Kang Narman: Jembatan Sunyi dari Baduy ke Dunia Digital

Di sebuah pameran di jantung kota Jakarta, di antara lampu putih yang terlalu terang dan suara musik yang terlalu cepat, aku bertemu seorang lelaki dari dunia yang berjalan pelan. Di mejanya tergelar kain-kain tenun dengan warna yang tak bisa diciptakan oleh pabrik: merah muda yang lembut seperti fajar di balik kabut, hijau muda yang menyejukkan seperti daun setelah hujan pertama. Di tengah keramaian itu, Kang Narman duduk tenang, mengenakan baju hitam sederhana dan ikat kepala khas Baduy. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya memancarkan sesuatu yang lebih dalam dari kata-kata, semacam keyakinan bahwa hidup tidak harus berlari agar sampai.

Aku menghampirinya karena penasaran dengan tenunan di tangannya. “Dari Baduy, Kang?” tanyaku.

Ia tersenyum kecil, menatap benang yang sedang ia gulung. “Iya. Dari Kanekes. Dari tanah yang tidak kenal listrik, tapi masih kenal cahaya.”

Kalimat itu menancap di pikiranku seperti mantra. Dalam dunia yang semakin silau oleh layar, ia datang membawa sejumput ketenangan dari masa lalu. Tapi yang membuatku tercengang bukan hanya kain tenunnya, melainkan kisah di balik bagaimana kain-kain itu bisa sampai ke kota, melalui jalan sunyi yang tak biasa, melalui keberanian seorang anak muda Baduy yang diam-diam masuk ke dunia digital.

Sore itu, di sela aroma kayu dan kopi pameran, Kang Narman bercerita. Tentang warnet. Tentang bagaimana ia dulu diam-diam menyelinap keluar kampung, berjalan kaki ke kota, demi mengenal makhluk bercahaya bernama “internet”.“

Saya dulu nggak tahu apa itu internet,” katanya pelan. “Tapi saya lihat anak-anak luar kampung sering ke warnet, lalu bisa jual barang lewat layar. Saya pikir, kalau kerajinan Baduy bisa dijual begitu, orang kota bisa tahu kami bukan cuma cerita di buku.”

Ia mengucapkannya dengan nada lirih, tanpa ambisi, tanpa kebanggaan yang berlebihan. Seolah semua itu bukan keberanian besar, tapi sekadar bagian kecil dari kewajiban hidup, seperti menenun, seperti menanam padi, seperti menjaga adat agar tetap bernapas.

Baduy, Dunia yang Menolak Waktu

Baduy adalah negeri yang menolak jam. Di sanalah waktu berjalan bukan dengan detik, tapi dengan langkah kaki dan arah angin. Di sana, sinyal ponsel lenyap sebelum mencapai puncak bukit, dan malam turun dengan hening yang bisa membuat siapa pun menunduk.

Orang Baduy percaya bahwa teknologi adalah pintu yang bisa membawa manusia tersesat dari keseimbangan alam. Karena itu, mereka menjaga jarak dari listrik, kendaraan, bahkan sabun kimia. Dalam diam mereka tersimpan filosofi purba: manusia tidak perlu menaklukkan alam, cukup berjalan berdampingan dengannya.

Tapi di setiap masa, selalu ada satu orang yang lahir dengan pandangan lebih jauh dari garis cakrawala. Di Baduy Luar, anak muda bernama Narman tumbuh dengan rasa ingin tahu yang lebih besar dari kampungnya. Ia melihat dunia luar lewat pedagang yang datang membawa cerita, lewat kain yang dibarter dengan gula, lewat anak-anak kota yang lewat dengan ponsel di tangan.“

Saya dulu suka lihat mereka memotret. Dalam hati, saya ingin tahu, kenapa orang bisa lihat gambar dari tempat jauh,” ujarnya.

Ia tidak tahu istilah seperti “teknologi digital” atau “pemasaran daring”. Tapi ia tahu satu hal: jika kain tenun bisa dibawa oleh pikiran, maka tak perlu lagi menunggu orang datang ke kampung untuk mengenalnya.

Di sela hutan bambu dan sungai kecil yang jernih, Kang Narman belajar membaca dan menulis dengan cara yang sederhana. Ia tidak bersekolah, tapi belajar dari sisa kertas koran, dari pedagang luar yang mau mengajarinya mengeja. Dalam waktu yang tidak lama, ia sudah bisa menulis namanya sendiri, Narman, dan dengan nama itu pula ia membuka jendela baru ke dunia.Kisah ini seperti dongeng di negeri yang menolak listrik. Suatu malam, dengan keberanian yang menegangkan, Kang Narman melangkah keluar kampungnya, menuju warung internet di kecamatan terdekat. Ia berjalan kaki berjam-jam, melewati jalan tanah, dengan kain tenun tergulung di tangannya. Di depan warnet yang remang, ia ragu sejenak. Bau asap rokok dan dengung komputer menyambutnya seperti dunia asing.

“Saya cuma bilang ke penjaga, saya mau belajar kirim foto,” ceritanya sambil tertawa. “Dia bingung, saya juga bingung. Tapi akhirnya, saya bisa lihat kain Baduy saya muncul di layar. Rasanya seperti sihir.”

Dari layar itulah dunia luar mulai mengenal Baduy bukan sekadar legenda, tapi kenyataan yang hidup. Ia membuat akun media sosial sederhana, memotret kerajinan dengan ponsel pinjaman, dan mengunggahnya dengan caption polos: Tenun asli Baduy. Buatan tangan kami.

Awalnya hanya satu dua orang yang membeli. Tapi lambat laun, pesanan datang dari berbagai kota. Narman tidak menyangka kain yang dulu hanya dijual di pasar Rangkasbitung kini bisa sampai ke Jakarta, Bandung, bahkan luar negeri.

Tapi di balik keberhasilan itu, ada ketegangan yang tidak bisa dihindari.

Antara Larangan dan Harapan

Ketegangan itu datang dari dua arah: dari adat yang ia cintai, dan dari perubahan yang ia mulai jalani.

Di Baduy, langkah sekecil apapun menuju dunia modern sering dianggap sebagai garis tipis antara keberanian dan pelanggaran. Kang Narman tahu itu. Tapi ia juga tahu bahwa dunia luar sudah bergerak terlalu cepat untuk diabaikan sepenuhnya.

“Saya tidak mau budaya kami hilang hanya karena kami diam,” katanya suatu sore. “Kalau kami menolak semua yang baru, lama-lama orang lupa siapa kami.”

Ia paham benar bahwa menolak arus bukan berarti menutup diri. Ia justru ingin menjadikan arus itu sebagai jembatan, bukan untuk keluar dari Baduy, tapi untuk membuat dunia datang dengan lebih hormat.

Dalam setiap unggahan yang ia buat, Narman selalu menulis dengan hati-hati. Ia tak pernah menampilkan wajah perempuan Baduy, tak pernah memotret upacara adat, tak pernah mengungkap hal-hal yang dianggap suci. Ia tahu batasnya.

“Yang saya bagikan hanya hasil kerja tangan,” ujarnya. “Bukan rahasia hidup kami.”

Di titik itulah kecerdasan sosialnya terlihat: ia menjadi penjaga gerbang antara dua dunia, dunia yang berpijak di tanah, dan dunia yang hidup di layar.

Dari hasil penjualan daring itu, Kang Narman tak pernah menyimpan semuanya untuk diri sendiri. Ia menyalurkan sebagian keuntungan untuk membantu warga Baduy Luar lainnya memasarkan hasil tenunan dan kerajinan bambu. Perlahan, ia mengajari beberapa anak muda bagaimana memotret produk, menulis pesan singkat, dan mengirim barang ke luar kampung.

Bagi masyarakat yang hidup dengan prinsip kesederhanaan, apa yang ia lakukan bukan sekadar bisnis. Itu cara baru untuk menjaga kebanggaan lama.

Cahaya dari Serat-serat Benang

Pic Source: SWA

Jika kau pernah melihat tenunan Baduy, kau akan tahu: setiap helai benangnya adalah waktu yang dirajut pelan. Tidak ada mesin, tidak ada pola instan. Hanya tangan, kesabaran, dan doa yang dijahitkan di sela-selanya.

Kain-kain itu bukan hanya barang jualan. Mereka adalah catatan sejarah yang tidak ditulis di kertas, melainkan di serat kapas yang dipintal. Setiap motif punya makna, garis lurus melambangkan jalan hidup, warna-warna cerah seperti hijau dan merah muda menjadi lambang keseimbangan antara alam dan manusia.

“Kalau menenun itu tidak boleh marah,” kata Narman padaku. “Kalau hati tidak tenang, benangnya kusut.”

Aku mengingat kalimat itu lama setelah pameran usai. Ada filosofi sederhana yang terasa menampar keras: dunia ini sering kusut karena kita menenunnya dengan hati yang terburu-buru.

Kini, berkat usahanya, kain-kain Baduy mulai dikenal lebih luas. Bukan hanya karena eksotisnya, tapi karena kisah di balik tiap helai: kisah perjuangan seorang anak kampung yang berani menyentuh teknologi tanpa kehilangan arah.

Beberapa kali ia diundang ke kota untuk berbicara dalam forum kewirausahaan sosial. Ia datang dengan pakaian hitamnya, berjalan pelan, menatap semua orang seperti menenun pandangan. Setiap kali ia berbicara, ruangan seolah menjadi tenang, kata-katanya sederhana, tapi mengandung keteguhan yang langka di dunia yang sibuk dengan pencitraan.

“Teknologi itu seperti pisau,” ujarnya. “Kalau dipakai dengan niat baik, bisa membantu. Tapi kalau tidak hati-hati, bisa melukai jati diri.”

Jalan ke Penghargaan

Pic Source: Kompasiana

Suatu hari, kabar datang dari Jakarta: ia dinobatkan sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2018, penghargaan bergengsi dari Astra bagi sosok muda inspiratif di berbagai bidang.

Saat nama “Narman, Penggerak Usaha Anyaman Baduy” disebut, ia hanya menunduk. Tak ada tepuk tangan keras dari kampungnya, tak ada pesta. Tapi bagi mereka yang tahu perjuangannya, itu bukan sekadar piala. Itu adalah pengakuan bahwa suara dari desa pun bisa bergema hingga pusat kota.

“Saya tidak kejar penghargaan,” katanya suatu kali, “Saya cuma ingin orang tahu, kami ada. Kami masih menenun, masih menjaga hutan.”

Astra memilihnya bukan hanya karena ketekunannya dalam melestarikan tenun Baduy, tapi karena keberaniannya memadukan adat dengan inovasi. Di tengah dunia yang serba instan, Kang Narman menunjukkan bahwa perubahan bisa dilakukan tanpa menghancurkan akar.

Penghargaan itu membuka lebih banyak pintu. Ia diajak kolaborasi dengan berbagai komunitas dan lembaga yang peduli pada ekonomi kreatif berbasis budaya. Tapi Narman tetap Narman. Ia selalu menolak tinggal lama di kota, selalu ingin pulang setelah acara selesai.“Saya ini cuma perantara,” katanya. “Yang penting, budaya kami tetap hidup.”

Di Antara Dua Dunia

Aku membayangkan Kang Narman seperti benang yang menghubungkan dua sisi kain, satu sisi adalah dunia tradisi yang menenangkan, sisi lain adalah dunia modern yang berkilau. Ia menenun keduanya dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang putus.

Kisahnya membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentang bagaimana manusia sering terjebak antara menjaga dan berubah, antara takut kehilangan dan takut tertinggal. Kang Narman menemukan cara untuk tidak memilih salah satu, melainkan menyeimbangkan keduanya.

Di dunia yang semakin digital, ia justru menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak berarti meninggalkan nilai. Bahwa teknologi bukan musuh budaya, asal dipegang oleh orang yang tahu batas.

“Saya tetap ikut adat,” katanya di akhir percakapan kami. “Kalau saya menenun, saya tidak pakai listrik. Kalau saya kirim foto, itu untuk menjaga hasil tenunan itu tetap dikenal.”

Di matanya, layar dan benang bukan hal yang berlawanan, keduanya alat untuk menyambung kehidupan.

Epilog: Suara dari Tenunan

Beberapa minggu setelah pameran itu, aku membuka media sosial dan menemukan unggahan baru dari Kang Narman: sehelai kain berwarna hijau dan merah muda, di atas meja bambu sederhana, diterangi cahaya matahari sore. Caption-nya pendek saja:

“Dari tangan kami, untuk mereka yang mau ingat alam.”

Aku menatap foto itu lama. Rasanya seperti melihat doa yang difoto. Di dunia yang serba cepat, di mana segala hal bisa dibeli dan dilupakan dengan mudah, tenunan itu terasa seperti napas panjang yang mengingatkan: masih ada orang-orang yang bekerja bukan untuk kejar waktu, tapi untuk menjaga makna.

Dan di antara mereka, ada Kang Narman, lelaki dari Kanekes yang diam-diam menenun jembatan antara tradisi dan teknologi.

Mungkin itulah hakikat dari kemajuan yang sejati: bukan ketika kita meninggalkan akar, tapi ketika kita berhasil menumbuhkannya di tanah yang baru.

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment