Cara Tetap Waras di Tengah Hiruk Pikuk 2026: Rekomendasi Bacaan Mindfulness

Jujur deh, memasuki pergantian tahun itu rasanya selalu campur aduk. Ada rasa antusias buat buka lembaran baru, tapi di sisi lain, kadang kita merasa “dikejar-kejar” sama ekspektasi diri sendiri atau hiruk-pikuk dunia yang rasanya nggak pernah berhenti berputar. Aku pun merasakan hal yang sama. Makanya, tahun 2026 ini aku memutuskan buat lebih mindful dalam menjalani hari-hari.

Salah satu caraku untuk menjaga kewarasan dan tetap grounded adalah lewat membaca. Buat aku, buku itu bukan cuma tumpukan kertas, tapi teman ngobrol yang paling sabar. Nah, di artikel kali ini, aku mau berbagi 5 Rekomendasi Buku Mindfulness yang sudah masuk ke dalam daftar To Be Read (TBR) aku di tahun 2026 ini.

Siapa tahu, daftar ini juga bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang pengen memulai tahun dengan lebih tenang dan sadar penuh. Yuk, kita bahas satu per satu!

5 Rekomendasi Buku untuk Hidup Lebih Mindful

Hidup lebih mindful itu bukan berarti harus selalu tenang atau bebas masalah. Lebih ke soal sadar sama apa yang lagi kita jalani, lagi capek ya ngaku capek, lagi sibuk ya tahu batas. Lewat buku, aku ingin belajar pelan-pelan buat lebih hadir di keseharian. Lima buku di bawah ini aku pilih bukan buat jadi ahli mindfulness, tapi buat nemenin proses hidup yang lebih sadar di 2026.

1. The Things You Can See Only When You Slow Down – Haemin Sunim

Buku pertama yang wajib banget masuk list adalah karya dari biksu ternama asal Korea Selatan, Haemin Sunim. Mungkin teman-teman sudah sering lihat bukunya di toko buku karena sampulnya yang estetik banget dengan ilustrasi yang menenangkan.

Pernah nggak sih kamu merasa kalau dunia ini bergerak terlalu cepat? Sampai-sampai kamu merasa tertinggal kalau nggak melakukan sesuatu? Nah, Haemin Sunim justru mengajak kita buat berhenti sejenak. Lewat buku ini, beliau mengingatkan kalau saat pikiran kita tenang, dunia pun akan terasa tenang. Masalahnya bukan di dunia yang berisik, tapi di pikiran kita yang nggak mau diam.

Buku ini nggak seperti buku teori yang berat. Isinya berupa kumpulan esai pendek dan kutipan bijak yang dikelompokkan ke dalam beberapa tema, seperti cinta, hubungan sesama manusia, hingga pekerjaan. Yang paling aku suka adalah ilustrasinya. Rasanya cuma dengan melihat gambarnya saja, detak jantung kita jadi lebih teratur.

Buku ini cocok banget dibaca saat kita lagi merasa burnout atau kehilangan arah. Haemin Sunim seolah-olah lagi duduk di depan kita, menyuguhkan teh hangat, dan bilang, “Nggak apa-apa kalau mau istirahat sebentar.”

2. Kindfulness – Ajahn Brahm

Kalau bicara soal mindfulness, rasanya kurang lengkap kalau nggak menyebut nama Ajahn Brahm. Buku Kindfulness ini adalah salah satu yang paling bikin aku penasaran untuk segera dibaca tahun ini.Seringkali kita terlalu keras sama diri sendiri saat mencoba untuk mindful. Misalnya, kita marah saat meditasi karena pikiran kita melayang ke mana-mana. Nah, Ajahn Brahm memperkenalkan konsep Kindfulness, gabungan antara Kindness (kebaikan hati) dan Mindfulness (kesadaran penuh).

Ajahn Brahm punya gaya bahasa yang sangat humoris. Beliau bisa menceritakan hal-hal spiritual yang dalam dengan cerita-cerita lucu dan ringan. Lewat buku ini, kita diajak untuk mengembangkan kesadaran yang disertai dengan kasih sayang. Jadi, bukan cuma sekadar sadar, tapi juga ramah terhadap diri sendiri dan segala kekurangan kita.

Buat aku, ini penting banget di tahun 2026. Di tengah gempuran tren self-improvement yang kadang bikin stres, kita butuh pengingat untuk tetap baik hati kepada diri sendiri.

3. Di Sini dan Saat Ini – Putra Wiramuda

Rekomendasi ketiga datang dari penulis lokal yang sangat mendalami dunia psikologi dan kesadaran, yaitu Mas Putra Wiramuda. Kalau kamu sering merasa pikiran “melayang” ke mana-mana padahal badan lagi duduk manis, buku ini jawabannya.

Lewat buku ini, Mas Putra mengajak kita untuk benar-benar memahami apa itu artinya hadir secara utuh. Fokus utamanya bukan sekadar teori, tapi bagaimana kita bisa menyadari napas, langkah kaki, dan perasaan kita di momen ini juga. Beliau mengingatkan bahwa satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah “saat ini”.

Gaya bahasa Mas Putra sangat tenang dan mindful banget, persis seperti judul bukunya. Membaca lembar demi lembar karyanya membantu kita untuk menurunkan ego dan berhenti sejenak dari ambisi-ambisi yang bikin stres.

Di tahun 2026 ini, aku ingin belajar untuk nggak terlalu banyak “melarikan diri” ke masa depan yang belum pasti. Aku ingin belajar bagaimana tetap nyaman berada di momen sekarang, meskipun momen itu terasa biasa saja. Buku ini bakal jadi kompas utamaku untuk tetap grounded.

4. Going Offline – Desi Anwar

Kita semua tahu kalau di tahun 2026, ketergantungan kita sama gadget sudah di level yang luar biasa. Itulah kenapa buku Going Offline karya Desi Anwar ini masuk ke daftar wajib baca aku.

Mbak Desi Anwar lewat buku ini mengajak kita untuk sesekali melepaskan diri dari layar smartphone. Bukan berarti kita harus jadi anti-teknologi, ya. Tapi lebih ke bagaimana kita bisa menikmati hidup tanpa harus selalu divalidasi oleh media sosial.

Buku ini berisi catatan perjalanan dan refleksi Mbak Desi saat beliau memilih untuk mematikan HP dan benar-benar melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Mulai dari menikmati secangkir kopi tanpa harus difoto, sampai merasakan angin yang menyentuh kulit.

Aku merasa tahun ini aku butuh digital detox yang lebih teratur. Aku ingin bisa benar-benar “hadir” saat ngobrol sama keluarga atau saat lagi jalan-jalan di Kota Tua, tanpa sibuk cari angle foto buat konten. Buku ini bakal jadi pengingat yang manis buat aku.

5. Zen Habits – Leo Babauta

Terakhir, ada buku dari Leo Babauta yang judulnya sudah sangat ikonik: Zen Habits. Leo adalah sosok di balik blog populer yang membahas tentang kesederhanaan dan fokus.

Inti dari Zen Habits adalah tentang bagaimana kita bisa mencapai banyak hal dengan melakukan lebih sedikit (less is more). Di dunia yang penuh dengan distraksi, kita sering merasa harus melakukan segalanya sekaligus. Hasilnya? Kita stres dan nggak ada satu pun yang selesai dengan maksimal.

Leo mengajarkan kita cara membangun kebiasaan kecil yang berkelanjutan, bagaimana menyederhanakan rutinitas harian, dan bagaimana caranya fokus pada satu hal dalam satu waktu. Ini adalah bentuk mindfulness yang sangat praktis dan bisa diterapkan langsung di kehidupan sehari-hari, terutama buat teman-teman yang bekerja di bidang kreatif atau punya banyak proyek sekaligus.

Aku ingin di tahun 2026 ini rumah dan pikiranku lebih “lega”. Nggak terlalu banyak barang, nggak terlalu banyak rencana yang muluk-muluk, tapi lebih banyak makna di setiap kegiatannya.

Menutup Tahun 2026 dengan Kesadaran Penuh

Itulah 5 rekomendasi buku mindfulness yang akan menemani perjalanan aku di tahun 2026. Membaca buku-buku ini bukan cuma soal menghabiskan halaman, tapi soal bagaimana kita bisa mengambil satu atau dua pelajaran untuk dipraktikkan dalam hidup.

Mindfulness itu bukan tujuan akhir, teman-teman. Mindfulness adalah sebuah perjalanan. Kadang kita berhasil, kadang kita gagal lagi dan terjebak dalam rasa cemas. Tapi nggak apa-apa, itu bagian dari proses menjadi manusia.

Kalau kamu, ada nggak buku yang lagi kamu baca atau masuk TBR kamu di tahun ini? Atau mungkin kamu sudah baca salah satu dari buku di atas? Cerita-cerita di kolom komentar ya, aku pengen tahu pendapat kalian!Jangan lupa untuk terus jaga kesehatan mental dan fisik. Luangkan waktu sejenak untuk bernapas dalam-dalam, syukuri apa yang ada di depan mata, dan ingatlah bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik.

Sampai jumpa di artikel berikutnya di DianRavi.com!

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment