Bukchon Hanok Village, Kampung Tradisional Korea di Tengah Pemukiman Modern

Bismillahirohmanirohim,

Angin berhembus cukup kencang, menusuk kulitku. Padahal aku sudah memakai jaket, tetap saja rasanya tembus. Sejak tadi malam aku memang sudah diwanti-wanti kalau hari ini akan terasa dingin. Katanya kalau habis hujan, kemungkinan besar cuaca akan dingin, begitu kiranya penjelasan Koko Danny, tour leader aku selama di Seoul 2016 lalu. Tadi pagi saat akan keluar dari hotel, suhu memang menunjukkan sekitar 14 derajat celcius.

Napasku tersenggal-senggal. Kali ini bukan hanya karena kedinginan, tapi akibat rasa lelah berjalan di jalan yang penuh tanjakan. Dua anggota tour ini saja sudah menyerah kembali turun ke tempat mobil sewaan tadi menurunkan kami. Mereka memilih jalan-jalan saja di sekitar situ, tak jadi ikut kami menyusuri Bukchon Hanok Village.

Ini adalah hari ketiga aku di Seoul. Hari ini agenda tour adalah bebas. Tapi alih-alih pergi seorang diri, aku tetap mengikutsertakan diri pada mayoritas anggota tour. Apalagi mereka berbaik hati memasukan Bukchon Hanok Village ke dalam agenda hari ini atas permintaan aku.

Tapi meski kedinginan dan napas ngos-ngosan gitu bukan berarti aku enggak menikmatinya. Justru aku sangat bahagia. Akhirnya aku sampai juga di Bukchon! Alhamdulillah….

Nyontek dari Wikipedia, Bukchon Hanok Village adalah sebuah perkampungan tradisional (hanok) yang berada di tengah kota Seoul, Korea Selatan. Bukchon sendiri memiliki makna Kampung Utara, hal ini dikarenakan lokasinya yang berada di sebelah utara sungai Cheonggye dan Jongno. Berdasarkan sejarahnya perkampungan ini dahulunya merupakan tempat tinggal pejabat dan anggota kerajaan Dinasti Joseon. Tak heran kalau lokasinya berada tak jauh dari Istana Gyeongbok dan Istana Changdeok.

Sampai saat ini wilayah Bukchon masih merupakan wilayah pemukiman. Tak heran sepanjang jalan aku bisa menemukan papan himbauan agar tidak berisik dan mengganggu warga yang tinggal. Bentuk Bukchon Hanok Village ini merupakan lorong-lorong sempit yang katanya merupakan suasana Seoul pada masa lalu.  Jadi bisa dipastikan meski kedinginan dan capek karena harus menanjak, aku bahagia berada di tempat yang cantik ini.

“Dian, enggak mau dipoto?” pertanyaan itu dilontarkan oleh Kiki, salah satu dosen muda di tempat mamaku mengabdi sebagai dosen. Kunjunganku ke Seoul ini memang bersama teman-teman mama. Ceritanya sih aku nebeng berlibur bersama mereka sambil ngekor mama, meski last minute mama malah batal ikut.

Baca juga: Drama-Drama (Menuju) Korea

Aku menggeleng sambil menjawab “Nanti aja deh, Ki. Aku motoin aja dulu. Enggak tahan dingin mesti senyum-senyum bergaya.”

Iya, meski akhirnya aku sudah sampai di tempat yang bolak-balik aku pandangi foto-fotonya di instagram, aku malah kehilangan minat untuk difoto. Aku lebih memilih untuk memoto, karena sejauh mata memandang seluruh sudut tempat ini seakan memanggil untuk difoto.

Sambil terus berjalan mengikuti rombongan aku pun terus mengabadikan gambar. Sampai akhirnya aku pun tak tahan untuk minta difoto di depan pintu. Ahahaha….kalau sudah ketemu pintu aku lemah tak berdaya memang.

Bukchon Hanok Village ini cukup luas dan bukan cuma terdiri dari rumah-rumah warga saja. Ada juga pertokoan yang menawarkan pakaian dan pernak-pernik lucu dari Korea Selatan juga makanan. Enggak usah takut kelaparan, kehausan. Tapi pastikan kita menghapal jalanan yang dilalui, karena saking luasnya, bisa-bisa kesasar. Kayak aku.

Sayang aku baru mendapatkan brosur informasi mengenai Bukchon Hanok Village ini justru setelah dari tempat ini. Padahal di dalam brosur itu selain tedapat peta, juga 8 tempat menarik di Bukchon yang umumnya dikunjungi wisatawan. Ah, sayang sekali. Aku jadi enggak tahu apakah aku menginjakkan kaki di tempat-tempat itu atau enggak. Apa saja 8 views of Bukchon? Ini aku tunjukan brosurnya.

Hari semakin sore. Semilir angin yang bertiup rasanya semakin kencang. Setelah beberapa kali nyasar akhirnya kami berada di titik tempat mobil rental menurunkan kami. Saatnya untuk melanjutkan wisata hari itu.

Cara Menikmati Bukchon Hanok Village

1. Ambil brosur yang tersedia di Tourist Information Center

Biar enggak kejadian kaya aku, kunjungi Tourist Information Center terlebih dahulu. Ambil brosur Hanok Bukchon Village. Tourist Information Center di Seoul mudah ditemukan kok. Hampir di semua kawasan wisata ada. Bahkan di beberapa tempat, kita bisa berfoto pakai hanbok gratis.

2. Siapkan tenaga

Seperti yang sudah aku ceritakan, Bukchon Hanok Village ini selain luas, konturnya adalah tanjakan. Secara enggak langsung kita jadi olahraga deh. Jangan sampai pulang-pulang dari Seoul, betis jadi kondean.

3. Sewa hanbok

Ini cara paling seru menikmati Bukchon menurut aku. Menyusuri perkampungan tradisional Korea Selatan, lengkap dengan pakaian adat Korea Selatannya. Di tempat ini dengan mudahnya kita akan menemukan tempat penyewaan hanbok. Aku sampai mupeng lihat wisatawan lain keliling-keliling dengan hanbok.  Ini nih minusnya ikut tour, enggak bisa sebebas kalau traveling sendiri. Tapi ya, nikmati saja. Meski dalam hati aku berdoa bakal bisa kembali lagi ke Seoul berdua Mas Met. Doain ya…..

 

Sudah pada mupengkah ingin wisata ke Korea Selatan? Aku saja yang nulisnya jadi ingin balik lagi. Duh…jadi manusia kok enggak ada puasnya sih, Di. Jangan ditiru ya. Hehehe…

How to get to Hanok Bukchon Village

Kalau naik subway: naik line 3, turun di Anguk Station, exit 2,3.

Kalau naik bis: Bus no 601, 109, 151, 162, 1721, 272, 7025, airport bus 6011, turun di Anguk Station

#ODOP, #BloggerMuslimahIndonesia, #ODOP4

12 Comments

  1. Wah mupeng kaa.. ^^
    Suka deh lihat rumah adat dan baju tradisional korea..
    Kakak kok ngga pakai hanbok juga? he..

  2. Yg baca juga mupeng pengen ke korea. Haduuh… Selain dramanya… Kota dan perkampungannya jug aduhai ya mbak. Tfs mbak. Sy jadi tahu sebagian korea meski hanya lewat tulisan

  3. wah tanggung jawab, Mbaaaaa… saya jadi ingin packing (terus kemana? hehehe…). love ur blog. following right away <3

    btw, mamanya dosen dimana, mba dian?

  4. Senengnyaaa. Daerah itu pastinya jg daya tarik luar biasa buat wisatawan. Dijaga gtu ya rumah2 tradisionalnya.
    Di JKt mungkin jg ada tapi mungkin dah tergusur kali ya yg rumah2 betawi gtu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *