Halo, Teman-teman! Apa kabar harinya? Semoga lagi dalam kondisi yang cukup waras untuk diajak ngobrol santai, ya.
Pernah nggak sih, kalian ngerasa kalau batas antara “menyayangi diri sendiri” dan “memanjakan diri secara berlebihan” itu tipis banget, setipis tisu dibagi dua? Aku sering banget terjebak di sana. Di suatu Selasa sore yang melelahkan, aku duduk di depan laptop, kerjaan masih numpuk, tapi rasanya otak udah full. Tiba-tiba ada notifikasi promo buy 1 get 1 kopi susu literan. Di saat yang sama, keranjang belanja di marketplace sudah penuh dengan barang-barang yang sebenarnya “lucu aja kalau punya,” tapi nggak butuh-butuh amat.
Pikiran aku waktu itu cuma satu: “Aku udah kerja keras seharian, aku berhak dapet self-reward ini. Ini kan bentuk self-love.”
Tapi, benarkah itu self-love? Atau jangan-jangan itu cuma self-indulgence (pemuasan nafsu sesaat) yang dibungkus dengan pita cantik bernama “sayang diri”? Yuk, kita bedah pelan-pelan sambil ditemani secangkir teh (atau kopi, asal jangan yang literan tadi kalau emang lagi mau diet gula, ya!).
Memahami Si Dua Saudara Kembar yang Beda Sifat
Sebelum kita masuk ke cerita-cerita “curcol” aku, ada baiknya kita dudukan dulu apa sih bedanya dua istilah ini. Karena kalau kita salah sangka, niatnya mau memperbaiki kesehatan mental, eh malah bikin kantong jebol dan kesehatan fisik rontok.
Apa Itu Self-Love?
Self-love adalah tindakan memberikan apa yang dibutuhkan oleh jiwa dan raga kita untuk jangka panjang. Ini tentang pertumbuhan, kesehatan, dan menghargai nilai diri sendiri. Self-love seringkali tidak terasa menyenangkan di awal. Contohnya? Bangun pagi buat olahraga, menabung untuk masa depan, atau memilih makan sayur daripada junk food saat badan terasa berat.
Apa Itu Self-Indulgence?
Self-indulgence adalah memberikan apa yang kita inginkan saat itu juga demi kesenangan instan. Fokusnya adalah kenyamanan sesaat dan seringkali merupakan bentuk pelarian dari rasa stres, bosan, atau cemas. Contohnya? Scrolling TikTok sampai jam 2 pagi, belanja barang mahal pakai kartu kredit padahal tabungan mepet, atau makan cokelat satu batang penuh cuma karena lagi kesal sama atasan.
Jebakan Batman Bernama “Treat Yourself”
Aku punya cerita. Beberapa bulan lalu, aku lagi ngerasa burnout parah. Aku merasa dunia nggak adil karena beban kerja yang makin nggak masuk akal. Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan “healing”. Versi aku waktu itu adalah: pesan makanan lewat ojek online setiap siang, nggak mau gerak sama sekali dari kasur pas lagi nggak ada kerjaan, dan beli perintilan joirnal yang sebenarnya aku masih banyak stoknya.
Awalnya rasanya enak banget. Wah, aku merasa jadi “ratu” buat diriku sendiri. Tapi seminggu kemudian, apa yang terjadi?
- Berat badanku naik dan badanku malah pegal-pegal karena kurang gerak.
- Saldo ATM-ku menipis drastis (yang malah bikin aku makin stres).
- Kerjaan yang aku hindari malah makin menumpuk dan jadi beban pikiran yang lebih berat.
Di situ aku sadar: Aku nggak lagi mencintai diriku. Aku lagi menyuap diriku sendiri supaya diam dan nggak protes sama masalah yang ada.
Itulah bahayanya self-indulgence. Dia kayak obat bius. Menghilangkan rasa sakit sebentar, tapi nggak menyembuhkan lukanya. Malah kadang-kadang, dosis biusnya harus terus ditambah supaya kita tetap merasa “nyaman,” sampai akhirnya kita malah kecanduan pelarian tersebut.
Kenapa Kita Sering Keliru?
Mungkin teman-teman bertanya, “Kenapa sih susah banget bedainnya?”
Jawabannya adalah: Marketing.
Kita hidup di zaman di mana kapitalisme sangat pintar memanfaatkan istilah psikologi. Lihat saja iklan-iklan di luar sana.
- “Sayangi kulitmu, beli masker wajah seharga 500 ribu ini.”
- “Kamu layak mendapatkan tas mewah ini setelah setahun bekerja.”
- “Self-love itu artinya nggak pelit sama diri sendiri.”
Media sosial juga memperparah ini. Kita melihat influencer pamer staycation mewah atau belanja barang-barang branded dengan caption #SelfLove. Akhirnya, standar kita soal menyayangi diri sendiri bergeser jadi standar konsumerisme. Kita jadi mikir kalau nggak keluar uang, berarti kita nggak sayang sama diri sendiri. Padahal, self-love itu gratis, lho!
Sisi “Pahit” dari Self-Love yang Jarang Dibahas
Teman-teman, jujur ya, self-love itu nggak selamanya isinya mandi busa pakai lilin aromaterapi. Kadang, self-love itu rasanya pahit dan melelahkan.
Aku kasih contoh dari pengalamanku. Salah satu bentuk self-love terbesar yang pernah aku lakukan adalah menetapkan batasan (setting boundaries). Aku harus berani bilang “nggak” ke teman yang hobi minjem uang tapi nggak dibalikin. Rasanya nggak enak? Jelas. Aku merasa jadi orang jahat? Iya. Tapi itu adalah bentuk aku menyayangi kesehatan mental dan finansialku sendiri.
Contoh lain? Disiplin.
Dulu aku mikir, disiplin itu adalah cara kita menyiksa diri. “Ih, hidup kok kaku banget, nikmatin aja kali!” Tapi ternyata, tanpa disiplin, hidup aku jadi kacau balau.
- Memaksa diri buat bangun pagi dan olahraga itu self-love.
- Memaksa diri buat berhenti scrolling dan mulai kerja itu self-love.
- Memaksa diri buat masak makanan sehat di rumah daripada pesan fast food itu self-love.
Karena hasil dari semua “paksaan” itu adalah aku yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih bangga sama diriku sendiri di masa depan. Self-love adalah cara kita berterima kasih kepada “Aku di Masa Depan”.
Baca juga: Sore: Istri dari Masa Depan, Sebuah Perjuangan Melawan Takdir dan Rasa Kehilangan
Gimana Cara Mulai Mencintai Diri dengan Bijak?
Kalau sekarang kamu merasa sudah terlanjur basah sering melakukan self-indulgence, tenang aja. Aku juga masih sering relapse kok. Namanya juga manusia, ya kan? Tapi, ada beberapa langkah yang aku terapin buat mulai kembali ke jalur self-love yang benar:
1. Tanya “Kenapa?” Sebelum Melakukan Sesuatu
Setiap kali mau beli barang atau mau malas-malasan, coba tanya ke diri sendiri: “Aku melakukan ini karena aku butuh istirahat/apresiasi, atau aku cuma mau lari dari rasa nggak nyaman?” Kalau jawabannya adalah pelarian, coba cari alternatif lain yang lebih sehat. Misalnya, daripada belanja, mending jalan-jalan sore di taman atau curhat ke sahabat.
2. Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial
Ingat, apa yang orang posting itu cuma “highlight reel” mereka. Kamu nggak perlu punya kopi estetik atau baju baru tiap minggu untuk membuktikan kalau kamu sayang sama dirimu sendiri. Tutup aplikasi sosmed kalau sudah mulai merasa “kurang.”
3. Buat Definisi “Self-Reward” yang Sehat
Apresiasi diri itu penting, tapi jangan sampai merusak diri.
- Alih-alih “makan sepuasnya sampai perut sakit,” ganti jadi “makan satu porsi makanan favorit di restoran yang tenang.”
- Alih-alih “belanja baju tanpa kontrol,” ganti jadi “beli satu buku yang bener-bener mau dibaca dari dulu.”
4. Pelajari Seni Berkata “Tidak” pada Diri Sendiri
Ini yang paling susah. Menjadi orang tua bagi diri sendiri. Kadang kita harus bersikap tegas ke diri kita yang lagi “tantrum.”
“Aku tahu kamu capek, tapi ayo mandi dulu biar seger, habis itu kita tidur lebih awal.” Bukan menuruti ego yang bilang, “Capek nih, begadang nonton Netflix aja yuk sampai pagi.”
5. Berlatih Self-Compassion (Belas Kasih pada Diri)
Mencintai diri dengan bijak bukan berarti kamu harus jadi orang yang sempurna dan nggak boleh salah. Kalau suatu hari kamu “jebol” dan melakukan self-indulgence (misalnya nggak sengaja belanja berlebihan), jangan langsung menghujat diri sendiri dengan kata-kata kasar. Akui kesalahannya, maafkan dirimu, dan mulai lagi besok. Self-love yang dewasa adalah ketika kamu bisa memeluk kegagalanmu sendiri tanpa kehilangan keinginan untuk memperbaiki diri.
6. Investasi pada Pertumbuhan Diri (Self-Growth)
Mencintai diri berarti ingin melihat diri kita berkembang. Coba deh mulai alokasikan waktu untuk belajar hal baru yang bikin kamu merasa berdaya. Entah itu belajar masak makanan sehat, ikut kursus bahasa, atau sekadar belajar meditasi. Self-indulgence bikin kita jalan di tempat, tapi self-love kasih kita “sayap” buat terbang lebih tinggi. Investasi ke otak dan skill itu nggak akan pernah bikin kamu menyesal.
7. Kembali ke Dasar: Rawat Raga sebagai Rumah
Seringkali kita sibuk mencari cara healing yang jauh, padahal tubuh kita cuma butuh hal-hal dasar yang sering disepelekan. Minum air putih yang cukup, gerak badan minimal 15 menit sehari, dan tidur sebelum jam 11 malam adalah surat cinta paling nyata buat raga kita. Ingat, kamu cuma punya satu tubuh ini buat seumur hidup. Menjaganya tetap bugar adalah bentuk tanggung jawab dan rasa syukur yang paling dalam.
Menghargai Proses, Bukan Kesempurnaan
Aku nggak mau terdengar kayak motivator yang hidupnya sudah sempurna banget. Nggak sama sekali. Sampai sekarang, aku masih sering kok kebablasan pesan boba pas lagi stres. Bedanya sekarang, aku sadar kalau itu adalah self-indulgence. Aku nggak lagi membohongi diriku dengan label self-love.
Dan ketika aku sadar, aku nggak menghujat diriku. Aku cuma bilang, “Oke, hari ini lagi lemah sedikit nggak apa-apa. Besok kita balik lagi ke kebiasaan sehat, ya.”
Mencintai diri sendiri itu perjalanan panjang. Kadang kita maju dua langkah, mundur satu langkah. Yang penting, arahnya tetap menuju pertumbuhan, bukan kehancuran diri yang dibungkus dengan kenikmatan semu.
“Self-love is choosing what is best for your soul, even when it’s hard. Self-indulgence is choosing what is easiest for your ego, even when it’s harmful.”
Sebuah Janji Kecil
Jadi, buat kamu yang lagi baca ini, coba deh ambil waktu lima menit aja. Duduk tenang, tutup mata, dan tarik napas dalam. Tanya ke tubuhmu, “Apa yang bener-bener kamu butuhin sekarang?”
Mungkin bukan tas baru. Mungkin cuma butuh tidur 8 jam.
Mungkin bukan makanan manis. Mungkin cuma butuh minum air putih yang banyak karena seharian dehidrasi.
Mungkin bukan pengakuan dari orang lain. Mungkin cuma butuh memaafkan diri sendiri atas kesalahan kemarin.
Mencintai diri dengan bijak adalah tentang keseimbangan. Kita nggak perlu jadi robot yang super disiplin tanpa emosi, tapi kita juga nggak boleh jadi budak dari keinginan sesaat kita.
Yuk, kita mulai pelan-pelan. Karena kamu, aku, dan kita semua, layak mendapatkan versi terbaik dari diri kita sendiri. Bukan cuma versi yang paling “senang” saat ini, tapi versi yang paling “tenang” dan “kuat” di masa depan.Gimana menurut kamu? Apa bentuk self-love “pahit” yang paling susah kamu jalanin tapi dampaknya terasa banget sekarang?
Kalau kamu merasa artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk bagikan ke temanmu yang mungkin lagi terjebak di siklus “healing” tapi nggak sembuh-sembuh, ya!
warm hugs,




