Hei, You Know What? Jabodetabek Butuh Transportasi Integrasi yang Mumpuni

transportasi jabodetabek

Sebagai orang yang dari usia 40 hari sudah menjadi warga Jakarta, aku mengamati benar bagaimana Jakarta, sebagai ibu kota negara memiliki banyak masalah yang pelik yang butuh solusi yang tidak mudah untuk diselesaikan. Seputar permasalahan di transportasi salah satunya.

Kalau aku tanya, selain Monas, Jakarta itu identik dengan apa? Aku yakin pasti akan pada menjawab “macet”. Yup, macetnya Jakarta memang sudah menjadi identitas ibu kota Republik Indonesia ini. Padahal sebagai warga Jakarta, aku bisa merasakan bedanya volume kendaraan pada hari kerja dengan akhir pekan. Semuga ini adalah bukti, macetnya Jakarta bukan hanya menjadi masalah yang harus ditanggulangi oleh kota Jakarta saja, tapi masalah yang harus diselesaikan bersama antara Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sistem trasnportasi Jabodetabek harus diperbaharui.

Sistem transportasi Jabodetabek itu merupakan sistem transportasi nasional. Karena sistem transportasi Jabodetabek memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Kebayang bukan betapa pentingnya transportasi Jabodetabek ini. Adanya peningkatan pelayanan, konektivitas, dan mobilitas harian orang dan barang di wilayah Jabodetabek perlu adanya perencanaan, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pengawasan, serta evaluasi sistem transportasi yang terintegrasi, efelitif, efisien, dan terjangkau oleh masyarakat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi pemerintahan.

Coba bayangkan jika peninggkatan itu terus terjadi, ibarat air yang mengalir tanpa adanya kran untuk mengatur lajunya air, pasti akan semakin deras tak terhankan. Tentunya akan semakin berat hidup di Jabodetabek. Apalagi di Jakarta yangmenjadi pusat dari hampir semua aktivitas yang ada.

Pemerintah bukannya tak peduli kok persoalan ini. Pemerintah sadar betul perlunya “kran” untuk menyelesaikan masalah transportasi Jabodetak. Buktinya baru-baru ini Pak Jokowi, mengeluarkan Peraturan Presiden untuk memperbaiki sistem transportasi.

Pada Perpers Nomor 55 Tahun 2018 tenang Rencana Induk Transpostasi Jabodetabek (RITJ) ini memberikan kejelasan tentang bagaimana pembenahan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek harus dilakukan. Sejauh apa keseriusan pemerintah dalam menangani hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Pihartono. Menurut beliau hanya dalam selang waktu satu minggu saja rancangan Perpres ini diajukan, Pak Jokowi sudah langsung menandantanganinya.

transportasi jabodetabek

RITJ adalah pedoman bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam perencanaan pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan, serta pengawasan dan evaluasi terkait transportasi di wilayah perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tentunya, pelaksanaan RITJ dilaksanakan secara bertahap, tidak bisa langsung simsalabim dalam semalam. Namanya juga membangun sistem, bukan membangun candi. Lagi pula Pemerintah kita kan bukan Bandung Bondowoso. Jadi, akan ada 3 tahap. Tahap I tahun 2018 – 2019. Tahap II tahun 2020 – 2024. Tahap III tahun 2025 – 2029.

Urusan trasnsportasi Jabodetabek memang harus terintegrasi. Hal ini dikarenakan masing-masing wilayah tersebut memiliki Pemerintahannya masing-masing, jika tidak ada aturan khusus yang menjembatani, tentunya akan sulit utnuk mewujudkan transportasi yang lancar, nyaman dan maju di Ibukota dan kota-kota satelitnya. Yang merasa warga di sekitar Jakarta, mana ayo suaranya?

Peraturan Presiden ini punya misi dimana penyelenggaraan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek perlu memadukan pembangunan dan pengembangan sistem jaringan prasarana transportasi dan jaringan pelayanan transportasi, baik itu intra moda maupun antar moda. Penting untuk memadukan pembangunan dan pengembangan transportasi perkotaan antar wilayah Jabodetabek dalam satu kesatuan wilayah perkotaan. Mengintegrasikan pengoperasian transportasi perkotaan dan mengintegrasikan rencana pembiayaan transportasi perkotaan. Keren kan ya?

Sasaran Transportasi Jabodetabek di 2019

Jadi seperti apa kiranya transportasi Jabodetabek di 2029 nanti? Pemerintah sudah berjanji untuk sasaran terukur dalam penyelenggaraan transportasi di kawasan Jabodetabek, seperti:

  1. Pergerakan orang dengan menggunakan angkutan umum perkotaan mencapai 60% (enam puluh persen) dari total pergerakan orang;
  2. Waktu perjalanan orang rata-rata di dalam kendaraan angkutan umum perkotaan adalah 1 (satu) jam 30 (tiga puluh) menit pada jam puncak dari tempat asal ke tujuan;
  3. Kecepatan rata-rata kendaraan angkutan umum perkotaan pada jam puncak di seluruh jaringan jalan minimd 30 (tiga puluh) kilometer/jam;
  4. Cakupan pelayanan angkutan umum perkotaan mencapai 80% (delapan puluh persen) dari panjang jalan;
  5. Akses jalan kaki ke angkutan umum maksimal 500 m (lima ratus meter);
  6. Setiap daerah harus mempunyai jaringan layanan lokal jaringan pengumpan (feeder) yang diintegrasikan dengan jaringan utama (trunk), melalui satu simpul transportasi perkotaan;
  7. Simpul transportasi perkotaan harus memiliki fasilitas pejalan kaki dan fasilitas parkir pindah moda (park and ride) dengan jarak perpindahan antar moda tidak lebih dari 500 m (lima ratus meter);
  8. Perpindahan moda dalam satu kali perjalanan maksimal 3 (tiga) kali.

Demi mewujudkan RITJ, saat ini sudah mulai dibangun terminal-terminal yang terintegrasi. Seperti di beberapa stasiun misalnya, sudah ada halte transjakarta feeder, akses ke bandara dibuka dari berbagai titik, halte MRT dekat dengan perkantoran dan jalur TransJakarta, penambahan rel ganda di beberapa stasiun, dan lain sebagainya. Rencana ke depannya, fasilitas  terminal dan stasiun akan dikembangkan tidak saja sesuai fungsinya, tetapi juga akan dibangun pusat perbelanjaan dan perkantoran di dalamnya.

Tentunya jika sasaran RITJ itu  terlaksana dengan baik, hidup di Jabodetabek khususnya di Jakarta pasti akan  semakin nyaman, akan semakin terukur saat mau kemana-mana, semakin hemat, dan sudah tentu semakin sehat karena terhindar dari stress macet. Nah, sambil menunggu semua itu terwujud dari sekarang juga kita bisa lakukan akselerasi penyelesaian masalah juga kok, dengan naik kendaraan umum. Kaya aku, yang kemana-mana naik kendaraan umun.

Terkadang untuk beralih memang sulit, apalagi kalau sudah terbiasa naik kendaraan pribadi. Aku pun dulu mengalami itu kok, malas-malasan untuk  harus pergi ke suatu tempat yang pakai angkot. Tapi akhirnya aku bisa, dan aku senang, daripada cuma bisa mengkritik Jakarta macet, lebih baik kan membantu pemerintah dengan apa yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah “happy naik kendaraan umum”.  Aku merasakan sendiri kok fasilitas kendaraan umum terus dibenahi, jalanan macet pun terus diatasi. Kalau kita membantu dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, pasti kemacetan lebih mudah diatasi. Yuk, mulai naik kendaraan umum.

 

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *