We Are All Bad Moms, Pesan dari Film Bad Moms

Bismillahirohmanirohim,

The truth is, when it comes to being a mom, I have no f*cking clue. And I don’t think anyone does. I think we are all bad moms. Because being a mom today is impossible.

Pidato Amy (diperankan oleh Mila Kunis) itu disambut dengan tepuk tangan dari para orangtua yang hadir dalam acara pemilihan ketua POMG. Sepertinya para ibu-ibu yang ada di sana semua setuju kalau mereka bukanlah ibu yang baik. Satu persatu dari mereka memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan bersalah mereka ketika menjadi ibu.

Di akhir pidatonya, Amy menekankan sebuah pertanyaan yang menurut aku penting banget:

So, can we all just stop pretending that we have figure out and stop judging each other for once?

Bad Moms Movie

Dari awal melihat iklannya di salah satu saluran TV langganan, aku sudah tak sabar menanti menonton film ini. Masalahnya iklan ini tayang dari awal Agustus dan baru tayang perdana di akhir bulan. Kebayang betapa lamanya aku menanti malam mingguan berdua suami menonton film garapan Jon Lucas dan Scott Moore ini, dua nama yang sudah terbukti kesuksesannya ketika membuat film The Hangover.

Meskipun judulnya Bad Moms, tapi sebenarnya Amy bukanlah seorang ibu yang buruk. Ia hanyalah seorang ibu yang kewalahan dengan rutinitasnya. Memiliki dua orang anak, aktif di POMG, dan bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan kopi cukup menyita waktu Amy.

Awal masalah datang ketika suaminya (diperankan oleh Davil Walton) ketahuan berselingkuh secara online. Seolah tak cukup dengan satu masalah ia mengalami yang namanya bad day. Mulai dari anjing peliharaan mereka terkena vertigo, atasan yang terlalu mengandalkan dirinya tanpa peduli bahwa sebenarnya ia hanya bekerja paruh waktu, hingga terlambat mengantarkan anaknya ke kegiatan ektrakurikuler. Ditengah lelahnya menjalani hari itu dia masih berusaha untuk datang ke rapat POMG dadakan dan mendapati bahwa rapat hari itu hanya untuk membahas bazaar kue di sekolah.

Merasa sangat lelah, akhirnya Amy pun memberanikan diri untuk menolak permintaan Gwendoline (diperankan oleh Christina Applegate), ketua POMG yang selalu didampingi oleh dua sahabatnya (diperankan oleh Jada Pinkett Smith dan Annie Mumolo) untuk menjadi panitia yang memantau acara bazaar kue tersebut. Ia pun keluar dari ruangan dan menikmati sisa malamnya di sebuah bar.

Di bar inilah Amy menjadi akrab dengan Kiki (Kristen Bell), ibu dari empat orang anak yang selalu diatur oleh suaminya dan Carla (Kathryn Hahn), a single mom. Mereka bertiga mengakui bahwa lelah menjadi seorang ibu yang baik. Rasanya itu adalah hal yang mustahil.

In this day in age it is impossible to be a good mom.

-Kiki

Konflik dalam film ini terjadi ketika Amy secara terang-terangan menolak peraturan yang dibuat oleh Gwendoline. Ia pun berani mencalonkan diri sebagai ketua POMG untuk mengalahkan Gwendoline. Tak jauh beda dari remaja yang suka menunjukkan perilaku bullying, Gwendoline pun bersaing dengan cara yang tidak sehat untuk menghancurkan Amy.

Bagaimana kelanjutan cerita film Bad Moms ini tentu saja enggak akan aku ceritakan ditulisan ini dong. Pokoknya aku cuma mau bilang, film ini seru, lucu, dan termasuk film yang wajib ditonton. Simak aja trailernya dulu, siapa tahu makin penasaran.

Mari Kita Hentikan Aksi Bullying

Alasan lain kenapa aku ingin sekali nonton film ini bukan semata-mata karena filmnya lucu saja. Tapi karena perilaku bullying para ibu-ibu ini mengingatkan aku pada keadaan nyata yang tengah kita alami. Lewat film ini Gwendoline membully para ibu-ibu lainnya dengan menciptakan image bahwa dia adalah ibu yang hebat sehingga mau tak mau Amy dan para ibu-ibu lainnya merasa mereka adalah ibu yang jauh dari sempurna.

Kejadian serupa sering aku lihat di dunia media sosialku. Para ibu rumah tangga yang merasa lebih baik dari ibu yang bekerja di kantor (dan sebaliknya), ibu yang memberikan ASI merasa dirinya lebih berhasil menjadi ibu daripada ibu yang memberikan anaknya surfor, sampai yang baru-baru ini ramai adalah soal melahirkan normal dan caesar.

Well, let’s stop this. Aku percaya tidak ada orangtua yang buruk. Semua sama-sama menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya mungkin keadaan dan cara berpikir yang membuat seolah kita ini berbeda. Tak usah saling berebut posisi siapa yang paling baik. We all good.

Aku sedih ketika harus membaca status seorang teman yang merasa dirinya belum cukup baik untuk anak-anaknya hanya karena komentar segelintir orang. Atau ketika teman yang lain jadi merasa anaknya kurang gizi akibat celetukan orang usil padahal dokter pun bilang ia cukup gizi. Tolonglah, stop bullying. Berhenti membanding-bandingkan.

Don’t compare yourself to other mothers. We are all losing our shit. Some just hide better than others.

-Mum Grapevine

 

12 Comments

  1. Menarik yaa…
    Karena sesungguhnya, semakin berilmu seseorang, semakin merasa kurang dan kurang. Bukanlah malah sombong dan menghakimi keputusan orang lain.

  2. Waah, filmnya bagus banget pesannya. Apalagi jalan ceritanya sama kayak banyak kejadian sekarang. Si ono merasa hebat, si unu keder. Gak di sosmed gak di dunia nyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *