Makan Kenyang di Soerabi Bandung Enhaii – Jatiwaringin

Assalamu’alaikum,
2016-08-26 04.26.22 1

 

Baru beres-beres mindahain foto dari kamera ke laptop kemudian menyadari, aku punya BANYAK bahan tulisan yang belum sempat ditulis. Mulai dari tema traveling sampai kulineran. Ironisnya ada satu tempat kuliner yang memang sengaja aku kunjungi khusus demi bikin satu tema kuliner baru, yaitu Kuliner Jatiwaringin.

Semua ini berawal gara-gara sahabatku, Fonty. Masih ingat kan? Aku pernah menuliskan soal dia ketika kami nonton film Jilbab Traveler. Namanya juga kami tinggal di komplek yang sama, meski kami jarang bertemu tapi dia cukup tahu soal kegiatan terakhir aku beberapa tahun terakhir ini senang menulis dan nyicip-nyicip kuliner. Nah sekalinya kami jalan bareng, dia akan antusias menanyakan apakah aku udah coba tempat ini dan itu yang biasanya ga jauh-jauh dari sekitaran komplek aku. Kebetulan dia pun memang hobi icip-icip tempat makan yang baru buka, khususnya yang berada dekat rumah. Tapi justru jawaban aku bikin dia shocked berat. Belum ada satu pun  dari deretan tempat yang dia absen pernah aku kunjungi. Aku tahu 2 tahun terakhir ini, wisata kuliner menjamur di sepanjang jalan Jatiwaringin Raya, jalan utama akses masuk ke rumah aku. Tapi akibat jalanan itu selalu macet, aku pun jadi enggan untuk berkunjung ke tempat-tempat makan itu. Malu juga sih rasanya, masa tempat-tempat makan yang jauh seperti di Bandung sering aku kunjungi tapi justru yang bisa dijangkau dengan jalan kaki (kalau ga males kena panas), malah belum pernah aku kunjungi. Jadilah ketika beberapa minggu lalu,  tumben-tumbenan Mas Met ngajak aku buat jalan-jalan, aku pun menjawab dengan, “Mau ke Soerabi Bandung Enhaii ya.” Yang ngajak jalan bengong. Dia udah bersiap dengan jawaban istrinya yang biasanya minta main ke taman, museum, atau yang rasanya antah berantah, kali ini cuma minta di depan komplek aja. Hahahahaha

Tapi tetap dong, pas akhir pekan itu, kami melipir sejenak ke sebuah mall di daerah Jakarta Utara. Bukan apa-apa, ada beberapa keperluan mudik yang harus kami persiapkan dulu, mengingat hari keberangkatan semakin dekat. Usai berbelanja, cacing-cacing di perut mulai memanggil. Demi kekonsistenan minta makan dekat rumah, maka aku pun minta Mas Met sedikit mengebut dalam perjalanan pulang. Soerabi Bandung Enhaii, kami datang.

Bangunan yang didominasi warna hitam dan merah di bagian luar ini sebelumnya sudah beberapa kali berganti plang papan reklame. Makanya ketika plang Soerabi Bandung denga warna dasar orange dan font putih ini muncul aku pun cuma berkomentar, “Eh udah ganti tempat makan lagi.” Untuk ukuran tempat makan di jejeran Jatiwaringin Raya, Soerabi Bandung ini termasuk salah satu yang cukup besar. Parkir pun cukup leluasa, apalagi aku masih cukup sore ketika berkunjung saat itu. Hanya ada beberapa kendaraan yang terlihat.

Masuk ke dalam ruangan aku pun tercengang. Rasanya luas banget dan terkesan kosong. Bangunan  ini 2 lantai, tapi di depan tangga naik ada tulisan “dilarang naik”. Mungkin efek sepi sehingga hanya dibuka 1 lantai saja. Seorang karyawan menghampiri aku, mau area smoking atau non-smoking. Tentu saja aku memilih area bebas dari asap rokok, yang rupanya aku dibawa masuk ke ruangan yang tertutup kaca bening. Lagi-lagi kesan luas semakin terasa di sini. Entahlah, aku merasa agak janggal dengan pengaturan mejanya. Ada tempat yang dibiarkan kosong begitu aja yang rasanya bisa dipakai buat guling-gulingan di lantai.

2016-08-26 04.26.24 1

2016-08-26 04.26.30 1

2016-08-26 04.26.29 1

 

Suasana Soerabi Bandung Enhaii ini jelas berbeda dari kedai Soerabi Enhaii yang justru terletak di kota Bandung di seberang kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (dulu dikenal dengan nama NHI). Kedai itu justru cenderung kecil. Jelas bertolak belakang dengan Soerabi Bandung Enhaii yang mengusung konsep restoran keluarga.

Tiba giliran memilih menu makanan. Rupanya, meski namanya Soerabi Bandung Enhaii, tapi makanan yang ditawarkan ga sebatas surabi saja. Sebut saja nasi goreng, bihun, baso, iga penyet, siomay batagor, mie goreng, sampai bubur ayam pun ada di sini. Jenis soerabi yang ditawarkan pun beragam, dari yang manis sampai yang asin. Aku pun lapar mata, apalagi mengingat hari sudah menjelang sore dan terakhir kali mengisi perut adalah saat sarapan.

Berasa ogah rugi, aku pun memesan siomay batagor, serta 3 macam surabi (buat dimakan berdua tentunya) yang masing-masing adalah: oreo keju, pisang coklat, dan ayam sosis telur keju spesial. Sementara Mas Met sudah dipastikan menjadikan Bakso Malang Komplit sebagai santapan sore itu.  Untuk minuman tumben kami berdua kompak memilih es milo.

2016-08-26 04.26.27 1

2016-08-26 04.26.25 1

2016-08-26 04.26.34 1

 

Mari ngomongin dikit soal surabi. Katanya surabi berasal dari kata “Sura” dalam bahasa Sunda yang berarti besar. Surabi ini banyak macamnya, bukan cuma di Jawa Barat, tapi ada juga surabi Solo, Betawi, juga daerah lainnya di Indonesia. Namun meski sama-sama dimasak menggunakan wajan tanah liat di atas tungku, surabi Jawa Barat menggunakan bahan yang berbeda bila dibanding surabi daerah lainnya. Umumnya surabi terbuat dari tepung beras serta santan, namun serabi Bandung ini menggunakan tepung terigu. Tak heran kalau tak sedikit yang menyebut surabi ini sebagai pancake-nya orang Sunda. Awalnya serabi Bandung ini disajikan dengan kuah gula jawa dan santan. Tapi kini keragaman serabi Bandung semakin berkembang, salah satunya bisa dilihat dari beragamnya varian yang ditawarkan di Soerabi Bandung Enhaii ini.

2016-08-26 04.26.23 1

 

Harga yang ditawarkan di Soerabi Bandung Enhaii ini terbilang sedang, kalau menurut aku. Ga mahal, tapi jelas ga murah. Untuk satu potong surabi dengan ukuran yang ga kecil dibandrol mulai dari harga Rp 14.000 – Rp 28.000, tergantung toping pilihan kita.

Hmm…menulis ini sedikit membuat lidahku merindukan rasa surabi. Tak usah kuatir bila kebetulan tak sempat keluar rumah untuk mengunjungi tempat makan ini, karena mereka pun menyediakan layanan pesan antar. Cukup praktis sepertinya.

Gimana? Ada teman-teman yang kebetulan tinggal di daerah Jatiwaringin juga? Yuk melipir cantik buat nyemil-nyemil sore. Ini aku kasih alamatnya biar ga nyasar:

 

Salam Surabi diguyur Kinca,

2016-08-08_01-23-15

42 Comments

  1. Saya benar benar saksi hidup revolusi sajian serabi dari mulai yang biasa hingga saat ini. Urang Bandung memang juara ngolah makanan..semoga diberikan kesempatan untuk icip icip..

  2. Yah, sayang jauh di mata. Cuma bikin ngiler aja nih, Mbak Dian. Aku mau dong dikasih Surabi yang pisang coklat

  3. Aku pernah makan surabi bandung tp yg daerah mau ke aa gym.. ternyata lidahku lbh cucok surabi solo en yg tradisional pake gula jawa hhehe

    enak gak mbak surabinya disitu?

  4. wahhh, jatiwaringin bekasi ya mbak ini? tempatnya bagus juga buat nongkrong. oia mbak apakah di tempat ini. menyediakan menu lain selain serabi kak? dari harga relatif lah itu tidak murah dan tidak kemahalan banget.

  5. Di Medan juga ada yang jualan surabi Bandung, tapi sampai saat ini belum pernah icip. Memang mba, saat ini banyak banget Varian dari surabi Bandung, menambah cita rasa surabi juga sih.

  6. Itu kalau di solo serabi, iya bukan mbak dian?
    Wkwk makan surabi tempatnya mewah yah sekarang mah. Disini, masih belum ada kayanya..adanya yang simbah simbah di pinggir jalan gitu..pakai areng..

  7. Harga serabinya ternyata di atas normal ya mbak, harga 14k per biji, itu jika di desa serabi biasa harganya cuma 1000 saja, dibandingkan serabi yang di tulisan ini terasa jomplang sekali perbedaannya :’)
    Ya memang benar jika ketika pengemasan dan penyajiannya dirubah dan dipercantik lagi maka bisa menambah harga akan suatu produk :)))

  8. Makin di baca ke bawah makin bikin ngiler. Ternyata makanannya banyak dan ngga hanya satu. Jadi kepengen dihabisin semua yak. Sayang perut ngga bakalan cukup hehehe

  9. Wihii… makan surabi setelah nonton itu anti mainstream banget deh.. bakal seru kayaknya. Apalagi kalau suasananya tenang dan lapang begitu.

    Variasi rasanya juga banyak ya. Duh jadi pengen nyoba yang pisang coklat. Nyam…

  10. Belum pernah makan soerabi, padahal selalu penasaran lihat tungku yang berjejer.

    Tapi tetangga saya dulu ada yang jual, terus makannya dikasih choky2 rasa coklat. Itu aja udah banget apalagi yang di kasih aneka toping seperti itu?

  11. Surabi, soerabi, serabi, atau srabi, intinya adalah pancake modifikasi ketika penjajah datang. Hihihi… modifikasi yang disesuaikan bahan yang ada saat itu. maka tak heran jika di banyak kota ada menu ini. Di Jepara juga ada, tetapi berbeda bentuknya. Kalau di sini, serabi (namanya) rasanya plain. Tawar dengan sangat sedikit rasa asin. Bedanya ada pada kuahnya yang dibuat seperti kuah kolak. Ada pula serabi yang cirikhasnya pada parutan kelapa di dalam adonan, seperti ala banyumasan. Atau ala Salatiga.
    Baca postingan Mbak Dian, saya jadi pengen nyoba. Pernh mencoba yang toping coklat dan keju, tapi pasti di sini beda ya.

  12. Ahaha samaan kayak aku. Tempat makan deket rumah aja belom pernah di kunjungi, tapi di daerah lain mah udah menjelajah kemana-mana rasanya dosa, tapi kan pilihan manusia berbeda2 ya.
    Itu tempat nya luas ya, asik, bersih pula.
    Untuk toppingnya, yang biasa pakai gula jawa ada? Atau semuanya bervariasi? Karena jujur, aku gak suka yang rasanya lain-lain, makanya gak pernah beli surabi di resto atau di cafe hitzz hehe

    • Ini dia !!! aku sepakat !!!

      Variasi rasa Soerabi itu buat aku adalah sebuah kemunduran. Soerabi polos + kinca (gula cair itu) dan Soerabi oncom adalah yang terbaik.

  13. Waah, saya juga suka surabi. Di kampung saya masih tradisonal, surabinya diguyur pakai kuah gula aren. Sedappp.

    Review tempatnya mantap Mbak Dian, jadi pengen berkunjung juga kesana.

    Oya, paragraf pembuka postingan Mbak Dian kali ini membuat saya teringat dengan utang postingan saya yang banyak juga. Hiks. *Lirik folder foto yang isinya minta diceritain semua.

  14. Wow Surabi Enhai udah masuk Mall. Apa saya saja yang baru tau?

    Aih kebetulan akhir bulan September mau kemping di Bandung, pengen ah mampir yang di Bandung =)

  15. Jadi keinget di Depok juga ada rumah makan Soerabi serupa, desain dan konsepnya, apa msih “saudaraan”? hehe
    Tapi aku blm pernah ke sana, nanti deh kalau balik Depok ksana :))
    Surabinya menggoda banget ya Mbak, jd pengen jg nih hehe

  16. Meski enak luar biasa. Soerabi enhai ini bikin aku bete, karena mereka, banyak pembuat soerabi yang beralih ke kompor ketimbang pakai arang kayu.

    Padahal, arang kayu jadi sensasi tersendiri.

    Emm, kapan-kapan kalau ke bandung, coba di seberang enhainya. Ada yang lebih enak. warungnya dari kayu. nama tempatnya lupa tapi.

  17. Dulu waktu kuliah di bandung aku langganan banget makan surabi enhai, baru tau ternyata sekarang di Jatiwaringin juga ada ya mba, jadi kangen makan surabi nih, favorit aku surabi yang varian asin enaak bikin kenyang hhe..

  18. Wah, di Margonda Depok juga ada loh~ sebelumnya tiap kesana selalu saja ramai, mungkin karena belakangan ini Depok cukup dikenal dengan kulinernya ^^’a
    Btw kapan-kapan boleh, kak.. coba icip-icip di Depok

  19. Tempat yang dibiarkan kosong itu mungkin buat bayi-bayi merangkak, mba. Jadi emaknya makan, bayinya bebas bermain, hihihi.

    Di Banda Aceh ada cafe namanya Surabi Bantai. Kalo diliat-liat, variasi menunya mirip-mirip sama Surabi Enhaii ini deh mba. Tapi asli, makan di sana kadang bikin eneg kalo pesen serabi manis ketemu minuman manis. Biasanya aku pesan serabi yg variasi pedas, biar cocok minum yang manis. Lebih netral dan diterima perut kalo minumnya air putih, hehehe.

    Tapi aku juga jarang nongki cantik di sana. Mba Dian tenang, ada temennya kok hihihi.

  20. akk penkek bandung eh surabi bandung.
    buka blogmu jd pingin pesen gojek mba haha
    kirain td dibandung. 🙂

  21. kadang kita suka gitu ya mbak, yang jauh didatangi, yang dekat malah lupa hihihiii..
    di Medan kayaknya ada juga cafe Soerabi Bandung di daerah Mongonsidi, tapi belum pernah nyoba.

  22. di Bandar Lampung dulu ada soerabi enhai tapi entah kenapa sekarang sudah ditutup. padahal serabi enhaii adalah jagonya serabi bandung dan harganya pun termasuk bersahabat di kantong

  23. Tadi sempet kaget, ke Surabi kok makannya siomay dan bakso malang. Dan baru tahu kalo surabi ada juga di bandung, duli tanya surabi terkenal itu ya serabi solo.

  24. Wah jadi ngiler. Pengin banget bisa nyobain Surabi Bandung. Seringnya makan surabi Solo. Tempatnya keliatan asik dan nyaman buat kongkow bareng temen sambil nikmatin gurihnya surabi. Nyoi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *