Hal-Hal Ini Yang Bikin Aku Kangen LSPR Batch 4

Bismillahirohmanirohim,

Sekitar sebulan lalu aku sempat melihat sebuah artikel yang berjudul “Jangan Ngaku Anak LSPR Kalau Ngga Ngerti Hal-Hal Ini” dishare oleh seorang kawan sesama alumni LSPR di halaman media sosialnya. Sebagai alumni yang kadang rindu sama masa kuliah, aku pun tergoda untuk membaca artikel itu. Tapi bukan mengobati rasa rindu yang aku dapatkan, yang ada malah kekecewaan karena tulisan tersebut ditujukan pada kampus LSPR saat ini.

Sebagai alumni awal-awal LSPR yang kampusnya belum seperti saat ini aku merasa patah hati karena enggak ada satu pun dari list yang disebutkan aku tahu. Berbeda dengan LSPR saat ini yang punya gedung sendiri di Sudirman Park, jaman aku dulu kampus LSPR masih tersebar dalam 3 gedung, Kampus A di Wisma Darmala, Kampus B di Gedung Dewan Pers, dan Kampus C di Gedung MMC. Makanya demi mengobati rasa patah hati itu, aku pun enggak mau kalah ikutan membuat tulisan dengan tema Hal-Hal Yang Dikangenin dari LSPR Batch 4.

Kebetulan beberapa hari yang lalu aku menjejakkan kaki di daerah Kebon Sirih, sempat mampir duduk manis sebentar di depan Gedung Dewan Pers, sambil sok-sok mengenang masa lalu. Jadi apa saja hal-hal yang bikin kangen dari LSPR pada masa itu? Karena listnya banyak, maka aku bikin dalam beberapa kategori ya. Mari disimak!

The Food

Gang Senggol

Istilah gang senggol adalah istilah umum yang biasanya digunakan untuk pedagang kaki lima di dalam gang yang sempit. Begitu juga Gang Senggol yang aku maksud di sini. Gang senggol ini terletak di sebelah gedung ANZ Tower. Image anak LSPR yang biasanya sering dicap sebagai kampus borju bisa langsung hilang seketika kalau tahu mahasiswanya doyan makan di kaki lima. Hahahaha kami kan mahasiswa biasa yang meski enggak ngutang di kantin tapi sebisa mungkin cari makan yang murah meriah. Percaya deh, teman-teman seangkatan aku umumnya akan setuju kalau gang senggol ini paling dikangenin. Sayang saja tempat ini sudah tidak ada lagi.

Kantin di Kampus B

Saat itu enggak ada kantinĀ smoking area atauĀ non-smoking area. Cuma ada satu kantin yang terbuka, ala-ala roof top gitu. Terus terang enggak ada makanan spesial sih di kantin ini. Cuma mungkin karena ini satu-satunya tempat nongkrong yang agak luas, jadi sambil menanti bel tanda kelas di mulai berdentang, sebagian mahasiswa nongkrong di sini.

Nasi Goreng Gerobak di Halaman Depan Gedung Dewan Pers

Meski di kantin enggak ada menu spesial, tapi biasanya para mahasisa senang banget jajan nasi goreng. Belinya enggak mau repot turun ke bawah, cukup teriak dari kantin yang terletak di lantai 3 ini, “Bang, nasi goreng ya!” Enggak lama abang nasi goreng yang baik hati, ramah, dan tidak sombong itu akan naik dan masuk ke lobi kampus. Kita tinggal nunggu di lobi aja.

Piscok

Kalau pagi hari di depan Gedung Dewan Pers suka ada ibu-ibu yang jualan pisang coklat. Jualnya kalau enggak salah ingat dibakul gitu. Biasanya si ibu ini suka nungguin pembeli di depan wartel (iya masih ada wartel saat itu).

Pecel Lele

Ini makanan murah meriah yang paling ngenyangin di Kampus B. Kayanya banyak penggemarnya juga pecel lele ini. Teman sekelas aku yang asli Filipina aja doyan makannya. Enggak cuma jual pecel lele, pecel ayamnya juga ada. Lokasinya di paling belakang parkiran Gedung Dewan Pers.

Kedai Relax

Persis di sebelah warung pecel lele. Pemiliknya namanya Ibu Titi. Ini tempat kesukaan aku banget. Datang kepagian, atau pas bimbingan skripsi enggak menemukan teman seangkatan, maka aku pasti bakal menyapa Ibu Titi ini. Dia sudah hapal sekali minuman kesukaan aku: Kopi Ginseng! Makanan yang ditawarkan di kantin ini ala-ala barat tapi dengan harga yang masih lumayan buat kantong mahasiswa. Kalau enggak salah sih Ibu Titi ini ikut pindah ke kampus LSPR yang baru, jadi bagian di kantin LSPRnya.

The Facility

Ruang Siaran

Sebagai anak jurusan Media Massa, sudah tentu aku dapat materi siaran radio. Yang bikin aku senang selain dapat ilmu seputar mengoperasi ruang siaran radio, aku bisa muterin aneka lagu kesukaan. Saat itu lagi suka-sukanya dengerin lagu-lagu Jepang. Jadi bisa dipastikan aku bakal rajin menyisipi satu dua lagu soundtrack anime.

Lobi

Lobi Kampus B ini enggak besar. Cenderung kecil mengingat jumlah mahasiswanya juga lumayan banyak. Cuma ada 2 sofa kalau enggak salah ingat. Sering kami melantai. Ngapain duduk di lobi? Alasannya cuma satu: ngadem.

Perpustakaan

Ini adalah ruangan favorit mahasiswa tingkat akhir menuju skripsi sepertinya. Enggak besar. Tapi nyaman buat bersembunyi dari kebisingan biar khusyuk ngerjain tugas. Kebetulan menjelang tingkat akhir aku dapat ruangan kelas yang enggak jauh dari perpustakaan. Jadi ya bisa dipastikan bentar-bentar kami bakal mojok di sini.

The People

Rojikin

Kampus mana sih yang punya valet parkir? Di Kampus B kita punya Rojikin loh. Gaya? Bukan karena gaya sih, tapi karena lahan parkir Gedung Dewan Pers itu enggak luas, ditambah harus berebut karyawan dari kantor-kantor lain. Di saat itulah kami mengandalkan Rojikin, tukang parkir merangkap valet.

Ms Anggie Cabrido

Kalau ditanya dosen yang paling aku kangenin ya Ms A jawabannya. Dosen Public Relations berkebangsaan Philipin ini rasa-rasanya bukan cuma mengajarkan seputar mata pelajaran saja. Tapi juga bagaimana kita bersikap dan menghadapi masalah. Salah satu yang aku ingat, kami sekelas diminta duduk di atas karpet, membentuk lingkaran. Kami diminta satu persatu curhat, nanti yang lain akan menimpali dan membatu. Dosen ini terkenal galak sebenarnya tapi tetap disayangi karena adil. Untuk pelajaran beliau boleh jadi galak dan tegas, tapi beliau tak segan-segan membantu kalau ada mahasiswanya yang mau curhat.

Mr Joe

Apakah cuma aku yang kangen sama dosen yang selalu membuka konsultasi setiap pelajaran ini? Percaya deh, cewek-cewek rela sekali mengantri demi bisa konsultasi samsa bapak dosen yang satu ini. Pak Joe ini mengajak jurnalistik. Bisa dipastikan ilmu menulis aku sedikit banyak adalah hasil pelajaran dikelas beliau. Tapi beliau ini enggak cuma buat konsultasi pelajaran loh, bisa juga soal pacar. Jadi tahu kan kenapa beliau dikangenanin?

Alm Martinus dan Mr Rafael

Last but not least. Masa-masa kampus enggak akan serus tanpa dua sosok yang telah lebih dulu meninggalkan kita semua. Siapa sih yang enggak kenal Martin dan Mr Rafi? Martin, mahasiswa batch 4 yang juga jadi staff di kampus. Rasanya semua komando batch 4 ada di bawah Martin. Kalau Martin sudah bertitah untuk urusan kampus, semua nurut. Rasanya sedih banget ketika mendapat kabar Martin meninggal dunia beberapa tahun lalu. Jujur, sampai sekarang aku masih suka enggak percaya.

Begitu juga dengan Mr Rafi. Meskipun bukan dosen favorit, malah aku suka cenderung menghindari kelasnya akibat suka susah menterjemahkan bahasanya, tapi tetap saja aku merasa kehilangan ketika mendapat berita duka itu. Kalau dipikir, kampus enggak akan sama lagi tanpa Mr Rafi. Enggak banyak sih kenangan aku akan Mr Rafi, mungkin anak-anak Teatro akan lebih banyak kenangan akan beliau.

Itu dia hal-hal yang bikin aku kangen masa kuliah. Sebenarnya sih mungkin kangen semuanya. Kangen juga sama semua teman-teman seangkatan. Kangen usia masih 20, yang seringkali lupa mikir panjang. Kalau kalian apa yang paling dikangenin saat kuliah? Yuk gantian cerita.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *