Lagi Ngerasa “Pecah”? Yuk, Tambal Pakai Emas ala Filosofi Kintsugi!

Pernah nggak sih, kamu lagi asyik-asyiknya ngopi sambil bengong sore-sore, terus nggak sengaja tangan nyenggol cangkir kesayangan sampai jatuh dan… prang! Pecah berkeping-keping. Reaksi pertama biasanya apa? Panik? Lemes? Atau langsung ambil sapu dan membuang pecahannya ke tempat sampah sambil menggerutu, “Yah, rusak deh, nggak berguna lagi.”

Secara natural, kita manusia emang “diprogram” untuk menyukai hal-hal yang utuh, mulus, simetris, dan sempurna. Sesuatu yang pecah, retak, atau rusak seringkali kita anggap sudah habis masa pakainya. Barang rusak berarti sampah. Tapi, gimana kalau logika ini kita pakai ke diri sendiri?

Saat kita gagal dalam karier, patah hati karena dikhianati, atau merasa hidup nggak berjalan sesuai rencana, kita sering merasa diri kita “rusak”. Kita merasa jadi “barang cacat” yang nggak layak lagi buat bahagia atau sukses. Nah, sebelum kamu makin tenggelam dalam perasaan itu, coba deh kita geser perspektifnya sebentar ke Negeri Sakura, Jepang. Di sana, ada sebuah seni sekaligus filosofi luar biasa yang namanya Kintsugi.

Apa Sih Kintsugi Itu? (Spoiler: Bukan Sekadar Lem Power Glue!)

Secara harfiah, Kintsugi berasal dari kata “Kin” yang berarti emas, dan “Tsugi” yang berarti penyambungan. Jadi, Kintsugi adalah seni menyambung keramik yang pecah menggunakan pernis khusus (urushi) yang dicampur dengan bubuk emas, perak, atau platinum.

Sejarahnya unik banget. Konon, pada abad ke-15, ada seorang Shogun (pemimpin militer) Jepang bernama Ashikaga Yoshimitsu yang nggak sengaja memecahkan mangkuk teh kesayangannya. Karena itu mangkuk favorit, dia mengirimnya kembali ke China untuk diperbaiki.

Tapi pas balik, si Shogun kaget. Mangkul itu cuma dijepit pakai staples besi yang kasar dan jelek banget. Bukannya makin bagus, malah jadi kelihatan mengerikan. Akhirnya, pengrajin lokal di Jepang mencoba cara lain: mereka menyambung pecahan itu dengan getah alami dan menaburkan bubuk emas di atas sambungannya.

Hasilnya? Mangkuk itu nggak kembali mulus kayak baru. Garis-garis emas itu justru menonjolkan bagian yang pernah pecah. Tapi anehnya, mangkuk itu jadi jauh lebih indah, lebih berkarakter, dan nilainya jauh lebih mahal daripada saat ia masih utuh. Retakan itu bukan lagi cacat yang harus ditutupi, melainkan sebuah sejarah yang patut dirayakan.

Akar Filosofi: Mengenal Wabi-Sabi

Kintsugi itu nggak lahir sendirian. Dia adalah “anak kandung” dari konsep estetika Jepang yang lebih besar, yaitu Wabi-Sabi. Kalau Kintsugi adalah tekniknya, Wabi-Sabi adalah cara pandangnya.

Wabi-Sabi adalah cara pandang yang melihat keindahan di dalam ketidaksempurnaan, ketidakkekalan, dan kesederhanaan. Dunia barat mungkin memuja simetri dan keabadian (pikirkan patung marmer Yunani yang putih bersih), tapi Jepang memuja proses alami: bahwa segala sesuatu pasti menua, pasti retak, dan pasti berubah.

Dalam Wabi-Sabi, ada tiga realitas yang harus kita terima biar hidup lebih tenang:

  1. Nggak ada yang abadi.
  2. Nggak ada yang selesai sepenuhnya.
  3. Nggak ada yang sempurna.

Saat kita bisa menerima bahwa ketidaksempurnaan itu adalah bagian dari hidup, kita nggak akan lagi stres nyari “kesempurnaan” yang sebenarnya cuma fatamorgana. Kalau kamu penasaran gimana cara mempraktikkan cara pandang ini di dunia nyata yang serba berisik ini, kamu bisa mencoba 5 cara menerapkan wabi-sabi dalam keseharian supaya lebih tenang dan mindful.

Kenapa Kita Perlu Belajar Menjadi “Kintsugi Manusia”?

Di era media sosial sekarang, tekanan untuk menjadi “sempurna” itu gila-gilaan. Foto harus pakai filter biar kulit kelihatan mulus, hidup harus kelihatan produktif 24/7, dan hubungan harus kelihatan couple goals terus. Efek sampingnya? Kita jadi takut banget buat salah. Kita malu kalau punya “luka”.

Padahal, hidup itu nggak ada yang lempeng-lempeng amat. Kita semua pasti punya momen “pecah”.

  • Pecah karena impian yang nggak tercapai.
  • Pecah karena kehilangan orang yang paling kita sayang.
  • Pecah karena ekspektasi sosial yang nggak bisa kita penuhi.

Filosofi Kintsugi ngajarin kita satu hal penting: Luka itu bukan aib. Saat kamu hancur, kamu nggak perlu membuang kepingan dirimu ke tempat sampah. Kamu cuma perlu menyambungnya kembali dengan “emas”.

Misalnya nih, ada banyak orang yang merasa hidupnya ‘kurang’ atau ‘cacat’ kalau nggak mengikuti standar sosial pada umumnya, seperti kisah aku 22 tahun menikah tanpa anak yang menunjukkan bahwa kebahagiaan itu nggak selalu punya template yang sama dan retakan ekspektasi itu justru bisa diisi dengan hal lain yang nggak kalah berharga.

Proses Menambal Luka: Langkah-Langkah ala Kintsugi

Menyembuhkan hati itu mirip banget sama proses Kintsugi di bengkel pengrajin. Nggak bisa buru-buru, butuh ketelatenan, dan butuh bahan yang tepat.

1. Mengumpulkan Pecahan (Fase Penerimaan)

Langkah pertama Kintsugi adalah mengumpulkan semua pecahannya. Jangan ada yang dibuang, sekecil apa pun itu. Dalam hidup, ini adalah fase penerimaan.

Seringkali pas kita gagal, kita malah denial. Kita pura-pura kuat, pura-pura “I’m okay”, padahal di dalam lagi berdarah-darah. Kintsugi bilang: “Eh, jangan dibuang rasa sakitnya. Kumpulin.” Akui kalau kita lagi hancur. Menangis itu nggak apa-apa. Merasa gagal itu manusiawi. Langkah pertama untuk sembuh adalah mengakui kalau ada yang perlu disembuhkan.

2. Membersihkan dan Menyiapkan Sambungan (Fase Refleksi)

Pecahan keramik itu harus dibersihkan dulu dari debu supaya pernisnya nempel. Di tahap ini, kita mulai refleksi. Apa sih yang bikin kita jatuh? Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini?

Proses ini mungkin perih karena kita harus melihat kembali “sumber luka” kita. Tapi tanpa membersihkan luka, penyembuhan kita bakal rapuh. Refleksi bikin kita tahu bagian mana yang butuh perhatian lebih.

3. Menyambung dengan Emas (Fase Resiliensi)

Ini bagian paling ajaib. Pengrajin Kintsugi nggak pakai lem transparan supaya retakannya nggak kelihatan. Mereka justru pakai emas biar retakannya makin kelihatan.

“Emas” dalam hidup kita adalah hikmah, pengalaman, dan kedewasaan. Saat kita mencoba bangkit, kita nggak cuma sekadar balik ke diri kita yang lama (yang polos dan belum pernah terluka). Kita menjadi diri yang baru dengan tambahan “emas” di sela-sela luka kita. Kita jadi lebih bijak, lebih punya empati sama orang lain, dan punya daya tahan (resilience) yang lebih tinggi.

4. Menunggu Pernis Mengering (Fase Kesabaran)

Ini yang sering kita lupain. Pernis urushi itu butuh waktu lama buat kering, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kalau dipaksa cepat kering, sambungannya bakal gampang lepas lagi.

Sama kayak healing. Nggak ada yang namanya “sembuh dalam semalam”. Kita seringkali terlalu keras sama diri sendiri, pengennya langsung move on hari itu juga. Kintsugi ngajarin kita buat sabar. Trust the process. Biarkan waktu bekerja secara alami.

5 Tips Menerapkan Filosofi Kintsugi dalam Keseharian

Gimana cara mempraktikkan filosofi yang kedengarannya “berat” ini ke hal-hal receh sehari-hari? Tenang, ini 5 tips praktisnya:

1. Berhenti Membandingkan “Piring” Kita dengan Orang Lain

Pas lagi asyik scrolling Instagram dan merasa hidup orang lain lebih simetris dan rapi, inget filosofi Wabi-Sabi. Kita cuma lihat “etalase” mereka, bukan gudang tempat mereka menyimpan pecahan keramiknya sendiri. Fokuslah pada cara menghias retakanmu sendiri, bukan iri pada piring orang lain yang kelihatannya masih baru.

2. Maafkan Diri Sendiri (Self-Compassion)

Salah kirim email kerjaan? Salah ngomong ke mertua? Nggak apa-apa. Anggap itu retakan kecil yang bisa ditambal. Jangan hukum dirimu seolah-olah dunia kiamat karena satu kesalahan. Maafkan diri sendiri secepat kamu memaafkan orang lain. Ingat, tanpa kesalahan, nggak akan ada “emas” kedewasaan.

3. Ubah Narasi “Kenapa Harus Aku?”

Saat musibah datang, coba ubah pertanyaannya. Dari “Kenapa ini terjadi sama aku?” menjadi “Kira-kira pengalaman berharga apa ya yang bakal aku pakai buat nambal retakan kali ini?”. Mengubah sudut pandang dari korban (victim) menjadi pengrajin (artisan) hidup akan membuatmu merasa lebih berdaya.

4. Hargai “Barang Rusak” dan Proses Memperbaiki

Cobalah untuk nggak gampang membuang barang yang masih bisa diperbaiki di rumah. Belajar menjahit baju yang sobek atau memperbaiki kursi yang goyang bisa melatih psikologis kita untuk nggak gampang “membuang” harapan saat keadaan jadi sulit. Kebiasaan ini melatih kesabaran dan ketelatenan dalam menghadapi masalah hidup yang lebih besar.

5. Jangan Sembunyikan Bekas Lukamu

Kintsugi justru memamerkan retakannya dengan emas. Kamu juga nggak perlu malu dengan masa lalumu yang kelam atau kegagalanmu yang pahit. Saat kamu berani terbuka tentang perjuanganmu, kamu nggak cuma menyembuhkan dirimu sendiri, tapi juga memberi “cahaya” dan inspirasi bagi orang lain yang mungkin sedang mengalami kehancuran yang sama.

Kamu Adalah Sebuah Mahakarya

Hidup ini bukan perlombaan siapa yang paling mulus sampai garis finish. Hidup ini adalah tentang gimana kita mengumpulkan kepingan-kepingan pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, dan merangkainya menjadi sesuatu yang indah.

Jangan takut jadi “pecah”. Jangan malu kalau jalan hidupmu nggak se-linear atau se-sempurna orang lain. Setiap retakan punya ceritanya sendiri, dan setiap sambungan emas yang kamu buat adalah bukti betapa kuatnya kamu. Kamu bukan barang rusak. Kamu adalah sebuah mahakarya yang sedang dalam proses dipercantik.

Ingat, cahaya paling terang seringkali masuk lewat celah-celah retakan yang kita miliki. Jadi, mulai sekarang, yuk belajar mencintai “luka” kita. Karena tanpa luka itu, kita nggak akan pernah tahu seberapa mahal “emas” yang ada di dalam diri kita.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment