Pernah nggak sih kamu lagi asyik mau tidur, suasana sudah tenang, lampu sudah redup, tapi tiba-tiba otak kamu memutar kembali kejadian memalukan atau kesalahan besar yang kamu lakukan lima atau sepuluh tahun lalu? Rasanya seperti ada film dokumenter tentang kegagalan kita yang diputar tepat di depan mata. Seketika, dada terasa sesak, perut melilit, dan keinginan untuk memutar balik waktu muncul begitu kuat.
Jujur saja, aku pun sering mengalami hal yang sama. Kita sering kali menjadi hakim yang paling kejam bagi diri kita sendiri. Kita bisa dengan mudah memaafkan teman yang berbuat salah, tapi saat diri sendiri yang melakukan kesalahan, kita menghukumnya tanpa ampun selama bertahun-tahun. Padahal, membawa beban penyesalan itu ibarat berjalan mendaki gunung dengan ransel berisi batu besar. Capek banget, kan?
Di artikel kali ini, aku ingin mengajak kamu mengobrol santai tentang bagaimana caranya kita bisa menurunkan ransel berat itu. Kita akan belajar bersama tentang cara memaafkan diri sendiri agar hidup kita nggak terus-terusan terjebak di masa lalu.
Alasan Mengapa Memaafkan Diri Sendiri Sering Terasa Sangat Berat bagi Kita
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih memaafkan diri sendiri itu susahnya minta ampun? Salah satu alasannya adalah karena kita merasa kalau kita memaafkan diri sendiri, artinya kita “memaklumi” kesalahan tersebut. Kita takut kalau kita nggak merasa bersalah, kita akan menjadi orang jahat atau malah mengulangi kesalahan yang sama.
Padahal, memaafkan itu beda banget dengan melupakan atau membenarkan. Memaafkan diri sendiri itu artinya kamu menerima bahwa kamu adalah manusia yang bisa salah. Rasa bersalah yang berlebihan sebenarnya nggak membantu kita jadi orang yang lebih baik; malah seringnya bikin kita lumpuh dan nggak berani melangkah maju. Kita terjebak dalam lingkaran self-loathing atau membenci diri sendiri yang nggak ada ujungnya.
Langkah Pertama Dimulai dengan Mengakui Kesalahan Tanpa Mencari Pembenaran Apapun
Cara pertama yang harus kita lakukan adalah jujur. Nggak perlu pakai topeng di depan diri sendiri. Akui saja kalau, “Ya, aku memang salah saat itu.” Sering kali kita mencoba lari dari rasa sakit dengan menyalahkan keadaan atau orang lain. Tapi, untuk bisa benar-benar sembuh, kita butuh keberanian untuk menatap kesalahan itu tepat di matanya.
Saat kamu mengakuinya, coba perhatikan apa yang kamu rasakan di tubuh. Mungkin ada rasa panas di wajah atau berat di dada. Jangan dilawan. Biarkan perasaan itu hadir sebentar. Mengakui kesalahan dengan penuh kesadaran (mindfulness) adalah fondasi paling kuat untuk proses pemulihan. Tanpa kejujuran, maaf yang kita berikan pada diri sendiri cuma akan jadi sekadar kata-kata di bibir saja.
Memisahkan Antara Tindakan Buruk dengan Identitas Diri Kamu yang Sebenarnya
Ini poin yang sangat penting untuk kamu pahami. Kamu perlu belajar membedakan antara “Aku melakukan hal buruk” dengan “Aku adalah orang yang buruk”. Dua hal ini sangat berbeda, lho. Saat kamu merasa diri kamu adalah produk gagal karena satu atau dua kesalahan di masa lalu, kamu sedang melakukan ketidakadilan pada dirimu sendiri.
Ingat, manusia itu dinamis. Kita terus bertumbuh. Kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu dilakukan oleh versi “kamu” yang mungkin saat itu belum tahu apa-apa, sedang terluka, atau sedang berada di bawah tekanan hebat. Kamu yang sekarang sudah punya kesadaran untuk berubah adalah bukti bahwa kamu bukan lagi orang yang sama dengan orang yang melakukan kesalahan itu. Jadi, berhentilah melabeli dirimu secara permanen atas tindakan yang sifatnya sementara.
Memanfaatkan Kekuatan Menulis Jurnal untuk Mengurai Emosi yang Menyesakkan Dada
Sebagai orang yang hobi journaling, aku sangat menyarankan cara ini. Kadang, pikiran kita itu seperti benang kusut. Kalau cuma dipikirkan di dalam kepala, rasanya makin lama makin ruwet. Tapi, begitu kamu tuangkan ke atas kertas, semuanya jadi lebih jelas.
Coba ambil jurnal kamu, lalu tuliskan surat untuk diri kamu di masa lalu. Tuliskan apa yang kamu rasakan, apa yang kamu sesali, dan mengapa saat itu kamu mengambil keputusan tersebut. Setelah itu, tuliskan jawaban dari versi kamu yang sekarang yang sudah lebih bijak. Berikan pelukan lewat kata-kata. Katakan pada diri kamu di masa lalu bahwa kamu sudah melihat perjuangannya dan sekarang saatnya untuk berdamai.
Menulis jurnal secara rutin terbukti secara ilmiah bisa menurunkan tingkat stres dan membantu kita memproses trauma atau penyesalan dengan lebih sehat.
Cara Melakukan Perbaikan yang Tulus demi Menebus Kesalahan Masa Lalu di Masa Sekarang
Kadang-kadang, rasa bersalah itu nggak hilang karena memang ada sesuatu yang perlu kita “bayar”. Kalau kesalahan kamu melibatkan orang lain dan memungkinkan untuk meminta maaf, lakukanlah. Namun, ada kalanya kita nggak punya akses lagi ke orang tersebut atau keadaannya sudah nggak memungkinkan untuk bicara.
Jika itu terjadi, lakukanlah “penebusan” secara tidak langsung. Misalnya, kalau dulu kamu pernah menyakiti seseorang dengan kata-kata, sekarang bertekadlah untuk selalu berbicara baik pada siapa pun. Jika dulu kamu pernah bersikap egois, sekarang aktiflah melakukan kegiatan sosial. Jadikan kesalahan masa lalu itu sebagai “bahan bakar” untuk melakukan kebaikan yang lebih besar di masa sekarang. Dengan melakukan hal-hal positif, kamu sedang membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu sudah bertransformasi menjadi versi yang lebih baik.
Praktik Mindfulness untuk Tetap Fokus pada Hari Ini dan Masa Depan yang Lebih Cerah
Mindfulness atau kesadaran penuh adalah kunci agar kita nggak gampang terseret arus masa lalu. Setiap kali pikiran kamu mulai “melipir” ke memori-memori yang bikin menyesal, sadari hal itu secepat mungkin. Katakan dalam hati, “Oh, pikiranku sedang kembali ke masa lalu. Itu sudah lewat. Sekarang aku ada di sini, sedang bernapas, dan aman.”
Kembalilah ke panca indera kamu. Apa yang kamu lihat sekarang? Apa yang kamu dengar? Apa yang kulit kamu rasakan? Dengan membawa kesadaran ke momen saat ini, kamu memberikan sinyal ke otak bahwa bahaya atau kesalahan itu sudah bukan lagi ancaman. Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk tinggal. Fokuslah pada apa yang bisa kamu lakukan hari ini, karena itulah satu-satunya hal yang benar-benar bisa kamu kendalikan.
Menumbuhkan Rasa Kasih pada Diri Sendiri sebagai Bentuk Pemulihan Mental yang Utama
Terakhir, belajarlah untuk mempraktikkan self-compassion. Bayangkan kalau teman baikmu datang kepadamu dan menceritakan kesalahan yang sama dengan yang kamu lakukan. Apa yang akan kamu katakan padanya? Apakah kamu akan memakinya? Atau kamu akan memeluknya dan bilang, “Nggak apa-apa, kita cari solusinya bareng-bareng”?
Kenapa kamu bisa begitu baik pada orang lain tapi begitu kejam pada diri sendiri? Kamu juga layak mendapatkan kasih sayang yang sama. Perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan sahabat terbaikmu. Berikan dirimu ruang untuk bernapas, ruang untuk salah, dan yang paling penting, ruang untuk tumbuh. Memaafkan diri sendiri adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri.
Menutup Lembaran Lama untuk Menulis Cerita Baru yang Lebih Bahagia di Masa Depan
Memaafkan diri sendiri memang bukan proses yang sekali jadi lalu selesai. Ini adalah perjalanan yang berliku, kadang ada hari di mana kamu merasa sudah tenang, tapi di hari lain rasa sesal itu datang lagi. Dan itu nggak apa-apa. Itu manusiawi banget.Hal yang perlu kamu ingat adalah setiap hari adalah kesempatan baru. Kamu nggak ditentukan oleh apa yang terjadi kemarin atau tahun lalu. Kamu ditentukan oleh apa yang kamu pilih untuk lakukan hari ini. Jadi, yuk, mulai perlahan-lahan lepaskan beban itu. Tarik napas yang dalam, hembuskan, dan katakan pada dirimu: “Aku memaafkanmu. Mari kita mulai lagi.”
Semoga artikel ini bisa menjadi pelukan hangat buat kamu yang sedang berjuang berdamai dengan masa lalu. Kamu nggak sendirian, dan kamu sangat berharga, terlepas dari apa pun yang sudah terjadi.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir ya. Kalau kamu punya cerita atau pengalaman tentang bagaimana cara kamu memproses penyesalan, boleh banget lirik kolom komentar atau sapa aku di media sosial. Mari kita terus bertumbuh bersama dalam kesadaran penuh.


