Akhir Januari kemarin, rumah kami tidak dipenuhi suara riuh anak-anak yang merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya. Tidak ada kue tart besar atau pesta meriah. Sebaliknya, kami merayakannya dengan cara yang paling kami sukai: bangun pagi, memakai sepatu lari, dan menikmati CFD muterin alun-alun bersama.
Hanya ada aku dan suamiku. Berjalan beriringan di antara kerumunan orang, menghirup udara pagi, dan sesekali melempar canda. Di tengah riuhnya alun-alun, aku menyadari satu hal: kami resmi memasuki usia pernikahan ke-22.
Dua puluh dua tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Jika kami dikaruniai anak saat malam pertama dulu, mungkin sekarang anak itu sudah sibuk mengerjakan skripsi atau bahkan sudah mulai meniti karier. Tapi takdir kami ditulis dengan tinta yang berbeda. Kami adalah pasangan “tanpa anak”. Dan sebelum ada yang berbisik, biarkan aku mempertegas satu hal: kami bukan childfree. Kami sudah mencoba. Sangat mencoba.
Perjuangan yang Tak Terlihat di Balik Angka
Empat kali inseminasi dan dua kali IVF (bayi tabung). Bagi mereka yang hanya melihat dari luar, angka-angka itu mungkin hanya deretan prosedur medis biasa. Namun, bagiku dan suami, angka-angka itu adalah rekaman jejak perjuangan yang menguras habis air mata, tenaga, hingga logika.
Di balik “4 kali inseminasi” itu, ada ritual pagi yang takkan pernah aku lupakan: rasa mual memar akibat obat hormon yang harus diminum tepat waktu, serta jadwal ke dokter yang membuat hidup seolah berputar hanya di sekitar kalender ovulasi. Ada ribuan harapan yang membumbung setiap kali prosedur selesai dilakukan. Aku pernah berada di titik di mana aku takut untuk sekadar bersin atau bergerak terlalu banyak, seolah-olah janin yang aku harapkan itu sangat rapuh di dalam sana. Namun, pada akhirnya, harapan setinggi langit itu selalu runtuh seketika saat aku berdiri di kamar mandi, menatap testpack yang tetap setia dengan garis satunya. Dingin, sunyi, dan menyakitkan.
Lalu kami memberanikan diri melangkah lebih jauh: 2 kali IVF. Jika inseminasi adalah sebuah usaha, maka IVF adalah sebuah “perang” habis-habisan. Di sinilah fisikku benar-benar diuji melampaui batas. Prosedur medis yang invasif, pengambilan sel telur yang membuat tubuh lunglai, hingga masa tunggu dua minggu (two weeks wait) yang rasanya lebih lama daripada satu tahun.
Tak hanya fisik, IVF juga menguras sisi finansial yang kami kumpulkan dengan kerja keras. Kami rela menguras tabungan demi sebuah “mungkin”. Kami menukar kenyamanan masa depan demi satu peluang emas. Namun, uang ternyata tidak bisa membeli garis dua. Setiap kali dokter menggelengkan kepala atau memberikan hasil lab dengan suara rendah, aku merasa ada bagian dari diriku yang ikut hilang. Ruang hampa di hati itu semakin lebar, semakin gelap, dan semakin dingin setiap kali kami keluar dari ruang praktik dokter dengan tangan kosong.
Kami sudah melakukan bagian kami sebagai manusia. Kami sudah mengetuk pintu langit berkali-kali, bukan lagi dengan ketukan lembut, tapi dengan gedoran yang membuat jari-jari kami memar dan hati kami lelah. Kami sudah bersujud hingga dahi kami sakit, meminta hal yang sama selama bertahun-tahun.
Hingga pada satu titik, di tengah keheningan setelah kegagalan IVF yang terakhir, kami berhenti sejenak. Kami saling memandang dan menyadari bahwa mungkin “tidak” dari Allah adalah sebuah jawaban yang utuh.
Kami mulai menyadari: Mungkin memang belum rezeki dalam bentuk anak. Atau mungkin, memang inilah bentuk “keluarga utuh” yang Allah rancang khusus untuk kami. Sebuah keluarga yang tidak didefinisikan oleh jumlah orang di meja makan, melainkan oleh ketangguhan dua orang yang tetap saling menggenggam tangan meski badai harapan telah reda. Kami belajar bahwa rahim yang kosong tidak berarti hidup yang hampa, dan pernikahan tanpa keturunan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah rencana Allah yang belum tentu semua orang mampu menjalaninya.
Dari “Baperan” Hingga Menjadi “Baja”
Membicarakan soal anak bagi pasangan yang sudah menikah lama seperti kami itu ibarat berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan pecahan kaca. Tajam, tidak terduga, dan setiap langkah terasa menyakitkan. Di tahun-tahun awal pernikahan, aku tidak punya “kulit pelindung” untuk menahan rasa sakit itu. Satu pertanyaan sederhana, yang mungkin bagi orang lain hanya basa-basi belaka, seperti “Kapan isi?” atau “Sudah periksa ke dokter mana saja?”, bisa menjadi belati yang menghujam telak ke ulu hati.
Aku ingat betul bagaimana aku seringkali harus mendadak pamit ke kamar mandi saat acara makan malam keluarga atau reuni teman sekolah, hanya untuk mengurung diri dan menangis sesenggukan. Di balik pintu yang terkunci itu, aku merutuki nasib, bertanya pada cermin mengapa garis dua itu begitu mahal untukku.
Aku pernah berada di fase “baperan” tingkat tinggi. Di fase ini, media sosial adalah musuh terbesarku. Melihat teman memposting foto USG, sepatu bayi yang mungil, atau momen gender reveal, rasanya seperti disayat sembilu. Aku bahkan sempat merasa menjadi orang jahat karena sulit untuk merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain. Setiap kali ada saudara yang berkomentar di acara Lebaran, aku merasa seolah-olah sedang berdiri di kursi pesakitan, dihakimi oleh standar sosial yang mengatakan bahwa wanita hanya akan “utuh” jika sudah menjadi ibu. Aku merasa cacat, merasa kurang, dan merasa gagal sebagai seorang istri.
Lalu, seiring berjalannya waktu, fase itu perlahan bergeser menjadi “mencoba menerima”. Ini adalah fase transisi yang melelahkan karena aku sebenarnya sedang bersandiwara pada diriku sendiri. Di tahap ini, aku sudah mulai bisa tersenyum tipis kalau ditanya orang. Aku sudah punya jawaban template yang disiapkan agar orang berhenti bertanya.
Di depan cermin, aku mulai menghibur diri dengan kalimat-kalimat penguatan seperti, “Yang penting kita sudah usaha maksimal,” atau “Mungkin memang belum waktunya.” Tapi jujur, itu semua hanya ada di bibir saja. Di dalam hati, masih ada api kecil rasa nyeri yang tetap menyala. Masih ada rasa iri yang tersembunyi, dan masih ada keraguan yang menghantui saat malam mulai sepi. Aku hanya sedang mencoba memakai topeng “tegar” agar dunia tidak kasihan padaku.
Tapi benar kata orang, waktu adalah guru sekaligus tabib yang paling bijaksana. Ia tidak menghapus luka, tapi ia memberikan kita kulit baru yang lebih tebal.
Memasuki tahun ke-22 pernikahan ini, aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengenakan topeng itu. Aku merasa telah sampai di sebuah puncak bukit yang tenang. Anginnya sejuk, pandangannya luas, dan tidak ada lagi hiruk-pikuk tuntutan yang sanggup mengusikku. Aku akhirnya sampai di fase Ikhlas Tanpa Tapi.
Ikhlas ini bukan lagi sebuah pelarian atau bentuk kepasrahan yang kalah. Ikhlas ini adalah sebuah kemenangan.Sekarang, kalau ada yang bilang dengan nada iba, “Sayang banget ya, Mbak, sudah 20 tahun lebih nikah tapi nggak ada anak yang jagain,” aku bisa menatap mata mereka dan menjawabnya dengan senyum tulus yang paling ringan. Aku tidak lagi merasa kurang satu apa pun. Aku tidak lagi merasa harus membuktikan apapun kepada siapa pun.
Saat aku menoleh ke samping dan melihat suamiku yang masih setia menemani muterin alun-alun di pagi hari, aku melihat sebuah keutuhan yang nyata. Aku menyadari bahwa definisi keluarga tidak pernah terbatas pada jumlah anggota. Kami tetaplah sebuah keluarga yang solid, penuh tawa, dan berdaulat atas kebahagiaan kami sendiri. Pesertanya mungkin hanya dua orang, tapi cinta dan ketenangan yang memenuhi rumah kami sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup ini terasa penuh. Kami tidak lagi menunggu sesuatu untuk menjadi bahagia; kami memilih bahagia dengan apa yang ada di genggaman.
Antara Ikhlas dan “Kancing Emosi”
Tapi, mari kita bicara jujur dari hati ke hati. Meskipun aku sudah mengklaim diriku berada di “puncak bukit kedamaian”, bukan berarti aku sudah berubah menjadi malaikat yang tidak punya urat emosi. Aku tetaplah manusia biasa, warga sipil yang darahnya masih bisa berdesir kalau dipicu oleh hal yang tepat.
Setelah dua puluh dua tahun, aku punya “saringan” mental yang cukup canggih. Kalau ada yang berkomentar bernada simpati yang agak overdosis, seperti menatapku dengan mata berkaca-kaca seolah aku baru saja mengalami musibah nasional, aku sudah sangat kebal. Aku tinggal memberikan senyum “I’m okay” paling manis dan urusan selesai. Level pertahananku sudah setara dengan benteng beton.
Namun, ceritanya akan sangat berbeda kalau komentarnya sudah masuk ke ranah “teknis” yang luar biasa kurang ajar. Ada saja orang yang merasa punya mandat dari langit untuk menjadi komentator urusan domestik orang lain.
Pernah tidak kamu bertemu orang yang dengan wajah tanpa dosa bertanya, “Bisa nggak sih sebenarnya bikin anak?” atau yang lebih ajaib lagi, memberi tips posisi tertentu atau jam-jam khusus seolah-olah masalah kami hanyalah karena kurang riset di mesin pencari?
Wah… kalau sudah sampai di titik itu, “radar emosi”-ku langsung berdenging kencang dengan bunyi nging yang sangat nyaring. Di saat itulah, jari-jari tanganku rasanya gatal sekali ingin membalas di kolom komentar dengan gaya “pendekar” yang baru turun gunung. Rasanya ingin sekali aku mengirimkan daftar biaya kuitansi IVF dan inseminasi kami ke alamat rumah mereka, supaya mereka tahu bahwa kami bukan kurang “belajar”, tapi kami sudah sampai di tahap “S3 Kedokteran Kandungan” secara otodidak!
Lucu, ya? Bagaimana mungkin orang asing, atau kerabat jauh yang ketemu setahun sekali, merasa punya hak akses VIP untuk mengomentari apa yang terjadi di dalam privasi kamar atau bahkan rahim orang lain. Seolah-olah perjuangan medis bertahun-tahun yang kami jalani, ribuan suntikan, dan air mata yang tumpah itu terjadi hanya karena kami “kurang teknik”.
Logika mereka kadang membuatku ingin tertawa sekaligus mengelus dada. Apakah mereka pikir memiliki anak itu semudah membalikkan telapak tangan atau memesan makanan lewat aplikasi online?
Di sinilah letak ujian kesabaranku yang sesungguhnya. Ternyata, berdamai dengan takdir Tuhan itu jauh lebih mudah daripada berdamai dengan ketidaksopanan manusia. Ikhlas terhadap keputusan Sang Pencipta sudah tuntas, sudah finish, sudah clear. Tapi menghadapi lidah orang yang tidak disekolahkan itu? Nah, itu dia yang masih butuh stok napas panjang dan stok kesabaran yang harus di-top up setiap pagi.
Jadi, kalau suatu saat kamu melihatku hanya membalas komentar julid dengan satu emoji senyum datar, ketahuilah bahwa di balik layar, aku sedang melakukan meditasi tingkat tinggi supaya mode “pendekar”-ku tidak keluar dan mengacak-acak tatanan bahasa mereka. Karena pada akhirnya, ketidaksopanan mereka bukan tanggung jawabku, tapi menjaga ketenanganku adalah kewajiban mutlakku.
Menemukan Makna Baru di Angka 22
Dua puluh dua tahun ini mengajarkanku bahwa anak adalah titipan, tapi suami adalah teman seperjalanan. Kami belajar untuk saling mencintai bukan karena ada “perekat” bernama anak, tapi karena kami memang memilih untuk terus berjalan bersama.
Sambil melangkah di alun-alun pagi itu, aku bersyukur. Kami punya lebih banyak waktu untuk saling mendengarkan, lebih banyak ruang untuk saling menguatkan, dan lebih banyak kesempatan untuk menjadi “manfaat” bagi sekitar.
Buat kamu yang mungkin sedang di posisi yang sama,entah di tahun ke-2 atau ke-20, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Jangan biarkan komentar orang lain menentukan standar kebahagiaanmu. Rumah tangga tanpa anak bukan berarti rumah tangga yang gagal. Itu hanya berarti Allah memberikanmu panggung cerita yang berbeda.
Dan untukku, di angka 22 ini, aku hanya ingin bersyukur. Terima kasih untuk suamiku yang tetap setia berdiri di sampingku melalui setiap suntikan, setiap kegagalan, dan setiap putaran langkah di alun-alun pagi ini. Kita mungkin tidak memiliki keturunan, tapi kita memiliki cinta yang telah lulus sensor waktu.
Dan itu, bagiku, sudah lebih dari cukup.
warm hugs,




