Mencermati Kids Jaman Now Lewat Film My Generation, Dengarkan Isi Hati Mereka

Bismillahirohmanirohim,

Siapa yang tak pernah melewati masa remajanya dengan kenakalan? Yang jelas bukan aku. Aku pernah beberapa singgah di ruang BP akibat beberapa ulah yang kulakukan sendiri ataupun bersama-sama. Bahkan aku pernah dipanggil oleh guru agama hanya gara-gara ketahuan membaca novel Harimau! Harimau! karangan Mochtar Lubis saat masih SMP. Menurut beliau buku itu terlalu saru untuk dibaca anak seusia aku.

Masa remaja adalah masa yang paling indah. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Remaja cenderung melakukan hal-hal spontanitas untuk mengukur kemampuannya, untuk menunjukkan kehebatannya. Masa remaja adalah masa yang paling indah untuk dikenang.

Hampir semua orang dewasa saat ini tentu tahu rasanya bagaimana ketika menjadi remaja. Merasa ingin bebas, mencoba hal-hal baru, demi nantinya belajar menjadi orang yang lebih baik dengan belajar dari kesalahannya di masa lalu.

My Generation, Film yang Menceritakan Bagaimana Kids Jaman Now

Masa remaja adalah masa yang paling seru dengan segala polemiknya. Tentu saja, remaja generasi masa kini tentu ada perbedaannya dengan remaja di generasi aku. Bahkan aku bisa merasakan bagaimana gaya aku dan adikku yang terpaut selisih usia 15 tahun terasa jauh berbeda. Aku yang baru mulai memiliki telepon genggam pertamaku di usia 17 tahun, sedang adikku yang sejak TK pun sudah mengenal internet.

Bergesernya gaya hidup modern akibat era digital melahirkan karakter-karakter yang unik. Hal ini ditangkap oleh Upi, seorang penulis naskah dan sutradara dalam membuat film terbarunya. My Generation, film yang akan tayang di bioskop mulai 9 November 2017 nanti mengisahkan tentang problematika remaja di era milenials.

Butuh sekitar 2 tahun untuk Mbak Upi dalam melakukan riset tentang bagaimana remaja di jaman milenial ini. Yang menarik, riset yang dilakukan bukanlah dengan cara bertatap muka langsung, melainkan dengan mengintip media sosial.

Film My Generation ini menceritakan tentang pesahabatan empat remaja SMU, Zeke (diperankan oleh Bryan Langelo), Orly (diperankan oleh Alexandra Kosasie), Suki (diperankan oleh Lutensha), dan Konji (diperankan oleh Arya Vasco). Cerita diawali dengan gagalnya rencana liburan mereka akibat mendapatkan hukuman karena membuat video memprotes pada guru, sekolah, serta orangtua mereka.

Meski rencana liburan mereka gagal, bukan berarti mereka tidak bisa bertualang. Justru akibat hukuman yang mereka jalankan ini membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran berarti dalam kehidupan mereka.

Film yang diproduksi oleh IFI Sinema ini bukan hanya menampilkan pemain baru saja. Tapi dalam film My Generation kita akan diajak melihat bagaimana ke empat bintang muda itu beradu akting dengan pemain senior seperti Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, serta Aida Nurmala.

Dari semenjak dirilisnya poster dan official trailer film My Generation di bulan Oktober ini, tak sedikit opini negatif bermunculan. Imajinasi Upi sebagai penulis dianggap terlalu liar, terlalu blak-blakan, terlalu bergaya kebarat-baratan dalam menuliskan dan membuat tokoh di film My Generation ini.

Bagi yang belum melihat trailer film My Generation, silakan scroll dulu ke atas, tontonlah sejenak, simpan dulu opini kalian dalam hati, dan lanjut baca lagi tulisan aku ini.

Ketika banyaknya komentar negatif mengatakan seolah kids jaman now tidak seperti yang digambarkan dalam film My Generation, mari kita lihat sekeliling kita. Benarkah demikan? Aku lupa kapan persisnya di media sosial ramai dibicarakan soal anak SD yang berpacaran dengan memanggil umi-abi. Belum lagi kisah asmara selebgram yang membuat tak sedikit remaja menjadikan kisah mereka sebagai goal relationshipnya. Padahal banyak yang sependapat kalau gaya pacaran mereka terlalu bebas.

Keluhan negatif soal bagaimana kids jaman now dianggap enggak punya sopan santun pun kerap kali aku baca via timeline di media sosial. Ditambah dengan kedekatan mereka dengan gadget, makin lengkaplah rasanya cap negatif yang melekat dalam diri mereka. Seolah-olah ini semua kesalahan teknologi yang makin canggih.

Orangtua Memiliki Peranan Penting dalam Membesarkan Seorang Anak

Orangtua memiliki peranan paling penting dalam membesarkan anak. Kalimat itu pasti semua orang juga tahu dan membernarkannya. Masalahnya sebagai orangtua kadang suka lupa untuk mendengarkan keinginan anak kita.

 “Orangtua selalu ingin menjadi role mode untuk anaknya tapi bukan berarti mereka memaksa kita menjadi seperti mereka.”

-Orly

“Sepertinya orangtua ditakdirkan untuk selalu complain untuk hal-hal kecil”

-Suki

Sebenarnya orangtua yang otoriter bukan hanya terjadi pada kids jaman now saja. Tapi di jaman aku pun mengalaminya. Tak sedikit teman-temanku yang merasa terjebak harus menjalani kehidupan yang ditentukan orangtuanya. Menentukan teman main harus dengan anak yang pintar, menentukan posisi duduk harus di deretan depan, sampai menentukan jurusan kuliah dan di kerja sebagai apa.

Sebenarnya mereka mengatur seperti itu pun karena dulu mereka pun diatur seperti itu oleh orangtua mereka. Mereka pun dulu tentu pernah berpikir, “Orangtua gue gini banget sih ngekangnya.” Tapi kemudian mereka lupa akan perasaan itu dan justru menjadi sosok seperti orangtua mereka dulu, mengatur dan memaksakan kehendak.

Kalau semua ini terus berlanjut, mau sampai kapan para remaja tidak bisa menentukan keingan mereka sendiri?

Kesimpulan

Setiap cerita tentu memiliki alasan sendiri untuk ditulis. Aku pribadi tak tahu persis alasan Mbak Upi menulis kisah kids jaman now ini. Tapi aku berusaha berprasangka baik. Aku menduga lewat film My Generation ini, Mbak Upi hanya ingin membuat mata kita terbuka soal bagaimana kids jaman now, dan mengingatkan bagaimana orangtua agar bisa memberikan kebebasan terhadap anak-anaknya. Bebas dalam arti di sini bukanlah gaya hidup bebas ya, tolong jangan disalah artikan. Tapi memberikan kebebasan dalam menentukan pilihannya. Tugas orangtua adalah membimbing keinginan mereka.

Menurut aku film My Generation ini film yang menarik untuk ditonton. Apalagi bila menontonnya dengan anak-anak kita. Kita bisa berdiskusi setelah film ini selesai. Ingat, diskusi loh. Komunikasi yang terjadi adalah dua arah. Buka perintah. Jadikan hal-hal negatif yang ada dalam film ini sebagai pelajaran ke depannya agar generasi anak bangsa bisa lebih baik lagi.

Yuk, jangan lupa tanggal 9 November 2017 nanti kita ke bioskop buat nonton My Generation!

“You know parents? What’s best for your kids? Just let your kids be themselves.”

-Suki

18 Comments

  1. wah Upi ini terkenal kan yah, saya baru tau ada film ini mbak.. Saya tonton trailernya sepertinya bagus untuk mengetahui gimana pola pikir anak jaman sekarang.. makasi infonya mbak!

  2. Iya, tujuan dibuatnya film ini biar kita semua paham gimana kehidupan anak zaman now. Memberikan pengetahuan yang lebih kepada orang tua agar lebih baik dalam mendidik anak.

  3. Wah iya nih. Masalah orang tua yang otoriter enggak hanya terjadi di anak-anak sekarang. Itu juga yang saya perjuangkan ke adik dan keponakan-keponakan saya, biar mereka berani bermimpi dan hidup dengan baik untuk meraih mimpi mereka sendiri.

  4. Duh, tapi itu kok ada adegan cium2annya ya mbak? Ngeri aja kl yang diajak anak2 yang masih kecil2, krn mereka meniru apa yang mereka lihat, dengar. Semoga film ini lebih banyak sisi positifnya

  5. Sebagai calon orang tua, saya akhir akhir ini banyak baca buku2 ttg parenting, sebagai bekal menghadapi fenomena kids jaman now hehe satu hal yg sy dapat adalah kita sebagai org tua seringkali menuntut supaya anak jadi orang yg baik, tanpa pernah berintropeksi apakah kita sudah jadi orang tua baik. Terima kasih sharing nya mba…

  6. Ga sabar nontonnyaaa baru liat trailernya aja udah bikin penasaran. Tayang 9 November kan ya Mba? *stabiloin kalender*

  7. Ahha…anakku masih kiciik..
    Dan aku termasuk #teamnegatifthinking sama adanya film seperti ini.

    Memang benar kita tidak bisa menutup mata atas fenomena yang terjadi pada remaja Jaman Now.
    Hanya pen’dakwah’annya lebih baik tidak menggunakan media film.
    Karena Jaman Now, anak-anak remaja yang BLAST tidak bisa mengajak orangtua mereka nonton, malah menonton sendiri dengan pasangannya.

    Amankah?
    Membentuk opini publik dengan cara demikian?

    • Iya sih, Mbak enggak bisa dipungkiri kemungkinan yang nonton sama pacarnya. Tapi aku pun pernah jadi anak nakal, enggak bisa dipungkiri hal-hal seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Sekarang, ga mau cari cara untuk mencegah agar enggak semakin banyak?

  8. Aku jg termasuk ortu yg udah mengenalkan gadget pada anak. Awalnya aku jg idealis sih, jangan sampe kenal gadget dulu, tapi dengan keterbatasan tenaga dan emosi yang belum terkontrol, akhirnya aku nyerah pada gadget.

    Aku tetep batasi pemakaian gadget dengan aturan, semoga nanti makin besar anak2 udah makin bisa diatur dan kurangin main gadgetnya.

    PR juga nih buat aku supaya besok ga jadi ortu yg main perintah aja, karena dulu waktu aku kecil juga ngrasain seperti itu.

  9. Film yang menggambarkan realitas remaja kekinian. Mungkin ortu cocok nonton ini, dan bisa jadi bahan untuk merumuskan metode yang inovatif untuk mendidik anak anak.

  10. Banyak yang bahas tentang film ini yaa. Yah gak bisa dipungkiri anak-anak jaman sekarang yaa emang kayak gini. Banyak-banyak berdoa dan belajar supaya bisa mengarahkan anak-anak kita ke arah yang baik.

  11. Belum bisa komentar banyak ttg film ini krn belum nonton. Tapi semoga saja film ini sesuai harapan ya mbak, bisa diambil pesannya sama ortu, gutu, bahkan oleh remaja itu sendiri 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *