Meraih Impian menjadi Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (movie review)

Assalamu’alaikum,

Poster-film-Jilbab-Traveler-Love-Sparks-in-Korea

Ketika libur lebaran kemarin bertabur film Indonesia di layar lebar, ada satu film lagi yang ingin aku tonton sebenarnya, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea. Niatnya pengen nonton sekaligus sama Sabtu Bersama Bapak, tapi ternyata film itu udah keburu turun duluan di bioskop terdekat dari rumahku. Sempat browsing web bioskop ternyata filmnya masih ada di mall-mall daerah Bekasi (Jakarta juga ada, tapi secara jarak makin jauh dari rumah). 

“Yan, lo besok sibuk ga? Kalau ga jalan yuk,” Fonty, sahabat dari jaman SMP ini tumben-tumbenan ngajak jalan. Rumah kami memang masih satu komplek dan hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Tapi kesibukan dia bikin kami bisa ketemu paling setahun satu sampai dua kali saja. Kebetulan dia lagi cuti lumayan lama jadi ada waktu untuk main-main sama aku.

Surprise, Fonty  ngajak aku nonton Jilbab Traveler. Rupanya dia menyimak waktu aku cerita pengen banget nonton film ini beberapa hari sebelumnya saat kami olahraga bareng. Bisokop yang masih menayangkan film ini tinggal di Mega Bekasi. Kami rencana menoton pertunjukan yang jam 12.15. 

Jam 11.50 kami masih berada di kalimalang. Bangunan mall sudah terlihat. Tapi kami masih harus melewati 1 lampu merah yang lumayan lama. Jalanan pun agak padat. Tiket belum di tangan, plus kami  belum tahu persis dimana lokasi bioskopnya. Saatnya bikin strategi, aku turun di lobi, langsung ke bioskop buat beli tiket sementara Fonty cari parkir mobil. Ok. 

Turun dari mobil, secepat mungkin aku memasuki area pertokoan. Menghampiri seorang wanita yang tengah membagikan brosur buat menayakan bioskopnya ada dimana, dijawab dengan jawaban di lantai 3. Segera aku naik eskalator pertama yang aku temui. Tapi begitu naik 1 lantai aku ga menemukan eskalator berikutnya. Sepasang mata memandangi aku yang lagi kebingungan, aku pun menghampirinya dan bertanya, “Mas, eskalator naik dimana ya?” Rupanya aku berada di dalam department store, aku harus keluar dulu untuk menemukan eksalator. Naik satu lantai, lagi-lagi aku merasa mentok. Ga ada tanda apa-apa mengenai arah bioskop. Pertokoan relatif sepi. Mau nanya sama satpam pun ga nemu. Lagi bingung gitu, hp-ku berdering. Rupanya Fonty malah sudah sampai di bioskop terlebih dahulu. Nah loh?! Aahahahaha…. Aku papasan dengan anak SMA. Kiranya mereka tahu dimana lokasi bioskop, tapi begitu aku tanya jawabanan mereka bikin aku ketawa sendiri, “Kami juga lagi bioskopnya dimana, Kak.” Akhirnya aku menemukan satpam, dan dikasih arahan menuju gedung bioskop. Saatnya menonton!

2016-08-02 06.26.54 1

Film yang diangkat dari novel karya Asma Nadia ini bercerita soal Rania Samudra, seorang penulis dan traveler, Jilbab Traveler begitu para pembacanya menyebutnya. Ayah Rania jatuh sakit, ia pun memutuskan untuk pulang ke tanah air. Namun ayahnya justru bertanya, “Apakah Rania sudah menemukan apa yang selama ini dicari?” Ayahnya merujuk pada kisah dirinya dan ibunya menemukan cinta di Baluran, Jawa Timur. Rania pun pergi ke Baluran.

Ketika sedang mengagumi Baluran, Rania merasa terganggu oleh Hyun Geun yang mengambil gambar dirinya. Merasa tidak ingin diambil gambar, Rania pun menegur Hyun Geun, namun rupanya pria asal Korea ini kurang fasih berbahasa Indonesia. Untung ada Agung, sahabat Hyun Geun yang membantu menjelaskan kesalahpahaman itu. Hyun Geun sempat berkata bahwa Korea lebih indah dari Indonesia. Rania tak terima mendengar komentar itu, dan menceritakan keindahan Kawah Ijen. Setelah dirayu akhirnya Rania pun setuju untuk membawa mereka ke Kawah Ijen.

Malam itu Rania dijemput oleh Ilhan Gandari yang mengabarkan kalau ayah Rania meninggal dunia. Ditemani oleh Ilhan yang sebenarnya takut akan ketinggian Rania pulang ke Jakarta. Tak sengaja kameranya tertinggal di guest house tempat dia menginap.

Sepeninggal ayahnya, Rania memutuskan untuk berhenti berkenala dan menemani ibunya saja. Keputusan ini jelas disambut baik oleh kedua kakaknya. Kehadiran Ilhan mulai mewarnai dalam keseharian Rania. Sebuah undangan untuk menjadi peserta Writing Residence di Gangwon, Korea Selatan datang. Meski awalnya Rania berusaha untuk menolak untuk menghadiri undangan tersebut, tapi justru dukungan dari ibunya lah yang membuat dia berangkat.

Di Korea Selatan, Rania kembali bertemu dengan Hyun Geun. Penampilannya kini jauh berbeda. Hyun Geun lebih mendalami Islam daripada pertemuan terakhir mereka. Konflik dalam film ini jelas kisah cinta segita antara Rania, Ilhan, dan Hyun Geun. Mau tahu kisah akhirnya mending coba cari filmnya aja ya? Daripada diteriakin spoiler. Hehehe….

Sebenarnya kalau ditonton sih film yang dibintangi oleh Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, dan Giring Ganesha ini ya cerita cinta biasa aja sih. Endingnya cukup bisa ketebak. Tapi ada beberapa alasan kenapa aku pengen banget nonton film ini, meski blom baca bukunya.

Yang pertama karena syuting film ini di Korea Selatan. Ga tahu kenapa, semenjak pulang dari Korea Selatan aku masih suka terpesona sama hal-hal berbau Korea. Tapi untung belum ikutan demam drama Korea juga. Pengen aja liat lokasi filmnya dimana aja. Dan film karya Guntur Soeharjanto ini bisa menunjukan keindahan alam di Korea Selatan dengan cantik sekali.

Alasan lainnya adalah karena aku kagum sama penulisnya. Iya, diam-diam aku mengagumi sosok Asma Nadia yang sudah menulis puluhan buku. Diam-diam aku berdoa suatu saat bakal bisa kaya Asma Nadia, menulis buku dan berkeliling dunia. Aamiin… Jilbab Traveler sendiri sebagian adalah kisah dari Asma Nadia yang sebenarnya.

Dan yang paling aku suka adalah makna dibalik film ini. Sekilas menang film ini adalah cerita tentang kisah cinta biasa. Tapi dibalik semua itu film ini bercerita tentang impian, harapan. Impian Rania untuk menjadi seperti Ibnu Battuta, penjelajah muslim yang menjadi rujukan dunia.

Setiap kita punya impian, setiap kita mengalami hambatan, kendala, tapi hanya yang tidak menyerah bisa menaklukan impiannya. -Asma Nadia-

Selesai nonton film ini rasanya aku pengen menangis. Loh kenapa? Karena dalam waktu dekat ini aku harus menghentikan impianku sebagai seorang jilbab traveler. Menghentikan satu mimpi untuk mengejar mimpi lainnya. Rasanya aku masih ingin melangkah lebih banyak lagi. Semoga saja setelah impian yang satu itu terpenuhi, masih akan ada kesempatan untuk mengejar mimpiku keliling Indonesia. Aamiin.

*ngusap air mata* Daripada bermuram durja, ijinkan aku pamer foto welfie 2 sahabat yang meski tinggal berdekatan tapi jarang bertemu. Semoga kalian yang membaca tulisan ini selalu punya waktu untuk bersama sahabatnya.  Say “cheesee…”

2016-08-02 06.26.58 1

Salam traveling,

dianravi

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *