Mengunjungi Rumah Oma Opa, Lasem

 

Assalamu’alaikum,

2016-08-01 03.19.59 1

Kendaraan roda dua yang dikemudikan mas Metra memasuki jalan Karangturi, sambil terus mengikuti Mas Pop dari Lasem Heritage aku tak henti-hentinya mengumi deretan tembok putih yang membentengi rumah-rumah di jalanan ini. Diantara tembok-tembok itu terkadang terdapat pagar kayu yang membuat rasa penasaranku akan bangunan di dalamnya sedikit terjawab. Tembok putih nampak masih kokoh meski terlihat sudah tua. Pintu menuju akses rumah-rumah ini umumnya berwarna terang dengan 2 daun pintu lengkap dengan pintu ayun yang berukir. Tak salah bila Lasem dijuluki sebagai Tiongkok Kecil di Utara Jawa, melintasi jalanan ini merupakan bukti nyata kuatnya budaya tiongkok yang berpadu padan dengan usur Jawa.

2016-08-01 03.22.26 1

2016-08-01 03.22.30 1

Mas Pop menghentikan motornya di depan sebuah rumah di jalan Karanturi gang IV no 17. Pintu kayu berwarna toska terbuka, berbeda dengan rumah-lainnya yang tertutup rapat. Seorang pria separuh baya nampak duduk di depan pintu.

“Ini rumah Oma-Opa,” Mas Pop menjelaskan padaku dan mas Met sebelum menyapa pria separuh baya itu dengan sapaan, “Halo, Opa. Ini bawa tamu dari Jakarta.”

“Selamat datang,” Opa menyapa kami dan mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Aku terenyuh ketika melihat Opa berjalan dengan merangkak. Hati ini rasanya ingin membatu Opa menaiki anak tangga menuju ruang depan rumahnya. Mas Pop memberikan kode agar aku membiarkannya sambil berucap pelan, “Opa ga suka dibantu.” Belakangan aku tahu cara jalan Opa seperti itu adalah akibat jatuh beberapa waktu yang lalu. Aku mengalihkan padangan ke arah mas Metra. Kamera yang sudah berada di tangannya urung mengabadikan moment ini. Alih-alih dia malah menyimpannya kembali ke dalam tasnya. Dari sorot matanya aku tahu, dia tak tega.

2016-08-01 03.22.36 1

2016-08-01 03.22.40 1

2016-08-01_04-39-15

Model rumah ini bergaya rumah panggung. Dengan lantai bata merah dan dinding kayu jati berwarna hijau yang sudah pupus termakan usia. Tiga buah kursi anyaman tampak menghiasi bagian tengah ruang depan. Namun Opa justru memilih duduk di bangku yang berada di bagian samping.  Pintu masuk menuju bagian dalam tampak diapit oleh 2 bingkai foto yang sudah termakan usia. Satu foto seorang pria Tionghoa, satunya ssosok wanita Tionghoa. Aku menduga itu adalah foto leluhur dari Opa dan Oma.

Sosok paruh baya yang dipanggil Opa ini memiliki nama Tionghoa Lo Khing Gwan atau Kadjarni nama Indonesianya. Usianya saat itu sudah memasuki 86 tahun.  Dengan senyum ramah Opa bercerita soal rumah yang sudah berusia lebih dari 150 tahun ini. Rumah ini dibangun oleh kakek Opa yang pada saat itu berprofesi sebagai sinsei.

Tak lama seorang wanita keluar dari dalam rumah. “Ini mbak Menuk,” mas Pop mengenalkan kami. “Kyle Menuk,” kelakar mas Pop memplesetkan nama seorang penyanyi asal negri Kangguru. Mba Menuk ikut tertawa mendengar candaan mas Pop. Tapi dalam hati aku ragu, apakah dia benar-benar tahu siapa itu Kylie Minogue yang dimaksud oleh mas Pop. “Mbak Menuk ini yang bantu-bantu ngurusin Oma sama Opa. Aslinya dari Tuban.”

Mbak Menuk seolah memberi laporan pada mas Pop kalau beberapa hari sebelumnya Opa habis kedatangan keponakannya dari Surabaya. Mas Pop mencoba bertanya pada opa, tapi tampaknya daya ingat opa sudah semakin menurun saat itu.

“Anak-anak opa dan oma kemana?”

Rupanya opa dan oma bukanlah suami istri. Mereka adalah saudara sepupu. Keduanya tidak menikah sehingga tidak memiliki keturuan. Hanya sesekali saja ada keponakan-keponakan yang datang menjenguk.

Mbak Menuk mengajak kami ke dalam menemui oma. Dari pembawaannya aku menduga cukup sering mas Pop dan teman-temannya dari Lasem Herritage membawa tamu ke rumah oma dan opa. Susana dalam ruangan terasa kelam, mungkin akibat kurangnya pencahayaan ditambah debu-debu yang berterbangan.

“Penerangan di rumah ini emang ala kadanya aja, mbak,” ujar mbak Menuk seakan bisa membaca pikiranku. Terdapat meja doa begitu kami masuk ke dalam rumah. Kata mas Pop meja doa ini hanya digunakan setahun sekali, yaitu pada perayaan imlek.  Aku sempat melihat tempat tidur ukir lengkap dengan kelambunya sebelum mbak Menuk membawa kami ke bagian belakang rumah.

Di bagian belakang rumah ini terdapat halaman yang cukup luas. Aku mengira-ngira bahwa dulunya keluarga oma-opa ini pasti termasuk keluarga yang terpandang. Oma tampak duduk menghadap halaman belakang. Mendengar suara langkah kami senyum manis membingkai  raut wajahnya, “Selamat pagi,” sapanya. Sesaat aku bingung, karena hari ini sudah menjelang siang. Tapi mas Pop menjelaskan, kalau Oma memang akan selalu menyapa dengan sapaan selamat pagi.

Aku duduk tak jauh dari oma yang memiliki nama Sri Khalawati Gunawan. Menyapanya dan menanyakan kabarnya. Tak lama cerita pun mengalir dari mulut oma. Aku mengerutkan dahi berusaha mendengarkan cerita oma. Entah kenapa aku tak bisa menangkap jelas meski suara oma cukup lantang. Rasanya oma hanya bolak-balik mengulang kata. Yang berhasil aku tangkap hanya 1 kalimat yang sepertinya menceritakannya orang jahat.

“Oma Sri ini pernah punya trauma sama orang jahat. Kayanya itu nempel terus diingatannya,” mas Pop menjawab pertanyaanku.

Mbak Menuk juga bercerita kalau oma ini sehari-harinya selalu berada di halaman belakang rumah. Dari jam 8 pagi sampai jam 8. Bangun tidur, dimandikan, duduk sampai waktunya tidur. Begitu setiap harinya. Sementara opa lebih senang berada di bagian depan, duduk di depan pintu seperti saat aku datang tadi.

Aku ga berani untuk berlama-lama. Entah berapa lama lagi aku bisa menahan air mata untuk tak membasahi kedua pipiku. Aku pun segera pamit dengan dalih sudah siang.

dianravi

 

 

 

49 Comments

  1. Tragis dan melegenda. Tragisnya mereka berdua tidak memilki keturunan karena tidak menikah, melegenda, kisah-kisah seperti ini yang menurut saya unik dan bersejarah. Apalagi lihat kondisi rumah yang tetap dipertahankan keasliannya, suka banget saya melihat orang yang tetap mempertahankan keaslian.

    Mba Dian… coba ada kelanjutannya, pasti keren 😀

  2. Aku pun terenyuh baca perihal Opa yang berjalan dengan merangkak. Aku kira awalnya suami-istri, oh ternyata bukan. Pilihan hidup yang berat (dan mungkin gak akan banyak orang yang berani ambil sekarang) untuk hidup tanpa suami/istri. Semoga tetap diberi kesehatan untuk Oma dan Opa. 🙂

  3. Mbak Dian, salam kenal sebelumnya yaaa 🙂

    Lasem itu apakah nama kota mbak? Ancer-ancernya dekat kota apa? Saya baru tahu soalnya (ketauan Geografinya nilainya jelek hehe)
    Btw suka banget kalau ada suatu kota masih banyak mempertahankan bangunan-bangunan lamanya yang unik.

    TFS ya 🙂

    • Hai April 🙂
      Lasem itu nama kota di kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Posisinya dilintasin jalur pantura. Kalau suka bangunan-bangunan tua, mampir deh kesini. Mulai dari rumah-rumah tua, dan kleteng-klenteng tua ada di sini.

  4. Lasem yang aku tahu cuma batiknya saja, hahaha.
    Nggak tahu kalau ada bangunan-bangunan lawas yang instagramable gitu.
    Btw, jadi trenyuh baca tulisanmu mbak :’)

  5. Nampaknya budaya Tiongkok telah lama berkembang di sana. Saya begitu takjub melihat tembok-tembok tinggi yang menjadi pembatas, pastinya penasaran bila saya lewat di sana. Alhamdulillah sudah terjawab lewat cerita di blog ini. Sangat mengharukan..

  6. Beruntung ya Mbak Dian ada kenalan yang kenal dengan penghuni rumah tua ini. Jadi bisa melihat-lihat ke dalam dan mendengarkan cerita sejarahnya langsung dari penghuninya sendiri.

  7. Di Aceh ada juga perkampungan tiongkok, peunayong namanya. Ada juga yang masih trauma dg kejadian tahun 1960 dan mereka tertutup dengan warga pribumi

  8. Ahh rumahnya masih tradisional sekali ya, masih ada sumur nya.

    Aku Kira awalnya oma opa suami istri, dan ternyata mereka sepupu dan tidak memiliki pasangan serta anak y 🙁

    Semoga kita semua bisa menemukan pasangannya masing-masing, yang akan menjadi teman hidup hingga akhir.

  9. Haru sekali membacanya Mbak. Bagaimana menghabiskan hari tua pasangan dan keturunan. @_@
    Iya Mbak, bangunan2 unik berusia seratusan tahun (bahkan lebih) punya nuansa tersendiri. Kita dibawa ke masa lalu

  10. Selalu ada rasa terharu dg cerita mbah2 yg terus survive dlm hidup apa lagi nggak ada keturunan. Brarti mbah2nya saling menjaga aja tanpa nikah

  11. Rumahnya sungguh menarik untuk dikunjungi. Mudah mudahan saya punya kesempatan untuk mengunjunginya.

    Opa dan oma ini sungguh luar biasa. Sepupu yang saling menjaga.

    Seharusnya rumahnya sudah masuk kedalam cagar budaya nih.

  12. Lasem kota Dampo Awang, banyak juga ulama2 Top penyebar Islam singgah di Lasem. Tidak heran karena Lasem adalah Vasal dari Majapahit.

    Duh lihat tulisan ini jadi kangen Lasem.

  13. Saya suka penasaran dengan bangunan di balik tembok tinggi yang tampak tua, apakah di balik tembok itu ada bangunan megah atau sederhana? Membaca tulisan mbak Dian membuat sebagian rasa penasaran saya hilang

  14. Semoga oma dan opa selalu diberi kesehatan yg baik, ya. Sedih juga bacanya, mereka menghabiskan masa tua dengan sepi dan rutinitas yg sama setiap harinya. :'(

  15. Saya sudah lama ingin sekali ke Lasem, tapi sepertinya tidak bisa sendirian ya jalan-jalan disana? Minimal harus ada guide yang menemani.

    • Sendirian bisa mas. Tapi jarang bisa masuk rumah warga. Liat blog orang ada kok yg sendirian pun. Tp umumnya hanya ke klenteng dan rumah batik

  16. Biasanya aku tahu bangunan seperti itu cuma di Keraton Solo sama Jogja. Rasanya sama seperti lihat foto ini. Pengen tahu seperti apa di dalamnya. Bangunan dan suasananya seperti apa. Melihat ini, jadi flashback film2 Cina yg dulu dilihat jaman SD.
    Caranya biar bisa berkunjung ke sana gimana ya, Mbak?

    • Hubungi ke LasemHeritage, mbak. Di twitter. Mereka penggagas ide agar Lasem bisa dijadikan kota herritage

  17. Jadi ikutan nelangsa pas tau ceritanya opa dan oma, ttg pengalaman beliau yg trauma sama orang jahat :’)

    Saya pikir oma dan opa itu suami istri, ternyata bukan. Tak bisa dibayangkan betapa sepinya akan kesendirian mereka, untung aja ada mbak menuk yg bantu2 mereka. Semoga keponakan2 beliau rutin mengunjungi rumah oma opa

  18. Waaa mbak dian udah ke lasem ya. Duh selama ini aku follow sama kepoin @heritagepop terus. Semoga bisa nyusul kesana.
    Wah mbak aku jatuh cinta banget sama lasem ini. Tulisan mbak dian nambah aku pengen segera ke sana!huhu

    • Aamiin, mbak. Aku juga setelah 1 thn ngepoin twitternya sama sempet nanya2 baru kesampaian di 2014 kmaren. Sekarang pengen lagi blom sempet2 lagi

  19. aihhh sukaa bngett kapan2 bs berkunjung ke rumah opa oma itu ya.

    kedua org itu hebat, bs pertahanin keadaan rmhnya dr puluhan bahkan ratusan th lalu masih terjaga keasliannya.

    opa bikin ramuan juga ya(baca sinsei)

    *jd kangen alm oma opa ku ☹️

  20. Dulu pernah baca cerita mengenai Lasem dan katanya generasi mudanya pada merantau dan Lasem menjadi sepi. Tapi saya tidak membayangkan kalau sepinya akan sesunyi ini. Di masa tua begitu tentunya mereka ingin selalu ditemani oleh sanak saudara, bukan oleh kesendirian 🙁

  21. Melihat foto rumah diartikel, kok kayanya adem ya? Hmm.. Dan aku ikut ngerasa kesepian sih abis baca tulisan ini 🙁

  22. rumahnya sedikit mirip sama rumah nenek 🙂

    agak nyentuh gitu ya ini ceritanya 🙁
    semoga sehat dan panjang umur buat opa dan oma..
    aamiin allahuma aamiin..

    btw mba, lasem ini di daerah mana sih?
    kok jadi mau berkunjung juga sih.

    • Bena, Lasem di jawa tengah, jalur pantura setelah kota Rembang. Kalo kesana coba hubungi LasemHeritage deh. Biar bisa diajak blusukan ke dalam2nya

  23. Saya sedih bacanya. Hidup tua tanpa sesiapa. Sekaya apapun, percuma.
    Saya perhatikan beberapa komentar, cukup banyak yang mengenal Oma, Opa yaa.

  24. Rumahnya khas Chinese banget, Di China sana, rumahnya orang yang sudah tua2 juga seperti itu.

    Trenyuh lihat kondisi oma dan opa, butuh kesabaran extra untuk merawat beliau ya Mbak

  25. kalo inget lasem jadi inget sejarah tionghoa yang melekat erat juga bangunan tua yang sangat bersejarah, tp ga terlalu terkenal dibandingkan kota2 besar lainnya. seru banget kak bisa muter2 lasem jadi pengen ikutan

  26. Ihhh ini kemarin ada yg ngomongin lasem, lalu baca ini. Kayaknya tempat asik untuk dikunjungi ya? Belum pernah ke sna, saya. Dan, jadi kangen juga sama nenek kakek 🙁 oiya mbak pakai kamera apa?

    • Kalau suka sesuatu yang “tua” wajin banget ngunjungin Lasem. Foto-foto di rumah Oma Opa ini aku pakai kamera dari tablet Samsung. Tapi edit pake vsco cam.

  27. Tulisan yang sangat menyentuh, suasana yang digambarkan sama persis dengan yang kurasakan setiap kali i berkunjung di #RumahOmaOpaLasem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *