Menulis dari Hati Tetap Diperlukan Kerja Keras

Bismillahirohmanirohim,

3 jam lebih perjalanan dari Bandung menuju Jakarta kemarin aku isi dengan pikiran kusut. Ngapain? Aku belum punya ide dan belum menulis untuk #ODOP25. Sementara ketika aku mengintip di FB Blogger Muslimah Indonesia, Mbak Anggraini Citra sudah menuliskan pesan “Yeey…5 hari lagiii…” sebagai pertanda #ODOP25 dibuka.

Duh, tinggal 5 hari lagi, masa aku harus gagal setor sih. Ini saja aku sudah bolong 3 hari. Enggak mau bolong lagi kalau boleh mah. Tapi ide menulis apa tak kunjung datang. Ada sih beberapa bahan tulisan yang memang harus aku selesaikan, tapi aku tahu waktunya enggak akan keburu mengingat aku masih dalam perjalanan menuju rumah.

Tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul memberikan sebuah ide untuk menulis. Untuk ketiga kalinya di bulan ini, alhamdulillah aku berhasil memenangkan lomba menulis blog. Hmm sepertinya untuk #ODOP25 ini aku ingin curhat saja soal bagaimana Agustus ini terasa istimewa, menyenangkan tapi tidak mudah.

Terus terang ketika menjelang memasuki bulan Agustus dan menantang diriku untuk mengikuti One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia, perasaanku campur aduk, antara excited untuk menulis setiap hari juga khawatir bagaimana kalau gagal. Tapi aku mencoba saja untuk menjalaninya semampu aku.

Mudah? Enggak. Ada masa-masanya aku merasa menulis tiap hari membuat tulisanku terkadang jadi terburu-buru dan enggak maksimal. Tapi tak jarang aku pun merasa senang karena ternyata “Hey, aku bisa loh menulis tiap hari.” Sampai ada masa dimana akhirnya aku bolong menulis 3 hari.

Bolong itu bukan tanpa sebab memang. Untuk pertama kalinya di bulan Agustus, aku menerima undangan event 2 hari berturut-turut. Keluar rumah 2 hari seharian penuh ternyata membuat aku gagal mempublish sebuah tulisan. Padahal sih sudah mencoba untuk tetap menulis draft. Tapi ternyata, menulis di layar handphone bukanlah sesuatu yang mudah untuk aku. Untuk sebagian orang mungkin biasa melakukannya, tapi ternyata, aku tetap harus menulis di depan laptop. Tapi karena gagal menulis 3 hari itu, aku jadi belajar mengenal diriku sendiri. Untuk ke depannya, aku wajib membawa laptop mint kesayangan kemana pun aku melangkah.

Menulis tiap hari merupakan tantangan yang ternyata menyenangkan buat aku. Bagaimana aku harus memutar otak mencari bahan tulisan baru setiap harinya. Bagaimana akhirnya aku mengikuti berbagai lomba menulis di bulan ini. Siapa yang menyangka kalau ternyata dalam satu bulan aku bisa memenangkan tiga lomba?

Lucky. Ada beberapa teman yang berkomentar begitu. But wait, benarkah semua ini hanya faktor keberuntungan? Aku rasa tidak. Semua ini bisa terjadi karena aku terus dan terus menulis. Mungkin kalau aku enggak mengikuti One Day One Post ini, belum tentu aku akan memenangkan lomba-lomba itu.

Tinggal 5 hari hari Agustus akan berakhir. Sekarang aku malah galau, bagaimana nanti kisah blog ini tanpa ODOP. Akankah aku masih menulis tiap hari? Bisakah aku melawan rasa malas seperti aku melawan rasa malas di bulan ini?

Mohon doanya ya teman-teman, agar aku bisa tetap istiqomah dalam menulis.

Kalian bagaimana? Kesulitan dalam menulis tiap hari enggak?

Writing is an exploration. You start with nothing and learn  as you go.

-E.L. Doctorow

#ODOP, #BloggerMuslimahIndonesia, #ODOP25

3 Comments

    • Benar-benar harus maksain diri sebisa mungkin tiap hari nyelesein tulisan, Mbak. Tiap ada waktu luang, nyolong-nyolong deh. Tapi ya ini juga masih gagal kadang nulis tiap harinya.

  1. Sulit Mbak. Aku banyak alasan. Hiks. Memang harus ada motivasi atau ikut2 lomba/program ya biar semangat nulis tiap harinya bisa terus kenceng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *