Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang
Kuliner

Rumate, Salah Satu Pilihan Buat Kamu yang Suka Nongkrong di Jalan Sabang

Bismillahirohmanirohim,

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

 

Kedai teh. Sebagai penyuka minuman yang terbuat berasal dari biji kopi, terus terang aku agak kurang suka memperhatikan yang namanya kedai teh. Karenanya aku agak amazed sendiri ketika ternyata aku malah betah nongkrong di tempat yang menyebut dirinya sebagai kedai teh lokal, Rumate.

Rumate. Begitu nama yang tercantum di atas bangunan tua berwarna putih ini. Letaknya ada di jalan Sabang, persis di sebelah Sabang 16. Tempat ini sebenarnya sudah beberapa kali aku lewati, hanya saja selama ini aku belum merasa tertarik. Siapa sangka kalau setelah aku mengunjungi kedai teh ini, aku malah ingin kembali lagi.

“Kita lanjut nongkrong di jalan Sabang aja yuk,” usulku ketika pengumuman kalau Perpustakaan Nasional akan segera ditutup.

Sudah sejak lama jalan Haji Agus Salim atau yang lebih sering disebut jalan Sabang ini terkenal akan wisata kulinernya. Sejak jaman kuliah di awal tahun 2000-an lalu, aku hampir setiap hari menghabiskan waktu pagi dan soreku menyusuri jalan ini. Tentu saja kuliner yang ada saat itu lebih tertuju pada jajanan kaki lima, belum ada kafe-kafe yang nyaman juga instagramable seperti saat ini.

Nongkrong di jalan Sabang masih menjadi salah satu kegiatan favorit aku hingga kini. Alasannya sepele sih. Karena kebetulan saja kantor Mas Met tak jauh dari sana. Jadi sambil bernostalgia dengan wisata kuliner jalan Sabang, aku bisa menanti Mas Met pulang kantor.

Seperti malam itu. Usai kegiatan di Perpustakaan Nasional, jalan Sabang menjadi pilihan aku untuk nongkrong sambil menanti Mas Met siap pulang ke rumah. Kebetulan hari itu aku tak sendiri seperti biasanya. Kali itu aku mengajak beberapa teman yang aku temui di Perpusnas.

Nongkrong Asik di Rumate, Kedai Teh Lokal

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Sudah cukup sering aku melewati tempat ini. Terus terang entah sudah beberapa kali aku tergoda untuk berhenti dan bersantai sejenak dengan secangkir kopi. Pasalnya kaca display tempat ini sangatlah cantik. Instagramable, begitu kiranya istilah yang digunakana oleh orang-orang jaman sekarang tentang tempat ini. Mokapot – Coffee Talk, begitu tulisan yang tertera pada plang di luar serta tulisan pada kaca.

Eh tadi katanya Rumate, kok sekarang tahu-tahu malah Mokapot? Sejujurnya aku sendiri bingung. Setelah aku melawati bagian luar yang tampak rustic dengan tembok yang tidak dicat, aku masuk ke bagian dalam yang memberikan kesan vintage dengan poster-poster dari era 50-an.

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Ada tiga baris tempat duduk di dalam ruanga yang berdinding putih ini. Sofa, meja panjang, serta meja bulat yang tampak familiar dalam ingatanku. Karena meja bulat penuh, dan kami butuh colokan, maka sofa menjadi pilihan aku dan teman-teman malam itu.

Ketika melihat buku menu itulah aku baru sadar, loh kok tempat ini namanya jadi Rumate. Rasanya tadi tulisannya Mokapot. Hmm… Sampai saat ini aku belum mendapat penjelasannya sih, tapi kalau boleh aku menduga, Mokapot adalah tempat kopinya, yang berada di depan.

Beragam Makanan dari Indonesia di Rumate

Pilihan makanan di Rumate ini cukup beragam. Dan uniknya menu yang tersedia adalah menu khas Indonesia, terutama Padang, Menado, dan Betawi. Dendeng Bariciak, Spaghetti Cakalang, Nasi Ulam Betawi + Ayam Goreng, adalah beberapa menu yang mereka tawarkan. Tak lupa ada menu kudapan seperti roti bakar, ketan, serta pisang goreng.

Sayangnya perutku masih terasa penuh. Hingga akhirnya aku hanya memesan ketan mangga dan Es Kopi Susu kekinian dari Mokapot. Tapi Mude memesan Nasi Ayam Hainan Sambal Matah, yang menurut aku sih…. enak tapi pedas.

Oh iya Es Kopi Susu di Mokapot ini katanya yang paling jadi favorit. Setelah satu sruput dua sruput, aku sih suka. Manisnya pas, kopinya tetap terasa. Tapi kalau kamu pecinta kopi hitam saja, silakan pilih yang lain. Mungkin suatu hari aku akan kembali ke sini dan mencoba kopi-kopi lainnya dan menulis review soal Mokapot.

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Nasi Ayam Hainan Sambal Matah di Rumate

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Ketan Mangga di Rumate

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

es kopi susu kekinian

Tak afdol rasanya kalau tak menceritakan menu teh di kedai teh. Meski aku tak memesan teh (dan kini malah menyesali kenapa juga enggak pesan teh), tapi aku sempat melilirik beberapa varian tehnya. Tak heran memang bila tempat ini menyebut diri mereka kedai teh lokal. Karena pilihan menu tehnya sangat beragam. Teh Anti Flu, Teh Rosella Tajin, Teh Serai Madu, dan masih banyak lagi. Ada juga pilihan teh artisan seperti chamomile dan excotic escape.

Urusan harga harus aku akui kalau harga di Rumate tidaklah ramah dengan isi dompet aku sebagai blogger. Menu satu porsi makanan mulai dari Rp 29.000 hingga Rp 70.000. Tapi kalau kebetulan habis ada invoice cair aku sih masih ingin kembali ke tempat ini.

Harga yang harus aku keluarkan sebanding dengan rasa makanannya kok. Lagipula wisata kuliner di jalan Sabang dari dulu pun sudah terkenal kalau tidak bisa dibilang murah. Trust me, tak sedikit kaki lima di jalan Sabang yang rasanya lebih mahal dari kaki lima di daerah lain.

Rumate si Adik Kopi Oey

Review Rumate Kedai Teh Lokal di Jalan Sabang

Ketika hendak membayar, aku melihat sesuai yang terasa janggal. Seragam karyawan di Rumate kenapa bertuliskan Kopi Oey. Ternyata, Rumate ini adalah adik dari Kopi Oey. Kopi Oey milik almarhum Pak Bondan sendiri hanya selisih dua bangunan dari tempat ini.

Sekilas keduanya sama-sama memberikan nuansa vintage dengan menghadiskan poster-poseter jadul. Hanya saja jika Kopi Oey lebih kegaya Tionghoa dengan menu peranakan, maka Rumate menawarkan nuansa vintage bergaya western. Lihat saja beberapa poster yang dipajang ada Marilyn Monroe juga Audrey Hepbun.

Kalau ditanya aku suka yang mana, tentu saja aku suka keduanya. Mana mungkin aku menolak menu vintage. Hanya mungkin kalau ingin kopi, aku akan lebih rekomendasikan ke Kopi Oey.

Malam sudah semakin larut. Tak terasa sudah hampur jam 10 malam. Handphoneku berdering. Mas Met mengajak untuk pulang. Saatnya berpisah dengan jalan Sabang. Tapi tentu aku akan kembali lagi menikmati wisata kuliner lainnya di jalan Sabang.

Kalian sudah pernah ke Rumate? Cerita dong.

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

You may also like...

2 Comments

  1. Harganya lumayan juga ya? Tapi pasti sepadan sama rasanya. Apalagi masih sodaraan sama Kopi Oey.. Btw, DIan kenapa ih koq gak pesan menu tehnya? Padahal kan ini di Rumah Teh… harusnya tehnya istimewa hihihi

    1. yes, harganya emang lumayan. Ga boleh sering-sering. ahahaha
      Ga pesen teh, karena kebutuhan asupan kopi lagi tinggi, Teh. Ngantuk banget tapi pulang masih lama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *