Membasuh Jiwa di Balik Tumpukan Cucian: Menemukan Mindfulness dalam Pekerjaan Rumah Tangga

Siapa di sini yang merasa kalau pekerjaan rumah tangga itu nggak ada habisnya? Baru selesai menyapu, eh, ada remah biskuit lagi. Baru selesai mencuci piring, gelas kotor sudah nongkrong lagi di wastafel. Kadang, melihat daftar to-do list rumah tangga itu rasanya lebih melelahkan daripada lari maraton.

Dulu, aku selalu menganggap pekerjaan rumah itu sebagai “penghalang”. Penghalang untuk aku bisa kerja, penghalang untuk istirahat, atau penghalang untuk melakukan hal-hal yang lebih menyenangkan. Sampai akhirnya, aku sadar: kalau aku terus-terusan menganggapnya sebagai beban, maka selamanya aku akan hidup dalam rasa kesal setiap kali memegang sapu.

Di sinilah aku mulai belajar tentang Mindfulness. Ternyata, kita nggak harus selalu duduk diam bermeditasi di atas matras untuk merasa tenang. Kita bisa “bermeditasi” sambil memegang spons cuci piring.

Sebelum kita bahas lebih jauh, aku mau bikin pengakuan jujur. Dari semua pekerjaan rumah tangga, ada satu yang paling aku hindari: menyetrika.

Buat aku, menyetrika itu adalah puncak dari segala kebosanan. Hawanya panas, gerakannya repetitif, dan kalau salah sedikit, baju kesayangan bisa rusak. Biasanya, kalau sudah melihat tumpukan baju yang sudah kering tapi masih menggunung di pojok kamar, rasanya ingin aku tutup saja pakai kain biar nggak kelihatan.

Dulu, saat menyetrika, pikiranku biasanya lari ke mana-mana. Aku sibuk memikirkan tagihan, memikirkan apa yang harus aku tulis di blog besok, atau menyesali perkataan orang lain tadi siang. Akhirnya, aku jadi makin stres, badan pegal, dan hati nggak karuan.

Sampai suatu hari, aku mencoba pendekatan berbeda. Aku mencoba menjadikan waktu menyetrika sebagai waktu untuk “hadir utuh”. Aku merasakan panasnya setrika di telapak tangan, mencium aroma pewangi pakaian yang menguap, dan memperhatikan kerutan yang perlahan menghilang. Ajaibnya, rasa benci itu pelan-pelan berkurang, digantikan oleh rasa tenang.

Apa Itu Mindfulness dalam Pekerjaan Rumah?

Mindfulness sebenarnya sederhana: sadar sepenuhnya pada apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa menghakimi.

Saat kita menyapu, ya pikiran kita ada di sapu dan debu. Bukan di drama Korea yang belum selesai kita tonton atau di email kantor yang belum dibalas. Saat kita melakukan pekerjaan rumah dengan mindfulness, kita mengubah kegiatan yang sifatnya “otomatis” menjadi sebuah ritual yang sakral.

Berikut adalah beberapa cara praktis yang aku terapkan untuk mengubah pekerjaan rumah tangga menjadi latihan mindfulness harian:

1. Cuci Piring: Rasakan Aliran Airnya

Mencuci piring sering dianggap pekerjaan sepele, padahal justru di sinilah mindfulness paling mudah dipraktikkan. Bukan saat duduk bersila dengan mata terpejam, tapi saat tanganmu benar-benar hadir di bawah aliran air.

Alih-alih ingin cepat selesai, coba perlambat sedikit ritmenya dan sadari hal-hal kecil berikut:

  • Suhu air yang mengalir dan menyentuh kulit tanganmu, hangat, dingin, atau suam-suam kuku.
  • Tekstur busa sabun yang licin dan lembut di sela-sela jari.Suara denting piring yang saling bersentuhan, ritmis dan apa adanya.
  • Perubahan nyata saat piring yang tadinya berminyak perlahan menjadi kesat dan bersih.

Memilih sabun cuci piring yang aman dan ramah lingkungan juga bisa membuat pengalaman ini terasa lebih nyaman, bukan hanya untuk kulit tanganmu, tapi juga untuk keluarga dan lingkungan. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang Yuri Indonesia sebagai pilihan bersih, sehat, dan ramah lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup sadar yang lebih berkelanjutan.

Aktivitas sederhana ini adalah bentuk grounding yang sangat efektif. Setiap kali pikiranmu melayang ke masa lalu atau cemas tentang masa depan, lembutkan diri untuk kembali ke saat ini, ke sensasi air di tanganmu.

Jika kamu ingin memperdalam latihan hadir di momen sekarang, kamu juga bisa mengombinasikannya dengan teknik grounding 5-4-3-2-1 yang membantu menenangkan sistem saraf melalui pancaindra. Kadang, ketenangan tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia sudah ada di wastafel dapur rumahmu.

2. Menyapu dan Mengepel: Menyadari Setiap Langkah

Menyapu dan mengepel bukan sekadar membersihkan rumah, tapi juga kesempatan untuk merapikan pikiran. Saat menyapu, perhatikan gerakan tanganmu yang berirama, maju, mundur, mengumpulkan debu-debu kecil yang sempat terabaikan. Ada kepuasan sederhana ketika lantai yang tadinya berantakan perlahan menjadi bersih.

Ketika mengepel, sadari setiap pijakan kakimu. Rasakan lantai yang dingin menyentuh telapak kaki, aroma cairan pel yang segar, dan bunyi pel yang beradu lembut dengan permukaan lantai. Kita sering mengepel seperti sedang mengejar maling, cepat, tegang, dan ingin segera selesai. Padahal, tak ada yang benar-benar perlu dikejar.

Coba perlambat temponya. Tarik napas saat mendorong pel ke depan. Buang napas perlahan saat menariknya kembali.Biarkan napas dan gerakan saling menyelaraskan. Jadikan setiap langkah sebagai pengingat bahwa kamu sedang berada di sini, di rumahmu, di tubuhmu sendiri. Inilah versi sederhana dari walking meditation, tanpa alas yoga, tanpa ruang sunyi, cukup lantai rumah dan kesediaan untuk hadir sepenuhnya.

3. Menyetrika: Ritual Kehadiran yang Hangat

Jujur saja, menyetrika adalah pekerjaan rumah yang paling sering bikin aku mengeluh. Tapi justru karena itu, aku mencoba mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Aku menyebutnya “Ritual Menyetrika dengan Hati.”

Mulailah dengan menciptakan ruang yang tenang. Matikan televisi atau gangguan suara yang bising. Jika ingin ditemani musik, pilih yang lembut, instrumen pelan atau suara alam yang menenangkan. Lalu, sebelum setrika menyentuh kain, sempatkan menarik napas dan mencium aroma pakaian yang bersih. Sederhana, tapi menenangkan.

Saat menyetrika, perhatikan proses transformasinya. Kain yang tadinya kusut perlahan menjadi rapi, licin, dan hangat. Anggap ini sebagai pengingat lembut bahwa pikiran kita yang semrawut pun bisa dirapikan, bukan sekaligus, tapi satu lipatan demi satu lipatan.

Dan ketika punggung mulai terasa pegal, jangan buru-buru mengeluh. Anggap itu sebagai sinyal dari tubuh yang mengajakmu kembali sadar. Tegakkan punggung, rilekskan bahu, lalu ambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. Kamu tidak sedang dikejar waktu. Kamu sedang hadir.Kadang, kehadiran tidak terasa seperti damai. Ia terasa hangat, pelan, dan sedikit melelahkan, seperti setrika yang bekerja merapikan kehidupan sehari-hari kita.

4. Menyiapkan Masakan: Mindful Eating Dimulai dari Dapur

Mindfulness dalam makanan tidak dimulai saat sendok pertama menyentuh mulut, tapi jauh sebelumnya, saat tanganmu memotong sayuran di dapur. Di sanalah kehadiran mulai dibangun. Perhatikan warna-warni sayuran yang segar dan cerah, bentuknya yang tidak selalu sempurna, tapi penuh kehidupan.

Dengarkan suara pisau yang beradu dengan talenan, ritmis, stabil, menenangkan. Cium aroma bawang yang perlahan berubah saat ditumis, mengisi ruang dapur dengan kehangatan yang akrab. Setiap indera diajak ikut hadir, bukan sekadar bekerja otomatis.

Ketika kita memasak dengan kesadaran, hubungan kita dengan makanan pun berubah. Kita jadi lebih menghargai setiap suapan, karena tahu ada proses, waktu, dan perhatian yang tertanam di dalamnya. Inilah fondasi dari mindful eating, hadir sepenuhnya, tanpa tergesa, tanpa distraksi.

Kalau kamu ingin membawa praktik ini sampai ke meja makan, kamu bisa melanjutkannya dengan mindful eating: belajar hadir di meja makan tanpa distraksi gadget sebagai kelanjutan alami dari kehadiran yang sudah kamu bangun sejak di dapur.

Karena makanan bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang bagaimana kita hadir saat menyiapkannya, dan saat menikmatinya.

Mengapa Kita Perlu Melakukan Ini?

Mungkin kamu bertanya, “Kenapa sih harus repot-repot mindful? Bukannya pekerjaan rumah memang lebih enak kalau cepat selesai?” Pertanyaan itu wajar. Kita hidup di dunia yang mengagungkan kecepatan. Tapi sayangnya, tubuh dan pikiran kita tidak selalu bisa mengikuti ritme itu.

Jawaban singkatnya: karena kesehatan mental kita jauh lebih berharga daripada sekadar rumah yang cepat rapi.

Saat kita melakukan pekerjaan rumah dengan kesadaran, ada manfaat yang pelan-pelan tapi nyata:

1. Mengurangi Stres

Ketika kita fokus pada satu aktivitas saja (mono-tasking), otak tidak dipaksa lompat ke sana-sini. Beban mental berkurang, napas lebih stabil, dan tubuh terasa sedikit lebih ringan dibanding saat multitasking tanpa henti.

2. Menurunkan Hormon Kortisol

Aktivitas repetitif seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, jika dilakukan dengan sadar, memberi efek menenangkan yang mirip meditasi. Sistem saraf mendapat sinyal bahwa kita aman, tidak sedang dikejar apa pun.

3. Menumbuhkan Rasa Syukur yang Nyata

Kita mulai sadar bahwa ada rumah yang bisa dirawat, makanan yang bisa dimasak, dan pakaian yang bisa dikenakan. Bukan sebagai kewajiban yang melelahkan, tapi sebagai bukti bahwa kebutuhan dasar kita terpenuhi hari ini.

Pada akhirnya, mindfulness dalam pekerjaan rumah bukan soal menambah beban baru. Justru sebaliknya, ini adalah cara lembut untuk menjaga diri, di tengah rutinitas yang sudah pasti kita jalani setiap hari.

Menutup Hari dengan Hati yang Lapang

Pekerjaan rumah tangga akan selalu ada selama kita masih bernapas dan tinggal di sebuah rumah. Pilihannya ada di tangan kita: mau menjadikannya sumber gerutu harian, atau menjadikannya sarana untuk pulang ke diri sendiri.

Tahun 2026 ini, aku ingin lebih banyak “hadir” di setiap jengkal rutinitasku. Termasuk saat aku harus berhadapan dengan setrikaan yang dulu aku benci itu. Ternyata, saat kita mengubah cara pandang, dunianya pun ikut berubah.

Jadi, pekerjaan rumah apa yang paling kamu hindari? Coba deh, besok lakukan pekerjaan itu dengan penuh kesadaran. Rasakan perbedaannya di hati kamu.

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment