Kencan Bersama Sahabat di Oma Liesa – House and Kitchen

Bismillahirohmanirohim,

Cacing-cacing di perut sudah mulai berteriak ketika akhirnya aku meninggalkan rumah Anggi untuk menikmati Kuliner Grand Galaxy. Salah aku sendiri sih, kebiasaan ga sarapan di hari kerja tetap aku lakukan hari itu, padahal janji jalan kami baru setelah menunaikan shalat Dzuhur.

“Jadi kita kemana dulu nih, Nggi?” tanyaku ketika kami sudah berada dalam kendaraan. Aku beryukur hari itu bisa dapat pinjaman mobil mama beserta supirnya (ya iyalah, aku kan ga punya SIM dan memutuskan selalu bilang ga bisa nyetir). Jadi acara main-main hari itu terasa lebih mudah, ga perlu nyetop angkot ataupun mamang becak. Alhamdulillah ūüôā

“Ada deh,” Anggi tersenyum penuh rahasia padaku. “Mang Untung, kita ke jalan Pulo Sirih Barat ya,” Anggi melanjutkan kalimatnya dengan memberikan arahan pada supir yang sudah menemani aku dari jaman aku masih berseragam merah putih.

Acara main-main ke Galaxy, Bekasi ini sebenarnya dalam rangka memenuhi rasa penasaran aku akan Magnum Tiramisu Affogato yang ada di Maxx Caffee, akhir November 2016 lalu. Tapi dasar tukang main, daripada cuma ke satu tempat, alangkah baiknya bisa ngunjungin beberapa tempat nongkrong lainnya, biar banyak bahan tulisannya (dan kemudian baru ditulis di 2017, pemalas kamu, Dian!). Biasanya aku rajin membuat list tempat-tempat yang ingin aku kunjungi, tapi setiap main ke daerah Galaxy, aku akan minta Anggi  untuk memilih tempat tujuan kami, aku percaya akan selera dia, toh ini memang wilayah kekuasaan dia.

“Nah di kiri-kiri sini, Mang Untung. Pelan-pelan…. Yah, kok tutup? Yan, tempat yang mau gue rekomen ke elo udah ga ada nih kayanya. Gimana dong? Mana gue udah lapar lagi.”

Di saat itulah tawa aku pecah. Anggi memang hebat soal selera tempat hangout.  Tapi dia punya kebiasaan lupa meng-update informasi. Pernah ketika kami akan menikmati kuliner di Eat Happens (aku, Anggi, plus Melissa, sahabat aku satu yang satu lagi, kami bertiga sama-sama satu SMA), bikin janji abis Dzuhur juga untuk langsung ke tempat makannya. Padahal ternyata Eat Happens baru buka jam 4 sore.

“Ini kita di Pulo Sirih Barat kan ya? Maju lagi aja, Mang. Nanti ada Oma Liesa di depan.”¬†Lucky me,¬† I always prepared for a back up plan.

Oma Liesa - House and Kitchen

Dari luar, tempat ini hanya seperti ruko pada umumnya. Hanya sebuah papan bertuliskan Oma Liesa РHouse and Kitchen yang berada di atas pintu dan stand sushi di bagian depan yang menandakan kalau ini adalah tempat makan. Dari logo Oma Liesa yang menggambarkan seorang wanita separuh baya, aku menduga kalau tempat ini mungkin berkesan vintage. Karena dari nama dan logonya sepertinya pemiliknya adalah seorang nenek bernama Liesa.

Dan di situlah aku salah. Karena ketika kaki ini melangkah, yang aku tangkap justru suasana yang ceria.¬†Sebuah tembok dengan mural bergambar cafe di satu sisi, dan bergambar Tintin di sisi satunya menyambut kedatangan aku dan Anggi siang itu. Hmm… siapa pun pemiliknya, pastilah penggemar komik Tintin. Meja dan bangkunya pun terbuat dari kayu yang di cat aneka warna.


bahkan motif kain di kursi panjangnya aja gambar Tintin


Anggi memilih duduk di sisi tembok yang bergambar cafe Oma Liesa, tembok yang meski cantik tapi terasa lebih simple di mata dia. Sahabatku ini memang penganut aliran minimalis, berbalik 180 derajat dengan aku yang justru lebih menyukai sesuatu yang memberikan kesan ramai. Untungnya tempat itu masih sepi, jadi aku bisa dengan leluasa pindah-pindah tempat untuk berpoto.


Pilihan makanan yang ditawarkan di Oma Liesa lumayan beragam. Mulai dari nasi goreng, nasi pindang, nasi penyet, rice bowl, burger, spaghetti. Untuk kudapan dan dessert-nya kita bisa memesan risoles, pancake, roti bakar, juga es krim. Ada juga pilihan menu sushi, tapi kayanya ini cuma kerja sama dengan Oma Liesa, dan saat itu mbak yang jual sushinya lagi ga di tempat, jadi kami ga bisa memesan sushi deh.

So, what’s for lunch? Siang itu aku memesan nasi goreng kampung dan lychee tea. Sementara Anggi memesan rice bowl sweet and sour fish ditemani teh hangat. Nasi goreng kampung ini terdiri dari nasi goreng (ya iyalah ya), telur, dan ayam goreng. Yang kemudian menuai komentar dari Anggi, “Lo laper ya, Yan? Porsinya banyak banget!” Sementara rice bowl pilihan Anggi itu berupa nasi putih denga ikan dori yang sudah digoreng tepung.

Ga usah takut bosan menunggu makanan tiba saat di Oma Liesa ini. Karena selain bisa berpoto-poto, di tempat ini disediakan juga majalah, buku, dan game board seperti UNO, Monopoly, Scrabble, dan lainnya. Seru kan? Asal kalau sudah selesai, jangan lupa untuk ditaruh kembali ke rak semula ya. Tetap bantu jaga kerapihan.

Selesai makan, aku menghampiri meja kasir. Mau bayar? Belum. Aku mau pesan es krim. Cuaca boleh jadi lagi tak menentu, tapi tak membuat aku berhenti menikmati es krim kala ada kesempatan. Apalagi es krim di Oma Liesa ini disajikan dengan menarik.

Oh iya, es krim di Oma Liesa ini dibuat secara homemade, tanpa pengawet. Manisnya menurut aku pas, ga terlau manis. Tekstur rasanya juga lembut.Dan memang, es krim di Oma Liesa ini merupakan salah satu signature dish di sini.

Setelah memastikan semua makanan turun dengan baik ke dalam perut. Kami pun siap menuju tempat berikutnya! Bayar berapa untuk jajan kami siang ini? Untuk semua makanan yang kami pesan, tak sampai RP 100.000, cukup Rp 98.500. Harga normal ukuran makan di Jakarta dan Bekasi-lah. Ga murah, juga ga mahal.


Mau juga berkunjung ke Oma Liesa? Yuk silakan. Oma Liesa ada di Jl Pulo Sirih Barat Raya blok L2 no 448, Ruko Grand Galaxy City.

Selamat nongkrong-nongkrong cantik!!

 

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *