Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan saat roda kendaraan yang aku tumpangi menyusuri jalan darat menuju Jakarta. Setelah hampir enam bulan menetap di Bondowoso, menikmati ritme hidup yang pelan, udara pegunungan yang relatif bersih, dan hari-hari yang syahdu, perjalanan pulang ke ibu kota kali ini rasanya berbeda. Ada letup antusiasme yang merayap perlahan di dada.
Bukan cuma soal rindu pada keriuhan kota yang selalu berdenyut 24 jam, atau rindu pada rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Lebih dari itu, ada satu momen yang sudah lama sekali aku impikan dan jadwalkan jauh-jauhi hari: kumpul kembali bersama teman-teman komunitas journaling.
Bagi seorang pencinta kertas ephemera, washi tape, dan stiker seperti aku, kumpul journaling bersama bukan sekadar kegiatan corat-coret atau menempel kertas. Itu adalah ritual jiwa.
Momen di mana kami bisa duduk melingkar di sebuah kafe, saling bertukar bahan journal seperti sticker, ephemera, dan kertas dekor, berbagi cerita di balik lembaran jurnal, dan merayakan mindfulness lewat seni visual.
Enam bulan berada di Bondowoso membuat rindu ini membuncah. Maka, beberapa hari sebelum keberangkatan jalan darat menuju Jakarta, aku sudah heboh sendiri menyiapkan segalanya.
Memilah Perintilan Journal dan Euforia Kebebasan Ibu Kota
Pagi itu di Jakarta, suasana kamar terasa begitu hidup. Setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam beberapa hari sebelumnya, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba: hari ini aku akan kumpul journaling bersama teman-teman!
Di sudut meja kamar, aku menghabiskan waktu beberapa jam dengan sukacita. Aku memilah lembaran-lembaran kertas vintage, stiker bunga kesayangan, potongan majalah lama, hingga puluhan gulung washi tape dengan berbagai motif yang sudah kubawa jauh-jauh dari rumah. Semua kupilih dengan cermat untuk dimasukkan ke dalam pouch journal berukuran sedang.
”Yang ini pasti pada suka deh,” gumamku sendiri sambil tersenyum. Ada kebahagiaan luar biasa saat membayangkan perintilan ini akan kami bongkar bersama di meja berkumpul nanti. Rasanya seperti anak kecil yang tidak sabar memamerkan mainan barunya.
Sambil merapikan tas, aku kembali menyadari salah satu hal yang paling aku rindukan dari Jakarta, selain keberadaan teman-teman dekat dan melimpahnya kegiatan seni, yaitu kemudahan transportasi umumnya.
Selama beberapa bulan menetap di daerah, ritme hidupku memang sangat bergantung pada suami. Kemana pun aku ingin pergi, aku harus diantar oleh suami. Sebenarnya, beberapa waktu lalu sempat ada tawaran kegiatan journaling di Situbondo, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari rumahku di Bondowoso. Bagi warga ibukota, perjalanan satu jam tentu hal yang biasa. Namun di sana, karena minimnya moda transportasi umum, jarak satu jam itu terasa begitu berat.
Bukan cuma soal jaraknya, tapi rasa “tidak enak hati” karena harus merepotkan suami untuk mengantar, menemani, bahkan menungguiku berjam-jam selama sesi journaling berlangsung. Ada kenyamanan diantar suami, memang, tetapi ada kalanya rasa ingin mandiri itu membumbung tinggi.
Jakarta memberi rasa bebas itu kembali. Di kota ini, aku tidak perlu merasa bersalah atau merepotkan siapa pun. Cukup naik ojek online sebentar dari rumah, aku sudah bisa mencapai transportasi publik, dan aku bisa menjelajahi sudut kota mana pun yang kuinginkan secara mandiri.
Siang yang ditunggu-tunggu itu pun makin dekat. Momen kumpul journaling dijadwalkan di sebuah lokasi strategis di Jakarta Selatan. Dengan semangat membara dan pouch perintilan journaling yang sudah tersusun rapi di dalam tas, aku bersiap melangkah keluar rumah.
Seperti biasa, dari rumah, aku memutuskan untuk menggunakan kombinasi transportasi umum favoritku: naik LRT lalu dilanjutkan dengan Transjakarta.
Sensasi melaju di atas rel melintasi gedung-gedung tinggi Jakarta selalu memberi rasa nostalgia. Di dalam gerbong LRT yang sejuk dan bersih, aku sempat memangku tas, membayangkan betapa serunya sesi bertukar stiker dan corat-coret jurnal nanti. Semuanya terasa begitu sempurna dan berjalan sesuai rencana.
Namun, realita Jakarta tetaplah realita kota besar.
Begitu turun dari stasiun LRT dan berpindah menuju halte Transjakarta, transisi udara sejuk ber-AC ke udara terbuka langsung menyapa. Angin siang itu berhembus lumayan kencang, membawa serta debu-debu halus jalanan, polusi kendaraan, dan hawa panas khas ibu kota.
Awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya. Aku terus berjalan menelusuri JPO menuju halte. Tetapi, hanya dalam hitungan menit, mataku mulai memberikan sinyal tidak nyaman.
Mata kananku terasa sepet dan mulai gatal. Aku berusaha mengerjap-ngerjapkan mata, berharap air mata alaminya bisa membasuh debu yang masuk. Bukannya membaik, sensasinya justru memburuk. Rasa perih mulai menyengat, diikuti rasa lelah yang luar biasa berat pada kelopak mata. Pandanganku yang semula jernih perlahan-lahan menjadi samar dan berair.
Aku terhenti di dekat halte. Rasanya sangat menyiksa. Setiap kali aku mencoba berkedip, permukaannya terasa sangat kesat, seolah ada butiran pasir halus yang mengganjal di dalam kelopak mata.
Refleks pertama yang muncul tentu saja ingin menguceknya kuat-kuat. Namun, aku sadar betul mengucek mata dengan tangan yang baru saja memegang pegangan LRT dan tiang Transjakarta adalah tindakan fatal yang bisa memicu infeksi berat.
Di sinilah momen bahagia yang sudah kubayangkan sejak dari Bondowoso mendadak buyar. Fokusku yang tadinya penuh dengan keceriaan menyambut teman-teman, mendadak berubah menjadi rasa cemas dan frustrasi.
Bagaimana aku bisa menikmati sesi journaling yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, menempel stiker kecil, memotong kertas ephemera, dan menulis refleksi, kalau menatap lurus saja mataku terasa panas, perih, dan terus berair? Momen penting yang sudah kunantikan berbulan-bulan ini terancam rusak hanya karena masalah mata.
Belajar Memahami Sinyal Bahaya: Mengapa Mata Kering Jangan Pernah Disepelekan?
Sambil menahan rasa tidak nyaman, aku teringat satu hal penting. Selama perjalanan darat berjam-jam dari Bondowoso ke Jakarta, mataku sebenarnya sudah bekerja ekstra keras. Paparan AC mobil yang berembus terus-menerus, ditambah dengan sorot layar smartphone selama perjalanan, sebenarnya sudah menguras lapisan air mataku. Paparan debu dan angin di jalanan Jakarta siang itu hanyalah pemicu terakhir yang membuat pertahanan mataku ambruk.
Banyak dari kita, termasuk aku dulu, yang sering menganggap gejala seperti mata sepet, perih, atau lelah sebagai hal yang biasa. “Ah, cuma kelapelan,” atau “Nanti juga sembuh sendiri kalau diistirahatkan.”
Padahal, secara medis, kombinasi rasa SEpet, PErih, dan LElah adalah gejala utama dari Sindrom Mata Kering (Dry Eye Syndrome). Dan kondisi ini sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata.
Secara anatomi, mata manusia dilindungi oleh lapisan air mata (tear film) yang sangat tipis namun kompleks. Lapisan ini terdiri dari tiga komponen utama:
- Lapisan Minyak (Lipid): Menjaga agar air mata tidak cepat menguap.
- Lapisan Air (Aqueous): Memberi kelembapan dan nutrisi bagi kornea.
- Lapisan Lendir (Mucin): Membantu air mata menempel rata di permukaan mata.
Ketika kita berada di ruangan ber-AC terlalu lama, menatap layar tanpa banyak berkedip, atau terpapar debu dan angin kencang di luar ruangan, keseimbangan tiga lapisan ini terganggu. Air mata menguap lebih cepat daripada kemampuannya diproduksi. Akibatnya, permukaan kornea mengalami gesekan langsung tanpa pelumas.
Jika gejala SePeLe ini dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan yang benar, akibatnya bisa sangat berbahaya. Iritasi ringan bisa berkembang menjadi peradangan kronis (konjungtivitis), kerusakan lapisan epitel kornea, hingga luka terbuka (ulkus kornea) yang berpotensi menurunkan kualitas penglihatan kita secara permanen.
Pengalaman ini menyadarkanku satu hal penting: menjaga kesehatan mata bukan cuma soal kenyamanan visual, tapi juga bagian dari mempraktikkan slow living dan mindfulness, yaitu mendengarkan sinyal tubuh sekecil apapun sebelum berubah menjadi masalah besar.
Menemukan Penyelamat di Mini Market Terdekat
Menyadari kondisi mataku yang makin tidak berkompromi, aku tidak mau membiarkan momen kumpul journaling ini rusak begitu saja. Aku membatalkan niat langsung naik Transjakarta dan memilih melipir sejenak ke minimarket terdekat di sekitar halte.
Dengan mata yang setengah terpejam menahan perih, aku berjalan menuju rak perawatan kesehatan. Mataku langsung tertuju pada kemasan kotak mungil berwarna biru cerah yang sangat familier. Tanpa ragu, aku langsung mengambilnya dan membawanya ke kasir. Produk andalanku: INSTO DRY EYES.
Begitu keluar dari mini market, aku mencari bangku di dalam halte. Aku membersihkan tangan terlebih dahulu, lalu membuka kemasan botol Insto Dry Eyes. Dengan perlahan, aku menengadahkan kepala dan meneteskannya ke mata kanan dan kiri.
Satu tetes… dua tetes…
Sensasinya sungguh luar biasa. Rasanya seperti ada gelombang kesegaran yang sejuk dan menenangkan langsung menyiram permukaan mataku yang tadinya terasa panas dan terbakar. Efek pelumasnya bekerja sangat cepat.
Hanya dalam hitungan detik, rasa ganjalan seperti pasir yang menyiksa tadi perlahan meluruh. Rasa perih mereda, dan sensasi berat di kelopak mata berganti menjadi rasa ringan dan rileks. Begitu membuka mata kembali, pandanganku yang tadinya kabur dan berair berubah menjadi jernih sempurna.
Sungguh sebuah kelegaan yang luar biasa! Aku memegang botol mungil itu dan berbisik dalam hati, untung saja aku cepat tanggap dan memutus rasa sok tahuku. Kalau mata mulai terasa sepet dan panas di tengah jalan, memang pilihan terbaik adalah langsung tetesin Insto Dry Eyes tanpa ditunda-tunda lagi.
Momen Kumpul Journaling yang Berkesan dan Penuh Syukur
Dengan mata yang sudah kembali segar, nyaman, dan jernih, aku melanjutkan perjalanan naik Transjakarta menuju lokasi kumpul dengan hati yang riang.
Sesampainya di kafe tempat kami berjanji, teman-teman komunitas art journaling sudah berkumpul. Pekik gembira dan pelukan hangat menyambut kedatanganku setelah enam bulan terpisah jarak Bondowoso, Jakarta.
Kami segera membongkar isi tas masing-masing. Meja besi berwana hitam kafe yang tadinya kosong, dalam sekejap tertutup oleh tumpukan kertas decor, stiker warna-warni, rubber stamp, dan jurnal-jurnal tebal. Kami saling berbagi bahan journaling, bertukar cerita kehidupan, dan merangkai karya seni di atas kertas jurnal masing-masing.
Sambil menempel kertas ephemera dan menuliskan kalimat-kalimat refleksi dengan pena kaligrafi, aku menatap teman-teman di sekelilingku. Momen kebersamaan ini terasa begitu berharga, hangat, dan presisi.
Tiba-tiba aku membayangkan: bagaimana jadinya kalau tadi aku membiarkan rasa sepet dan perih di mataku? Pasti saat ini aku hanya bisa duduk di sudut meja sambil meringis menahan sakit, tidak bisa menikmati detil warna stiker, dan gagal menggoreskan pena di jurnal kesayanganku.
Di tengah-tengah acara, aku mengeluarkan botol Insto Dry Eyes dari dalam tas dan menaruhnya di meja.
”Eh, Dian bawa Insto juga?” tanya salah seorang teman sambil tersenyum.
“Iya nih, tadi sempat drama mata perih banget kena debu pas jalan berpindah dari LRT. Untung langsung aku tetesin ini,” jawabku.
Temanku terkekeh sambil ikut merogoh tasnya dan mengeluarkan botol yang sama. “Sama dong! Aku juga selalu bawa di tas buat jaga-jaga. Apalagi kalau sudah seharian di ruangan ber-AC atau perjalanan naik transportasi publik di Jakarta, mata gampang banget kerasa sepet dan lelah.”
”Wah, bener banget!” sahutku lega karena ternyata kami sefrekuensi. “Memang soal mata jangan pernah dianggap remeh. Pokoknya kalau #MataSePeLeJanganSepelein deh, biar kita tetap #BebasMataKering dan bisa seru-seruan journaling begini tanpa gangguan.”
Mengambil Pelajaran: Jangan Pernah Menyepelekan Sinyal Tubuh
Perjalanan pulang ke Jakarta kali ini memberiku banyak pelajaran berharga. Menjadi wanita mandiri yang bebas menjelajahi kota dengan transportasi umum memang menyenangkan. Kumpul bersama teman-teman komunitas dan berbagi kebahagiaan lewat journaling adalah nutrisi bagi jiwa.
Namun, semua kebahagiaan itu hanya bisa kita nikmati secara utuh jika kondisi tubuh, terutama mata, berada dalam keadaan sehat dan prima.
Mata adalah jendela kita untuk menikmati keindahan dunia, melihat senyum teman-teman tercinta, dan menciptakan karya-karya seni yang indah di lembaran jurnal. Jangan biarkan momen berharga yang sudah kita nanti-nantikan rusak hanya karena kita malas merawat kesehatan mata.
Mulai sekarang, yuk lebih peka terhadap sinyal tubuh kita! Jika matamu mulai terasa sepet, perih, atau lelah akibat terlalu lama di ruangan ber-AC, menatap layar gadget, atau terpapar debu jalanan, segera ambil langkah penanganan yang tepat. Jangan tunggu sampai iritasi makin parah. Kalau mata sudah mulai memberi sinyal tidak nyaman, langsung tetesin Insto Dry Eyes agar kelembapan alaminya cepat kembali.
Pastikan kamu selalu menyediakan produk pelumas mata terpercaya di dalam tas atau pouch harianmu. Karena bersama #InstoDryEyes, kita bisa kembali menikmati setiap momen penting kehidupan dengan penglihatan yang jernih, nyaman, dan penuh warna. #MataSePeLeJanganSepelein #BebasMataKering #InstoDryEyes!







