I Had Hysteroscopy on Tuesday

doctor-161345_960_720

It’s a beautiful day to save lives. Let’s have some fun.

-Dr Derek Shepherd  (Greys’s Anatomy, TV Series)

Assalamu’alaikum,

Gimana kabar semuanya? Semoga sehat selalu ya 🙂 Udah lama banget ga posting. Kali ini dengan unsur kesengajaan. Efek tumpukan foto yang harus diedit tapi berakhir dengan malas ngedit (buntut-buntutnya sih karena malas ya, tetep).

Tapi kali ini pengen cerita soal tindakan operasi kecil yang lagi-lagi harus aku jalani. Hmmpp… kayanya tahun ini aku mendadak jadi hobi operasi ya. Setelah awal tahun ini harus operasi sinus (bisa dibaca disini: 4 hari 3 malam di rumah sakit liveupdated), kali ini aku harus menjalani operasi polyp dan mioma dengan tindakan yang namanya Hysteroscopy.

Gimana bisa ketahuan ada polyp dan miom? Itu pertanyaan pertama yang sering ditanya teman-teman aku pas cerita harus operasi kecil. Jadi certitanya, setelah hampir 4 tahun libur dari program hamil, aku kembali memantapkan diri untuk kembali ke obgyn kesayangan, dr Karel Manary dengan satu tujuan: bayi tabung ke 2. Beberapa cerita soal program hamil aku bisa dibaca di Confession of a Hijabbers Tadinya pengen lanjutin kisah-kisah promil (singakatan dari Program Hamil) di blog itu. Tapi lupa passwordnya dong *nyengir* Dan biar ga pusing juga, cukup semua di satukan di blog ini aja deh.

Awal Mei pas libur panjang itu pas masuk siklus haid. Udah jadi peraturan umum kan buat yang program hamil, semua dimulai saat lagi haid. Tapi karena tanggal merah, jadi baru bisa hari Sabtunya ketemu Opa Karel. Padahal di hari itu juga paginya aku harus berada di Bandung untuk menghadiri nikahan sepupu. Alhamdulillah punya suami super baik, pagi-pagi banget kami berangkat ke Bandung. Menghadiri akad nikah, lanjut resepsi sebentar, kemudian balik kembali menuju Jakarta. Jalanan sangat ga bersahabat hari itu. Rupanya udah mulai arus balik liburan meski itu hari Sabtu. Jam 3 sore dari Bandung baru berhasil tiba di Rumah Sakit Abdi Waluyo jam 8 malam kurang dikit. Perut kukuruyuk tapi boro-boro kepengen makan, rasanya udah capek banget.

Ketemu Opa, periksa, dapat obat-obat hormon seperti biasa, dan diminta datang lagi seminggu kemudian. Singkat cerita, seminggu kemudian kembali lagi, periksa dan keluarlah kalimat Opa yang rasanya bikin sakit kepala, “Maaf ya Nyonya, sepertinya ini ada Polip. Harus diangkat dulu baru bisa bayi tabung.” Mendengar kata “polip” dan “angkat”, aku langsung membayangkan tindakan operasi. Rasanya kaki langsung lemes. Aku diminta ketemu dengan dr Sigit kamis depannya untuk bahas tindakan berikutnya.

Seminggu kemarin rasanya hati ga karuan. Nungguin hari kamis itu kayanya lamaaaaaaaaaaa banget. Ga sabar pengen dapat penjelasan, tapi juga kaya pengen menghindari kenyataan, kamis ga usah ada aja.

Hari kamis tiba. Karena jadwalnya di siang hari, aku terpaksa sendiri tanpa Mas Met. dr Sigit ini orangnya enak, lebih banyak menjelaskan, berbeda dengan dr Karel yang emang terkenal lebih banyak diam daripada bikin pasiennya kepikiran yang engga-engga. Tapi ya tetep aja aku betah ke dr Karel. dr Sigit menjelaskan prosedur yang bakal aku jalani. Hiteroskopi namanya. Apa itu hiteroskopi?

Histeroskopi adalah tindakan untuk diagnosis di mana histeroskop akan digunakan untuk membuat visualisasi lapisan dinding rahim, di mana histeroskop akan dimasukkan ke dalam vagina. Tindakan ini biasanya dilakukan untuk memeriksa kondisi rahim, saluran indung telur, serviks, jalur serviks, dan vagina untuk memastikan adanya sesuatu yang abnormal. Namun, tindakan ini juga dapat dilakukan untuk tindakan pembedahan minimal invasif.

Source: web.docdoc.com

Prosedurnya sendiri kalau menurut dr Sigit ga lama. Paling sekitar 1 jam. Bisa pulang hari. Ga perlu rawat inap. Dan yang paling penting adalah, bius total. Jadi aku ga akan liat alat-alat horor itu. Baiklah, sedikit menenangkan, tapi ya tetep aja horor. Keinget waktu operasi sinus aku berakhir dengan harus 4 hari di rumah sakit. Ditanya kapan mau tindakan, rasanya pengen banget jawab “boleh ga kalau ga usah sama sekali aja, dok.” But, a must is a must. Akhirnya diputuskanlah, Selasa, 24 Mei 2016 untuk dilakukan tindakan operasi yang ga ada sayatan ini.

Sebelum pulang dapat bonus obat Gastrol 2 buah, untuk diminum satu hari sebelum hari tindakan. Jam 4 sore dan jam 11 malam. Plus diingatkan harus puasa mulai jam 12 malamnya. Obatnya ini akan memberikan efek mules. Yang ternyata bukan cuma mules, tapi juga pendarahan.

Belum ada jam 5 pagi aku sama mas Met udah berangkat dari rumah di hari Selasa itu. Janji di rumah sakit jam 7 pagi, tapi mas Met mau mampir kantor dulu, ada yang harus dilakukan jam 6 pagi. Efek kepagian, jam 5.30 udah di kantor mas Met. Dan akhirnya belum ada jam 7 udah sampai di rumah sakit. Melaporkan diri ke bagian front office mau ada tindakan sama dr Sigit, rupanya mereka udah siap. Mas Met diminta mengisi sejumlah formulir, tanda tangan, kemudian ke kasir untuk bayar deposit. Abis itu ga lama aku dipanggil masuk ke IGD untuk pasang infus dan test darah sebelum tindakan. Dari IGD dibawa masuk kamar rawat inap, ganti baju operasi, tidur-tidur bentar buat ngilangin tegang (ga ilang juga akhirnya sih), sampai akhirnya jam 8.30 aku dibawa ke ruang bedah.

Segala perasaan campur aduk rasanya. Pengen nangis, pengen kabur, pengen muntah, pusing, semua panik muncul. Dalam hati aku terus berdzikir biar tenang. Agak lama juga nunggu persiapan di ruang operasi yang super duper dingin itu. Aku masih bisa lihat perawatnya mondar-mandir nyiapin persiapan. Mulai dari dipasang alat monitor jantung, tensi, sampai akhirnya aku dibius.

Sadar-sadar aku udah di kamar. Samar-samar denger mama sama Mas Met ngobrol. Tapi ya baru bisa denger aja, buka mata berat, apalagi nyambung ngobrol. Pelan-pelan akhirnya mulai sadar penuh, udah boleh langsung minum dan makan. Mas Met sempet bilang, akhirnya operasinya sampai 2 jam.

Istirahat agak lama. Sambil nunggu dr Sigit datang. Kalau menurut suster sih boleh langsung pulang kok. Ga ada yang perlu di observasi lagi. dr Sigit baru datang sekitar jam 2. Jelasin kalau ternyata polip nya memang cukup besar, begitu juga dengan miom-nya. Makanya operasinya agak lama. Tapi alhamdulillah ga ada pendarahan besar. Jadi boleh pulang, dan kontrol 2 minggu lagi. Semoga abis ini bisa dilancarin bayi tabungnya.

Dan sekarang aku disini, kembali menatap laptop mengentik draft blog (soon to be publish).  Postingan ini sekedar cerita kondisi terbaru aku. Semoga semua yang baca diberi kesehatan terus ya. Dan semoga bakal mulai rajin nulis lagi. Aamiin.

Cheers!

dianravi

5 Comments

  1. Mba…biayanya abis brpa tuh? Soalnya aku jg sama mau histeroskopi jg sama dr. Sigit. Tolong infonya donk mba

    • Hai Ros, salam kenal. Kemarin hystereskopi biayanya sekitar 15 juta. Semoga lancar ya tindakannya. Segera disembuhkan penyakitnya. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *