Dear Tubuh, Maaf Ya Kalau Selama Ini Aku Cuma Jago Protes

Pernah nggak sih, kamu bangun pagi, berdiri di depan cermin, dan hal pertama yang keluar dari mulut adalah keluhan?”

Duh, kantung mata kok makin item ya?” atau “Kapan sih lengan ini bisa sekecil model di Instagram?”

Jujur, aku pun sering terjebak di sana. Kita hidup di dunia yang sangat visual, di mana standar kecantikan seringkali terasa seperti kompetisi yang nggak ada garis finish-nya. Kita dipaksa untuk selalu tampil perfect, sampai akhirnya kita lupa satu hal paling mendasar: Tubuh kita itu bukan sekadar pajangan di galeri seni. Tubuh kita adalah sebuah “keajaiban” yang bekerja 24 jam sehari tanpa pernah minta cuti.

Tubuh Kita Bukan Sekadar Angka dan Ukuran

Sering banget kita menilai diri sendiri cuma berdasarkan angka di timbangan atau ukuran celana. Padahal, kalau kita mau berhenti sejenak dan mendengarkan, tubuh kita sedang berbisik tentang perjuangannya.

Bayangkan, jantung kita berdetak sekitar 100.000 kali dalam sehari tanpa kita suruh. Paru-paru kita mengembang dan mengempis dengan setia, memastikan oksigen sampai ke otak supaya kita bisa berpikir jernih. Pencernaan kita bekerja keras mengolah makanan jadi energi biar kita bisa beraktivitas.

Saat kita cuma fokus sama “tampilan luar”, kita sebenernya lagi bersikap nggak adil sama organ-organ tubuh yang sudah berjuang mati-matian di dalam sana. Kita menghukum kulit karena satu-dua jerawat, padahal kulit itu sedang bekerja keras melindungi kita dari bakteri dan polusi luar.

Menggeser Fokus: Dari “Gimana Terlihatnya” ke “Gimana Rasanya”

Coba deh, mulai besok pagi, ganti pertanyaannya. Alih-alih nanya “Gimana penampilanku hari ini?”, coba tanya “Gimana perasaan tubuhku hari ini?”

Fokus ke fungsi itu rasanya sangat membebaskan.

  • Kaki yang besar? Mungkin itu adalah kaki yang kuat yang sudah membawa kamu mendaki gunung, berjalan jauh mengejar mimpi, atau sekadar berdiri tegak saat dunia terasa berat.
  • Perut yang nggak rata? Itu adalah rumah bagi organ-organ vitalmu, tempat di mana energi diolah agar kamu bisa tertawa bareng teman-teman.
  • Tangan yang kasar? Itu bukti bahwa kamu adalah orang yang produktif, yang sudah menciptakan banyak hal atau memberikan pelukan hangat bagi orang tersayang.

Ketika kita menghargai tubuh karena fungsinya, motivasi kita untuk hidup sehat pun berubah. Kita makan sayur bukan karena benci sama lemak di perut, tapi karena ingin memberi “bahan bakar” terbaik bagi mesin tubuh kita. Kita olahraga bukan untuk menyiksa diri agar kurus, tapi karena kita ingin otot dan tulang kita tetap kuat sampai hari tua nanti.

Pelajaran dari Masa “Sakit”

Biasanya, kita baru benar-benar menghargai fungsi tubuh saat kita sedang sakit, ya kan? Saat flu melanda, baru kita sadar betapa nikmatnya bernapas lega. Saat kaki terkilir, baru kita sadar betapa berharganya kemampuan untuk melangkah.

Pertanyaannya: Kenapa harus nunggu sakit dulu buat bersyukur?

Tubuh kita adalah satu-satunya “rumah” yang akan kita tinggali seumur hidup. Kita nggak bisa pindah rumah atau tukar tambah dengan tubuh orang lain. Jadi, kenapa kita seringkali jadi kritikus paling kejam buat rumah kita sendiri?

5 Langkah Nyata untuk Mulai Mencintai Tubuhmu​

Kadang “mencintai diri sendiri” itu terdengar terlalu abstrak, ya? Nah, biar nggak bingung harus mulai dari mana, coba deh terapkan lima langkah sederhana ini dalam keseharianmu:​

1. Lakukan “Audit” Media Sosial

​Coba luangkan waktu sejenak untuk mengecek daftar following kamu. Sadar atau tidak, apa yang kita konsumsi secara visual setiap hari sangat memengaruhi standar kecantikan di kepala kita. Kalau ada akun yang setiap kali postingannya lewat malah bikin kamu merasa rendah diri, merasa nggak cukup cantik, atau membuatmu sibuk mencubit lemak di Sosial, jangan ragu untuk klik tombol unfollow atau mute sekarang juga. Kamu nggak berutang penjelasan apa pun pada siapa pun untuk menjaga kesehatan mentalmu.​

Gantilah isi feed kamu dengan akun-orang yang membagikan energi positif, edukasi kesehatan yang masuk akal, atau mereka yang berani merayakan keberagaman bentuk tubuh apa adanya. Dengan melihat lebih banyak hal yang realistis dan manusiawi, otak kita perlahan akan belajar bahwa kecantikan itu nggak punya satu cetakan baku. Mata yang terbiasa melihat realitas, bukan sekadar filter, akan membantu pikiranmu jadi jauh lebih tenang dan damai.​

2. Ganti Kritik dengan Afirmasi Fungsi​

Kita sering jadi kritikus paling kejam buat diri sendiri, terutama saat berdiri di depan cermin. Setiap kali muncul pikiran negatif tentang penampilan, cobalah untuk langsung “menyerang” balik pikiran itu dengan fakta tentang fungsi tubuhmu. Ingatlah bahwa setiap bagian tubuh yang kamu keluhkan sebenarnya sedang bekerja keras untuk mendukung hidupmu. Mengubah narasi dari “kekurangan visual” menjadi “kekuatan fungsi” adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri.​

Sebagai contoh, daripada menggerutu, “Lengan aku gelambir banget, nggak kencang,” coba ganti dengan kalimat, “Terima kasih lengan, karena kamu aku bisa memeluk orang tuaku dengan erat, membawa belanjaan, dan melakukan banyak pekerjaan hebat hari ini.” Kedengarannya mungkin sepele atau bahkan sedikit aneh di awal, tapi ini adalah latihan mental yang sangat efektif untuk melatih otak agar berhenti memusuhi tubuh sendiri dan mulai menghargai kehadirannya.

​3. Bergerak karena Senang, Bukan sebagai Hukuman​

Banyak dari kita yang terjebak dalam pola pikir bahwa olahraga adalah “hukuman” karena habis makan enak atau cara untuk “menebus dosa” kalori. Mindset seperti ini justru bikin olahraga terasa menyiksa dan membebani mental. Padahal, tubuh kita sebenarnya diciptakan untuk bergerak dan ia merasa sangat senang saat diajak beraktivitas. Ubah sudut pandangmu: bergeraklah karena kamu sayang dengan kesehatan jantung, kekuatan tulang, dan kejernihan pikiranmu, bukan karena kamu benci dengan apa yang terlihat di cermin.

​Pilihlah jenis aktivitas fisik yang memang benar-benar kamu nikmati. Kalau kamu benci lari, jangan paksa lari; cobalah jalan santai sore sambil mendengarkan podcast favorit, dandan cantik lalu joget heboh di depan cermin kamar, atau berenang yang menenangkan. Saat kamu melakukan sesuatu yang bikin kamu bahagia, tubuhmu akan melepaskan hormon endorfin yang bikin suasana hati jadi lebih baik. Olahraga pun bukan lagi beban, melainkan bentuk perayaan atas kemampuan tubuhmu yang masih bisa bergerak aktif.​

4. Praktikkan Mindful Eating (Makan dengan Kesadaran)

​Mencintai tubuh juga berarti belajar untuk mendengarkan kembali sinyal-sinyal alami yang ia berikan, salah satunya lewat rasa lapar dan kenyang. Praktikkan mindful eating dengan cara makan saat kamu benar-benar merasa lapar dan berhentilah saat tubuh merasa cukup, bukan sampai kenyang begah yang bikin sesak. Seringkali kita makan sambil main HP atau nonton TV sehingga kita nggak sadar sudah makan terlalu banyak atau bahkan nggak merasakan rasa makanannya sama sekali.​

Cobalah untuk benar-benar hadir saat makan. Nikmati setiap suapan, rasakan teksturnya di lidah, aroma bumbunya, dan syukuri nutrisi yang masuk ke dalam sistem tubuhmu. Saat kita makan dengan penuh kesadaran dan tanpa rasa bersalah, kita sedang memperlakukan tubuh kita dengan hormat. Kita jadi lebih menghargai tubuh sebagai sebuah mesin canggih yang butuh bahan bakar berkualitas untuk bertahan hidup, bukan sekadar tempat penampungan makanan sisa atau pelampiasan emosi.​

5. Ritual “Terima Kasih” Sebelum Tidur​

Setelah seharian bergelut dengan tumpukan pekerjaan dan hiruk-pikuk dunia, tubuhmu pasti merasa lelah. Sebelum benar-benar memejamkan mata, luangkan waktu satu menit saja untuk melakukan ritual kecil ini. Letakkan tanganmu di dada atau perut, lalu tarik napas dalam-dalam secara perlahan. Gunakan momen hening ini untuk merasakan detak jantungmu dan sirkulasi napasmu yang tetap setia bekerja meski kamu sering mengabaikannya sepanjang hari.​

Ucapkanlah terima kasih pada tubuhmu yang sudah menjadi partner paling setia. Berterima kasihlah karena ia sudah membantumu melewati kemacetan, menyelesaikan tenggat waktu kerja yang gila, hingga menahan kantuk saat rapat panjang yang membosankan. Tubuhmu sudah sangat luar biasa karena ia tetap bertahan dan melindungimu dalam kondisi apa pun. Ia layak mendapatkan apresiasi setulus itu dan kata-kata manis dari pemiliknya sendiri sebelum akhirnya beristirahat dan memulihkan energi untuk esok hari.

Sudahkah Kamu Berterima Kasih pada Dirimu Hari Ini?

Mulai hari ini, yuk kita rayakan setiap jengkal tubuh kita. Bukan karena bentuknya yang sudah sempurna, tapi karena fungsinya yang luar biasa. Kamu jauh lebih berharga daripada sekadar refleksi di cermin.

Tubuhmu adalah partner terbaikmu dalam menjalani hidup ini. Yuk, perlakukan dia dengan lebih banyak kasih sayang dan lebih sedikit penghakiman.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment