Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana

Bismillahirohmanirohim,

cinta terencana

Cinta adalah perasaan yang datang begitu saja. Datangnya boleh jadi tiba-tiba. Tanpa disangka. Tanpa diundang. Dari mata turun ke hati, begitu banyak orang berkata tentang cinta. Tapi mamaku sejak dulu selalu menanamkan, cinta jangan cuma dengan perasaan. Cinta harus diikuti dengan logika. Karena cinta terencana akan mampu membangun keluarga yang harmonis.

Siapa sih yang enggak menginginkan membangun keluarga yang harmonis? Setiap pasangan yang menikah pasti mendambakan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, yaitu menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta, dan kasih sayang. Sayangnya, tidak sedikit pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Sudah tidak cinta lagi, begitu alasannya. Padahal bila dulu bisa saling cinta, pasti sampai kapan pun bisa tetap mencintai. Cinta terencana, itu kata kuncinya.

Pada setuju?

Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana

cinta terencana

Dalam rangka mempersiapkan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni 2018 nanti, aku dan teman-teman dari Blogger Plus Community, hari Selalu lalu, 15 Mei 2018, diundang oleh BKKBN untuk menghadiri talkshow yang bertema “Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana”.

Acara ini berlangsung di Museum Penerangan TMII dengan menghadirkan 3 narasumber:

  1. Eka Sulistya Ediningsing, Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN
  2. Roslina Verauli, Psikolog anak, remaja dan keluarga
  3. Resi, Blogger Plus Community

Memutuskan untuk berkeluarga adalah fase terbesar dalam kehidupan setiap orang. Karena ketika memutuskan untuk berkeluarga, dua individu yang berbeda harus menjadi satu, menjalankan peranan masing-masing untuk membangun keluarga yang harmonis. Mudah? Jelas tidak.

Masih melekat erat dalam ingatan aku ketika memutuskan aku memutuskan untuk menikah 14 tahun yang lalu. Usiaku baru akan akan menginjak 21 tahun, dan Mas Metra pun masih kurang beberapa bulan dari 25 tahun, sebagaimana usia ideal minimal untuk menikah. Tak sedikit teman-temanku yang bertanya, “Memangnya elo sudah siap untuk menikah?”

Siap. Itulah yang harus dipersiapkan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Cinta saja tidak cukup bila ingin membangun keluarga yang harmonis. Cinta memang diperlukan tentunya. Tapi cinta terencana. Peran orangtua diperlukan untuk menyiapkan anak-anaknya dalam berumah tangga.

Kalau boleh jujur, terus terang dari awal berpacaran aku malah enggak pernah berpikir untuk menikah. Aku mungkin bentuk cinta tidak terencana. Tapi Mas Metra justru berbeda. Dari awal kami pertama kali bertemu dan aku kenalkan pada kedua orangtuaku, dia sudah serius dan berpikir akan menikahi aku suatu saat. Diam-diam dia dan mama papaku, sering bertemu untuk membahas soal hubungan kami.

Jadi apa yang bikin aku bilang siap untuk menikah?

Sebagian remaja mengira pernikahan seperti memasuki restoran dimana orang-orang hanya menemukan yang enak-enak saja.

-Gede Prama, penulis, pembicara, dan motivator.

Aku bukanlah yang pertama menikah diantara teman-temanku sebaya aku. Ada beberapa teman yang menikah muda dan berakhir dengan perceraian bahkan ketika kami masih belum mendapat gelar sarjana. Berkaca dari pengalaman beberapa temanku itulah, aku tahu, kalau mempertahankan pernikahan butuh sebuah perencanaan.

Selain peran orangtua, ada BKKBN yang ikut berperan dalam mempersiapkan soal pembangunan keluarga.  Hal ini bisa dilihat dengan memberikan pendidikan pranikah kepada calon-calon mempelai. Ngomong-ngomong, sudah pada tahu belum sih singkatan BKKBN? Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional? Itu dulu.

Sekarang ini BKKBN merupakan singkatan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Kalau dulu BKKBN identik dengan program Keluarga Berencananya, kini BKKBN memiliki tanggung jawab tambahan mengenai kependudukan, begitu penjelasan ibu Eka Sulistya Ediningsing selaku Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN minggu lalu.

Pogram Keluarga Berencana yang selama ini tahu dari BKKBN adalah seputar dua anak cukup serta mengatur jarak antar kelahiran. Padahal ternyata program BKKBN itu banyak loh. Salah satunya adalah GENRE, Generasi Terencana.

GENRE, dengan simbol 3 jari menekankan pada tiga hal:

  • Menghindari pernikahan dini. Usia ideal untuk menikah bagi perempuan adalah 21 tahun, dan 25 tahun bagi laki-laki.
  • Menjauhi perilaku seks bebas.
  • Menjauhi Narkoba

Diharapkan dengan adanya program GENRE dan Cinta Terencana ini, maka dapat membantu menyiapkan pembangunan keluarga yang harmonis serta dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

salam genre cinta terencana

Komunikasi Efektif, Bagian Penting dalam Cinta Terencana

cinta terencana

Menurut aku, komunikasi adalah kunci dalam menyelesaikan segala permasalahan. Tapi komunikasi seperti apa? Tentunya komunikasi yang positif dan efektif.

cinta terencana

Di acara yang sama, aku senang sekali mendapat ilmu tentang komunikasi efketif dari Ibu Roslina Verauli. 14 tahun menikah, bukan berarti tanpa masalah. Dan aku sadar betul, komunikasi yang kurang efektif selalu menjadi sumber permasalahan aku dan Mas Metra.

Komunikasi yang efektif harus dimulai dengan mendengarkan terlebih dahulu. Kemudian menimpali agar terjadi komunikasi dua arah. Bukan hanya komunikasi dua arah yang harus dilakukan, tapi juga komunikasi yang jujur, berani mengutarakan isi hati. Tentunya harus dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan memaksakan kehendak.

Kalau ada sebuah masalah yang harus aku syukuri adalah, belum dikaruniai anak hingga saat ini. Kok malah bersyukur? Menjalani program hamil bertahun-tahun ternyata membantu aku dan Mas Metra untuk memperbaiki tehnik komunikasi kami. Aku adalah pribadi yang egois, cenderung memutuskan langkah-langkah yang ingin aku ambil seorang diri. Tapi ketika menjalani program hamil, aku tak mungkin mengambil langkah itu sendiri, semua harus dilakukan berdua. It takes two to tango

Selain komunikasi positif dan efektif, menjadi fleksible itu juga penting, menurut Ibu Roslina Verauli. Hidup pasti berubah. Karenanya kita harus bisa flesible mengikuti perubahan. Kalau dulu saat awal nikah aku adalah istri mahasiswa, sekarang aku harus mengubah posisi sebagai istri dari seorang karyawan. Tentunya gaya hidup dan tuntutan antara mahasiswa dan seorang karyawan berbeda.

Bagaimana bila sudah memilki anak? Sama saja. Komunikasi yang efektif dan fleksible dengan perubahan anak harus diterapkan.

Di akhir acara, Ibu Roslina Verauli mengingatkan kembali untuk selalu memenuhi kebutuhan kita terlebih dahulu, pasangan, baru anak dalam pembangunan keluarga yang harmonis.

Bagaimana dengan kisah kalian? Sudahkah menyiapkan cinta terencana?

cinta terencana

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

5 Comments

  1. It takes two to tango.
    Kereen..keren.

    Ini yang masih missed dari kami, teh.
    Ada saja yang membuat kami merasa baik-baik saja, padahal ada hal yang tidak atau belum tersampaikan dengan sempurna.

    Harus komunikasi…komunikasi.

  2. Mba sudah lebih dulu menikah, saya tahun ini 12 tahun menikah. Masih sering ga sepaham sama suami, namanya juga rumah tangga , kita jalani . Pasti ga semulus jalan tol.

    • Memang pasti tak akan pernah mulus ya, Mbak. Lulus dari 1 kisah, akan ada kisah berikutnya. Itu sebabnya harus ada cinta terencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *