Belakangan ini, aku memutuskan untuk kembali “pulang” ke lembaran kertas. Setelah sekian lama cuma berkutat sama jempol dan layar sentuh, ada kerinduan buat merasakan lagi tekstur kertas dan bau tinta. Rasanya lebih nyata, lebih jujur, dan anehnya, jauh lebih menenangkan.
Tapi, seiring dengan aktifnya aku journaling lagi, algoritma media sosial, terutama di Threads, seolah tahu apa yang lagi aku kerjain. Tiba-tiba saja, linimasa aku penuh sama konten seputar dunia tulis-menulis ini.
Jujur, aku senang banget melihatnya! Aku suka banget melihat orang-orang pamer hasil karya mereka yang luar biasa cantik. Ada yang pakai teknik scrapbooking dengan potongan kertas koran tua, stiker-stiker estetik, sampai “sampah” bermanfaat kayak tiket bioskop atau struk kopi yang disusun rapi banget. Aku sendiri pun lagi hobi banget sama art journal yang isinya tempel-tempel perintilan lucu. Rasanya ada kepuasan tersendiri pas melihat halaman buku kita jadi penuh warna dan tekstur.
Namun, di tengah keindahan visual itu, muncul satu fenomena yang bikin aku mengernyitkan dahi: debat kusir soal definisi.Entah dari mana mulainya, tiba-tiba ada semacam kasta yang memisahkan antara journaling dan menulis diary. Ada narasi yang bilang kalau kamu cuma curhat soal gebetan atau maki-maki bos, itu namanya diary (dan dianggap “receh”). Tapi, kalau kamu menulis dengan struktur, pakai prompt pengembangan diri, atau bikin art journal yang niat, baru boleh disebut journaling.
Melihat perdebatan ini, aku merasa kita lagi terjebak dalam masalah yang sebenarnya nggak perlu ada.
Estetika Itu Bonus, Bukan Syarat Sah
Aku adalah orang yang sangat menikmati sisi visual dari sebuah jurnal. Aku hobi cari inspirasi tempat beli perintilan jurnal yang lucu-lucu, dari washi tape sampai stempel kayu. Buat aku, proses menempel stiker dan menyusun “sampah” memori itu adalah meditasi. Ada kesenangan tersendiri saat melihat tumpukan kertas itu jadi karya seni personal.
Tapi, aku juga sadar kalau nggak semua orang punya waktu atau minat buat bikin jurnal yang “cantik”. Ada hari-hari di mana aku sendiri nggak sempat tempel-tempel dan cuma pengen corat-coret ide berantakan, nulis to-do list yang membosankan, atau sekadar curhat emosional yang jauh dari kata estetik.
Apakah pas aku cuma corat-coret ide atau daftar belanjaan itu namanya bukan journaling? Ya tetap journaling dong!
Masalah muncul ketika orang mulai merasa cara mereka adalah yang paling benar. Di medsos, aku melihat ada yang merasa “lebih tinggi” karena jurnalnya berisi refleksi filosofis, sementara yang lain merasa cara menempel stiker itu cuma buang-buang waktu. Ini lucu, sekaligus menyedihkan. Kita sedang mengubah sebuah alat buat ketenangan pikiran menjadi ajang debat kasta sosial.
Menulis sebagai Terapi, Bukan Beban Baru
Tujuan aku (dan mungkin kamu) punya buku jurnal adalah buat tetap waras. Di dunia yang menuntut kita buat selalu tampil sempurna dan produktif, buku catatan adalah satu-satunya tempat di mana kita boleh jadi apa adanya.
Kalau kita mulai meributkan istilah, kita sebenarnya lagi menambah beban baru di kepala. Bayangkan, kamu lagi stres berat, terus sebelum nulis kamu harus mikir dulu: “Ini masuk kategori diary atau journaling ya? Kalau aku cuma nulis perasaan aku tanpa prompt, nanti dibilang nggak berbobot dong?”
Kekonyolan semacam inilah yang justru menjauhkan kita dari manfaat terapeutik menulis itu sendiri. Menulis pribadi, dengan cara apa pun, adalah bentuk katarsis. Begitu isi kepala tumpah ke kertas, kita merasa lebih ringan. Titik. Mau itu isinya tempelan stiker mahal, coretan pulpen macet, atau curhatan galau, fungsinya tetap sama: pelepasan emosi.
Belajar Menghargai Proses, Bukan Cuma Hasil
Aku belajar bahwa menulis pribadi adalah sebuah “proses”. Prosesnya adalah saat jemari aku menyentuh stiker, saat aku mencari kata yang pas buat mendeskripsikan hari yang berat, atau saat aku merasa puas melihat halaman buku yang penuh coretan. Itu adalah momen sakral antara aku dan diriku sendiri.
Media sosial mungkin kasih kita inspirasi tentang metode baru atau perintilan lucu. Itu bagus, aku juga terinspirasi banget dari sana! Tapi jangan biarkan kebisingan di luar sana mendikte gimana cara kita berkomunikasi dengan batin sendiri. Kalau kamu merasa bahagia hanya dengan nulis satu kalimat setiap malam, lakukanlah. Kalau kamu merasa tenang dengan bikin art journal yang penuh tempelan, silakan banget!
Yang Penting Bermanfaat dan Bikin Senang!
Pada akhirnya, aku pengen negasin satu hal:
Nama kegiatannya sama sekali nggak penting.
Mau kamu sebut itu journaling, mau kamu sebut itu diary, atau sekadar coret-coret nggak jelas, itu urusanmu. Nggak ada “Polisi Jurnal” yang bakal nangkep kamu kalau kamu mencampurkan curhatan galau di tengah-tengah habit tracker atau art journal yang estetik.
Yang terpenting bukanlah apa istilahnya, melainkan: Apakah itu bermanfaat buatmu? Dan apakah itu bikin kamu senang melakukannya?
Tujuan akhir dari semua ini adalah terapi yang bikin kita bahagia.Menulis adalah surat cinta buat diri sendiri. Dan dalam cinta, nggak butuh definisi yang kaku, yang ada hanyalah kenyamanan. Jadi, berhentilah memusingkan debat di media sosial soal mana yang lebih benar atau mana yang lebih keren.
Ambil buku apa saja yang kamu punya, hias kalau kamu mau, biarkan kosong kalau kamu lagi malas, dan isilah dengan apa pun yang kamu rasakan saat ini. Karena pada akhirnya, buku itu adalah milikmu, duniamu, dan rahasiamu. Bukan milik netizen yang hobi ributin istilah.
Semangat berkarya dan bercerita di jurnalmu sendiri, ya!
warm hugs,



