Bondowoso Diaries: Membangun Rumah, Menabung Rindu, dan Alasan di Balik Keputusan “Pulang”

“Kok sudah mudik? Puasa saja masih sebulan lagi, lho!”

“Cepat amat mudiknya, takut kehabisan tiket atau gimana?”

Komentar-komentar itu mampir di WhatsApp dan kolom komentar media sosialku sejak akhir Januari lalu. Bagi sebagian besar teman-temanku di Jakarta, ‘mudik’ adalah ritual tahunan menjelang Lebaran, sebuah eksodus massal untuk merayakan kemenangan. Tapi bagiku dan suami, perjalanan kali ini bukan sekadar mudik musiman. Ini adalah sebuah misi, sebuah langkah nyata untuk masa depan yang sedang kami susun bata demi bata di sebuah kota yang tenang di ujung timur Jawa: Bondowoso.

Drama Banjir: Antara Jakarta dan Besuki

tempat aku istirahat sekitar 6 jam akibat macet karena banjir

Rencana awal kami adalah berangkat pada 13 Januari. Namun, alam seolah ingin menguji keseriusan kami. Jakarta dikepung banjir, memaksa kami menunda keberangkatan selama satu minggu penuh. Baru pada tanggal 20 Januari, kami benar-benar bisa memacu kendaraan meninggalkan hiruk-pikuk beton menuju timur.

Sebenarnya, ini adalah tahun ketiga kami melakukan tradisi “mudik lebih awal”. Bedanya, di tahun-tahun sebelumnya, kami menikmati setiap kilometer dengan gaya roadtrip santai menyusuri pulau Jawa selama 7 hingga 10 hari. Tapi tahun ini berbeda. Kami ingin cepat sampai. Kami hanya berencana singgah satu malam di Wonogiri untuk beristirahat.

Namun lagi-lagi, perjalanan ini menguji kesabaran. Saat sudah sangat dekat dengan tujuan, tepatnya di kawasan Paiton, kami harus tertahan. Besuki dilanda banjir besar. Jalanan lumpuh total. Akhirnya, kami terpaksa bermalam di pinggir jalan Paiton di dalam mobil, menunggu air surut. Rasanya ironis; kami lari dari banjir Jakarta, hanya untuk disapa banjir di gerbang masuk Bondowoso. Tapi mungkin, itu adalah cara semesta menyuruh kami untuk sejenak berhenti, menarik napas, dan menyadari bahwa setiap jengkal menuju “pulang” memang butuh perjuangan.

Mengapa Membangun Rumah di Bondowoso?

Pertanyaan besar yang paling sering muncul, dan hampir selalu diucapkan dengan nada heran, adalah:

“Kenapa bangun rumah di Bondowoso kalau masih menetap di Jakarta?”

Pertanyaan ini wajar. Dari luar, keputusannya memang terlihat tidak praktis. Jarak jauh, aktivitas utama masih berpusat di ibu kota, dan Bondowoso sering kali tidak masuk dalam daftar kota impian kebanyakan orang.

Namun, kalau ditanya jujur, jawabannya tidak sesederhana itu. Alasannya berlapis-lapis, bertaut antara logika dan emosi, antara rencana jangka panjang dan panggilan pulang yang pelan tapi konsisten.

1. Investasi Masa Tua di “Kota Pensiunan”

Bondowoso kerap dijuluki, meski tidak resmi, sebagai “Kota Pensiunan.” Udaranya relatif sejuk karena dikelilingi pegunungan, ritme hidupnya tenang, dan biaya hidupnya masih terasa manusiawi dibanding Jakarta yang serba cepat dan melelahkan.

Di sini, hidup tidak terasa seperti perlombaan. Pagi bisa dimulai tanpa tergesa-gesa, dan hari berjalan dengan jeda.

Membangun rumah di Bondowoso adalah cara kami menyiapkan masa tua dengan penuh kesadaran. Bukan sekadar investasi properti, tapi investasi gaya hidup.

Kami membayangkan masa senja yang sederhana: bangun pagi dengan udara segar, menikmati hijau pepohonan dari halaman, dan menjalani hari tanpa tekanan untuk selalu produktif.

Jakarta adalah tempat kami bekerja, bertumbuh, dan berjuang. Tapi Bondowoso adalah tempat kami ingin menetap dengan tenang suatu hari nanti.

2. Kota Asal, Akar, dan Makna “Pulang”

Ada alasan lain yang tidak kalah penting: Bondowoso adalah kota kelahiran suamiku.Di sinilah ia tumbuh, mengenal dunia, dan membangun ingatan masa kecilnya. Ayahnya, keluarga besarnya, dan akar kehidupannya berada di kota ini.

Membangun rumah di Bondowoso bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga soal menjaga koneksi dengan asal-usul. Ini tentang pulang ke akar, ke tempat di mana cerita keluarga dimulai.

Kami ingin tetap dekat dengan orang-orang yang menjadi bagian penting dalam hidup suamiku, tanpa harus selalu menjadi tamu yang datang dan pergi.

Rumah ini adalah jembatan: antara masa lalu dan masa depan, antara keluarga besar dan keluarga kecil yang sedang kami bangun.

Dengan memiliki rumah sendiri, kami bisa pulang bukan sekadar singgah, tapi benar-benar pulang.

3. Logistik, Kepraktisan, dan Si Putih yang Butuh “Rumah”

Alasan berikutnya mungkin terdengar sangat teknis, tapi justru sangat terasa dampaknya.

Selama ini, setiap kali pulang ke Bondowoso, kami menginap di rumah mertua yang berada di kawasan Pecinan, di dalam gang sempit yang tidak bisa dilalui mobil dengan leluasa. Selama bertahun-tahun, mobil kami, Si Putih, harus diparkir di pinggir jalan raya karena tidak ada akses masuk.

Awalnya terasa biasa saja. Tapi lama-lama, rasa tidak tenang itu muncul. Setiap hujan besar turun, ada kekhawatiran. Setiap malam makin larut, ada rasa was-was.

Dengan rumah sendiri yang memiliki carport proper, persoalan kecil ini akhirnya menemukan solusinya. Si Putih kini punya tempat “bobo” yang aman, dan kami pun bisa tidur lebih nyenyak.

Kadang, keputusan besar justru lahir dari kebutuhan sehari-hari yang terus berulang.

4. Mandiri di Atap Sendiri: Kerinduan yang Lama Tertunda

Inilah alasan yang paling emosional dan paling jujur.

Aku rindu “main rumah-rumahan.” Rindu menjadi pengelola utama rumah tanggaku sendiri, hanya aku dan suami.

Perjalanan tempat tinggal kami tidak pernah lurus. Di awal pernikahan, kami sempat hidup berdua di Cibubur. Lalu, karena program hamil, kami kembali tinggal di rumah Mama atas permintaannya.

Kami sempat memiliki rumah sendiri lagi, sebelum badai ekonomi keluarga datang dan rumah Mama harus dijual. Akhirnya, kami semua kembali tinggal satu atap.

Aku sangat menyayangi keluargaku. Tidak ada konflik besar di sana. Tapi ada kebutuhan yang pelan-pelan tumbuh: kebutuhan akan privasi dan kemandirian.

Aku kangen bangun tidur dan hanya melihat suami. Kangen punya ruang sendiri tanpa harus selalu berkompromi dengan banyak kepala dalam satu rumah.

Rumah di Bondowoso menjadi jawaban atas kerinduan itu. Bukan untuk menjauh dari keluarga, tapi untuk kembali ke inti pernikahan kami.

Di bawah atap sendiri, kami ingin belajar lagi hidup sebagai “kami”, utuh, tenang, dan sadar.

Dilema Antara Jakarta dan Bondowoso

Di balik pembangunan rumah ini, ada sebuah mimpi yang diam-diam aku pupuk: Aku ingin pindah selamanya ke Bondowoso.

Aku sudah membayangkan betapa menyenangkannya menetap di sini. Aku merasa Bondowoso punya potensi besar yang belum tergarap maksimal. Aku merasa sangat percaya diri bisa beralih peran menjadi seorang konten kreator lokal. Bayangkan, membagikan konten hidden gem di Bondowoso, atau bahkan melakukan pivot konten ke niche Home Living.

Aku sudah membayangkan akan membuat konten bagaimana menata rumah baru kami, memilih furniture minimalis, hingga tips merawat taman di udara pegunungan. Bondowoso akan menjadi latar belakang yang sempurna untuk estetika kontenku. Aku merasa bisa tumbuh di sini, secara kreatif maupun mental.

Namun, realitanya tidak sesederhana itu. Suamiku masih menjadi “jangkar” kami di Jakarta. Ia masih merasa jauh lebih aman dan nyaman mencari nafkah di ibukota. Baginya, peluang karir dan stabilitas ekonomi saat ini masih ada di sana. Ada keraguan di matanya setiap kali aku melontarkan ide “Gimana kalau kita di sini saja?”.

Ada tarik-ulur antara idealismeku untuk hidup tenang sebagai konten kreator di kampung halaman, dengan tanggung jawab realistis suamiku sebagai kepala keluarga.

Menjalani Ketidakpastian dengan Lapang Dada

Jadi, kalau ditanya “Nanti ujungnya gimana?”, jujur aku pun belum tahu.

Apakah rumah ini akan menjadi tempat tinggal tetap kami dalam waktu dekat? Ataukah ia akan tetap menjadi “rumah singgah” yang menunggu kami setahun sekali? Aku tidak punya jawaban pastinya sekarang.

Saat ini, fokus utamaku adalah melihat progres rumah ini selesai di bulan Februari, atau mungkin Maret. Aku ingin menikmati setiap momen memilih ubin, mengecat dinding, dan mengisi sudut-sudut kosong dengan harapan. Aku ingin merasakan kembali rasanya membantu rumah tangga hanya berdua saja dengan suami, meski mungkin itu hanya untuk beberapa bulan dalam setahun.

Kami memutuskan untuk “jalani saja”. Tidak semua hal dalam hidup harus punya jawaban instan, bukan? Terkadang, membangun rumah adalah tentang membangun fondasi, bukan hanya soal kapan kita akan menempatinya.

Bulan Februari ini, mungkin tulisanku akan banyak berisi curhat soal progres rumah, drama tukang, hingga kegalauan memilih warna gorden. Semoga kamu tetap enjoy membacanya, dan mungkin, bisa ikut merasakan kedamaian (dan sedikit pusingnya) membangun mimpi di Bondowoso.

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment