​5 Cara Mengatasi Perfeksionisme Menjelang Valentine: Kenapa “Cukup” Itu Sudah Bagus

Sudah masuk bulan Februari, nih. Atmosfer di luar sana pasti sudah mulai berubah jadi serba merah muda dan penuh bunga. Valentine sudah di depan mata! Tapi, jujur deh, selain perasaan romantis, pernah nggak sih kamu merasa ada “tekanan” ekstra di bulan ini?

Tekanan untuk punya kado paling unik, tekanan untuk pakai outfit paling slay, sampai tekanan untuk punya hubungan yang kelihatannya flawless seperti di drakor. Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam satu musuh besar yang namanya Perfectionism alias perfeksionisme.

Kali ini, aku bakal kupas tuntas kenapa melepaskan standar kesempurnaan adalah bentuk self-love paling tulus yang bisa kamu berikan untuk dirimu sendiri. Yuk, tarik napas dalam-dalam, siapkan kopi kesukaanmu, dan mari kita bahas kenapa menjadi “cukup” itu sebenarnya sudah sangat luar biasa.

Apa Itu Perfectionism? Mengenali Gejala Si “Pencuri Kebahagiaan”

Banyak yang mengira perfeksionisme adalah kunci kesuksesan. Padahal, secara psikologis, perfeksionisme seringkali bukan soal ambisi untuk jadi hebat, tapi soal rasa takut akan kegagalan.

Perfeksionis cenderung menetapkan standar yang sangat tinggi (bahkan tidak realistis) dan merasa harga diri mereka sangat bergantung pada pencapaian tersebut. Di dunia blog atau media sosial, ini sering muncul dalam bentuk:

  • Menghabiskan waktu 5 jam hanya untuk memilih satu filter foto.
  • Menunda postingan artikel karena merasa diksinya belum “wah” banget.
  • Merasa gagal total hanya karena ada satu kesalahan kecil (typo misalnya).

Tanda-Tanda Kamu Terjebak Toxic Perfectionism:

  1. Berpikir All-or-Nothing: Kalau nggak dapat nilai 100, berarti gagal total.
  2. Sangat Kritis pada Diri Sendiri: Suara di kepalamu lebih galak daripada bos di kantor.
  3. Ketakutan pada Kegagalan: Kamu menghindari mencoba hal baru karena takut terlihat nggak jago di awal.
  4. Prokrastinasi (Menunda-nunda): Kamu nggak mulai-mulai kerja karena menunggu “saat yang tepat” atau “ide yang sempurna”.

Hubungan Antara Perfeksionisme, Anxiety, dan Burnout

Mengapa kita harus peduli soal ini? Karena menurut penelitian, perfeksionisme yang berlebihan berkaitan erat dengan gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi. Saat kita menuntut kesempurnaan, tubuh dan pikiran kita selalu dalam mode “siaga satu”.

Burnout bukan cuma soal kerja lembur di kantor. Kamu juga bisa mengalami burnout emosional karena terus-menerus memaksakan diri menjadi orang lain yang tampak sempurna di mata publik. Menjelang Valentine, ini makin berat karena ada standar sosial tentang bagaimana seharusnya kita dicintai dan mencintai.

Kenapa Melepaskan Perfectionism Adalah Bentuk Self-Love?

Self-love atau mencintai diri sendiri bukan cuma soal pakai sheet mask atau beli cokelat mahal. Inti dari self-love adalah penerimaan (acceptance).

1. Memberi Ruang untuk Bertumbuh

Kalau kamu nggak pernah mengizinkan dirimu membuat kesalahan, kamu nggak akan pernah belajar. Kesalahan adalah pupuk bagi pertumbuhan mental. Dengan melepaskan tuntutan sempurna, kamu mengizinkan dirimu untuk menjadi “murid” dalam kehidupan.

2. Mengurangi Beban Mental

Bayangkan membawa tas ransel berisi batu setiap hari. Itulah rasanya hidup dengan ekspektasi perfeksionisme. Saat kamu berkata, “Cukup itu sudah bagus,” kamu baru saja membuang batu-batu itu. Rasanya? Plong banget, Bestie!

3. Meningkatkan Keaslian (Authenticity)

Orang-orang nggak butuh versi sempurnamu; mereka butuh versi asli kamu. Dalam hubungan asmara maupun pertemanan, keaslianlah yang membangun koneksi, bukan topeng kesempurnaan.

5 Cara Mengatasi Perfeksionisme Menjelang Valentine

Nah, buat kamu yang mulai merasa stres menghadapi Valentine (baik yang jomblo maupun yang sudah punya pasangan), berikut adalah beberapa tips praktis untuk tetap santai:

1. Terapkan Aturan “Done is Better Than Perfect”​

Seringkali kita nggak mulai-mulai atau nggak selesai-selesai melakukan sesuatu karena menunggu “sempurna”. Ingat, Bestie, sesuatu yang selesai (meski nggak sempurna) jauh lebih berguna daripada ide jenius yang cuma mandek di kepala.

Coba tetapkan standar “Cukup Baik” (80%) daripada mengejar 100%. Kamu akan kaget melihat betapa banyaknya hal yang bisa kamu selesaikan dengan mentalitas ini!​

2. Gunakan Teknik “Time-Boxing” (Batasi Waktu Utak-Atik)

​Seorang perfeksionis bisa menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat milih font atau membetulkan satu kalimat. Ini namanya over-tweaking.

Kasih dirimu batas waktu yang tegas. Misalnya, “Aku cuma punya waktu 30 menit buat edit foto ini, setelah itu HARUS posting.” Begitu alarm bunyi, lepas tangan! Ini melatih otakmu untuk fokus pada hal yang substansial, bukan detail kecil yang nggak penting.

3. Ubah Narasi “Gagal” Menjadi “Belajar”​

Perfeksionis biasanya takut banget salah karena merasa kesalahan itu mendefinisikan siapa mereka. Padahal, kesalahan itu cuma data, bukan vonis.

Setiap kali kamu melakukan kesalahan, alih-alih bilang “Duh, aku payah banget,” coba ganti jadi “Oke, eksperimen kali ini hasilnya begini, apa yang bisa aku perbaiki buat besok?” Anggap dirimu adalah ilmuwan yang lagi riset, bukan terdakwa yang lagi disidang.

​4. Praktikkan Self-Compassion: Jadilah Sahabat Bagi Diri Sendiri

​Coba bayangkan kalau sahabatmu lagi curhat karena dia gagal melakukan sesuatu. Apakah kamu bakal memaki-maki dia? Pasti nggak, kan? Kamu pasti bakal peluk dia dan bilang, “Nggak apa-apa, kamu sudah hebat kok.”

Berikan perlakuan yang sama untuk dirimu. Valentine ini, belajarlah bicara pada diri sendiri dengan nada suara yang lembut. Kalau kamu nggak tega jahat sama orang lain, kenapa kamu tega jahat sama diri sendiri?​

5. Latihan “Ketidaksempurnaan Sengaja” (Exposure Therapy)​

Ini cara yang agak ekstrem tapi ampuh banget! Coba lakukan sesuatu yang nggak sempurna secara sengaja untuk melatih mentalmu bahwa “dunia nggak akan kiamat kalau ada yang kurang”.

Coba kirim pesan ke teman tanpa ngecek typo, atau posting foto di Instagram Story tanpa filter sama sekali. Rasakan sensasi nggak nyaman itu, dan sadarilah bahwa orang-orang tetap menyayangimu apa adanya.

Mengenal Filosofi Wabi-Sabi: Keindahan dalam Ketidaksempurnaan

Untuk kamu pembaca setia blog aku ini, ada satu konsep dari Jepang yang sangat membantu saya dalam berdamai dengan diri sendiri: Wabi-Sabi.

Wabi-sabi adalah pandangan dunia yang fokus pada penerimaan terhadap kefanaan dan ketidaksempurnaan. Dalam seni keramik Jepang, ada teknik yang disebut Kintsugi, di mana keramik yang pecah disambung kembali menggunakan emas. Hasilnya? Bekas retakannya malah membuat keramik itu jauh lebih indah dan mahal daripada aslinya.

Begitu juga dengan hidup kita. Luka, kegagalan, dan kekuranganmu adalah “guratan emas” yang membuat ceritamu unik. Valentine kali ini, yuk kita rayakan “retakan-retakan” itu.

“Cukup” vs “Medioker”: Apa Bedanya?

Sering ada salah kaprah. “Kalau aku bilang cukup, berarti aku malas dong?”Beda banget, Bestie!

Medioker adalah saat kamu nggak berusaha maksimal padahal kamu bisa.

Cukup (Good Enough) adalah saat kamu sudah memberikan usaha terbaikmu dalam batas kapasitas yang sehat, lalu tahu kapan harus berhenti agar tidak merusak kesehatan mentalmu.

Memberikan 80% usaha secara konsisten jauh lebih baik daripada memberikan 100% sekali lalu tumbang karena stres selama sebulan.

Tips Self-Care untuk Melepaskan Kontrol

Mencoba melepaskan kontrol bisa dilakukan dengan langkah-langkah kecil:

  1. Lakukan Hobi Tanpa Tujuan: Menggambar tapi jangan di-post. Menyanyi tapi jangan direkam. Lakukan hanya untuk kesenanganmu sendiri.
  2. Terima Pujian Tanpa Syarat: Kalau ada yang bilang kamu cantik hari ini, cukup jawab “Terima kasih,” tanpa harus menambahkan “Ah, tapi rambutku lagi berantakan, nih.”
  3. Maafkan Kesalahan Kecil: Salah kirim email? Lupa bawa belanjaan? Tarik napas, maafkan diri sendiri, dan lanjut lagi. Dunia nggak akan kiamat.

Rayakan Dirimu Apa Adanya

Melepaskan perfeksionisme bukan berarti kita jadi orang yang abai atau nggak punya ambisi. Melepaskan perfeksionisme berarti kita memilih untuk menjadi manusia yang utuh, bukan manusia yang sempurna.

Valentine ini, berikan dirimu hadiah yang nggak bisa dibeli di toko manapun: Penerimaan. Katakan pada diri sendiri bahwa kamu sudah berjuang keras melewati hari-hari sulit, dan kamu berhak dicintai tanpa syarat, terutama oleh dirimu sendiri.

Karena pada akhirnya, hidup yang bahagia bukanlah hidup tanpa cacat, tapi hidup yang dijalani dengan hati yang lapang.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment