Pensiun Dini Jadi “Biang Kerok”: Ceritaku Belajar Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Pernah nggak sih kamu merasa kalau di dalam kepalamu ada satu hakim yang galak banget? Hakim ini nggak pakai toga, nggak bawa palu, tapi suaranya lantang banget bilang: “Ini semua salah kamu.”

Bagi banyak orang, kata “maaf” adalah sesuatu yang mudah diucapkan ke orang lain. Kita bisa dengan tulus memaafkan teman yang telat, pasangan yang lupa janji, atau rekan kerja yang bikin blunder. Tapi, giliran harus bilang “maaf ya, diriku,” rasanya kok kayak disuruh mindahin gunung? Berat banget.

Apalagi kalau kamu tipe orang yang, seperti aku, punya default setting untuk menyalahkan diri sendiri setiap ada masalah. Kalau ada yang salah, jari kita nggak menunjuk ke luar, tapi langsung menekuk ke dalam, menunjuk dada sendiri.

Akar yang Tumbuh dalam “Kekhawatiran”

Jujur aja, kebiasaan menyalahkan diri sendiri itu jarang muncul tiba-tiba. Biasanya, dia punya akar yang panjang. Kalau aku tarik garis ke belakang, mungkin ini ada hubungannya dengan masa kecilku sebagai “anak tunggal rasa lama.”

Selisih usiaku dengan adikku itu 15 tahun. Jadi, praktis selama belasan tahun, aku adalah pusat semesta di rumah. Tapi, jadi pusat semesta nggak selalu berarti dimanja. Justru sebaliknya. Ibuku punya kekhawatiran yang besar kalau aku bakal tumbuh jadi anak yang manja, nggak mandiri, atau “lembek” karena nggak punya saingan di rumah.Untuk mengakalinya, beliau menerapkan pola asuh yang cukup keras. Logikanya mungkin begini: “Biar dia nggak manja, dia harus tahu tanggung jawab. Dan tanggung jawab seringkali berarti mengakui kesalahan.”

Masalahnya, batasan antara “tanggung jawab” dan “disalahkan” itu jadi kabur. Aku masih ingat jelas masa-masa itu. Kalau ada keponakan nangis, entah kenapa suasananya langsung mengarah ke: “Pasti kamu yang jahilin ya?” atau “Kamu sih nggak becus jaganya.” Padahal mungkin si bocah nangis karena emang lagi pengen tantrum aja.

Bahkan saat di sekolah ada laporan bullying di kelas, tanpa ditanya kronologinya, label “biang kerok” langsung mendarat di dahiku. Rasanya kayak aku sudah divonis bersalah sebelum sidang dimulai. Efeknya terasa sampai aku dewasa, otak aku terprogram untuk berpikir: Kalau ada yang nggak beres, itu pasti karena aku.

Titik Balik di Bulan Desember

Tahun lalu, aku sampai di satu titik di mana beban menyalahkan diri sendiri ini rasanya sudah terlalu sesak. Aku capek jadi musuh terbesar buat diriku sendiri. Dan entah gimana semesta bekerja, di bulan Desember kemarin, aku “nyemplung” ke sebuah kegiatan yang mengubah cara pandangku: Ngejournal bareng akun @mengjournaling di Threads.

Awalnya cuma iseng, tapi ternyata itu jadi salah satu pelajaran paling berharga yang aku dapatkan di penghujung tahun.

Selama ini, suara-suara yang menyalahkan diri sendiri itu cuma berputar-putar di kepala. Bentuknya abstrak, tapi tajam. Nah, lewat tantangan journaling itu, aku dipaksa untuk mengeluarkan suara itu dari kepala ke atas kertas (atau layar).

Saat aku menuliskan, “Aku minta maaf sama diri sendiri karena pernah…”, aku baru sadar kalau banyak banget hal yang aku pikul itu sebenarnya bukan tanggung jawabku. Melihat kata-kata itu tertulis membuat si “hakim galak” di kepalaku jadi kelihatan sedikit lebih kecil dan nggak semenakutkan itu.

Pelan-pelan, lewat coretan-coretan harian itu, aku belajar satu hal penting:

Memaafkan diri sendiri itu bukan tentang melupakan kesalahan, tapi tentang berhenti menghukum diri sendiri atas hal-hal yang sudah berlalu atau hal yang nggak bisa kita kendalikan.

Alasan Pundak Kita Perlu Libur dari Rasa Bersalah

Kita sering merasa kalau kita memaafkan diri sendiri, kita berarti “lepas tangan” atau nggak bertanggung jawab. Kita takut kalau kita nggak keras sama diri sendiri, kita bakal jadi orang yang gagal atau nggak tahu diri. Padahal, menyalahkan diri sendiri terus-menerus itu beda jauh sama evaluasi diri.

  • Evaluasi diri: “Oke, aku salah di bagian ini, lain kali aku perbaiki.” (Fokus pada solusi).
  • Menyalahkan diri sendiri: “Aku emang dasarnya payah, nggak berguna, pantesan semuanya berantakan.” (Fokus pada penghancuran karakter).

Menyalahkan diri sendiri itu kayak kita memikul tas penuh batu besar sambil mencoba lari maraton. Capeknya dapet, tapi kita nggak sampai-sampai ke garis finish.

Langkah Kecil untuk Memaafkan Diri Sendiri

Kalau kamu juga merasa lelah jadi samsak buat kesalahan-kesalahan dunia, yuk coba lakukan beberapa hal yang aku pelajari dari proses journaling kemarin:

1. Validasi si “Anak Kecil” di Dalam Dirmu

Coba deh bayangkan dirimu yang versi kecil. Anak kecil yang dulu sering disalahin padahal nggak tahu apa-apa. Anak kecil yang dituduh jadi biang kerok padahal dia juga lagi bingung.

Kalau kamu melihat anak kecil lain digituin, kamu bakal marah nggak? Pasti marah. Kamu bakal bilang, “Eh, tanya dulu dong, jangan langsung nyalahin!” Nah, lakukan itu untuk dirimu sendiri. Katakan pada dirimu: “Bukan salahmu kalau dulu orang dewasa di sekitarmu nggak punya cara yang lebih lembut untuk mendidikmu.”

2. Bedakan Antara “Tanggung Jawab” dan “Beban Moral”

Kita perlu belajar memilah mana yang benar-benar area kendali kita dan mana yang bukan.

  • Keponakan nangis? Itu emosi dia, bukan berarti kamu gagal menjaganya.
  • Ada konflik di kantor? Itu dinamika tim, bukan berarti kamu satu-satunya penyebab kegagalan.

3. Tuliskan Semuanya (Journaling!)

Ini yang paling ampuh buat aku. Saat otak mulai bising menyalahkan diri sendiri, ambil buku atau buka aplikasi notes. Tuliskan apa yang kamu rasakan tanpa filter. Kadang, setelah dibaca ulang, kita baru sadar kalau kita sudah terlalu jahat sama diri sendiri.

Secara khusus, aku ingin bilang terima kasih banyak buat @mengjournaling. Lewat konten dan prompt journaling-nya di Threads Desember lalu, aku kayak dikasih “ruang aman” untuk jujur sama diri sendiri.

Terima kasih sudah membantuku melihat kalau aku nggak sendirian dalam pergulatan ini. Terima kasih sudah menjadi pengingat bahwa menyayangi diri sendiri itu dimulai dari kemauan untuk melepaskan beban-beban yang nggak seharusnya kita bawa. Pelan-pelan, aku sekarang lebih sering bilang “nggak apa-apa” daripada “kamu bodoh banget sih.” Dan itu rasanya lega banget.

Mari Menemukan Kedamaian di Ramadan Ini

Memaafkan diri sendiri itu perjalanan seumur hidup. Pasti bakal ada hari-hari di mana si hakim galak itu datang lagi. Tapi nggak apa-apa. Setiap kali dia datang, kita punya alat baru untuk menghadapinya: kejujuran dan pena.

Nah, buat teman-teman yang mungkin punya pergulatan yang sama denganku, yang sering merasa bersalah, yang merasa perlu berdamai dengan masa lalu, atau yang sekadar pengen punya waktu lebih berkualitas dengan diri sendiri, aku punya kabar baik.

Kebetulan banget, Ramadan ini @mengjournaling mengadakan program “Journaling Ramadan Bareng Meng”. Aku rasa ini adalah momen yang pas banget. Sambil kita membersihkan diri secara spiritual, kita juga bisa membersihkan pikiran dan hati dari sisa-sisa rasa bersalah yang belum tuntas.

Yuk, ikutan Journaling Ramadan Bareng Meng! Langsung aja meluncur ke Instagram atau Threads @mengjournaling untuk info lengkapnya. Mari kita jadikan Ramadan tahun ini bukan cuma tentang menahan lapar, tapi juga tentang belajar melepaskan beban di pundak dan mulai memeluk diri sendiri.

Karena pada akhirnya, orang yang paling lama akan hidup bersamamu adalah dirimu sendiri. Jadi, pastikan hubungan kalian itu hubungan yang penuh cinta, bukan penuh tuntutan.

Selamat berproses, teman-teman.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment