Halo, Dian.
Apa kabar hari ini? Aku menulis ini sambil menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang sedikit berbeda dari biasanya. Ada aroma tanah basah dan kesunyian yang khas, kesunyian yang hanya bisa ditemukan di Bondowoso.
Gak nyangka ya, kita sudah sampai di hari ke-28.
Jujur saja, waktu memulai tantangan One Day One Post di awal Januari kemarin, ada secuil keraguan di sudut hati. “Beneran bisa?” atau “Yakin mau komitmen setiap hari?”. Awalnya aku cuma menargetkan 15 artikel saja dalam sebulan, sekadar untuk memanaskan kembali mesin kreativitas yang mungkin agak berkarat. Tapi lihatlah sekarang. Menulis setiap hari dengan tema mindfulness ternyata bukan beban, melainkan proses penyembuhan.
Menulis membuatku lebih sadar akan detak jantung sendiri, akan pikiran yang sering melompat ke sana kemari, dan akan betapa banyaknya hal kecil yang layak disyukuri. Dan sekarang, muncul ide gila: Lanjut tantang diri 365 artikel di 2026? Wah, membayangkannya saja sudah membuat jemariku bergetar antara semangat dan ngeri! Tapi bukankah hidup jadi lebih seru dengan sedikit tantangan yang melampaui batas nyaman?
Tapi sebelum kita melompat ke ambisi setahun penuh, mari kita bicara tentang yang ada di depan mata: Februari.
Menata Niat: Bukan Sekadar List Pekerjaan
Februari sebentar lagi mengetuk pintu. Bagi banyak orang, ini mungkin cuma pergantian angka di kalender. Tapi bagiku, Februari kali ini adalah kanvas kosong yang harus aku lukis dengan niat yang jauh lebih jelas.
Di bulan Januari, kita belajar tentang grounding, tentang bagaimana hadir utuh di sini. Jika kamu lupa, coba baca lagi tulisan kita tentang teknik pernapasan 4-7-8 untuk menenangkan diri. Itu adalah pondasi. Nah, di Februari, aku ingin melangkah lebih jauh. Niat yang jelas (Clear Intention) bukan berarti kita harus punya jadwal yang kaku sampai ke menit-menitnya. Niat yang jelas adalah tentang tahu mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan.
Kenapa aku ingin terus menulis? Kenapa aku ingin hidup lebih sehat? Kenapa aku ingin menyiapkan Ramadan lebih awal?
Ritme Baru di Bondowoso
Aku harus jujur pada diri sendiri, Februari ini akan menantang secara logistik dan mental. Aku sudah berada di Bondowoso sekarang. Ritme kerjaku? Masih abu-abu. Aku belum tahu di mana sudut kopi favoritku, belum tahu jam berapa internet paling stabil, atau bagaimana suhu udara pagi di sini akan memengaruhi semangatku untuk beranjak dari selimut.
Tapi di situlah seninya mindfulness. Alih-alih cemas karena belum punya “rutinitas yang sempurna”, aku memilih untuk berniat untuk fleksibel. Aku ingin menyambut ketidakpastian ini dengan tangan terbuka. Jika ritme kerjaku berubah, ya sudah. Aku akan menyesuaikan napasku dengan ritme Bondowoso yang lebih tenang, lebih lambat, namun tetap bertenaga.
Tema Februari: Kesehatan dan Kesadaran Tubuh
Dian, tubuhmu adalah rumahmu. Di Februari nanti, aku ingin kita lebih mendengarkan apa yang dikatakan oleh rumah ini.Selama ini, mungkin kita terlalu fokus pada kesehatan pikiran sampai lupa bahwa fisik juga butuh perhatian ekstra. Mindfulness bukan cuma soal meditasi duduk diam, tapi juga soal bagaimana kita memperlakukan tubuh.
Ada alasan kuat kenapa aku memilih tema kesehatan bulan depan. Tanggal 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Momen ini seolah menjadi pengingat besar bagiku untuk tidak lagi abai pada sinyal-sinyal kecil yang dikirimkan tubuh. Selama ini, mungkin kita terlalu fokus pada kesehatan pikiran sampai lupa bahwa fisik juga butuh perhatian ekstra. Mindfulness bukan cuma soal meditasi duduk diam, tapi juga tentang bagaimana kita menghargai dan memperlakukan tubuh sebagai bentuk rasa syukur paling nyata atas hidup yang dipinjamkan ini.
Niatku untuk Februari adalah:
- Mindful Eating: Bukan soal diet ketat, tapi soal benar-benar merasakan setiap kunyahan. Menghargai dari mana makanan itu berasal.
- Gerak Sadar: Entah itu jalan kaki pagi di sekitar calon hunian baru di Bondowoso atau sekadar peregangan di sela-sela menulis artikel blog.
- Istirahat Berkualitas: Menghargai sinyal lelah sebelum benar-benar tumbang.
Kesehatan adalah bentuk rasa syukur paling nyata atas hidup yang dipinjamkan ini. Jika fisik kita terjaga, bukankah proses menulis dan berkarya juga akan terasa lebih ringan?
Menuju Ramadan dengan Hati yang Tenang
Februari juga menjadi gerbang persiapan menuju Ramadan. Aku tak ingin Ramadan datang lalu aku gelagapan mengatur waktu antara pekerjaan, ibadah, dan urusan domestik (yang omong-omong, menyetrika tetap jadi hal yang paling tidak aku sukai, ingat kan di artikel tentang pekerjaan rumah tangga kemarin?).
Tahun ini, aku ingin persiapan Ramadan-ku bersifat internal.
- Decluttering Hati: Membuang sisa-sisa dendam, kecemasan, dan ekspektasi berlebih yang kita bawa dari tahun lalu.
- Latihan Sabar dalam Detail Kecil: Menggunakan bulan Februari untuk melatih kesabaran saat menghadapi hal-hal yang tidak sesuai rencana.
- Menata Waktu Ibadah: Mulai membangun ritual kecil yang membuat hati lebih dekat dengan Sang Pencipta, sehingga saat Ramadan tiba nanti, kita tidak lagi kaget. Kita sudah “panas”.
Sebuah Janji untuk Diri Sendiri
Dian, kalau nanti di tengah jalan Februari terasa berat, atau kalau ide tulisan rasanya mampet, tolong baca lagi surat ini.Ingat betapa senangnya kamu saat berhasil menyelesaikan tulisan di hari ke-28 ini. Ingat betapa bangganya kamu saat bisa konsisten di bulan Januari, sesuatu yang awalnya kamu anggap mustahil.
Tentang tantangan 365 hari di 2026? Mari kita tidak terburu-buru menjawabnya dengan logika. Mari kita jawab dengan tindakan sehari demi sehari. Jika menulis satu artikel sehari membuat hidupmu lebih bermakna dan blog dianravi.com bisa memberikan manfaat bagi orang lain, maka lakukanlah. Satu hari satu niat. Satu hari satu napas.
Februari mungkin akan dingin di Bondowoso, tapi pastikan hatimu tetap hangat dengan tujuan yang jelas.
Yours trully,
Dian Ravii
Halo teman-teman pembaca setia! Terima kasih sudah menemani perjalananku di 28 hari pertama tahun 2026 ini. Menulis dengan penuh kesadaran ternyata mengubah cara pandangku terhadap produktivitas.
Kalau kamu, apa niat paling jelas yang ingin kamu bawa ke bulan Februari nanti? Apakah soal kesehatan, karier, atau hubungan dengan orang terkasih? Yuk, berbagi di kolom komentar. Kita kuatkan niat ini bersama-sama.



