The Angriest Man in Brooklyn

assalamu’alaikum,

The-Angriest-Man-in-Brooklyn-Movie

 

Henry : What would you do if you knew how long you had?

Gill : I would try to figure out how to be happy

-from The Angriest Man in Brooklyn

Tadinya aku pikir ga akan lagi nulis cerita film atau apa pun yang berhubungan dengan traveling. Biar blog ini lebih fokus ke tema traveling pikirku. Tapi hari minggu pagi kemarin nganggur nonton TV. Baru petama kali nonton The Angriest Man in Brooklyn ini, dan aku suka banget sama percakapan diatas itu. “I would try to figure out how to be happy.” Ketika ketika kita tahu kapan usia kita akan berakhir, yang kita inginkan cuma ingin menjadi bahagia. Dan rasanya aku pengen nulis film ini di blog. Jadi, biarkanlah blog ini menjadi blog gado-gado deh. Ga usah terlalu pusing sama ranking, klout, atau apa pun itu (padahal kadang penasaran juga pengen tahu). Just enjoy blogging 🙂

Namanya juga The Angriest Man in Brooklyn, cerita film ini menceritakan tentang seorang pengacara bernama Henry (diperankan oleh Robin Williams) yang pemarah. Sifat emosional ini dipicu karena beberapa peristiwa pahit yang dialaminya. Mulai dari anak pertamanya meninggal dunia, anak keduanya yang tidak mau meneruskan usahanya, dan hubungan dengan istrinya yang menjauh.

Cerita dimulai dengan menunjukan bagaimana kehidupan Henry 25 tahun sebelumnya. Tampak bahagia dan harmonis bersama keluarganya di sebuah taman. Tapi sepertinya kini Henry hanya mengalami hari-hari yang buruk. Termasuk hari itu.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menerima hasil test atas sakit kepala yang ia rasakan belakangan ini, ia terjebak dalam kemacetan Brooklyn yang berakhir dengan mobilnya ditabrak. Sampai di rumah sakit ia pun ga terima karena dokter yang menemuinya bukanlah dokter langganannya, melainkan dr. Sharon Gill (diperankan oleh Mila Kunis), seorang dokter muda, dokter pengganti. Henry didiagnosa menderita aneurisma otak. Penuh emosi Henry terus mendesak dr. Gill menanyakan berapa lama lagi sisa umurnya. dr. Gill yang merasa terdesak akhirnya menyebut asal-asalan kalau Henry hanya punya sisa waktu 90 menit lagi.

Masih penuh amarah Henry keluar dari ruang dokter. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan istrinya. Namun justru ia mendapati kenyataan bahwa istrinya selingkuh dengan tetangganya ketika sampai di rumah. Ia ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya. Tapi setiap kali ia mencoba menelepon anaknya, selalu dibilang anaknya sedang sibuk dan tidak bisa menerima telepon. Henry berusaha menemui anaknya di tempat menarinya. dr. Gill yang menyadari kesalahannya karena membiarkan pasien yang dapat sewaktu-waktu meninggal keluar dari rumah sakit berusaha mencari nya.

Singkat cerita, akhirnya Henry tidak meninggal dalam waktu 90 menit, melainkan 8 hari kemudian. Di sisa waktu ia terbaring di rumah sakit, ditemani istri, anak, serta adiknya. Ia berhasil merasa bahagia.

Film ini memang ga berhasil mencapai jajaran box office, meski sebenarnya ceritanya cukup menarik. Konon karena cara berceritanya bertele-tele, banyak adegan ga penting, dan entah apalagi yang membuat film ini ga booming.

Tapi, aku justru suka dengan film ini. Aku suka pada adegan dimana Henry bertanya pada dr. Gill apa yang akan dilakukan kalau ia tahu kapan kematian akan menjemputnya. dr.Gill menjawab “Aku akan mencoba untuk bahagia.”

Aku jadi mikir sendiri. Aku atau siapa pun pasti cuma ingin hidupnya berakhir bahagia. Meski definisi kebahagiaan bagi tiap orang itu berbeda. Kadang aku suka berpikir ingin terkenal, ingin sukses. Tapi kalau dipikir lagi, yang membuat aku bahagia adalah berada bersama orang yang yang cintai. Jadi mungkin kalau aku divonis dengan umur yang ga lama lagi, yang aku inginkan cuma menjalani hari-hari seperti biasa bersama keluarga.

Bagaimana dengan kalian?

I used to think the worst thing in life was to end up all alone, it’s not. The worst thing in life is to end up with people that make you feel alone.

-Robin William.s

dianravi

 

 

One Comment

  1. Saya suka film ini karena nasib Robin William hampir sama dalam film ini. Robin, meski banyak membitangi film komedi dan menghibur banyak orang, ternyata tak mampu menghibur hidupnya sendiri.
    Terima kasih reviewnya. Salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *