Menghadapi Fear of Blank Page: Tips Memulai Journaling Tanpa Takut Salah

​Pernah nggak sih, kamu merasa semangat banget beli notebook baru, tapi begitu pena sudah di tangan, kamu justru mendadak kaku? Menatap halaman putih yang kosong rasanya kayak menghadapi ujian besar yang harus sempurna.​

Kondisi ini sering disebut sebagai Fear of Blank Page. Ada tekanan tak kasat mata yang bikin kita merasa setiap goresan di buku baru harus terlihat estetik dan bermakna. Padahal, ekspektasi itulah yang sering jadi penghambat kreativitas.

Rasa “Blank” yang Selalu Membayangi

​Jujur saja, rasa blank ini sebenarnya “teman lama” yang hampir selalu mampir setiap kali aku mau mengisi journal. Bukan cuma di halaman pertama buku baru, tapi di setiap halaman yang masih kosong. Menatap kertas putih itu sering kali bikin aku bertanya-tanya: “Mulai dari mana ya?”

​Padahal, beberapa bulan terakhir ini aku sebenarnya sudah mulai merasa sangat nyaman dengan rutinitas journaling-ku. Perasaan itu muncul sejak aku beberapa kali ikutan kegiatan offline bareng Klub Salam Tempel. Bertemu teman-teman dengan hobi yang sama, saling berbagi inspirasi, dan “nempel” bareng-bareng ternyata sukses membangun rasa percaya diriku. Journaling jadi terasa lebih ringan dan seru.​

Tapi, begitu aku pindah suasana dan menghabiskan sebulan di Bondowoso, rasa stuck itu datang lagi dengan sangat kuat.​Meskipun rasa rindu buat menyentuh tekstur kertas, memadukan warna, dan menyusun journal spread sudah menggebu-gebu di dalam hati, tapi tanganku seolah terkunci. Setiap kali membuka buku, aku cuma bisa melihatnya dengan bingung. Suasana Bondowoso yang tenang ternyata belum cukup buat memancing ide keluar kalau aku cuma diam menunggu.​

Ternyata, kuncinya bukan menunggu inspirasi datang atau menunggu momen “komunitas” itu ada lagi. Kuncinya adalah “memaksa” diri buat mulai dari hal yang paling nggak sempurna, sendirian, di atas meja kecilku kasur.

7 Tips Praktis Melawan “Fear of Blank Page”​

Biar kamu nggak lagi terintimidasi sama kertas putih yang “suci” itu, ini dia 7 tips praktis dari aku buat memecah kebuntuan dalam journaling:​

1. “Rusak” Kesempurnaan Halaman Pertama​

Jangan biarkan halaman pertama tetap suci dan bersih terlalu lama. Semakin lama ia kosong, semakin besar nyali yang kamu butuhkan untuk mengisinya. Segera buat “noda” pertama. Kamu bisa coret-coret asal, bikin lingkaran-lingkaran bebas (doodling), atau sekadar tulis namamu dengan ukuran besar di tengah. Begitu halaman itu sudah nggak “sempurna”, beban mentalmu untuk tampil bagus bakal berkurang drastis karena toh bukunya sudah “kotor”.​

2. Gunakan “Sampah” sebagai Ornamen Berharga

​Jangan terpaku harus pakai stiker mahal atau washi tape impor. Kadang, material terbaik justru ada di “sampah” keseharian kita. Kayak yang aku lakukan tadi pagi untuk melawan rasa stuck di Bondowoso; aku ambil sisa bungkus jajanan hasil olahraga di Alun-Alun beberapa waktu lalu. Potongan plastik kemasan atau kertas struk belanja yang sudah lecek justru memberikan tekstur unik dan cerita yang nyata. Sampah ini adalah bukti sejarah kecil dari harimu yang layak diabadikan.

​3. Menempel Stiker secara Acak (Tanpa Rencana!)​

Kalau kamu benar-benar buntu mau menulis apa, cobalah untuk tidak berpikir. Ambil satu atau dua stiker random, lalu tempelkan di posisi yang nggak beraturan, mungkin agak miring atau malah di pojok bawah. Keberadaan satu objek visual di atas kertas akan memicu otakmu secara otomatis untuk mengisi ruang kosong di sekitarnya. Ini seperti memancing ide; begitu ada satu titik fokus, elemen lain biasanya akan mengikuti dengan lebih mudah.​

4. Tulis Hal-Hal Receh (Daftar Belanja atau To-Do List)​

Journaling nggak harus selalu berisi refleksi filosofis atau curhatan mendalam. Kamu bisa mulai dengan menulis daftar belanjaan pasar pagi tadi, menu makan siang yang paling kamu suka, atau bahkan daftar lagu yang lagi sering kamu dengar. Ini adalah cara termudah untuk “pemanasan” agar tangan terbiasa bergerak di atas kertas tanpa merasa terbebani oleh makna.

​5. Lakukan “Dirty Background” dengan Cat atau Sisa Kopi​

Kalau putihnya kertas terasa terlalu menyilaukan, coba teknik dirty background. Gunakan sedikit cat air, sisa kopi dari gelasmu, atau goresan krayon untuk membuat bercak-bercak di halaman. Latar belakang yang sengaja dibuat “kotor” dan tidak beraturan ini sering kali malah melahirkan ide-ide art journal yang lebih organik. Dari bercak kopi itu, kamu mungkin tiba-tiba melihat pola yang bisa diubah jadi gambar bunga atau awan.​

6. Teknik “Layering” dengan Kertas Bekas

​Ambil sobekan kertas koran, kertas kado lama, atau bahkan amplop cokelat bekas paket. Tempelkan secara bertumpuk di satu sisi halaman. Teknik layering atau berlapis-lapis ini sangat efektif menyembunyikan “kekosongan” kertas putih. Dengan adanya lapisan kertas di bawahnya, kamu akan merasa lebih berani untuk menumpuk tulisan atau elemen lain di atasnya.​

7. Gunakan Prompt atau Pertanyaan Sederhana

​Jika otak benar-benar buntu, gunakan bantuan journal prompt. Tanya pada dirimu hal-hal sederhana seperti: “Apa hal terbaik yang aku makan hari ini?” atau “Warna apa yang paling menggambarkan perasaanku saat ini?”. Menjawab satu pertanyaan spesifik jauh lebih mudah daripada mencoba menulis sesuatu yang luas dari nol.

Journaling adalah Tentang Proses

Tadi pagi, setelah melawan rasa kosong sekian lama di Bondowoso, aku akhirnya berhasil membuat satu halaman mungil cuma bermodalkan sampah jajanan dari Alun-Alun. Dan rasanya? Plong banget! Ternyata yang aku butuhkan bukan keterampilan seni tingkat tinggi, tapi kerelaan untuk membiarkan tanganku bermain tanpa dihakimi oleh pikiranku sendiri.

​Ingat ya:

Halaman itu nggak harus sempurna. Journaling adalah ruang aman bagi dirimu sendiri untuk bertumbuh, berantakan, dan menjadi apa adanya.

Jangan takut salah, karena di dalam journaling, kesalahan sering kali jadi bagian paling menarik dari sebuah cerita.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment