Museum Nasional, Museum yang Juga Keren untuk Dikunjungi

Assalamu’alaikum,

1461572831266
It’s not a museum. It’s not a place of artifacts. It’s a place of ideas.

-Jeanie Kahnke

Menurut aku Museum Nasional merupakan museum yang sangat keren untuk dikunjungi. Tapi, jujur, selama 29 tahun tinggal di Jakarta baru 2 kali aku mengunjungi Museum Nasional *tutup muka malu*. Yang pertama waktu kelas 6 SD dalam rangka study tour, dan terakhir kalinya Desember 2015 lalu ketika adik-adik ipar mengunjungi Jakarta. Sebenarnya sempat beberapa kali hampir berkunjung ke Museum Nasional ini. Tapi lewat akun twitter Museum Nasional yang aku ikuti, aku tahu Museum Nasional ini sangat keren dan rajin bikin acara-acara. Apalagi weekend di museum  nya itu, menurut aku cukup sukses bikin orang jadi senang pergi ke museum.  Sebenarnya sempat beberapa kali aku udah siap mengunjungi museum ini, tapi gagal dikarenakan adanya aksi demo yang dilangsungkan ga jauh dari Museum Nasional (selalu ada alasan untuk membela diri, bukan? :p)

1461573055579

1461572997580

1461572940192

Pagi itu aku bersama kedua adik ipar diantar mas Met sampai pelataran depan Museum Nasional. Mas Met ga bisa ikut karena masih harus masuk kantor. Baru memasuki pelataran depan aku udah celingak-celinguk kegirangan. Kenapa? Karena menurut aku halaman depannya aja udah berasa keren. Paduan gaya modern dan bagunan tua terasa kontras sekali (ah sok tau, Dian). Dan bisa buat foto-foto juga kalau mau tampil eksis di instragram (tetep ya instagramable itu penting). Jadi ada apa aja di bagian luarnya? 

Di halaman luar museum terdapat patung gajah yang katanya merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Kerajaan Thailand. Ini sebabnya Museum Nasional sering disebut juga sebagai Museum Gajah. Selain pantung gajah, di bagian luar musem juga ada meriam kuno,  dan patung “Ku yakin sampai di sana” hasil karya seniman Bali I Nyoman Nuarta.

1461574594456

Masuk ke dalam bagian dalam museum di bangunan lama tampak agak ramai. Dalam hati aku bersorak-sorai, “Alhamdulillah semakin banyak orang yang mau berkunjung ke museum.” Tas ransel harus dititip, tapi kalo tas tangan boleh dibawa masuk. Malah salah satu adik iparku, Tika, disuruh mencangklong aja tas ranselnya. Untuk bisa berwisata ke dalam Museum Nasional ini, cukup membayar tiket masuk Rp 5.000 untuk orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak Rp 2.000. Murah ya 🙂 

Gedung Museum Nasional ini merupakan salah satu gedung peninggalan kolonial Belanda. Bahkan museum ini merupakan museum pertama dan menjadi museum terbesar di Asia Tenggara. Harusnya kita bangga dan lebih sering berkunjung ke museum (a note to myself). Usia museum ini baru saja memasuki usia ke 238 tahun, 24 April 2016 kemarin ini. Iya, museum ini lahir pada tahun 1787 pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang artinya adalah Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia. Namun pada saat itu gedung yang digunakan berlokasi di jalan Kalibesar. Baru pada tahun 1862, pemerintahan Hindia-Belanda mendirikan bangunan yang hingga kini ditempati sebagai Museum Nasional.

1461574668098

1461574526811

Setelah beli tiket dan dipersilahkan masuk, kami pun disambut oleh arca-arca dari jaman Hindu-Budha. Koleksi arca-arca disini SANGAT banyak. Aku kurang tahu pasti jumlahya. Tapi kayanya sih sampai ratusan. Yang menarik adalah taman arca, sebuah halaman yang ditumbuhi rumput hijau dan dihiasi arca-arca. Tambah berasa cantik karena pilar-pilar besar tampak mengelilingi serambi. Klasik. 

1461587140452  14615742646541461587274707

1461573160786   1461587208569

1461587339412

Di bangunan yang sama terdapat bebrapa ruangan lainnya. Diantaranya adalah ruang etnografi yang isinya koleksi peralatan adan dan kebudayaan Indonesia, ruang keramik dan teracotta yang isinya udah pasti koleksi-koleksi keramik yang ciamik dari berbagai jaman dan bukan cuma dari Indonesia dan ruangan berikutnya adalah ruangan rumah adat Indonesia.

Selesai mengelilingi bangunan lama ternyata masih ada koleksi di bangunan baru. Dan kali ini koleksinya ga menakutkan. Iya, di ruangan sebelumnya meskipun asik, tapi buat aku kadang suka ngerasa horor juga kalo ngeliat topeng-topeng atau boneka-boneka untuk acara adat. Apalagi jelangkung. That’s one of the reason sempat takut untuk ke museum ini lagi.

Nah bangunan baru ini terdiri dari beberapa lantai. Kita bisa naik lift ataupun eskalator. Berasa banget deh modernnya. Benar-benar bertolak belakang dengan gebung sebelumnya. Oh iya, dua bangunan ini dihubungkan oleh lorong kaca. Di gedung baru ini juga biasanya diadakan event-event termasuk acaranya weekend di museum.
1461574062007

1461574117011

1461573642139

1461573885840

1461573826309

\1461573705625

Mari kita masuk ke lantai pertama yang menampilkan masa pra sejarah. Selain ada patung-patung manusia jaman batu, koleksi peralatannya, di lantai ini juga bisa melihat kerangka manusia jaman batu beneran. Penasaran pengen liat juga? Ayo dong main ke sini. Di lantai berikutnya adalah Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Ekonomi. Kita bisa melihat aneka alat transportasi dari waktu ke waktu, perkembangan bahasa mulai dari jaman Majapahit, seperti huruf pallawa, kemudian ada juga sistem perdangan, dan masih banyak lagi. Di lantai 3 mendisplay Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan di lantai 4 kita bisa melihat lagi aneka emas dan keramik. Kali ini  tanda “no camera” dipasang. Adik iparku sempat melontarkan komentar “Pasti ini lebih mahal ya, mba.”

Jadi akhirnya aku berhasil kembali mengunjungi Museum Nasional. Ga cuma karena study tour. Kapok? Engga, malah pengen lagi. Terutama di bangunan baru itu rasanya bikin betah. Beneran pengen duduk-duduk lama menikmati sejarah sambil merenung. Oh iya, di bangunan baru (bangunan lama juga sih kalo ga salah) disediakan bangku untuk duduk-duduk. Ga banyak memang. Rasanya aku jadi pengen belajar lagi soal Majapahit deh. Liat koleksinya yang banyak bikin aku sadar, kok pegetahuan aku selama ini sedikit ya (ketahuan malas belajar jaman sekolahnya).

Eh, masih ada yang nanya lokasi Museum Nasional ini dimana? Lokasinya gampang ditemuin kok. Karena ada di pusat ibukota, di seberang Monas. Kalau naik trasnjakarta, haltenya persis di seberangnya. Pulang dari Museum Nasional kalau masih punya waktu main bisa naik Mpok Siti, City Tour-nya Jakarta yang kebetulan haltenya di depan museum. Pengen tahu acara-acara yang diadain di sini? Tinggal follow twitternya Museum Nasional atau Weekend di Museum

Yuk kita cuzzz ke Museum Nasional!! Eh tapi pastiin dulu jam bukanya. Museum ini buka Selasa-Minggu, Senin dan hari libur nasional dan keagamaan tutup.

Selamat belajar sejarah,

dianravi

 

5 Comments

    • kemarin sih rasanya ga pengap ya. Rasanya udah jauh lebih rapih. Tapi ya aku ngebandingin dengan terakhir ke sana 22 tahun. Kalau ragu, langsung ke bangunan baru aja. Jelas nyaman banget.

  1. aku suka loh dg museum, setiap ke sebuah kota pasti nanya ada museumnya gak???

    • wahhh senangnya. aku masih jarang-jarang nih ke museum. walo pun sebenarnya suka 🙂 semoga bisa semakin rajin deh ke museum nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *