Keep Traveling, Keep Writing

Bismillahirohmanirohim,

Jantungku berdebar kencang saat mendengar nada sambung di telepon genggamku berbunyi. Isi kepalaku rasanya penuh susunan kalimat yang akan menjadi pembicaraan kami nanti. Ah, tidak mudah rasanya harus menyampaikan berita duka lewat telepon. Tapi di sisi lain, aku ingin menyampaikannya secepat mungkin. Apalagi aku juga sudah berjanji untuk langsung mengabarkan bila sudah mendapat berita.

“Assalamu alaikum,” suara di seberang sana menyapaku. Napasku tercekat. This is it. Mau enggak mau aku harus  menyampaikan kabar itu.

“Wa alaikum salam, Yang. Tadi aku sudah ditelepon sama klinik. Embrio kita gagal,” aku berusaha menyampaikan beritu itu setenang mungkin. Tapi sepertinya aku gagal, yang ada aku menyelesaikan semua kalimat itu dalam satu tarikan napas saja.

Ada keheningan di seberang sana. Aku pun tak sampai hati untuk memecah kesunyian ini. Jadi aku biarkan saja kami sama-sama larut dengan perasaan masing-masing, menikmati kesunyian.

“Ya sudah kalau gitu. Kita istirahat saja ya. Kita jalan-jalan,” akhirnya lawan bicaraku yang memecah kesunyian kami terlebih dahulu.

Travel is rebellion in it’s purest form.

We follow our heart

We free ourselves of labels

We lose control willingly

We trade a role for reality

We love the unfamiliar

We trust strangers

We own only what we carry

We search for better questions, not answer

We truly graduate

We, sometimes, choose never to come back

(source: Pinterest)

Tiap orang tentu memiliki alasan masing-masing ketika memutuskan untuk menjadi seorang traveler, tidak terkecuali aku. Ketika program bayi tabung pertamaku dinyatakan gagal, seketika itu pula aku berkata pada diri sendiri, aku ingin bertualang. Aku ingin membuka babak baru dalam kehidupanku.

Agustus 2012 adalah titik dimana akhirnya aku berusaha untuk membangun mimpi-mimpi baru. Aku ingin berkelana berdua dengan Mas Met. Impian bisa jalan-jalan berdua dengan Mas Met sebenarnya bukan hal baru bagiku, hanya saja kami selalu menunda demi progam hamil yang kami jalani.

Hari itu, ketika akhirnya tangisku reda, aku pun berusaha bangkit dan mengubur kesedihanku. Bukan berarti aku menyerah. Aku hanya ingin berhenti berharap sesaat. Aku lelah dengan segala obat-obatan dan tindakan medis yang harus kami jalani. Aku lelah ditanya sudah sejauh mana progress program hamil yang tengah aku jalani. Aku lelah berada di kota dimana orang-orang mengenal diriku, mengenal kisahku. Aku ingin membuka lembaran baru. Aku ingin bertualang.

Saat satu pintu tertutup, maka akan ada pintu lain yang terbuka.

5 tahun berlalu.Sampai saat ini aku masih berlum dikaruniai buah hati. Ada kalanya aku sedih. Tapi insya Allah aku ikhlas menjalani semua ini. Aku tetap bersyukur atas semua rencana Allah. Tanpa kejadian itu, belum tentu kaki ini bisa berkelana ke beberapa tempat di muka bumi. Memang belum seberapa apabila dibanding para traveler ternama. Tapi insya Allah langkahku belum akan berhenti. Aku masih akan berkelana kembali. Dan menuliskannya di blog ini.

#BloggerMuslimahIndonesia #ODOP #day13

 

7 Comments

  1. Selamat bertualang kak!
    Semoga dipermudah segala urusannya..
    Suka kata2 ‘Saat satu pintu tertutup, maka akan ada pintu lain yang terbuka.’ nya.,^^

  2. Saat satu pintu tertutup maka ada pintu lain yang terbuka. Mungkin memang belum saatnya ada amanah-Nya. Insya Allah semua akan indah pada waktunya, Mbak. Tetap semangat ya..Terus menulis biar ada cerita tentang kebaikan dan perjalanan yang bisa dibagi di sini:)

  3. Ia akan datang di saat yang paling tepat, teh Di.

    Selamat menikmati jalan-jalan, menikmati pacaran berdua dengan suami.

    Aku lagi ‘puasa’ travelling sampai anak-anak kuat diajak ngebolang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *