Pecahkan Telur dari Dalam, Pedoman Yayasan Dharma Bakti Astra

Bismillahirohmanirohim,

Astra. Nama itu tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Tak heran memang. PT Astra Internasinal Tbk sudah ada sejak 60 tahun yang lalu. Sebagai perusahaan yang berlandaskan pada Catur Dharma, Astra bukan saja menjadi besar karena keuntungan perusaannya, tapi juga karena kepedulian Astra pada negeri ini.

Baca juga: Catur Dharma, Landasan 60 Tahun Astra yang Menginspirasi

60 tahun sudah tentu bukan waktu yang singkat. Seiring waktu, Astra yang pada awalnya hanya bergerak di bidang otomotif, kini sudah memiliki tujuh segmen usaha. Mulai dari otomotif; jasa keuangan; alat berat, pertambangan, dan energi; agribisnis; infrastruktur dan logistik; teknologi informasi; serta properti.

Dalam menjalankan ketujuh lini bisnis Astra tersebut, semuanya didasari oleh 3P, yaitu:

  • Portfolio. Dalam menjalankan bisnisnya Astra tidak hanya memikirkan profit semata, melainkan harus memperhatikan aspek manusia.
  • People. Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada harus selalu bisa berakarya dan berkembang.
  • Public Contribution. Sebagaimana tertera dalam Catur Dhama, bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara, Astra sangat memperhatikan aspek masyarakat dan lingkungan.

Berangkat dari P yang ketiga yaitu public contribution itulah, William Soeryadjaya mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada tahun 1980.

Yayasan Dharma Bakti Astra

“Berikan kail, bukan ikan.”

-William Soeryadjaya

Berangkat dari filosofi itulah Yayasan Dharma Bakti Astra ini didirikan. Kiranya itulah yang dijelaskan oleh Pak Henry C. Wijaya dan Pak Edison Monoarfa ketika aku menghadiri acara Blogger Gathering yang diadakan oleh Yayasan Dharma Bakti Astra pada 20 Desember 2017. Bertempat di TierSpace, Jakarta Selatan, aku mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Yayasan Dharma Bakti Astra.

Pak Henry C. Wijaya

YDBA memiliki visi yaitu menjadi yang terbaik di bidang pembinaan dan pengembangan UMKM di tanah air serta sebagai rantai bisnis Grup Astra dengan penekanan dan perkuatan UMKN dan kesejahteraan masyarakat.

“Tujuan kami adalah menjadikan UMKM Mandiri,” begitu yang dikatakan Pak Henry berulang kali, tanda sebuah penegasan mengenai tujuan akhir dari YDBA. “Jangan harap kami memberikan uang, kami hanya memfasilitasi. Karena seperti yang Om Wil bilang, ‘Berikanlah kail, bukan ikan’.”

Adapun program yang dilakukan oleh YDBA yaitu:

  1. pelatihan
  2. pendampingan
  3. fasilitasi pemasaran
  4. fasilitasi pembiayaan

Untuk membantu UMKM dan masyarakat di daerah dalam mendapatkan akses pembiayaan, YDBA mendirikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) atau koperasi. Sampai sejauh ini sudah ada 10 LKM yang tersebar di Tabalong, Kalimantan Selatan; Buntok, Kalimantan Tengah; Tamiang Layang, Kalimantan Tengah; Balangan, Kalimantan Selatan; Mamuju Utara, Sulawesi Barat; Tapin, Kalimantan Selatan; Kutai Barat, Kalimantan Timur; Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah; dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

CARE yang dalam bahasa Inggris berarti peduli juga menjadi nilai dalam menjalankan visi dan misi YDBA. CARE di sini merupakan singkatan.

pic source: http://www.ydba.astra.co.id/

Compassionate. YDBA menunjukan identitasnya sebagai sebuah yayasan yang penyayang. Yang peduli pada kesejahteraan masyarakat.

Adaptive. Bisa disesuaikan dalam segala keadaan. YDBA membuka peluang untuk segala bentuk UMKM. Tidak hanya yang terkait dengan bisnis Astra semata.

Responsible. Semua yang dilakukan YDBA tentunya dilakukan dengan tanggung jawab.

Excellent. Tidak ada yang setengah-setengah yang dilakukan oleh YDBA. Semua dilakukan secara maksimal agar bisa menghasilkan yang terbaik.

Sepanjang perjalanan sampai saat ini, YDBA telah membina 8.646 UMKM yang tersebar di Indonesia. Untuk pemuda yang putus sekolah, YDBA telah melatih 552 pemuda menjadi mekanik. YDBA juga telah menciptakan 57.837 lapangan pekerjaan melalui UMKM yang telah difasilitasinya.

Dalam melakukan pembinaan tentu saja YDBA tidak sendiri. Bersama grup Astra, YDBA mendirikan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) yang bertugas mengembangkan UKM di daerahnya masing-masing.

“Pak, apakah ada UMKM yang telah mandiri tapi kemudian terpuruk? Apakah YDBA akan kembali membantu?” sebuah pertanyaan meluncur dari salah seorang blogger. Acara ini cukup santai, tanya jawab dilakukan langsung sambil menyimak penjelasan. Membuat suasana terkesan akrab.

“Sangat banyak,” jawab Pak Edison. “Tapi kami sangat welcome untuk membuat pelatihan dari awal lagi. Justru memang kami selalu berusaha memastikan sejauh mana mereka sudah melangkah.”

“Yang jangan dilupakan, setelah mereka mandiri mereka harus bisa merangkul UMKM kecil lainnya. Jika diibaratkan seperti telur, pembinaan yang dilakukan oleh kami berusaha untuk memecahkan telur dari dalam, sehingga menghasilkan seekor ayam. Bukan memecahkan telur dari luar, yang akhirnya hanya menghasilkan telur dadar,” tambah Pak Henry.

Let’s Paint on T-shirt

Setelah acara sharing session, saatnya aku, kami, berkreasi. Sudah disiapkan sebuah t’shirt berbagai ukuran, cat, dan pola bagi yang belum punya ide atau yang enggak bisa gambar seperti aku. Cat yang digunakan adalah cat tekstil (ISP/POT) yang diramu oleh Pak Iskandar salah satu binaan YDBA. Cat POT ini bisa digunakan untuk segala jenis kain.

“Cat ini ramah lingkungan dan memiliki garansi satu tahun tidak akan luntur,” jelas Ibu Rini Iskandar.

poto milik @andreqve

Dalam beberapa menit kemudian, ruangan di TierSpace mendadak senyap. Sepertinya semua berkonsentrasi untk menyelesaikan lukisan di kaosnya. Tapi kesenyapan itu ternyata hanya sesaat, karena tak lama aku bisa mendengar suara-suara yang meminta tambahan cat, kuas, juga candaan seputar hasil lukisan.

Tak terasa hari semakin larut. Saatnya saatnya satu persatu dari kami undur diri. I do have a nice day. Meski cuaca hari itu sempat hujan cukup lebat. Aku bukan saja menyimak soal Yayasan Dharma Bakti Astra semata, tapi sedikit banyak aku belajar untuk bisa memperbaiki diri lebih baik lagi.

Aku mungkin tidak bisa sehebat Astra. Aku belum sebesar Astra. Tapi paling tidak, aku belajar untuk bisa melakukan hal-hal baik lebih sering lagi.

assalamu alaikum,

dian ravi

DianRavi

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *