Saat Niat Ada tapi Energi Nggak: 13 Tips Mindfulness dari Hari-Hari yang Nggak Ideal

Halo, teman-teman! Gimana kabar hari ini? Semoga tetap sehat dan jiwanya tetap “hadir” ya, meskipun aku tahu, kenyataannya nggak selalu semudah itu.

Jujur aja, minggu kedua Januari ini bener-bener jadi ujian buat aku. Rencananya, minggu ini aku mau mudik. Bayangannya sih bakal tenang, bisa menikmati perjalanan, dan tetap mindful. Tapi kenyataannya? Zonk! Minggu kedua Januari ini rasanya hectic banget.Daftar barang bawaan yang nggak habis-habis, kerjaan yang harus diselesaikan biar nggak kepikiran pas di jalan, sampai drama cuaca buruk h-1 keberangkatan yang bikin rencana berantakan dan perjalanan harus tertunda. Di saat-saat kayak gitu, boro-boro mau meditasi 10 menit, buat mindful eating aja rasanya susah banget. Yang ada malah makan buru-buru sambil tangan satu lagi masukin baju ke koper.

Aku sempat merasa gagal. “Katanya mau konsisten mindfulness di 2026, kok baru minggu kedua udah berantakan?” Tapi dari situ aku belajar, justru di saat kita lagi malas, lelah, atau sibuk luar biasa, latihan ini paling dibutuhkan.

13 Tips Tetap Konsisten Latihan Mindfulness Saat Sedang Malas

Siapa pun yang pernah berjanji pada diri sendiri untuk hidup lebih mindful pasti pernah sampai di titik ini: niat ada, manfaatnya paham, tapi badan dan pikiran rasanya kompak bilang, “besok aja.” Malas datang bukan karena kita lemah atau gagal berproses, sering kali ia muncul justru saat kita sedang lelah, jenuh, atau terlalu keras pada diri sendiri. Kabar baiknya, konsistensi mindfulness tidak harus selalu dimulai dari semangat besar. Kadang, ia cukup lahir dari langkah kecil yang terasa ramah dan realistis. Dari situlah 13 tips ini aku rangkum, bukan untuk memaksa, tapi menemani

1. Buang Jauh Pikiran “All or Nothing”

Kesalahan terbesar yang sering aku lakukan, dan mungkin juga kamu, adalah menganggap mindfulness harus dilakukan dengan cara yang “sempurna”. Harus duduk tenang, suasana hening, pakai aromaterapi, dan minimal 30 menit. Kalau nggak begitu, rasanya seperti gagal latihan. Padahal itu keliru. Mindfulness bukan soal durasi atau ritual, tapi soal kesadaran. Bahkan ketika kamu cuma sempat menarik napas dalam-dalam selama 30 detik di tengah tumpukan koper, itu sudah termasuk latihan. Yang penting hadir, bukan sempurna.

2. Gunakan Teknik “Satu Napas”

Di saat pikiran terasa penuh, kerjaan belum selesai, packing belum beres, cuaca juga nggak bersahabat, kita sering merasa terlalu sibuk untuk berhenti. Padahal yang kita butuhkan mungkin cuma satu napas sadar. Berhenti sejenak, tarik napas perlahan lewat hidung, rasakan paru-paru mengembang, lalu hembuskan pelan. Hanya satu napas. Latihan kecil ini bisa menjadi jangkar untuk kembali ke momen sekarang. Dan percayalah, satu napas yang dilakukan dengan sadar jauh lebih bermakna daripada tidak berhenti sama sekali.

3. Mindfulness Sambil Bergerak (Micro-Practice)

Kalau duduk diam justru bikin makin malas, nggak apa-apa. Mindfulness tetap bisa dilakukan sambil bergerak. Waktu aku lipat baju buat mudik kemarin, aku coba benar-benar hadir: merasakan tekstur kain, memperhatikan warnanya, mengikuti gerakan tangan sendiri. Aktivitas sederhana berubah jadi latihan kesadaran. Inilah yang disebut mindful chores. Kamu bisa mempraktikkannya saat cuci piring, menyapu lantai, atau berjalan ke parkiran. Nggak perlu waktu ekstra, cukup mengubah cara kita hadir.

4. Jadikan “Malas” sebagai Objek Observasi

Saat rasa malas datang, refleks kita biasanya ingin melawannya atau malah menyalahkan diri sendiri. Padahal dalam mindfulness, rasa malas itu tidak perlu diusir. Cukup disadari. Perhatikan sensasinya: tubuh terasa berat, pikiran enggan bergerak, energi menurun. Ucapkan dalam hati, “Oh, hari ini aku sedang merasa malas.” Tanpa drama, tanpa label buruk. Dengan mengamati rasa malas apa adanya, kamu sedang berlatih hadir dan mengenali kondisi diri. Dan ya, itu sudah termasuk latihan mindfulness.

5. Habit Stacking: Tempelkan ke Kebiasaan Lama

Salah satu alasan kita malas latihan mindfulness adalah karena merasa harus menyediakan waktu khusus. Padahal, kamu bisa menyelipkannya di kebiasaan yang sudah otomatis kamu lakukan setiap hari. Misalnya, tarik satu napas sadar setiap kali membuka Instagram, atau sebutkan satu hal yang kamu syukuri saat menyikat gigi. Dengan cara ini, mindfulness tidak terasa sebagai tugas tambahan, tapi menjadi bagian alami dari rutinitas. Nggak ribet, nggak memberatkan, tapi konsisten.

6. Fokus pada Panca Indera (Teknik 5-4-3-2-1)

Saat pikiran mulai berlari ke mana-mana, cemas soal jadwal mudik yang tertunda, cuaca yang nggak bisa ditebak, atau hal-hal di luar kendali, aku biasanya pakai teknik panca indera 5-4-3-2-1 ini. Caranya sederhana: aku mengajak diri sendiri kembali ke sekitar dengan menyadari lima hal yang bisa dilihat, merasakan empat tekstur lewat sentuhan, mendengarkan tiga suara di sekitar, mencium dua aroma yang ada, lalu menyadari satu rasa yang tertinggal di lidah. Perlahan, perhatian yang tadinya terseret ke masa depan kembali ke momen sekarang. Teknik ini seperti jangkar, cepat, praktis, dan sangat membantu saat pikiran terasa melayang terlalu jauh.

7. Terlalu Berat untuk 10 Menit? Kecilkan Targetnya

Saat rasa malas muncul, aku belajar satu hal penting: jangan hilangkan latihannya, cukup kecilkan durasinya. Kalau meditasi 10 menit terasa mustahil, satu menit saja sudah cukup. Justru durasi yang singkat membuat pikiran tidak merasa terbebani untuk memulai. Dalam mindfulness, kuncinya bukan berapa lama kita duduk diam, tapi seberapa sering kita mau kembali ke momen sekarang. Satu menit yang dilakukan dengan sadar jauh lebih berharga daripada niat panjang yang tak pernah dimulai.

8. Nggak Harus Satu Piring, Satu Suapan Pun Cukup

Di tengah hari yang hectic, packing berantakan, pikiran ke mana-mana, aku pernah gagal total melakukan mindful eating satu piring penuh. Alih-alih menyerah, aku memilih berkompromi. Dua suapan pertama aku nikmati sepenuhnya: teksturnya, bumbunya, dan rasanya. Setelah itu? Ya sudah. Dari situ aku sadar, latihan mindfulness tidak selalu tentang konsistensi yang sempurna, tapi tentang keberanian menghargai small wins. Karena dari hal kecil itulah kebiasaan bisa bertahan.

9. Lagi Nggak Kuat Memandu Diri Sendiri? Biarkan Orang Lain yang Membantu

Ada hari-hari ketika bahkan berpikir pun terasa melelahkan. Di momen seperti itu, guided meditation jadi penyelamat. Tinggal buka aplikasi atau video meditasi singkat di YouTube, lalu dengarkan. Biarkan suara orang lain yang menuntun pikiranmu. Kamu tidak harus duduk tegak atau terlihat “spiritual”, rebahan pun tidak masalah. Dalam mindfulness, yang terpenting bukan caranya terlihat seperti apa, tapi kesediaanmu untuk tetap hadir, dengan cara yang paling ramah untuk dirimu sendiri.

10. Saat Malas Datang, Pulanglah ke Alasan Awalmu

Di momen-momen ketika rasa malas terasa paling kuat, aku mencoba berhenti sejenak dan mengingat satu hal sederhana: kenapa aku mulai belajar mindfulness sejak awal. Buat aku, tujuannya supaya tidak mudah stres ketika rencana berubah tiba-tiba—seperti drama cuaca yang datang H-1 keberangkatan. Mengingat kembali why ini bukan untuk menekan diri agar sempurna, tapi untuk menyalakan motivasi kecil agar tetap hadir. Meski hanya sebentar, kesadaran akan manfaat jangka panjang sering kali cukup untuk membuatku kembali berlatih, dengan versi terbaik yang aku mampu hari itu.

Baca juga: 26 Hal yang Disiapkan Menyambut 2026: Menata Hidup dengan Lebih Sadar

11. Kalau Pikiran Semrawut, Coba Lihat Sekelilingmu

Aku baru benar-benar menyadari betapa kuatnya pengaruh lingkungan saat kamar penuh koper dan barang berserakan. Rasanya mudah sekali tersulut emosi dan sulit tenang. Dari situ aku belajar bahwa menciptakan ruang yang mendukung bisa membantu niat latihan mindfulness muncul kembali. Nggak perlu langsung beres semuanya. Cukup rapikan satu sudut kecil dan jadikan itu “zona tenang” versimu. Kadang, melihat sesuatu yang rapi saja sudah cukup untuk menenangkan pikiran.

12. Jangan Keras pada Diri Sendiri, Ini Bukan Perlombaan

Minggu kedua Januari ini benar-benar mengajarkan aku arti self-compassion. Ada hari-hari ketika aku gagal total untuk mindful, dan dulu aku akan menyalahkan diri sendiri. Sekarang, aku belajar berkata, “Nggak apa-apa. Besok coba lagi.” Mindfulness seharusnya menjadi ruang aman untuk bernapas, bukan sumber tekanan baru karena merasa harus konsisten. Kasih sayang pada diri sendiri justru sering menjadi kunci agar latihan ini bisa bertahan jangka panjang.

13. Nggak Kuat Duduk Diam? Tulis Satu Kalimat Saja

Kalau meditasi terasa terlalu berat, aku sering memilih jalan lain: menulis. Cukup satu kalimat di jurnal atau notes ponsel tentang apa yang sedang aku rasakan saat itu. Menulis memaksa kita berhenti sejenak dan menyadari isi pikiran sendiri. Dengan begitu, journaling singkat pun bisa menjadi bentuk mindfulness, sederhana, jujur, dan sangat membumi.

Mindfulness Itu Perjalanan, Bukan Tujuan

Teman-teman, apa yang aku alami di minggu kedua Januari ini, persiapan mudik yang chaos, kerjaan menumpuk, sampai cuaca yang nggak bersahabat, adalah bukti kalau hidup nggak selalu bisa kita kendalikan. Mindfulness bukan berarti hidup jadi tenang tanpa masalah, tapi tentang gimana kita tetap bisa bernapas di tengah badai itu.

Jadi, kalau hari ini kamu lagi malas atau hidup lagi berantakan, jangan berhenti ya. Mulai lagi dari hal terkecil. Satu napas pun sudah cukup.Sampai ketemu di postingan selanjutnya, dan doakan mudik aku yang tertunda ini lancar ya!

Gimana menurut kamu? Apa hal yang paling bikin kamu susah konsisten latihan mindfulness? Tulis di kolom komentar ya, kita obrolin bareng!

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment