One Day at Unilever Sustainability Day

Bismillahirohmanirohim,

Ada banyak permasalahan di bumi ini. Kelaparan, kemiskinan, kebersihan, kesehatan, hanyalah sebagian contoh permasalahan  di dunia ini. Di Indonesia ada 7,2 juta anak hidup di bawah garis kemiskinan, dan ada 40 anak dari 1.000 kelahiran meninggal sebelum usia 5 tahun.

Ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut, masalahnya adalah bagaimana agar penyelesaian yang dilakukan tersebut bisa berkelanjutan untuk masa depan yang lebih cerah?

Senin, 11 Desember 2017 lalu, aku diundang untuk menghadiri acara Sustainability Day yang diselenggarakan oleh Unilever Indonesia. Bertempat di Graha Uniliver, acara ini mengusung tema “Better Business, Better World.” Yang dengan kata lain, bagaimana kita bisa mengembangkan sebuah usaha tapi tetap membuat bumi lebih baik.

Unilever Sustainability Plan

Unilever percaya bahwa sebuah bisnis harus bisa menjadi solusi permasalahan bagi masyarakat dunia. Karenanya, pada 2010, Unilever meluncurkan Unilever Sustainable Living Plan (USLP), sebuah strategi untuk terus mengembangkan bisnisnya seraya mengurangi setengah dampak lingkungan yang ditimbulkan dan meningkatkan dampak sosial bagi masyarakat.

Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai oleh USLP, yaitu:

  1. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan 1 milyar orang pada 2010
  2. Mengurangi setengah dari dampak lingkungan yang dihasilkan dari operasi bisnisnya pada 2030
  3. Meningkatkan penghidupan jutaan orang pada 2020

Terdapat tiga pilar dalam program Sustainability yang telah dilakukan Unilever,  yaitu pilar kesehatan dan kesejahteraan, pilar lingkungan, dan pilar peningkatan penghidupan. Simak sebentar penjelasan prpgram dari masing-masing pilar tersebut yuk.

Pilar Kesehatan dan Kesejahteraan:

  • Hingga 2016, Unilever telah mempromosikan kebiasaan tentang kesehatan dan kebersihan yang lebih baik kepada 88 juta orang Indonesia melalui program berbasis masyarakat.
  • Dalam sisi nutrisi, tim R&D (ahli gizi) Unilever berusaha keras untuk mengurangi kadar garam, gula, dan  lemak di seluruh produknya.

Pilar Lingkungan:

  • Mengembangkan 1.630 bank sampah di 17 kota yang tersebar di 12 provinsi. Bank Sampah telah mengumpulkan 4.363 ton limbah anorganik.
  • 0 (zero) sampah ke TPA dari seluruh pabrik dan kantor pusat
  • Mengembangkan satu teknologi mutakhir pengolahan sampah plastik gleksibel yang dinamakan CreaSolv®Process.

Pilar Peningkatan Penghidupan

  • Menciptakan inklusif bisnis bagi petani kecil dan pengecer skala kecil
  • Hingga 2016, Unilever telah meningkatkan mata pencaharian 35.500 petani kedelai hitam dan petani gula kelapa yang memasok bahanbaku kecap Bango.
  • Tahun 2017, Unilever mulai memberdayakan pemetik teh di balik daun SariWangi.
  • Membantu lebih dari 500 ribu peritel kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka melalui platform distribusi berbasis IT-LeverEdge.
  • Mengaktifkan 3.320 perempuan Indonesia untuk mengakses program Pemberdayaan Perempuan Saraswati.

Unilever Sustainability Day

Kembali pada hari Senin dimana bencana banjir kembali terjadi di Jakarta. Aku merasa bersyukur sekali bisa berada di acara ini. Bukan, bukan karena aku terbebas dari kemacetan ibukota karena berada di Serpong, tapi karena aku bisa belajar banyak dari pembicara-pembicara yang ikut memeriahkan acara ini. Bukan saja figur-figur dari Unilever tapi juga dari LSM yang memiliki keterkaitan terhadap sustainability, serta pendiri perusahaan yang juga memiliki keterkaitan terhadap sustainability seperti Pipitilin Cocoa, Burgreens, dan Ikea.

Ada banyak ilmu yang rasanya aku dapatkan di acara Unilever Sustainability Day. Lewat Ibu Marie Elka Pangestu, aku diingatkan bahwa makna sustainability adalah berpikir apa yang sudah kita lakukan tidak merugikan generasi ke depannya. Bahwa sustainability bukan hanya soal lingkungan, tapi juga terkait ekonomi dan budaya.

Tapi yang  paling menarik bagi aku adalah ketika Mohamad Bijaksana Junerosano, pendiri Greeneration Indonesia, mengingatkan kami semua yang hadir agar tidak lupa untuk memilah sampah. Lewat tutur bicaranya yang bersemangat ia menceritakan bagaimana kondisi di tempat pembangan akhir. Apabila kita tidak memilahnya terlebih dahulu, maka mendaur ulang sampah menjadi pekerjaan yang lebih berat.

Let’s Committed to Living Sustainability

Well, ini sudah pasti merupakan komitmen cukup berat. Tapi tak ada salahnya bila kita mulai lebih peduli lagi terhadap lingkungan, terhadap sekitar kita. Tak perlu langsung melakukan langkah drastis, tapi mulailah dari hal-hal kecil, seperti mulai memilah sampah daur ulang, bisa juga mengurangi pemakaian tisu dan kertas. Dan tak lupa membiasakan membawa tempat minum daripada harus membeli minuman berbotol plastik berulang kali.

Dua hal itu seperti tamparan buat aku. Aku adalah pengguna tisu sejati. Mengingat hidung yang sensitif akibat sinus, aku dan tisu seperti dua sahabat yang susah dipisahkan. Begitu juga dengan kertas, aku termasuk yang masih lebih senang menulis pada buku meski sudah punya blog. Tapi, marilah kita coba perlahan-lahan.

Kalian sudah siap untuk mencoba berkomitmen pada sustainability?

 

 

16 Comments

  1. Paling susah memilih sampah bungkus makanan, yang masih ada sisa sisa makanan basah gitu iww, apa harus dicuci dulu baru di buang ya mba, kl lagi males sih jadi nyatuh deh sama sampah plastik, tapi ya itu kotor jadinya

  2. Memisahkan sampah sesuai jenisnya emang harus jd kebiasaan ya mba, di luar udah jadi hal biasa, tp disini masih terbilang jarang yg mempraktekannya padahal banyak manfaatnya

  3. Wow,keren banget ya Program USLP nya, semoga terlaksana.
    Hihi.,,ngikik merasa tertampar juga, langsung bertanya sama diri sendiri, udah belom melakukan hal yang kecil saja? Hmm, udah donk, always bawa minuman pake tupperware

  4. Belum mba, karena aku juga bersahabat erat dengan tissue secara punya bayi juga hehee.. tapi yang pasti aku udah ga buang sampah sembarangan lagi bekas jajan chiki or coklat or tissue hehehe

  5. Nah gini kan program yang bagus buat perusahaan yang memikirkan masalah lingkungan, ga hanya mengejar profit. Sekalian buat edukasi masyarakat supaya semakin peduli kebersihan lingkungan.

  6. Keren ya Unilever. Masih peduli lingkungan. Secara produknya kemasan bahan plastik smua. Aku tertampar juga. Pengguna minuman botol plastik sejati. Bahkan dikulkas isinya air botolan smua huhuhu…

  7. Aku salut dengan ketiga pilarnya Unilever apalagi pilar peningkatan kehidupan itu ya banyak membantu ritel dan petani juga ya, sukses selalu untuk Unilever.

  8. akuu akuu…sama mba..masih suka bangeet pake tissu, meski penggunaan kertas sudah jarang sih..tapi tissu ini kayak benda wajib di rumah, padahal harusnya dikurangi ya…aduhhh bismillah

  9. Keren UNILEVER. Semoga dicontoh perusahaan-perusahaan besar lainnya juga ya. Gak hanya sekedar bisnis tapi juga memberikan dampak social yang bagus, salah satunya untuk Suistanabilty Goals

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *