My IVF Story

My IVF Story - Dianravi.com

pic source: Unsplash

Bismillahirohmanirohim,

Ga kerasa bulan September sudah mau berlalu aja. Bulan ini rasanya menjadi bulan yang terpanjang aku jalani di 2016 ini. Penuh was-was, khawatir, juga air mata haru. Semua perasaan rasanya berkecamuk menjadi satu. Entah kenapa rasanya aku ingin menumpahkan kisah September 2016-ku ini dalam sebuah tulisan curhat sederhana.

Bagi yang sudah membaca postinganku sebelumnya yang berjudul So, Tell Your About Dream (baca disini), tentunya tahu kalau aku tengah menjalani program bayi tabung. Iya, soal itulah yang akan aku ceritakan di postingan kali ini. Shall, we?

2016-09-30 03.18.08 1


Semacam patung kesuburan, di National Folk Museum Korea


Tepat 1 September 2016 aku kembali mengunjungi Rumah Sakit Abdi Waluyo. Kali ini aku bertemu dengan dr Sigit Pramono. Hari itu juga bertepatan dengan hari kedua siklus mensku. Rasa tak nyaman selalu muncul dalam diriku tiap kali harus melakukan TransV saat masih haid. But, we do need to do this, right? dr Sigit menyambutku ramah seperti biasanya. Tampak jelas kalau aku gugup menjalani program bayi tabung kedua ini. Bolak-balik beliau menyemangatiku dan berkata: “Kali ini akan berhasil, Nyonya. Santai aja.” Obat-obatan pun aku tebus untuk satu minggu, yaitu obat-obatan  untuk mengatur haid-ku dan menstimulus sel telur, serta tak lupa vitamin untuk mas Met selama satu bulan. Satu hal yang yang aku suka berobat di RS Abdi Waluyo ini adalah lebih menggunakan obat-obat minuman daripada suntik yang berimbas menjadi penghematan di harga.

Kontrol kedua dilakukan 8 September 2016. Kali ini aku dikembalikan pada dr Karel Manary yang memang dokter utamaku dari 4 tahun lalu, selain karena faktor dr Sigit sedang ke luar negeri. “Hai, Opa!” Seperti biasa dr Karel akan menyapaku dengan sapaan “Apa yang tengah terjadi minggu ini, Nyonya?” sebelum mempersilahkan aku untuk TransV.  Lagi-lagi aku dikasih resep obat untuk menstimulasi sel telur selama seminggu serta fertitest untuk minggu depan.

15 Sepetember 2016. Aku mulai harap-harap cemas. Aku tahu seandainya semuanya bagus, maka langkah menuju Ovum Pick Up sudah di depan mata. Tapi alih-alih maju untuk OPU, aku kembali dijadwalkan untuk bertemu 2 hari kemudian. 8 buah folikel sudah nampak, tapi dari sisi ukuran masih belum siap untuk diambil. Dosis obat pun dilipat gandakan.

Kembali kontrol malam minggu, 17 September 2016. Lagi-lagi aku masih belum bisa maju untuk OPU. Aku mulai gelisah dan sedih. Ini bukan pertama kalinya sel telur aku mandek. Dulu pun aku pernah mengalami hal ini sehingga batal untuk inseminasi. Tapi opa masih meminta balik hari seninnya di RS Bunda tempat ia praktek kalau Senin.

Senin sore, 19 September 2016,  aku berusaha mengikhlaskan seandainya semua ini gagal dan aku harus memulai dari awal lagi. Ga mudah pasti. Tapi toh semua bukan kuasa aku. Mas Met sepertinya juga bisa merasakan kegelisahan aku. Bolak-balik dia menyemangatiku via wasssap selama aku menanti di ruang tunggu untuk dipanggil. Akhirnya aku dipanggil. TransV kali ini rasanya lama dan agak sakit. Beberapa kali Opa meminta maaf atas ketidaknyamanan aku. It’s ok, Opa. Semua itu sepadan dengan hasilnya. Alhamdulillah dari 8 sel telur, 6 diantaranya sudah bisa diambil. Malam itu serta dini hari aku harus melakukan suntik pemecah sel telur.

Keluar dari ruang praktek aku menghubungi mas Met untuk minta dijemput. Aku harus langsung ke RS Abdi Waluyo, membeli obat dan suntik. Ada 3 tahapan suntikan yang mesti aku jalani. Yang pertama Cetrotide yang dilakukan malam itu juga. Yang berikutnya adalah Ovidrel dan Gonal F yang harus dilakukan jam 3.00 dan 3.05 dini hari. Pas tahu harus suntik jam 3 dini hari, udah sempat waswas kalau mas Met bakal cemberut. Tapi ternyata, dia malah menganggapinya santai. Dan kami pun tiba di rumah sakit jam 2.30 alias kecepetan banget. hahahaha

2016-09-30 03.20.03 1


menanti panggilan untuk disuntik


2016-09-30 03.20.04 1


Look at the time, 3.08 and we’re ready to go home


20 September 2016, lagi-lagi aku kembali ke RS Abdi Waluyo sekitar pukul 10.00 pagi. Kali ini untuk mengambil darah. Darah yang diambil ini nantinya dijadikan mediasi untuk tempat hidup sel telur dan sperma yang akan disatukan. Begitu hasil darah dinyatakan bagus, aku pun bisa segera pulang ke rumah dan menyiapkan diri untuk OPU besoknya.

Langit mendadak gelap ketika dalam perjalanan menuju RS Abdi Waluyo, rabu, 21 September 2016 lalu. Jadwal OPU aku jam 14.00, aku diminta untuk tiba paling tidak pukul 13.00. Begitu aku tiba di rumah sakit, hujan turun dengan derasnya. Aku pun berusaha untuk tak putus berdoa sambil sesekali mencoba mengobrol dengan 2 orang bapak-bapak yang tengah menanti istrinya selesai dari proses OPU. Iya, hari itu ada 3 pasien, dan aku adalah pasien terakhir.

dr Sigit sempat menggodai aku ketika aku berada di kamar persisapan OPU, “Nyonya ga mandi ya, makanya ujan deres,” kelakarnya. Ihh dok, ini justru berkah dari Allah karena salah satu doa yang dikabulkan Allah adalah doa ketika hujan turun. Kamar persisapan OPU ini ada 2 ranjang. 1 ranjang untuk aku, satu lagi diisi oleh seorang wanita yang baru saja siuman dari obat bius. Kami pun sempat mengobrol sejenak, meski aku lupa menanyakan namanya.

Aku diminta pindah ke ruang OPU. Ruangan kali ini sudah berbeda dari 4 tahun lalu. Sekarang Abdi Waluyo punya semacam klinik fertilitas khusus. Keren deh rasanya. Aku diminta tiduran disebuah dipan. Kedua kakiku diangkat, paha diikat, infus dipasang, monitor jantung dipasang, dan oksigen pun mulai dipasang. Tak lama obat bius pun dimasukan ke dalam tubuhku dan mata langsung terasa berat. Aku sempat tersadar ketika masih tindakan. Reflek aku pun memanggil suster semampu yang aku bisa, obat bius kembali diberikan. Dan ketika aku sadar dr Sigit tengah membersihkan bagian bawahku. dr Karel yang berada di belakangnya memberitahu aku kalau aku dapat 3 sel telur. Rupanya dari 6 folikel, hanya 3 yang ada isinya. Aku tahu aku harus bersyukur. Tapi diam-diam aku pun sempat merasa sedih karena hanya mendapati 3 sel telur, padahal belum tentu semua berhasil terbuahi. Proses berikutnya adalah tugas mas Met. Aku sudah berpesan sebelumnya, “Give me a super spem yah, Yank.”

Kamis dari pagi aku dilandai kecemasan tinggi. Hp aku bawa kemana pun. Tahu kalau sewaktu-waktu aku akan menerima kabar dari klinik. Tapi justru ketika akhirnya batre habis dan hp terpaksa aku tinggalkan di ruang TV sms itu datang. Alhamdulillah, 3 sel telur sudah terbuahi menjadi 3 embrio. Air mata haru langsung membasahi kedua pipiku. Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih atas rejeki dari Mu. Sore itu aku kembali menemui dr Karel untuk pemerikasan sebelum ET serta menebus resep yang harus aku minum di hari embrio transfer. Hari Jumat, lagi-lagi kabar bahagia datang lewat sms. Ketiga embrio sudah mengalami pembelahan menjadi 4,3,2.

Sabtu pagi lagi-lagi aku gelisah.  Tampak luar aku berusaha sok tenang menyibukan diri dengan bergaya bersih-bersih rumah. Tapi yang ada aku malah membuat rumah lebih berantakan dari biasanya. Hahahaha Jadwal ET jam 16.00. Aku baru akan minum obat jam 12.00. Aku pikir aku punya banyak waktu. Tapi ternyata setelah minum obat aku justru dilanda rasa kantuk luar biasa hingga akhirnya ketiduran sampai jam 13.30.

Lagi-lagi cuaca gelap yang menemani aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Dan rasanya kali ini terasa lebih mencekam. Aku lupa hari Sabtu di Jakarta suka susah diprediksi. Pihak rumah sakit sampai menelepon aku perihal soal ET hari itu karena sampai jam 15.00 aku masih belum tiba. Mas Met mukanya udah panik. Aku sebisa mungkin sok tenang.

Sampai di rumah sakit aku pun dikasih pilihan tipe kamar untuk satu malam. Sayangnya kamar yang berdua sudah penuh. Akhirnya  aku memutuskan untuk memilih tipe kamar utama. Diajak lihat kamarnya, ga besar tapi cukuplah untuk kami. Mas Met sudah bekal sleeping bag dan bantal. Selanjutnya aku pun beristirahat sampai tiba saatnya untuk proses ET.

Kalau dengar cerita sepupuku yang bayi tabung di BIC, proses ET itu proses yang menakjubkan. Kita tahu ada embrio ada yang akan segera masuk dalam rahim kita, kita tahu kita akan segera menjadi ibu. Aku selalu merinding membayangkan proses itu. Tak sabar rasanya akan segera mengalaminya. Lagi-lagi aku diminta duduk manis di ruang tindakan sampai dokter datang. Shalawat dan dzikir tak lupa aku kumandangkan dalam hati sambil menanti. Opa datang dan mengajak aku ke ruangan sebelah. Rupanya itu adalah ruang laboratorium. Aku dikasih liat gambar ketiga embrioku. Pembelah 4,3,2 itu kini menjadi 8,5,7. Subhanallah…mereka calon ketiga anak aku. Rasanya pengen banget deh minta poto buat nanti ditunjukin sama anak-anak aku. It’s their first picture.

Aku kembali di bawa ke ruang tindakan. Suster dengan baiknya mengingatkan aku kalau ga boleh menganggakat pantat. dr Sigit juga bolak-balik mengingatkan kalau seandainya ada rasa kram aku harus segera angkat tangan dan proses ET akan di stop sementar. Bismillah….

Alhamdulillah ketiga embrio itu kini berada di rahim aku. Ah, menulisnya begitu aja rasanya udah bikin mataku berkaca-kaca. Ada tiga embrio tengah berjuang di dalam rahim aku. Ya Allah, tolong kuatkan mereka, sehatkan mereka hingga menjadi janin yang utuh hingga saatnya lahir ke dunia nanti.

17.30 proses ET selesai. 30 menit setelah selesai proses ET aku diminta untuk tidak bergerak sama sekali di ruang tindakan. Suster sempat menjelaskan 2 minggu ke depan aku harus menghindari makan-makanan bersantan, gorengan, dan makanan tak sehat lainnya. Buah yang boleh aku konsumsi hanya pepaya, melon, dan semangka. Perbanyak makan ikan tawar, atau Salmon, dan mulai mengkonsumsi susu ibu hamil.

18.00 aku dipindahkan ke kamar. Lagi-lagi aku masih blom boleh bergerak. Dan aku harus menahan pipis sampai jam 21.00. Walaupun akhirnya baru bisa pipis jam 22.30. Suster sampai bolak-balik ke kamar menanyakan udah mau pipis belum. Maklum, pipisnya kan di pispot.

Malam itu aku ribut kerana perut kembung. Akhirnya dokter jaga pun terpaksa memberi tamhanan obat lambung untuk aku. Hal ini memang biasa setelah ET katanya. Entah jam berapa akhirnya aku pun bisa tertidur pulas. Mas Met tidur di kolong dalam kantung tidurnya.

Minggu pagi akhirnya aku pun diijinkan untuk pulang ke rumah. Mas Met bawa mobil dengan sangat berhati-hati. Tapi ya namanya jalanan ibukota. Banyak banget lubang dan polisi tidur. Sekarang aku masuk dalam masa menanti 2 minggu. Tak ada yang bisa aku lakukan selain banyak-banyak berdoa dan beristrirahat.

Mohon doanya ya agar ketiga calon anak-anakku tumbuh sehat dan kuat. Aku doakan bagi kalian yang membaca tulisan ini agar apapun impian kalian bisa segera terwujud. Aamiin yaa robbal alamin.

Yang tengah menanti,

dianravi.com

20 Comments

  1. Insya Allah… Dianravi triplets bisa segera launching… Amiiiin ya rabbal alamin….

  2. Sy mrinding bacanya mba.. Alloh Maha Besar dn Maha Sempurna atas sgala rencanaNya. Smoga mba dan ketiga adek n sluruh kluarga dilimpahkan kesehatan dan rezeki yg makin berkah..allohumma aamiin

  3. Semoga usaha dan doanya dijabah ALLAH SWT…dan dilancarkan semuanya amin…selamat yach yan dan mas met…

  4. Ya Allah…mba Dian ikut IVF juga. Merinding, terharu, senang bacanya. Sehat selalu ya Mbak. Semoga anak-mantu ketularan…

    • Kemarin ini IVF kedua aku, Mbak. Dan sejauh ini masih berakhir dengan gagal. Semoga lain kali berhasil 🙂
      Semoga anak mantu, Mbak Hani berhasil ya. Aamiin

  5. Sebuah perjuangan yg luar biasa ya mba…
    Mba, kalo boleh tau, total habis berapa ya utk IVF ini? Dari konsul pertama sampai ET. Saya sedang berpikir untuk ikut batab nih.

    • Hai Mbak.
      Untuk bayi tabung di RS Abdi Waluyo kemarin saya sekitar 45juta. Konsul dari mens hari ketiga sampai tindakan transfer embrio.

      • Oh gitu.. Berartimbak nggak banyak obat tambahannya ya..
        Saya se.pat nanya juga ke Abdi Waluyo, katanya biayanya 45jt blm termasuk obat2an yg diminum. Dan kalau baca disana sini, obat minum ini bisa habis puluhan juta (sampai 20jt)

        • Obat-obatan itu tergantung kondisi, Mbak. Tapi justru di Abdi Waluyo biasanya kalau masalahnya bukan di PCOS, obat-obatan yang diberikan itu obat minum yang harganya ga mahal kok. Yang mahal itu biasanya obat suntik, karena memang sekali suntiknya sekitar 1 juta. Coba konsultasikan dengan dokter Sigit atau dokter Karel aja dulu, Mbak.
          Aku total ga samapai 50juta sudah semua sampai Embrio Transfer. Maaf ga bisa kasih harga pastinya karena catetan pengeluarannya belum ketemu.

          • Oh gitu ya… Gapapa mbak, kisaran biaya totalnya aja udah cukup. Makasih banyak infonya ya…
            Dan turut prihatin ya..batab keduanya belum berhasil. Nggak coba dokter lain mbak? Soalnya denger2 dokter itu kan cocok2an. Hehehe… Semoga lain kali batabnya berhasil. Aamiin….

          • Sebelum ke Abdi Waluyo aku inseminasi di dokter Boyke dan dokter Ivan, Mbak. Akhrinya betah di Abdi Waluyo karena secara harga paling ramah dompet. Pengen sih nyoba ke Penang. Tapi harus nabung dulu lagi sekarang sih.
            Aamiin.
            Semoga Mbak Elly dilancarin program hamilnya. Aamiin 🙂

  6. Salam kenal mba Dian… Kalau boleh tau usia mba berapa ya saat menjalani proses batab yang kedua ini, karna saya pun ada rencana ikut program ivf, usia saya saat ini 41th… Makasih sebelumnya mba Dian… Semoga sehat2 selalu…

    • Salam kenal, Mbak Wida. Batab kedua aku usia 34 tahun. Semoga dilancarin ya Mbak program IVFnya. Tetap semangat 🙂

  7. Malam mba dian, aku lagi baru rencana program nihhh.. agak takut gagal mba

    • Berdoa aja, Mbak. Ikhlasin semuanya sama Yang Maha Kuasa. Yang penting kita sudah berusaha. Enggak mudah memang, tapi aku yakin pasti kita kuat kok. Semoga berhasil ya, Mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *