Agar Tulisan Kita Tidak Melanggar UU ITE, Perhatikan 5 Point Berikut Ini

Bismillahirohmanirohim,

Beberapa hari terakhir ini dunia perblogan kembali digegerkan oleh sebuah kasus seorang bloger yang dikenakan pasal pencemaran nama baik akibat melanggar UU ITE lewat tulisan curhatannya terhadap developer apartmen tempat ia tinggal. Apakah curhat kini menjadi sesuatu yang salah? Padahal kalau dibaca sepertinya tidak ada yang salah dalam tulisan si bloger itu. Tulisan tersebut murni pengalaman dia pribadi. Tulisan di blog itu pun merupakan upaya terakhir dia dalam menyampaikan keluhannya seputar permasalahan di tempat tinggalnya.

Sejak pertama kali diluncurkannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronika 2008 lalu, yang kemudian diperbaharui pada 2016, memang membuat kita jadi semakin berhati-hati saat menulis di media sosial, apa pun bentuknya. Di satu sisi kita memang membutuhkan peraturan terkait penggunaan di media sosial yang belakangan ini banyak menyebarkan berita palsu yang bikin resah, tapi di sisi lain, haruskah kita jadi berhenti curhat lantaran takut terciduk UU ITE? Apakah menceritakan pengalaman nyata terkait suatu produk atau perusahaan sebuah kesalahan?

Jaman dulu ketika kita ingin mengeluhkan perihal suatu produk atau perusahaan kita melakukannya di surat pembaca. Tapi ketika jaman semakin canggih kita justru dilarang untuk menuliskannya dalam bentuk media sosial. Sepertinya agak janggal. Seolah kita berjalan mundur melawan kemajuan teknologi.

Pagi ini aku seperti diingatkan kembali solusi untuk menuliskan pengalaman tak menyenangkan kita terkait suatu produk atau suatu perusahaan di media sosial, lewat sebuah tayangan talk show di sebuah stasiun TV. Sebenarnya tidak ada yang salah apabila kita ingin curhat di media sosial. Hanya pilihan katanyalah yang harus kita perhatikan baik-baik.

Lewat tulisan ini aku ingin berbagi sedikit tips yang semoga akan membuat curhatan kita tidak melanggar hukum. Ada beberapa point, yang mungkin sebenarnya kita semua sudah tahu. Hanya barangkali saja lupa.

5 Hal yang Harus Diingat Saat Menulis

1. Tanya ke diri sendiri terlebih dahulu, apakah yang akan kita tulis layak untuk dikonsumsi publik

Pernah enggak kita mengetik di media sosial, namum akhirnya urung untuk menyebarkannya? Aku termasuk yang cukup sering. Mungkin itu juga sebabnya belakangan ini aku agak kurang menuliskan status di media sosial. Gimana mau nulis status kalau tiap habis ngetik kemudian dihapus.

Eh tapi ini bukan berarti kita enggak boleh menuliskan status di media sosial ataupun di blog ya. Boleh kok. Sah-sah saja. Media sosialkan ada untuk berbagi, untuk pamer. Tapi pastikan dulu apakah hal itu layak dikonsumsi publik. Apakah akan menyinggung perasaan orang tertentu atau tidak.

2. Jujur

Tulislah sesuai fakta yang ada. Tidak perlu dilebih-lebihkan, apalagi kalau sampai memasukkan data yang tidak benar-benar kita alami. Ingat, kita bukan sedang nulis fiksi. Kalau menulis fiksi sih enggak akan jadi masalah mau mengembangkan tulisan itu jadi seperti apa. Sekali lagi, pastikan kebenaran data yang sedang kita tulis.

3. Gunakan kalimat yang tidak provokatif

Tidak perlu menulis kalimat yang provokatif, seperti perusahaan ini bohong atau produk ini jelek dan semacamnya. Biarlah pembaca yang menilainya sendiri lewat penjabaran yang kita tulis. Pemilihan kata yang tepat sangat penting dalam hal ini.

4. Jangan menulis saat sedang emosi

Namanya juga sedang emosi, kadang kita cenderung tidak berpikir rasional. Usahakan untuk tidak menulis saat kita masih dipenuhi emosi. Redakan dulu amarah kita. Minum air putih atau hirup udara segar. Tapi kadang kita justru ingin menulis saat sedang dipenuhi emosi, bukan apa-apa, menulis pun bisa meredakan emosi, tulis saja, asalkan setelah itu….

5. Jangan terburu-buru mempublish tulisan

Endapkan dulu draft tulisan kita. Tunggu sampai emosi kita reda, dan baca ulang. Baca beberapa kali, perhatikan pilihan kata yang kita gunakanan. Setelah pasti tidak ada yang provokatif, baru boleh dipublish dan dishare.

Cukup ya 5 point saja. Atau ada yang mau menambahkan? Coba kita bahas dikolom komentar. Ceritakan pendapat kalian, bagaimana sebaiknya agar kita menulis tanpa rasa takut-takut lagi. Bukankah katanya sharing is caring? Kita kan menulis dan berbagi lewat tulsian karena peduli ya? Agar tidak ada yang menjadi korban berikutnya.

#BloggerMuslimahIndonesia #ODOP #ODOP8

18 Comments

    • Sepertinya sih enggak. Tapi ada salah satu pasal yang kalau diminta kita menghapus postingan tertentu harus dihapus.

  1. Nulis buat curhat enggak masalah, tapi paling di draft saja. Sekarang saya sih lebih berhati-hati apalagi saat lagi panas-panasnya. Nunggu adem dulu

  2. Aku kalau sebel tetep nulis tapi nama disamarkan atau gak nyebut merk

    Semoga kita jauh2 dr pelanggaran UU ITE ini ya

  3. Kalau saya cenderung ke sindiran. Kalau logika pembaca nyampe, pasti paham.
    Ngak terlalu fulgar/ membabi buta, tapi bner² ngenaa… Hehehe….

  4. Cukup dgn sindiran sj, sya rasa pembaca juga paham hehehe….
    Kritik terlalu fullgar kbayakan malah baper, pdh niatnya kan spy yg di kritik bisa lebih bagus lagi kan….
    Entahhlahhh ,

  5. Jangan menulis saat sedang emosi
    Kalau aku malah demennya nulis saat emosi mbak, buat numpahin marah dan uneg2. Tapi nulis di word atau note doang. Sampai lega. Bukan buat diposting ke medsos atau blog dan sejenisnya. Kalau udah keluar semua, rasanya lega. Diamkan dulu tulisannya, kalau sempat akan ku edit dengan bahasa yang lebih enak baru dipost. Kalau udah benar2 lega gak ada yang mengganjal lagi, biasanya draft kuhapus saja sekalian hehe

  6. Aku tuh…cenderung nulis yang baik-baiknya aja dari suatu produk. Karena kepribadian aku yang damai, gak mau cari masalah, kali yaa…?

    Jadi beberapa brand kalo baca tulisan blogger lain selalu ada masukan, di tulisan aku mah….dijamin engga ada.

    Apalagi review buku tuuh…
    Rawan banget nulisnya.

    Kadang kita mudah mengkritik, tapi gak bisa kasih solusi.

    ((ini komentar untuk kasus yang berbeda dengan Acho yaa))

    • Aku juga sama sih, Mbak. Cenderung nulis yang aman-aman saja.
      Tapi kalau soal kasu Acho ya akan beda sih pasti. Sudah mentok. Mungkin kalau aku jadi dia juga akan sama.

  7. setuju… tp dr sisi perusahaan jg harus adil donk. kalau pelayanannya baik ga mgkn kan ada komplain. klo kata suami sih buat apa ada kritik dan saran

  8. Bener tuh, jgn esmosi pas nulis & ngga usah buru2 publish tulisan.. baca2 lagi dulu, simpen dulu di draft, pas esmosi dah turun, mungkin itu tulisan ngga jadi dipublish atau di edit biar lebih informatif & bermanfaat tanpa menyinggung siapa pun 🙂

  9. Keren nih, thank ya, Teh tipsnya..
    Kadang aku suka nulis disaat emosi, tapi gak di publis, aku save di draft, kalau sudah gak emosi, besoknya aku baca ulang lagi..he

  10. terimakasih infonya mbak, sya kalau nulis ya kyak curhat, tapi kalau lg sebel ya sering ngomel-ngomel di sosmed, hahaha

  11. Nice post mba, salam kenal yaa.. saya juga kalau mau nulis status mikirnya lama dulu, kira2 gmn yaa, coz klo udh socmed bakal banyak pnafsiran jadi kudu hati2.

  12. Haaii mbak Dian..noted banget nich..kalo saya ga berani ngamuk-ngamuk ditulisan..takut berujung “sue” haduh gawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *