Simply Homy with Twelve Individual Rooms at Rose Chamber Bed and Breakfast

Bismillahirohmanirohim,

Home is where love resides, memories are created, friends are always welcome, and family is forever.

-unknown

Sebagai orang kelahiran Bandung, buat aku ibu kota Jawa Barat itu bukan semata-mata kota untuk mengistirahatkan jiwa dan raga dari rutinitas sehari-hari saja, tapi kota ini juga menjadi alasan untuk menyebut kata “PULANG”. Meski sejak usia 40 hari aku sudah resmi menjadi penduduk Jakarta, tapi seluruh keluarga besar dari mamaku berada di Bandung.

Pulang ke Bandung menjadi agenda rutin buat aku. Sambil bertemu sanak keluarga, melepas rindu pada nenek tercinta, juga sambil bermain ke tempat-tempat wisata. Menyelam sambil minum air, begitu kiranya dalam peribahasa Indonesia.

Sebagai kota yang cukup dekat dengan ibukota negara, Bandung memang sering sekali dijadikan sebagai tempat tujuan wisata akhir pekan. Tak heran kalau akhirnya tempat wisata di Bandung terus berkembang dan bertambah. Bukan cuma tempat wisata, tapi usaha penginapan pun terus berkembang pesat. Mulai dari hotel berbintang sampai dengan rumah yang disulap menjadi konsep bed and breakfast siap menyambut wisatawan yang mengunjungi Kota Kembang.

Hotel berbintang memang sudah pasti menawarkan fasilitas yang susah untuk ditolak. Mulai dari kenyamanan kamar, menu sarapan, sampai dengan kolam renang yang sudah pasti dinikmati oleh anak-anak. Sayangnya semua fasilitas itu sudah tentu harus menguras saldo rekening yang kadang tidak terlalu ramah. Di saat seperti itulah bed and breakfast hadir menawarkan apa yang tidak bisa didapatkan oleh hotel berbintang: keramahan isi dompet. ehehe…

Sebenarnya bukan cuma dari sisi harga sih yang menjadi alasan aku memutuskan untuk mengingap di  bed and breakfast. Alasan lain untuk memilih menginap di bed and breakfast adalah karena biasanya lebih terasa nyaman seperti di rumah sendiri. Seperti Rose Chamber yang terletak di jl Sersan Bajuri no 35 ini. Sesuai dengan tagline yang mereka pasarkan, simply homy, suasana seperti di rumah sendiri sudah terasa begitu kaki ini area penginapan.

Tak heran memang kalau suanasa Rose Chamber menawarkan suasana seperti di rumah sendiri. Tadinya bangunan dua lantai ini memang rumah tinggal yang kini disulap menjadi sebuah penginapan. Meski sudah menjadi sebuah penginapan, tapi Rose Chamber tetap memberikan sentuhan rumah dengan tetap memajang foto-foto keluarga pemiliknya di ruang tengah mereka.

Twelve Individual Rooms, Which One Is Your Choice?

Hal lain yang membedakan hotel berbintang dengan penginapan bed and breakfast adalah jumlah kamarnya. Namanya juga rumah tinggal, tentu saja jumlah kamar yang ditawarkan tidak banyak. Di Rose Chamber ini hanya terdapat 12 kamar saja. Uniknya semua kamar ini menawarkan tema yang berbeda-beda.

Lewat tulisan ini aku ingin berbagi ke-12 tipe kamar yang ditawarkan di Rose Chamber. Biar kalian yang ingin menginap di Rose Chamber tidak perlu bingung lagi menentukan pilihan untuk menginap di kamar mana. Perlu diingat, setiap tipe hanya ada satu, sehingga konsep siapa cepat dia dapat berlaku untuk menginap di penginapan ini.

Damask. Sepertinya pemilihan nama Damask untuk tipe kamar ini karena wallpaper yang dipasang di salah satu dindingnya. Iya, wallpaper bermotif damask bernuansa ungu tua ini membuat kamar yang terletak di lantai satu ini berkesan elegan dan  mengingatkan aku pada kerajaan-kerajaan Eropa.

Nuansa putih menyambut aku di kamar Forrest. Membuat aku sempat bingung kenapa kamar ini diberi nama hutan. Selain karena adanya gambar burung diantara daun-daun hijau, aku tidak melihat suasana hutan di kamar ini. Ah, rupanya aku kurang jauh melangkah. Model kamar mandinya yang terbukalah yang membuat seolah kita sedang berada di dalam hutan.

Suasana klasik antik menyapa aku di Vintage room. Warna hijau pupus dipadu dengan putih mendominasi ruang tidur ini. Yang paling aku suka adalah hiasan dinding berupa kusen-kusen jendela di salah satu dindingnya. Seandainya saja di bawahnya tidak ada meja, sudah pasti dinding itu akan menjadi dinding yang instagamable, cocok untuk OOTD.

Ranjang antik kayu yang mengingatkan aku akan ranjang pengantin aku belasan tahun yang lalu menyapa aku di kamar Black Rose. Bedanya ranjang ini berwarna putih, seperti mayoritas warna di Rose Chamber ini. Meski namanya Black Rose, aku tidak merasakan kesan gelap kok di kamar ini, selain dari motif bed cover pada kasur yang memang bermotifkan mawar hitam. Salah satu temboknya berwarna abu-abu muda yang tampak kontras dengan warna tirai jendelanya.

Nuansa gelap justru aku dapatkan ketika memasuki kamar Hollywood yang terletak di lantai dua. Bagaimana mungkin aku enggak akan bilang gelap kalau dindingnya berwarna hitam, begitu juga dengan spreinya. Menakutkan? Tentu saja tidak. Kesan glamornya hollywood bisa terasa dari lampu chandelier kristal yang menggantung di tengah-tengah kamar. Ditambah dengan gambar Marilyn Monroe dan Audrey Hepburn, sudah bisa dipastikan aku bakal betah tidur di kamar ini.

Jika hanya seorang diri, aku rekomendasikan untuk memesan kamar Blue Moon. Ini memang tipe kamar single, dengan dinding berwarna biru dihiasi hiasan dinding bertema pemandangan kota besar di malam hari.

Rindu suasana laut seperti aku? Kamar Maritim adalah solusinya. Nuansa kuning muda dipadu padan dengan toska mengingatkan aku akan suasana pantai. Apalagi ditambah dengan adanya hiasan kerang laut. Ternyata di kota Bandung yang pun kita masih bisa merasakan suasana laut.

Collage  sepertinya berasal dari kata kolase yang memiliki arti komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan. Seperti pada kamar untuk 4 orang berwarna toska ini, hiasan dindingnya merupakan kolase dari berbagai wallpaper. Cantik dan menarik menurut aku.

Pemandangan paling cantik menurut aku bisa didapatkan di kamar Rose. Terletak di lantai 2 dengan jendela menghadap taman yang berada di depan membuat kamar ini bukan hanya mendapatkan pemandangan cantik, tapi juga terang. Satu sisi temboknya berwarna merah menonjolkan kesan mawarnya.

Lagi-lagi aku mendapati warna biru di kamar Bicycle. Biru yang dikombinasi dengan sedikit hitam. Suasana retro terasa di ruangan ini. Yang asik, kamar ini terbilang cukup luas. Meskipun sebenarnya hampir semua kamar di Rose Chamber ini memang tidak ada yang sempit.

Tree adalah kamar yang paling diminati di Rose Chamber ini. Masih berada di lantai dua, marih bernuansa putih dengan lukisan siluet pohon berwarna hitam di salah satu dindingnya. Di sudut kamar terdapat batu-batu hias yang entah kenapa menurut aku memberikan kesan damai. Mungkin itu juga sebabnya kenapa kamar ini menjadi kamar yang terfavorit.

Terakhir adalah The Pavilion. Seperti namanya, kamar dua tingkat ini berada di ruangan terpisah dengan bangunan utaman. Kamar ini cocok untuk keluarga karena tedapat 1 tempat tidur besar dan 2 kasur ukuran single. Warna merah dan Union Flag menghiasi tipe kamar ini.

Itu dia ke-12 kamar yang ada di Rose Chamber bed and breakfast. Kalau aku merasa lebih nyaman dengan kamar Hollywood, bagaimana dengan pilihan kalian? Tipe kamar mana yang kiranya akan menjadi pilihan kalian kalau menginap di Rose Chamber?

 

 

14 Comments

  1. Bed and breakfast itu maksutnya gimana ya mbak? Tidur dan sarapan semuanya dilakukan di atas kasur? *eh -_-

    Waah yang kamar Rose bagus banget tuh mbak. Jendelanya besar dan menghadap ke pemandangan, tapi seram nggak ya kalau malam hari? 😮

    • bed and breakfsat itu cuma penginapan yang dapat sarapan. Enggak ada fasilitas kaya hotel seperti kolam renang, salon, dan semacamnya.

  2. Roomnya begitu nyaman semua, tapi aku bakalan mager di Room Tree, asli ga mau kmana mana cuma pengen tiduran, onlen, dan nyemil trus bobo lagi .

  3. hawuuuuuuuu

    awalnya aku udah milih2 kamar yang aku suka
    yang ini
    hmmm yang ini aja deh
    yang ini juga suka

    ehh lah kok gitu melulu
    jadinya bingung, nggak ada yang difavoritin karena aku suka semuanya
    wkwk

    aiiiih, coba di jember ada yang kayak gini
    hmmm pasti udah kujabanin deh xp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *