Cerita Tentang Menyulam Kehidupan

Bismillahirohmanirohim,

Kalau lagi merasa ingin menangis, menangsi saja. Enggak usah takut untuk menangis.

Menangis bukan pertanda kita lemah, bukan pertanda kita enggak ikhlas.

Menangis adalah pertanda kita sedang bersedih. Karena kita adalah manusia yang punya perasaan.

Menangislah sampai kamu merasa puas mengeluarkan kesedihanmu.

Saat seseorang sedang bersedih, yang diperlukan bukanlah kalimat bijaksana seperti “Yang ikhlas ya, sabar.” Bukan. Yang mereka butuhkan adalah melepaskan tangisannya. Dengarkan keluhannya. Mereka bukan tidak sabar, bukan tidak ikhlas. Mereka hanya sedang berduka. Hadirlah di sisinya, peluk, dan diam. Dalam hati doakan agar mereka kuat menjalani rencana Allah.

Tulisan ini ingin aku persembahkan untuk seorang teman yang mempercayakan aku untuk menceritakan kesedihannya padaku beberapa hari lalu. Seandainya bisa, rasanya aku ingin lari ke tempat kamu berada dan memeluk kamu saat itu juga. Ada sebagian hatiku yang berkata, “Duh kenapa enggak pas minggu lalu aja sih, pas aku pun berada di kota yang sama denganmu.”  Well, tapi mungkin memang begitu jalannya. Aku hanya bisa memelukmu lewat kata-kata.

Aku ingin menceritakan sebuah cerita kehidupan yang aku temukan saat jaman kuliah dulu. Cerita yang sampai saat ini selalu aku ingat terutama ketika aku sedang merasa down dan helpless. Mungkin kamu pun sudah tahu cerita ini, tapi biarlah kuceritakan kembali, siapa tahu cerita ini bisa menjadi salah satu alasan kamu untuk bangkit kembali.

Merajut Kehidupan

Seorang anak kecil asik bermain mobil-mobilan di lantai. Tak jauh dari dirinya, sang ibu tengah duduk sambil menyulam. Anak kecil itu melihat ke atas, ia merengut keheranan.

“Ibu bikin apa sih? Kok jelek gitu? Kusut,” tanyanya pada ibunya.

Sang ibu tersenyum. “Ibu sedang menyulam, Nak. Kamu bermain saja dahulu. Nanti kalau ibu sudah selesai, akan ibu tunjukkan padamu.”

Anak kecil itu pun menurut dan melanjutkan permainannya. Hingga beberapa jam kemudian, sang ibu memanggilnya.

“Ibu sudah selesai menyulam. Sini, kemarilah, Nak.” Anak kecil itu didudukan di atas pangkuan ibunya dan melihat hasil sulaman ibunya.

Mata anak kecil itu terkagum-kagum kala melihat sulaman ibunya yang indah. Aneka warna-warni yang tadi dia lihat kusut dan tidak menarik tak disangkanya akan menjadi sebuah sulaman pemandangan yang cantik untuk dipandang.

“Hidup itu seperti ibu menyulam, Nak. Ketika kamu lihat dari bawah, kamu merasa hidup ini tidak menarik, kusut, penuh beban. Tapi kalau kamu melihat dari atas sana, semuanya akan tampak cantik. Allah sedang menyulam kehidupan kita. Saat ini mungkin hidup kita seakan tidak berarti, tapi percayalah Allah tengah membuat sesuatu yang indah diakhir kisah kita nanti.”

***

Teruntuk temanku yang baik, aku tahu yang kamu rasakan saat ini pasti terasa menyakitkan. Tapi percayalah, kamu pasti akan bisa bangkit lagi. Once a while, kamu akan merasa terpuruk kembali, tapi tak apa. Keluarkan saja apa yang tengah kamu rasakan.

Maju satu langkah, mundur tiga langkah. Itu yang sering aku katakan setiap aku merasa mengalami kemunduran. Tapi semua itu wajar. Paling tidak, kita penah mencoba untuk maju satu langkah.

Kamu bilang kamu tidak akan bisa menjadi orang yang sama dengan kamu sebelumnya? It’s okPeople change. Manusia memang pada dasarnya pasti akan berubah, menyesuaikan dengan kehidupan yang mereka jalani.

Temanku yang baik, tak usah ragu untuk memendam semuanya sendiri, meski ada kalanya kamu ingin menyindiri. Saat kamu merasa tak sanggup, berteriaklah minta tolong pada siapapun kamu merasa nyaman.

Temanku yang baik, aku tidak bisa menjamin semua akan baik-baik saja. Tapi kalau kamu butuh aku, kamu tahu dimana kamu bisa menemukan aku.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *