Deep Thoughts Collaboration

Jangan Lupakan Empati Saat Pandemi

bismillahirrahmanirrahim,

empati saat pandemi

Empati saat pandemi. Tema apa ini tuh? Baru juga tulisan kedua untuk OWOP Warung Blogger, kok sudah dikasih tema yang bikin aku ingin jungkir balik gini.

Sebenarnya menarik sih tema empati saat pandemi ini. Apalagi jujur belakangan ini aku semakin merasa terganggu membaca komentar-komentar netijen di twitter yang saling menyalahkan, merasa paling benar sendiri, dan memaksa hanya melihat dari sudut pengalamannya aja.

Tapi tema ini tuh jadi mengundang aku untuk beropini. Entah kenapa belakangan ini aku seperti sulit untuk menulis tentang waht’s on my mind. Tapi mungkin dengan tema OWOP kali ini, mau enggak mau aku jadi seperti dipaksa untuk keluar dari zona nyaman aku. Belajar untuk kembali bersuara.

Empati Saat Pandemi, Apa sih Ini Sebenarnya?

empati saat pandemi

Enam atau tujuh bulan sudah kita berada di masa pandemi ini? I lost count, pokoknya semenjak pertengahan Maret 2020 ini aku sudah di rumah aja bersama ke-8 anggota rumah.

Perasaannya? Nano-nano, manis asam dan asin. Di satu sisi aku merasakan ada hikmah di kondisi pandemi ini, aku jadi bisa dekat dengan Mas Metra selalu, hidupku jadi sangat teratur, makan malam jam 7, jam 8 malam sudah di kamar dan jauh dari handphone (tulisannya coming soon ya, udah jadi draft berminggu-minggu). Tapi harus aku akui, di sisi lain aku juga merasakan bagaimana kondisi pandemi ini mempengaruhi penghasilan aku sebagai seorang freelancer.

Balik ke soal empati saat pandemi. Jujur kondisi sekarang ini penuh dilema. Mungkin ini juga kenapa si empunya ide tema mengusulkan soal menulis empati saat pandemi. Well oh well, sebenarnya sudah cukup lama sih aku meresahkan soal kondisi dimana rasanya yang namanya empati dan simpati, tapi mari kita fokuskan pada kondisi saat ini aja, di masa pandemi.

Semenjak negara api menyerang covid-19 mendarat di bumi pertiwi ini, ada banyak kebijakan dan perubahan gaya hidup yang harus diterapkan. Di mulai dengan PSBB yang mengharuskan hampir semua aktivitas dilakukan di rumah saja. Kerja dari rumah, sekolah dari rumah. Semua serba online. Kesannya canggih banget, jaman yang sangat maju. Padahal ada banyak drama saat menjalani ini semua.

Kuota internet jelas lebih boros, jam kerja tak jarang lebih lama dibanding saat kerja offline, belum lagi miss communication dan miss understanding yang rentan terjadi akibat komunikasi hanya via chat. Banyak ya dramanya? Ujung-ujungnya media sosial belakangan ini dipenuhi rasa amarah.

Ada yang marah sama pemerintah karena dianggap enggak tegas. Ada yang marah sama yang menuntut lockdown karena nanti dia susah dalam bekerja. Ada orangtua yang marah sama guru karena kok jadi orangtua-nya yang harus mengajar. Ada juga kemudian balasan dari guru yang merasa kok dikira enggak mau ngajar, padahal dia juga berusaha menjalankan tugasnya. The never ending drama kata aku sih. Semua ribut memikirkan diri sendirinya. Lho terus harusnya seperti apa? Empati.

Mari mengutip sejenak arti kata empati di KBBI:

Keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengindentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Instead of menilai dari sudut pandang kita sendiri, mulailah melihat dari kondisi orang lain. Semua pasti ada win win solution dan cara mengingatkan yang lebih baik dan nyaman. Satu yang harus diingat, enggak ada satu pun dari kita yang siap menjalani keadaan seperti sekarang. Bahkan yang mungkin kita lihat hidupnya sudah cukup tercukupi saja tetap merasakan yang namanya stres karena harus di rumah aja.

Jadi, yuk sudahi drama-drama keributan tentang opini masing-masing. Turunkan ego kita, karena yang benar menurut kita, belum tentu benar bagi orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh beropini, tapi jangan sampai karena ingin opini kita tersampaikan justru kita sampai kehilangan rasa empati.

Tapi nih ya…. Empati juga bukan berarti enggak boleh posting tentang makanan, tetang liburan, tetang privileged bisa bekerja di rumah dan belajar dengan nyaman di rumah dan sebagainya. No. Empati berlaku dua arah, berlaku untuk semua pihak, bersikap untuk tidak saling merecoki.

Diam itu Emas

empati saat pandemi

Siapa saja yang berimankepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.

H.R Bukhari dan Muslim

Berempati memang tidak mudah. Sulit bangkan. Aku sadar banget akan ini. Tidak mudah menempatkan diri kita dalam hidup orang lain, apalagi yang jelas-jelas tidak pernah kita alami atau rasakan. Jadi kalau memang merasa tidak bisa bermpati, ada baiknya kita memilih diam.

Belakangan ini aku belajar untuk menahan jempol saat menyekrol timeline media sosial-ku. Terutama saat membaca cuitan-cuitan yang tidak sejalan dengan aku, seperti soal meminta kembali sekolah normal di tengah masa pandemi. Jelas aku lebih setuju anak-anak sekolah online saat ini. Meski berat, ribet, dan mahal, tapi menurut aku ini pilihan yang lebih baik daripada harus menanggung resiko anak-anak tertular Covid-19 dari teman sekolahnya, dari guru yang guru yang mengajar, atau bisa jadi dalam perjalanan dari dan pulang sekolah. Tapi aku cukup paham bahwa bagi sebagian masyarakat sekolah online ini terlalu mahal. Dan karena aku juga belum bisa membantu secara materi, maka pilihan aku adalah mendiamkan cuitan itu. Tidak perlu terpancing untuk memberikan opini.

Tapi tentu saja, aku juga masih terus mengingatkan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan: pakai masker, rajin cuci tangan, jaga jarak, keluar rumah bila benar-benar penting.

Sebelum aku berkicau terlalu panjang dan membuat esensi tulisan ini jadi kemana-mana, lebih baik aku akhiri saja tulisan dengan tema empati di masa pandemi ini. Semoga tulisannya bermanfaat, dan kalian semakin rajin berkunjung ke blog DianRavi ini.

xoxo

6 thoughts on “Jangan Lupakan Empati Saat Pandemi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *