Warung Kopi Purnama, Sejak 1930

Assalamu’alaikum,

2016-07-27 11.46.15 1

“Udah pada bangun blom? Sarapan di Warung Purnama yuk. Pada mau ga?” Tulisan itu muncul di layar sentuhku pagi itu. Pengirimnya sudah pasti salah satu sepupuku yang berada di kamar tak jauh dari kamarku. Saat itu aku dan beberapa sepupu sedang menginap di salah satu hotel berbintang di kota Bandung.  

“Yu. 10 menit lagi aku ke kamar teteh ya,” balasku.

Aku melihat pria di sebelahku yang masih tertidur pulas. Aku tahu dia baru saja tidur setelah semalaman berkutat dengan pekerjaannya. Ga mungkin dia bisa aku bangunkan, apalagi hanya sekedar untuk sarapan. Mungkin lebih baik biar dia tetap istirahat. Sebelumnya dia memang sudah berpesan, “Kamu main-main aja ya. Jangan jadi ga enak karena aku bawa kerjaan.” Ah mas Memet sayang, kamu itu baik banget sama aku. Rela nganterin aku ke Bandung buat main, padahal kamunya kerja. 

Turun dari tempat tidur aku pun segera cuci muka dan berganti pakaian. Tak sampai 10 menit aku pun sudah berada di depan kamar sepupuku dan menanti sepupu-sepupu lain yang akan ikut bergabung. Ternyata rombongan kami kali ini hanya rombongan kecil, hanya aku, 2 sepupuku dan 1 suaminya, dan 2 keponakan. Dengan kata lain kami hanya berenam. Aku, Teh Mia, Teh Lala, Mas Harry, serta Fay dan Davy siap menuju Warung Purnama.

2016-07-27 11.46.30 1

Warung Purnama merupakan sebuah kedai kopi tua yang terletak di Jl Alkateri no 22, Bandung. Letaknya jalan ini tak jauh dari alun-alun Bandung. Aku selalu suka main-main ke daerah ini. Toko-toko yang masih mempertahankan bangunan tua tampak hampir dimana-mana menjajakan aneka gordyn, elektronik, juga kain-kain cantik. 

Ini adalah kedua kalinya aku mengunjungi Warung Purnama. Bahkan aku pernah menulis cerita kunjunganku yang pertama itu di blog lamaku. Waktu itu aku hanya seorang diri sambil menanti waktu rapat. Berbeda dengan kunjunga kedua yang ramai-ramai.

2016-07-27 11.46.16 1

“Hmmm bau jadul,” celetukku begitu kami masuk ke dalam. Kedua sepupuku langsung ketawa melihat reaksiku. Mereka sudah terbiasa melihat kelakuan ajaibku dan sangat mengerti kesukaanku terhadap hal-hal vintage.  Kami memutuskan untuk duduk di deretan tengah pagi itu. Mas Harry, sempat mengajak duduk di pinggir, sambil menunjukan deretan foto-foto lawas yang terpampang di dinding padaku. Aku tahu, suami sepupuku ini ingin menyenangkan aku biar lebih leluasa menikmati suansa jadulnya. Tapi pagi itu Warung Purnama sudah cukup ramai. Dan duduk di deretan pinggir rasanya akan membuat hawa sesak bagi kami berenam. 

2016-07-27 11.46.18 1

Seperti yang terpampang di papan depan, Warung Purnama ini sudah ada sejak tahun 1930 dan merupakan icon heritage kota Bandung. Kedai Kopi ini dulunya bernama Chang Chang Se yang artinya Selamat Mencoba. Tapi pada tahun 1966 namanya  diubah menjadi Warung Purnama seiring kebijakan pemerintah yang mengharuskan memakai nama Indonesia. Pemilik pertamanya, Yong A Thong, berasal dari Medan yang hijrah ke Bandung pada abad ke-20. Kini Warung Purnama sudah dikelola sampai generasi keempat. 

2016-07-27 11.46.24 1

2016-07-27 11.46.21 1

2016-07-27 11.46.27 1

Pagi itu aku memesan secangkir kopi hitam dan Lontong Cap Go Meh. Ponakan-ponakan ku memesan roti dengan berbagai pilihan rasa, mulai dari srikaya dan coklat. Sayangnya aku lalai ga menyimak pilihan menu-menu disini. Rupanya ga semua menu halal. Akhirnya aku pun jadi ragu menghabiskan lontong cap go meh ku. Besok-besok pesan roti manis aja ya.

Untuk harga, makan disini ga bikin dompet nangis. Ini semakin bikin aku happy. Untuk roti manis harganya sekitar Rp 13.000 – Rp 15.000, Lontong Cap Go Meh seharga Rp 28.000, dan secangkir kopi hitam cukup dengan Rp 12.000. Ramah dompetkan? Ga lupa sebelum pulang, aku membungkus roti srikaya buat sarapan mas Met.

Kalu ingin mampir ke Warung Purnama, susurin aja jalan Asia Afrika. Belokan kedua setelah alun-alun itulah jalan Alkateri. Susuri aja. Warung Purnama ada di sebelah kanan jalan. Kalau suka dengan suasana pecinan kaya aku, jangan buru-buru pulang. Lanjut keliling ke jalan ABC atau mampir ke jalan Tamim surganya kain-kain. Biar ga nyasar, ini aku kasih petanya:

Salam kopi hitam,

dianravi

6 Comments

  1. wah kayaknay enak ay camilannya juga. kalau ke bandung itu paling malas macetnya itu

    • iya mbak. Bandung itu emang jadi macet banget sekarang ini. Makanya aku lebih senang di hari kerja main-mainnya. Eh tapi hari kerja juga udah sama macet juga

  2. Saya malah ngebayangin, tuh warung kopi berdiri sejak jaman penjajahan. Berarti jaman dulu para penjajah sering ke tempat ini buat ngopi juga donk.

    Eh, tapi boleh juga dicoba kalau lagi ngetrip ke bandung. Jadi penasaran juga sama warung kopinya, apalagi sudah di lanjutkan oleh generasi ke empat. Pasti banyak sejarah nih warung kopi.

    • iya ya…. kok ga kepikiran. Mungkin para penjajah melepas lelah dengan secangkir kopi sambil ngobrol-ngobrol santai. Sesekali membahas strategi perang, terkadang cuma nostalgia mengenang kekasih yang mereka tinggalkan di negara asalnya.

  3. with. waring kopinya pasti legend banger dan pastinya ban yak lusaka kuliner yang harus di icip di sini. seandainya dekat pasti ku sikat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *