Ketika Cinderella Bersepatu Sneakers

Bismillahirohmanirohim,

Judul : Can I Have My Fairytale at 30?

Penulis : Astria Soedomo

ISBN : 978-602-336-154-0

Penerbit : Diandra Kreatif

Cetakan : 1

Tahun Terbit : 2016

Tebal : 334 halaman

Harga : Rp 65.000

Waktu melihat buku dengan cover dominan pink dengan gambar sepatu kaca ini muncul di timeline facebook, aku langsung penasaran ingin memesan dan membacanya. Kenapa? Di saat orang-orang selalu nasihatin aku dengan kalimat bijak “Don’t judge book by it’s cover“, aku malah selalu memilih buku dari cover dan judul terlebih dahulu sebelum membaca bagian cover belakangnya. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menolak godaan buku pink ini yang sekilas mengingatkan aku akan novel Princess Diaries-nya Meg Cabot.

Alasan lain untuk membeli buku ini tak lain dan tak bukan adalah penulisnya. Buku ini pertama kali aku lihat di timeline seorang teman masa kuliah, yang tak lain adalah penulis dari buku ini sendiri, Astria Soedomo. Melihat luapan kebahagiaan dia akhirnya menerbitkan novel pertamanya, hati kecilku seperti kembali diiingatkan pada sebuah mimpi yang belum terwujud, menulis novel. Tapi ah sudahlah, postingan ini kan bukan tentang aku, mari kita lanjutkan.


Dan yang menjadi alasan terakhir aku akhirnya membeli novel ini adalah karena memang aku selalu rajin membeli buku tapi kemudian lupa untuk membacanya. Selalu ada alasan untuk membaca buku bagi aku, baik itu menambah ilmu, meningkatkan kemampuan menulis, serta memainkan imajinasi.

And the best female jomblo goes to.....

Can I Have My Fairytale at 30? ini menceritakan tentang Eby Sulistomo, seorang produser TV, 30 tahun, single, dan penggemar K-Pop. Cerita di awali ketika Eby dan seorang sahabatnya tengah menonton konser 2PM, salah satu boyband Korea favoritnya, tepat di malam pergantian umurnya yang ke 30.

Pertemuan pertama Eby secara ga sengaja dengan Dio, yang juga seorang produser TV, terjadi ketika salah seorang fans K-Pop merekam gambar Eby untuk tayangan acara konser 2PM. Eby yang takut ketahuan kalau dirinya penggemar K-Pop pun mendatangi Dio, meminta agar cuplikan dirinya jangan ditampilkan. Dio menyanggupi dengan syarat Eby menyerahkan CD 2PM miliknya.

Pertemuan kedua Eby dan Dio berada di stasiun TV tempat Dio bekerja. Cuplikan Eby berada di konser 2PM tetap tayang. Padahal Eby sudah menyerahkan CD 2PM kesayangannya. Eby berusaha meminta tanggungjawab Dio.

Pertemuan Eby dan Dio berikutnya justru terjadi di stasiun TV Eby bekerja. Kali ini Dio menjadi ancaman karena posisi Eby sebagai produser TV acara Danish Show harus berbagi dengan Dio. Demi mengejar rating Eby diminta bekerja sama dengan Dio untuk merombak Danish Show, yang selama ini Eby pegang.

Selain beban menjadi jomblo, beban Eby pun terpaksa bertambah dengan ancaman posisinya sebagai Produser TV akan digeser dan digantikan oleh Dio. Bagaimana mungkin dia bekerja sama dengan Dio kalau diam-diam ada rasa takut kehilangan pekerjaan yang dia sukai ini.

Witing tresno jalaran soko kulino, begitu yang biasa dikatakan oleh orang Jawa. Cinta tumbuh karena terbiasa. Begitu juga mungkin yang dirasakan oleh Eby. Setelah mulai mengenal Dio, bekerja sama dengan Dio, diam-diam muncul perasaan suka terhadap Dio. Masalahnya apakah Dio juga memiliki perasaan yang sama?

Dari awalnya aku mengira ending novel ini akan berakhir bahagia seperti umumnya cerita-cerita cinta.  Tapi ternyata aku salah. Astria menggunakan penutup yang cukup unik untuk mengakhiri novel pertamanya ini. Kisah yang dibikin menggantung mengingatkan aku akan film Ada Apa dengan Cinta belasan tahun yang lalu. Jadi, apakah nantinya Astria pun akan membuat sequel-nya? Ayo, Tria, we need closure to Eby and Dio!

Buku ini memang masuk kategori drama percintaan yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan selera humor yang sukses bikin aku ketawa sendiri. Tapi buku ini bukan cuma mengangkat masalah jomblo dan percintaan semata. Lewat pekerjaan Eby sebagai produser TV, Astria juga mengangkat isu soal acara kebiasaan TV yang saat ini cenderung menyebarkan sesuatu yang belum jelas, ga akurat, dan kemudian masyarakat akan menganggapnya sebagai fakta. Semua semata-mata demi rating yang tinggi. Mereka menganggapnya karena memang masyarakat senang diperlakukan seperti itu. Tapi karakter Eby malah berpikir sebaliknya.

Kita yang ngebentuk apa yang akan masyarakat suka. Kita yang mengontrol rating, bukan rating yang mengontrol kita.

 

So, what do think guys? Do you agree with that? Apakah sudah saatnya acara televisi kita mulai berubah? Kalau aku sih yes.

Kembali ke novel Can I Have My Fairytale at 30? ini, jadi apakah akhirnya Eby berhasil mendapatkan kisah dongengnya meski sudah di usia 30? Apakah pangeran tampan akhirnya datang menjempunya dan membawanya ke istana seperti Cinderella? Well, I’m not allowed to make a spoiler kan ya. Jadi, silakan dibaca aja.

 

7 Comments

  1. mbak, aku fokus sama fotonya.
    kok fotonya burem sih mbak? rajin bersihin lensa jangan lupa. jadi banyak noise dari external gitu.

  2. aku juga suka lihat cover dulu baru cek isi bukunya
    kalau dua2ya ok baru deh beli..

    eh suka dengan “kita yang membentuk rating, bukan rating membentuk kita”
    iya dong biar selalu ada karya berkualitas

  3. Halo Dian Ravi

    Apa kabar dan salam kenal

    karna cover buku yang menarik kita selaku manusia itu pastinya juga akan jatuh hati..

    karna kita juga punya naluri ingin memlikinya.

    iya ngga ka dian ravi?

    salam kenal untuk kunjungan pertama kali kak dian ravi

    Mukhofas Al-Fikri

  4. Ceritanya Manis bangett Mbakk.. Coxok dibava buat para single..
    Reviewe Mbak Dian ok deh..
    Aku mau cari ah nanti heheh

  5. Pertama lihat cover bukunya aku kirain novel remaja eh ternyata semacam metropop gitu. Kayaknya ceritanya juga seru, dekat dengan kehidupanku karena dulu aku juga kerja di TV. Kayaknya seru nih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *