9 Manfaat Journaling Syukur Sebelum Tidur: Cara Sederhana Mengakhiri Hari dengan Tenang

Halo teman-teman! Gimana harinya? Semoga tetap semangat ya, meski mungkin ada saja tantangan yang datang menyapa.

Kalau kalian sering mampir ke blog aku, kalian pasti tahu kalau tahun 2026 ini aku lagi konsisten banget belajar tentang mindfulness. Salah satu praktik yang paling aku rasakan dampaknya adalah journaling syukur atau yang sering disebut gratitude journal.

Dulu, aku sering banget merasa “berisik” di malam hari. Pikiran melayang ke mana-mana, mikirin kerjaan yang belum beres, typo di email tadi siang, sampai rasa cemas tentang masa depan. Akhirnya? Tidur jadi nggak nyenyak dan bangun-bangun malah merasa capek.

Sampai akhirnya aku menemukan kekuatan dari menuliskan hal-hal kecil yang aku syukuri tepat sebelum memejamkan mata. Ternyata, kebiasaan sederhana ini bukan cuma soal menulis di atas kertas, tapi soal melatih otak kita untuk melihat kebaikan di tengah hiruk pikuk hidup.

Nah, kali ini aku mau berbagi 9 manfaat journaling syukur sebelum tidur yang aku rasakan sendiri. Semoga bisa jadi inspirasi buat kamu yang ingin mulai menata hidup dengan lebih sadar.

9 Manfaat Journaling Syukur Sebelum Tidur

Jujur aja, aku masih struggling sampai sekarang soal journaling syukur sebelum tidur. Bukan karena nggak tahu manfaatnya, tapi karena sering bingung sendiri: apa ya yang bisa disyukuri hari ini? Di hari-hari tertentu, rasanya capek, kepala penuh, dan hidup terasa biasa saja, nggak ada yang “wah” untuk ditulis dalam daftar gratitude. Padahal aku sadar betul, kebiasaan ini punya dampak besar untuk kesehatan mental dan ketenangan hati. Justru dari proses jatuh-bangun itulah aku pelan-pelan belajar, dan berikut ini 9 manfaat journaling syukur sebelum tidur yang bikin aku terus ingin mencoba, meski belum selalu konsisten.

1. Membantu Otak Beristirahat dari “Mode Bertahan Hidup”

Sepanjang hari, otak kita seringkali berada dalam mode fight or flight karena stres kerjaan atau masalah sehari-hari. Kalau kita langsung tidur tanpa melakukan “pendinginan”, stres itu akan terbawa ke alam bawah sadar.Menulis jurnal syukur bertindak sebagai tombol reset. Saat aku menulis hal yang baik, otak secara otomatis bergeser dari fokus pada ancaman (masalah) ke rasa aman (hal yang disyukuri). Ini sangat membantu menurunkan level hormon kortisol (hormon stres) sebelum tidur.

2. Meningkatkan Kualitas Tidur secara Signifikan

Pernah nggak sih kamu merasa badan sudah capek, tapi mata tetap melek karena pikiran nggak bisa berhenti? Penelitian menunjukkan bahwa orang yang meluangkan waktu 15 menit untuk menulis hal-hal positif sebelum tidur cenderung tidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

Bagi aku pribadi, journaling syukur itu seperti “membuang sampah pikiran”. Begitu rasa syukur itu tertuang di kertas, hati rasanya lebih ringan, dan tidur pun jadi jauh lebih berkualitas tanpa interupsi mimpi buruk tentang pekerjaan.

3. Melatih Kita Menjadi Lebih “Present” (Mindfulness)

Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan masa lalu atau mencemaskan masa depan. Journaling syukur memaksa aku untuk melihat ke belakang, ke hari yang baru saja dilewati, dan mencari: “Apa ya yang bikin aku senyum hari ini?”

Mungkin cuma sesederhana kopi pagi yang rasanya pas, atau kucing di pinggir jalan yang lucu. Hal-hal kecil ini membuat kita lebih menghargai momen saat ini (living in the moment). Ini inti dari gaya hidup mindful yang lagi aku tekuni tahun ini.

Baca juga: 5 Rekomendasi Buku Mindfulness yang Wajib Dibaca

4. Mengurangi Gejala Kecemasan dan Depresi

Gratitude journal bukan berarti kita mengabaikan masalah, tapi kita memilih untuk tidak tenggelam di dalamnya. Dengan menulis syukur, aku belajar untuk menyeimbangkan emosi negatif dengan emosi positif.Bagi teman-teman yang mungkin punya kecenderungan overthinking di malam hari, kebiasaan ini sangat membantu mengalihkan narasi buruk di kepala menjadi narasi yang lebih memberdayakan.

5. Membangun Ketangguhan Mental (Resilience)

Hidup nggak selalu lancar, kan? Ada hari-hari di mana semuanya terasa berantakan. Namun, justru di hari-hari berat itulah journaling syukur jadi sangat krusial.Saat aku tetap bisa menemukan satu hal kecil untuk disyukuri di tengah hari yang buruk, mental aku jadi lebih kuat. Aku jadi sadar bahwa tantangan itu sementara, tapi kebaikan selalu ada kalau kita mau mencari. Ini yang membuat kita nggak gampang menyerah saat menghadapi kesulitan.

6. Mengubah Perspektif: Dari Kekurangan Menjadi Kelebihan

Kita sering terjebak dalam pikiran “Aku belum punya ini” atau “Kenapa hidupku nggak seperti dia?”. Journaling syukur membalikkan logika itu.

Alih-alih fokus pada apa yang hilang, aku jadi fokus pada apa yang sudah ada. Ternyata, hidup aku sudah cukup. Rasa “cukup” inilah yang membawa ketenangan sejati yang nggak bisa dibeli dengan materi apapun.

7. Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Self-Esteem)

Seringkali kita jadi terlalu kritis pada diri sendiri. Melalui jurnal syukur, aku juga belajar mensyukuri pencapaian diri sendiri.

Misalnya, “Aku bersyukur hari ini bisa menahan diri untuk nggak marah-marah saat macet.” Menghargai hal-hal kecil yang berhasil aku lakukan membuat aku lebih menyayangi diri sendiri dan meningkatkan rasa percaya diri.

8. Memperbaiki Hubungan dengan Orang Lain

Kadang kita lupa mensyukuri kehadiran orang-orang di sekitar kita. Saat aku menulis, “Aku bersyukur tadi suami membantuku mencuci piring,” rasa sayang dan apresiasi aku ke dia jadi meningkat.

Saat kita terbiasa bersyukur secara internal, biasanya itu akan terpancar keluar. Kita jadi lebih murah hati memberikan pujian dan terima kasih kepada orang lain, yang secara otomatis memperbaiki kualitas hubungan sosial kita.

9. Menjadi Dokumentasi Perjalanan Hidup yang Manis

Beberapa waktu lalu, aku pernah membongkar jurnal-jurnal lama. Membaca kembali apa yang aku syukuri di masa lalu itu rasanya luar biasa.

Ada memori tentang perjalanan ke Pacitan, atau sekadar cerita tentang journaling di sore hari yang tenang. Journaling syukur adalah cara aku merayakan hidup. Meskipun nanti ada hari-hari yang berat, aku punya bukti tertulis bahwa hidupku dipenuhi oleh banyak sekali momen indah.

Cara Memulai Gratitude Journal

Memulai gratitude journal itu sebenarnya nggak serumit yang sering kita bayangkan. Kamu nggak perlu nunggu punya buku jurnal mahal atau alat tulis estetik dulu, meski jujur aja, stationery lucu memang kadang bikin niat nulis jadi naik sedikit. Yang penting, kamu mau memberi jeda kecil untuk diri sendiri sebelum hari benar-benar ditutup.

Biasakan meluangkan sekitar lima sampai sepuluh menit sebelum mematikan lampu. Di momen hening itu, tulis beberapa hal sederhana yang kamu syukuri hari ini. Nggak harus kejadian besar. Justru hal-hal kecil yang spesifik sering terasa lebih nyata: langkah kaki sore yang terasa ringan, obrolan singkat yang menenangkan, atau secangkir minuman hangat yang menemani lelahmu. Saat menulis, coba hadir sepenuhnya, ingat kembali momennya, rasakan hangatnya, dan biarkan hati ikut pelan-pelan tenang.

Buat aku, tahun 2026 ini adalah tentang kembali ke diri sendiri dan belajar hidup lebih pelan. Journaling syukur jadi pintu masuk yang paling jujur untuk proses itu. Kalau kamu baru mau mulai, jangan bebani diri untuk menulis panjang atau sempurna. Satu kalimat pun sudah lebih dari cukup, selama datang dari hati yang benar-benar sadar.

Lalu, apa satu hal yang paling kamu syukuri hari ini? Aku pengen banget dengar ceritamu. Sampai ketemu di postingan One Day One Post berikutnya.

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment