Aku Lelah Karena Terlalu Mengontrol: Belajar Melepaskan yang Tidak Bisa Dikendalikan

Pernah nggak sih, kamu merasa sudah merencanakan segalanya dengan super matang, tapi tiba-tiba ada saja “kerikil” yang bikin rencana itu berantakan?

Misalnya nih, sudah dandan cantik mau ke acara penting, eh tiba-tiba hujan badai dan ojek online nggak ada yang nyangkut. Atau, kamu sudah berusaha sebaik mungkin dalam sebuah pekerjaan, tapi hasilnya malah dikritik habis-habisan. Rasanya? Wah, mau marah, nangis, sekaligus pengen “maksa” keadaan supaya berubah sesuai kemauan kita saat itu juga.

Aku dulu adalah tipe orang yang control freak banget. Aku merasa kalau aku bisa mengatur setiap detail kecil dalam hidupku, maka aku akan aman. Aku merasa kalau aku bisa memprediksi reaksi orang lain, aku nggak akan sakit hati. Tapi jujurly, mencoba mengontrol segalanya itu melelahkan banget, lho. Rasanya kayak kita lagi mencoba menahan ombak di pantai pakai telapak tangan. Sia-sia dan bikin pegel hati.

Hari ini, aku mau ajak kamu ngobrol santai tentang belajar melepaskan (letting go). Bukan menyerah ya, tapi melepaskan hal-hal yang memang sebenarnya bukan jatah kita untuk mengatur.

Siapa Sih yang Suka “Menggenggam” Terlalu Erat?

Kenapa ya kita sering merasa harus mengontrol segala hal? Ternyata, akarnya adalah rasa takut. Kita takut kalau sesuatu nggak sesuai rencana, kita nggak akan bahagia. Kita takut kalau orang lain nggak suka sama kita, kita jadi nggak berharga.

Padahal, dalam hidup ini, ada garis pemisah yang sangat tegas antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang nggak bisa kita kendalikan. Masalahnya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita menghabiskan 90% energi kita untuk memikirkan hal-hal yang ada di luar kendali, dan cuma menyisakan 10% untuk apa yang benar-benar bisa kita kerjakan.

Lingkaran Kendali: Apa yang Sebenarnya Milikmu?

Supaya lebih gampang, aku suka membayangkan sebuah lingkaran. Di dalam lingkaran itu ada hal-hal yang bisa aku kontrol. Di luar lingkaran itu adalah hal-hal yang nggak bisa aku kontrol, nggak peduli seberapa keras aku nangis atau teriak.

Yang ADA di dalam kendalimu:

  • Pikiranmu sendiri.
  • Kata-kata yang kamu ucapkan.
  • Upaya yang kamu berikan.
  • Batasan (boundaries) yang kamu buat.
  • Bagaimana kamu memperlakukan orang lain.
  • Caramu merespon kegagalan.

Yang DI LUAR kendalimu:

  • Opini dan pikiran orang lain tentangmu.
  • Masa lalu (yang sudah lewat nggak bisa diedit lagi).
  • Cuaca, macet, dan bencana alam.
  • Hasil akhir dari usahamu (kamu bisa usaha, tapi hasilnya milik Tuhan).
  • Perasaan orang lain terhadapmu.

Kalau kita terus-menerus mencoba “menarik” hal-hal di luar lingkaran itu masuk ke dalam, kita akan stres. Pernah nggak kamu seharian bad mood gara-gara komentar julid di media sosial? Nah, itu tandanya kamu lagi mencoba mengontrol pikiran orang lain yang jelas-jelas di luar kuasamu.

7 Tanda-Tanda Kamu Sedang Memaksa Keadaan

Sebelum kita belajar cara melepaskan, coba berhenti sebentar dan jujur ke diri sendiri. Bisa jadi, rasa lelah yang kamu rasakan bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena kamu sedang terlalu keras menggenggam keadaan. Berikut beberapa tanda yang sering muncul saat kita tanpa sadar sedang memaksa sesuatu yang sebenarnya di luar kendali.

1. Overthinking Berlebihan

Pikiran muter tanpa henti, memutar ulang kejadian yang sudah lewat atau membayangkan skenario yang belum tentu terjadi. “Harusnya tadi aku ngomong gitu” atau “Gimana kalau nanti semuanya berantakan?” jadi suara latar di kepala.

2. Gampang Marah pada Hal Kecil

Hal sepele terasa besar. Lampu merah kelamaan, chat dibalas singkat, atau rencana kecil yang berubah bisa langsung bikin emosi naik. Bukan karena kejadiannya, tapi karena batinmu sudah kelelahan.

3. Sulit Benar-Benar Istirahat

Tubuh boleh diam, tapi pikiran terus kerja. Bahkan saat rebahan, ada rasa gelisah atau bersalah karena merasa “seharusnya” sedang mengurus sesuatu.

4. Kelelahan Mental Tanpa Sebab Jelas

Kamu merasa capek, padahal tidak sedang kerja fisik berat. Kepala penuh, hati sesak, dan energi terkuras hanya karena mencoba mengendalikan terlalu banyak hal.

5. Sulit Tidur atau Tidur Tidak Nyenyak

Malam hari berubah jadi sesi diskusi internal. Otak terus mencari solusi untuk masalah yang sebenarnya belum tentu terjadi.

6. Sulit Menerima Perubahan Kecil

Rencana sedikit melenceng saja rasanya seperti kegagalan besar. Kamu merasa harus segera “membetulkan” semuanya agar kembali sesuai harapan.

7. Merasa Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain

Kamu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, sampai lupa bertanya: aku sendiri gimana? Beban yang kamu pikul sering kali bukan sepenuhnya tugasmu.Kalau kamu menemukan dirimu di beberapa poin di atas, it’s okay. Kamu tidak lemah, kamu hanya sedang lelah. Aku juga pernah, baru-baru ini malah akuu berada di fase ini.

Tarik napas dulu, yuk. Kita nggak harus langsung bisa ikhlas. Mari pelan-pelan belajar membedakan mana yang bisa kita usahakan, dan mana yang perlu kita lepaskan.

Langkah Praktis Belajar Melepaskan

Melepaskan itu sebuah skill. Artinya, perlu dilatih. Nggak ada yang langsung ahli dalam semalam. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang biasanya aku lakukan saat merasa terlalu ingin mengontrol keadaan.

1. Sadari dan Akui Perasaanmu

Jangan dipendam. Kalau kamu merasa kesal, sedih, atau kecewa, akui saja. Entah itu karena rencana liburan batal, hubungan yang nggak berjalan sesuai harapan, atau hidup yang terasa macet. Mengakui perasaan bukan tanda lemah, justru tanda jujur pada diri sendiri. Setelah diakui, biasanya beban di dada terasa sedikit lebih ringan.

2. Tanyakan: “Apakah Ini Bisa Aku Ubah?”

Setiap kali ada hal yang bikin cemas, aku belajar bertanya ke diri sendiri: Is there anything I can do about this right now? Kalau jawabannya iya, lakukan yang terbaik sebatas kemampuanmu. Kalau jawabannya tidak, maka pilihannya tinggal satu: terima dan lepaskan.

Misalnya, kamu sedang menunggu pengumuman penting. Kamu sudah belajar, sudah tes, sudah berusaha. Sekarang hasilnya bukan di tanganmu lagi. Daripada bolak-balik cek email tiap lima menit, lebih baik alihkan perhatian ke hal yang lebih menenangkan buat mentalmu.

3. Fokus pada “Hari Ini” (Mindfulness)

Cemas sering muncul karena kita hidup di masa depan: “Gimana nanti?” Penyesalan datang karena kita terjebak di masa lalu: “Harusnya dulu…”Cara paling sederhana untuk melepaskan adalah kembali ke hari ini. Cium aroma kopi atau tehmu, rasakan tekstur baju yang kamu pakai, dengarkan suara di sekitarmu. Saat kita benar-benar hadir di momen sekarang, kendali atas diri sendiri terasa lebih nyata.

4. Buat Batas antara Usaha dan Obsesi

Aku belajar bahwa ada garis tipis antara berusaha dan terobsesi. Berusaha itu sehat, tapi obsesi bikin lelah. Tentukan batas: sampai di mana aku akan memikirkan ini hari ini? Setelah itu, izinkan dirimu berhenti. Kamu tidak malas atau menyerah, kamu sedang menjaga kewarasan.

5. Buat Ritual Simbolis untuk Melepaskan

Ini mungkin terdengar sepele, tapi surprisingly manjur. Saat pikiranku sudah terlalu penuh, aku menuliskan semua kekhawatiran di secarik kertas. Setelah itu, kertasnya aku remas dan buang. Secara simbolis, aku berkata ke diriku sendiri: “Aku sudah melakukan bagianku. Sisanya bukan kendaliku.”

Melepaskan Bukan Berarti Tidak Peduli

Ini bagian yang paling lama aku pahami. Dulu aku mengira kalau aku benar-benar peduli, aku harus terus memikirkan, memperbaiki, dan mengontrol.Ternyata tidak.Kadang, bentuk cinta paling dewasa adalah memberi ruang. Membiarkan orang lain menjalani prosesnya sendiri, tanpa kita intervensi berlebihan.

Aku tetap peduli. Aku tetap hadir. Tapi aku berhenti mengorbankan kesehatan mentalku demi peran yang bukan tugasku.

Ada hari-hari di mana letting go terasa mustahil. Di mana logika kalah oleh emosi, dan dada terasa sesak.Di momen seperti itu, aku tidak memaksa diri untuk “kuat”. Aku hanya berkata:

“Tidak apa-apa kalau hari ini belum bisa sepenuhnya ikhlas.”

Melepaskan adalah proses, bukan saklar on-off. Ada hari kita berhasil, ada hari kita kembali menggenggam. Dan itu manusiawi.

Hidup Menjadi Lebih Ringan Setelah Melepaskan

Perlahan, aku merasakan perubahan:

  • Tidur lebih nyenyak
  • Pikiran lebih jernih
  • Emosi lebih stabil
  • Hubungan terasa lebih sehat
  • Hidup tidak tiba-tiba sempurna.

Masalah tetap ada. Tapi aku tidak lagi menambah penderitaan dengan melawan hal-hal yang memang tidak bisa kuubah.

Kamu Tidak Harus Mengontrol Segalanya untuk Baik-Baik Saja

Belajar melepaskan adalah perjalanan seumur hidup. Sampai sekarang pun, aku kadang masih suka “terpeleset” ingin mengontrol segalanya. Tapi tiap kali itu terjadi, aku diingatkan lagi: “Dian, kamu cuma manusia, bukan sutradara alam semesta.”

Jadi, buat kamu yang hari ini lagi merasa tertekan karena banyak hal yang nggak sesuai harapan, coba deh pelan-pelan buka genggaman tanganmu. Lepaskan ketegangan di bahumu. Dunia nggak akan runtuh kok kalau kamu nggak memegang kendali seharian ini.

Kadang, hal-hal terbaik justru datang saat kita berhenti memaksa dan mulai menerima.

Kalau menurut kamu, hal apa sih yang paling susah buat dilepaskan? Masa lalu, omongan tetangga, atau ambisi pribadi? Tulis di kolom komentar yuk, kita sharing bareng!

warm hugs,

Dian Ravi

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment