru saat itu aku menemukan papan penunjuk arah keluar, juga arah menuju goa Jepang, dan Teluk Love. Owalah, ternyata masih belum sampai di Teluk Love-nya.

2016-07-26 06.43.57 1

2016-07-26 06.45.21 1

Kami melewati mampir ke Goa Jepang. Seperti biasa, aku kurang terlalu tertarik untuk masuk ke dalam goa. Belum-belum aku dibayangi rasa takut akan ruangan sempit dan gelap. Jadi demi keamanan, lebih baik kami terus turun menuju arah keluar dan kalau beruntung akan bertemu dengan Teluk Love (aku mulai bosan main tebak-tebak yang mana Teluk Love).

2016-07-26 06.46.07 1

Rupanya Teluk Love berada di arah keluar. Akhirnya aku berhasil menemukan juga teluk yang membentuk cekungan hati ini. Sebenarnya bisa saja dari arah masuk kami langsung ke sisi satunya, tapi tentunya justru akan berdesakan dengan orang-orang yang akan turun dari atas bukit. Mengganggu kenyaman orang lain pastinya. Seperti yang aku rasakan sendiri, karena kerap kali berpapasan dengan orang yang lawan arah. Please don’t do this.  Sebenarnya Teluk Love ini ga benar-benar berbentuk hati. Hanya 2 cekungan yang menyerupai atas bentuk hati. Warna airnya paduan coklat dan biru, ini dikarenakan adanya muara yang tak jauh dari situ.

Berikut ini beberapa tips kalau ingin mengunjungi Bukit Domba:

  1. Siapkan fisik. Bukit ini memang tidak terlalu tinggi dan tidak telalu luas. Tapi tetap saja dibutuhkan fisik yang kuat untuk mengelilinginya.
  2. Lebih baik bawa air minum daripada minum sebelum mendaki. Jangan kaya aku yang akhirnya jadi ngos-ngosan akibat kebanyakan minum sebelum naik.
  3. Alas kaki yang nyaman. Ini juga salahnya aku. Alih-alih pakai sepatu aku malah ganti ke sendal jepit. Padahal pakai kaos kaki. Akhirnya sering kali merosot.
  4. Jaga kebersihan dan ikuti arah jalan. Ini penting banget!!! Kalau bukan  kita yang memelihara alam ini lantas siapa yang akan menjaga kelestarian alam? Plus jangan sampai kita membuat pengunjung lain merasa tidak nyaman.

Soal kamera CCTV yang katanya ada di atas bukit, jujur aku sama Mas Met ga berhasil menemukannya. Entah ini baru wacana atau memang benar sudah terpasang dan tersembunyi dengan baik. Selain Bukit Suroyo, ada juga Bukit Samboja. Katanya pemandangan dari bukit ini pun tak kalah bagusnya. Dan terdapat makam sepasang raja dan ratu dari Ponorogo di bukit ini. Tarif yang diminta sedikit lebih murah, yaitu Rp 2.000 untuk naik ke Bukit Suroyo.

Hari semakin sore. Cacing-cacing di perut memanggil dengan lantang, minta diisi. Kami memang belum sempat makan siang tadi itu. Tadinya aku ingin mengajak makan di kota Jember. Tapi karena sudah terlalu lapar, akhirnya kami memilih jajan bakso di salah satu warung makan yang berjejer tak jauh dari pantai sebelum kembali pulang ke Bondowoso.

Salam dari langit biru,

dianravi

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *