Pernah nggak sih, kamu merasa isi kepala itu penuh banget? Kayak tab browser yang dibuka barengan sampai 50 jendela, terus semuanya bunyi musik yang berbeda-beda. Bingung, berisik, dan akhirnya malah bikin kita stuck nggak tahu mau ngapain dulu.
Jujur, aku sering banget ngerasa gitu. Apalagi di tengah dunia yang serba cepat ini, tuntutan kerjaan, urusan rumah tangga, sampai notifikasi media sosial seringkali bikin pikiran kita jadi benang kusut. Nah, di saat-saat “penuh” itulah, aku menemukan satu penyelamat yang sederhana tapi dampaknya luar biasa: Journaling.
Mungkin kamu mikir, “Duh, aku kan bukan penulis,” atau “Journaling itu bukannya cuma buat anak remaja yang lagi naksir temen sekolah ya?” Eits, hapus dulu pikiran itu! Di artikel ini, aku mau ajak kamu ngobrol santai tentang apa itu journaling, kenapa ini penting banget buat kesehatan mental kita, dan gimana caranya mulai tanpa rasa beban.
Yuk, siapkan kopi atau teh favoritmu, dan mari kita bedah bareng-bareng!
Mengenal Journaling Lebih dari Sekadar Menulis
Sederhananya, journaling adalah kegiatan menuangkan pikiran dan perasaan kita ke dalam bentuk tulisan (atau gambar). Bedanya sama buku harian atau diary zaman sekolah dulu apa? Sebenarnya intinya sama, tapi journaling lebih dari sekadar mencatat “tadi makan apa” atau “tadi pergi ke mana”.
Journaling adalah ruang aman bagi kamu untuk jujur sama diri sendiri. Ini adalah momen di mana kamu nggak perlu pakai topeng, nggak perlu jaga imej, dan nggak perlu takut dihakimi orang lain. Di atas kertas, kamu adalah dirimu yang paling otentik. Kamu bisa marah-marah, bisa nangis sesenggukan lewat tulisan, atau sekadar merencanakan mimpi-mimpi besar yang selama ini cuma berani kamu simpan di kepala.
Sisi Magis Journaling yang Sayang Banget Kalau Dilewatkan
Kenapa nggak cuma dipikirin aja? Kan sama-sama mikir?
Beda banget, lho. Saat pikiran cuma ada di kepala, mereka bentuknya abstrak dan seringkali muter-muter di situ-situ aja (ini yang namanya overthinking). Tapi begitu kamu tuliskan, pikiran itu jadi “benda nyata” yang bisa kamu lihat. Ini beberapa manfaat yang aku rasain sendiri:
- Mengurangi Kecemasan: Begitu beban pikiran pindah ke kertas, rasanya pundak jadi lebih ringan. Kamu kayak baru saja “curhat” ke sahabat yang paling setia.
- Mengenal Diri Lebih Dalam: Dengan rajin menulis, kamu bakal sadar pola pikirmu. Oh, ternyata aku sering cemas kalau menghadapi situasi A, ya? Oh, ternyata hal-hal kecil seperti B bisa bikin aku bahagia banget, ya?
- Meningkatkan Fokus: Setelah semua “sampah pikiran” dibuang lewat brain dump, otak kita jadi punya ruang lebih untuk fokus ke hal-hal yang benar-benar penting.
- Sarana Mindfulness: Menulis memaksa kita untuk hadir di saat ini (present moment). Kamu akan merasakan gesekan pena di kertas, bau buku baru, dan perlahan-lahan napasmu akan lebih teratur.
4 Jenis Journaling: Mana yang Cocok Buat Kamu?
Nggak ada aturan baku dalam journaling. Kamu bebas memilih metode mana yang paling bikin kamu nyaman. Ini beberapa jenis yang populer:
1. Gratitude Journaling (Jurnal Syukur)
Ini yang paling simpel tapi paling ampuh buat mengubah mood. Caranya, setiap hari kamu tuliskan minimal 3 hal yang kamu syukuri. Nggak harus hal besar kayak menang lotre. Bisa sesederhana “bersyukur tadi pagi kopinya enak banget” atau “bersyukur ada tukang paket dateng pas aku lagi di rumah”. Fokus ke hal positif bikin otak kita terlatih untuk melihat kebaikan di tengah kesulitan.
2. Brain Dump
Ini favorit aku kalau lagi stres berat. Caranya? Tulis aja SEMUA yang ada di kepala tanpa filter. Jangan mikirin tata bahasa, jangan mikirin tanda baca, pokoknya tumpahkan aja semuanya sampai kepalamu terasa kosong. Setelah itu, biasanya kita baru bisa memetakan mana masalah yang beneran butuh solusi dan mana yang cuma “noise” aja.
3. Bullet Journaling (BuJo)
Kalau kamu tipe orang yang suka keteraturan sekaligus senang kreativitas, Bullet Journal adalah pilihannya. Kamu bisa bikin jadwal, habit tracker, sampai daftar buku yang mau dibaca dalam satu buku. Kamu bisa pakai stiker lucu, washi tape, atau spidol warna-warni biar tampilannya cantik.
4. Morning Pages
Teknik ini dipopulerkan oleh Julia Cameron. Aturannya: tulis 3 halaman penuh setiap pagi segera setelah kamu bangun tidur. Tulis apa saja secara spontan. Ini kayak “membersihkan selokan” pikiran sebelum kamu memulai hari.
Alat Tempur: Harus Mulai dari Mana?
Ini pertanyaan yang sering banget muncul: “Aku harus beli notebook mahal yang harganya ratusan ribu itu nggak sih?” Jawabannya: nggak harus. Memang, punya buku tulis yang bagus dan pulpen yang enak dipakai bisa menambah semangat. Tapi inti dari journaling bukan di estetikanya, melainkan di konsistensinya.
Kamu bisa mulai dari buku tulis sederhana saja. Yang penting kertasnya nyaman buat kamu tulisin dan bikin kamu ingin buka lagi besok. Tambahkan pulpen favorit yang tintanya lancar dan nggak bikin tangan cepat pegal. Soal aksesoris, itu sepenuhnya opsional. Kalau kamu tipe yang suka stiker, washi tape, atau dekorasi kecil, silakan. Buat sebagian orang (termasuk aku), menghias jurnal justru jadi terapi tersendiri yang menyenangkan.
Kalau kamu lebih nyaman ngetik, journaling digital juga sah-sah saja. Ada banyak aplikasi keren seperti Day One, Notion, atau bahkan Notes bawaan HP. Tapi secara pribadi, aku tetap merekomendasikan media fisik, karena menulis manual menciptakan koneksi saraf yang lebih kuat antara tangan dan otak. Sensasinya berbeda, dan sering kali bikin kita lebih “hadir” dengan apa yang sedang kita tulis.
Cara Mulai Journaling (Tanpa Rasa Bingung)
Oke, sekarang bukunya sudah ada, pulpennya sudah siap. Terus apa? Biasanya pas lihat kertas putih yang masih bersih, kita malah jadi nge-blank. Tenang, ini tips buat kamu:
1. Jangan Tunggu Momen Sempurna
Nggak perlu nunggu punya meja kerja yang cantik atau nunggu pas lagi zen. Kamu bisa menulis di meja makan, di sela-sela jam istirahat kantor, atau di atas kasur sebelum tidur.
2. Cukup 5-10 Menit Saja
Jangan langsung pasang target menulis satu jam. Itu berat! Mulai saja dengan 5 menit sehari. Yang penting rutin. Konsistensi itu jauh lebih mahal daripada durasi.
3. Jujur dan Jangan Mengedit
Ingat, jurnal ini bukan buat diterbitkan atau buat dibaca orang lain. Jangan malu sama perasaanmu sendiri. Kalau lagi kesel sama seseorang, tulis aja. Kalau lagi ngerasa gagal, tulis aja. Mengedit tulisan saat journaling itu cuma bakal menghambat aliran perasaanmu.
Bingung Mau Nulis Apa? Coba Prompt Ini!
Kalau kamu masih menatap kertas kosong dengan bingung, coba jawab pertanyaan-pertanyaan (prompt) di bawah ini:
- Apa satu hal yang membuatku tersenyum hari ini?
- Apa tantangan terbesar yang aku hadapi minggu ini, dan apa yang aku pelajari darinya?
- Jika aku punya waktu luang satu hari penuh tanpa gadget, aku ingin ngapain?
- Tuliskan 3 sifat yang aku sukai dari diriku sendiri.
- Apa hal yang saat ini membuatku merasa cemas, dan apakah itu benar-benar bisa aku kendalikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bakal memancing pikiranmu untuk mulai bercerita.
Tantangan Terbesar: Konsistensi
Banyak orang semangat di minggu pertama, tapi begitu masuk minggu kedua, bukunya sudah tertimbun debu. Supaya nggak gitu, coba deh kaitkan journaling dengan rutinitas yang sudah ada (habit stacking). Misalnya, “Setelah aku minum kopi pagi, aku akan menulis satu paragraf di jurnal.”
Dan kalau kamu melewatkan satu hari, jangan menghukum diri sendiri. Nggak apa-apa banget! Besok tinggal mulai lagi. Journaling seharusnya jadi bentuk self-care, bukan malah jadi beban baru di daftar to-do list kamu.
Mari Melangkah Bersama di Atas Kertas
Menulis adalah cara kita berdialog dengan diri sendiri. Di tengah kebisingan dunia, journaling adalah cara kita untuk kembali “pulang” ke rumah yang sesungguhnya: hati dan pikiran kita sendiri.
Percayalah, saat kamu mulai menuangkan isi kepalamu ke atas kertas, kamu nggak cuma lagi nulis kata-kata. Kamu lagi menyembuhkan diri, merapikan kekacauan, dan membangun fondasi yang lebih kuat untuk ketenangan batinmu. Nggak ada kata terlambat untuk mulai mengenal diri sendiri lebih dalam.
Jadi, kapan kamu mau ambil pena dan mulai goresan pertamamu?
Nah, sekarang giliran kamu!
Aku pengen tahu banget, apakah kamu sudah pernah mencoba journaling sebelumnya? Atau mungkin kamu punya kendala tertentu yang bikin kamu ragu buat memulai? Atau jangan-jangan kamu punya koleksi buku tulis cantik yang masih “sayang” buat dipake? (Tenang, kamu nggak sendirian kok kalau yang ini, hehe).
Yuk, ceritain pengalaman atau pendapat kamu di kolom komentar di bawah ya! Aku bakal seneng banget bisa ngobrol dan berbagi tips lebih lanjut bareng kalian. Sampai ketemu di kolom komentar!



