Merekam Jejak Progress Rumah: Menanti Kunci dan Cerita di Balik 15% Terakhir

“Rumahnya apa kabar? Udah sampai mana progresnya?”

Itu pertanyaan Mama tiap 2-3 hari sekali saat berkirim kabar via WhatsApp. Sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya mengandung doa, harapan, dan mungkin sedikit rasa tidak sabar dari orang tua melihat anaknya memulai babak baru.

Jujur saja, dari minggu lalu aku sudah berniat menulis tentang progres pembangunan rumah ini. Tapi entah kenapa, setiap kali membuka dashboard blog, jari-jari ini mendadak kaku. Ada rasa bingung mau mulai dari mana.

Mungkin ketahuan ya, kalau curhat di blog sebenarnya is not my style. Ada sisi dalam diriku yang masih merasa kurang nyaman membagikan hal-hal personal secara gamblang.

Namun, di sisi lain, aku sadar bahwa momen membangun rumah adalah salah satu fase besar dalam hidup. Aku ingin bercerita, ingin mengabadikan setiap debu semen dan pemilihan warna cat ini ke dalam tulisan, agar kelak bisa menjadi kenangan tersendiri. Biar nanti, lima atau sepuluh tahun lagi, aku bisa menoleh ke belakang dan berkata, “Oh, begini ya rasanya jungkir balik menyiapkan rumah pertama.”

Jadi, izinkan aku berbagi sedikit “isi dapur” dari rumah mungil kami di Bondowoso.

Progres 85 Persen: Sisa Detail yang Menguras Hati

Secara angka, rumah tipe 90 meter persegi ini sudah mencapai tahap 85 persen selesai. Kalau diibaratkan pelari maraton, kami sudah melewati kilometer terakhir dan sudah mulai melihat gerbang finish. Tapi uniknya, justru di 15 persen terakhir inilah detail-detail kecil mulai terasa menguras energi dan pikiran.

Saat ini, struktur utama sudah tegak berdiri. Atap sudah gagah menaungi, dan lantai pun sudah sebagian besar tertutup rapi. Apa saja yang tersisa?

  • Instalasi Kamar Mandi: Kami punya dua kamar mandi yang saat ini tinggal menunggu pemasangan kloset. Rasanya belum afdol menyebut sebuah bangunan itu “rumah” kalau tempat paling krusial ini belum bisa digunakan, kan?
  • Finishing Cat: Dinding-dinding sudah mulai berwarna, tapi masih butuh sentuhan touch-up di sana-sini agar terlihat sempurna dan tidak ada lagi sisa-sisa bercak semen yang mengganggu estetika.
  • Kusen, Pintu, dan Jendela: Ini yang paling krusial. Pintu dan jendela aluminium masih dalam proses pembuatan. Memang harus sabar, karena urusan presisi aluminium tidak bisa diburu-buru kalau tidak mau ada drama rembes atau tidak pas saat dipasang nanti.
  • Dapur yang Masih “Polos”: Untuk area dapur, backsplash atau ubin dinding kompor belum terpasang. Padahal ini bagian yang paling aku tunggu karena akan menentukan “wajah” dapur tempat aku bereksperimen nanti.

Hari Jumat kemarin aku sempat mampir ke lokasi. Senang sekali melihat kanopi sudah terpasang rapi. Bahkan, para tukang sedang sibuk mengerjakan pagar depan. Melihat pagar mulai naik itu rasanya seperti rumah ini mulai memiliki “identitas” dan privasi.

Drama Toren: Sebuah Kejutan Kecil

Nah, dalam perjalanan membangun rumah, pasti ada saja hal-hal yang “luput” dari perencanaan awal. Salah satunya adalah urusan toren air.

Awalnya aku baru sadar kalau di desain awal dari developer ternyata tidak menyertakan tempat toren. Mungkin bagi sebagian orang, air langsung dari pompa sudah cukup. Tapi karena rencana kami adalah menggunakan water heater (pemanas air), keberadaan toren menjadi wajib hukumnya untuk menjaga kestabilan tekanan air.

Alhasil, kami harus menambah pekerjaan: membuat cor-coran khusus untuk tempat toren. Ini memang tambahan di luar kontrak awal, tapi lebih baik dikerjakan sekarang daripada nanti harus membongkar ulang saat rumah sudah ditempati. Pelajarannya: sedetail apa pun kita melihat denah, pasti ada saja hal teknis yang baru terpikirkan saat bangunan sudah mulai mewujud.

Mengatur Napas di Area Dapur dan Carport

Dapur adalah jantungnya rumah. Untuk urusan kitchen set, aku sudah sempat bertemu dengan vendornya. Sudah ngobrol panjang lebar tentang konsep dan material. Namun, sampai saat ini aku masih menunggu kalkulasi harga dan desain finalnya.

Ada sedikit rasa cemas, tapi lebih banyak rasa berharap. Semoga saja dalam minggu ini kalkulasinya sudah keluar dan proses produksinya bisa langsung dimulai. Rasanya ingin sekali melihat kabinet-kabinet itu terpasang rapi sebelum kami resmi pindahan.

Lalu ada area carport. Sampai saat ini memang belum dikerjakan, tapi kabarnya minggu ini akan mulai digarap oleh pihak developer. Carport ini penting, bukan cuma buat naruh kendaraan, tapi juga sebagai akses utama keindahan fasad rumah.

Gak Sabar Ingin Segera “Main Rumah-rumahan”

Kalau ditanya perasaan, jujur saja: Aku sudah tidak sabar banget!

Ada keinginan yang menggebu untuk segera angkut barang, menata furniture, dan merasakan sensasi “main rumah-rumahan”. Menata letak tanaman, memilih gorden, sampai mengatur isi kulkas. Bondowoso dengan udaranya yang kadang sejuk dan tenang rasanya menjadi latar belakang yang sempurna untuk memulai hidup baru di rumah ini.

Satu keinginan kecilku yang paling kuat saat ini adalah: Mudah-mudahan kami sempat merasakan momen sahur berdua di rumah baru.

Membayangkan menyiapkan makanan sahur pertama di dapur sendiri, duduk di meja makan yang masih baru, dan merasakan ketenangan fajar di rumah hasil jerih payah sendiri… rasanya seperti mimpi yang sebentar lagi nyata. Ada kehangatan tersendiri yang aku bayangkan saat ibadah Ramadhan dilakukan di bawah atap yang kita bangun sendiri.

PR yang Menanti: Taman dan Estetika

Setelah semua urusan developer selesai, sebenarnya tugas aku belum berakhir. Masih ada area taman depan, taman samping, dan taman belakang yang harus dipikirkan.

Aku ingin ada unsur hijau di tengah rumah agar sirkulasi udara dan cahaya bisa maksimal. Tapi untuk urusan taman ini, sepertinya aku harus menahan diri. Mungkin baru akan aku eksekusi setelah serah terima kunci. Biar pelan-pelan saja, sambil merasakan “napas” rumahnya dulu sebelum ditanami macam-macam.

Menulis ini membuatku sadar, ternyata membangun rumah bukan hanya soal menyusun bata dan menyemen lantai. Ini adalah proses melatih kesabaran, mengelola ekspektasi, dan tentu saja, mengelola keuangan dengan bijak. Setiap jengkelnya karena progres yang melambat atau bingungnya memilih material, semua terbayar saat melihat bentuknya yang makin mendekati kata “pulang”.

Sebuah Langkah Kecil

Jadi, untuk Mama yang mungkin nanti membaca tulisan ini: “Ma, rumahnya sudah 85 persen. Sebentar lagi pintu luarnya dipasang, catnya dirapikan, dan kuncinya diserahkan.”

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti perjalanan singkat ini. Mohon doanya ya, agar sisa 15 persen ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Agar urusan kloset, aluminium, toren, hingga carport bisa selesai tepat waktu.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, yang semoga saja sudah berisi foto-foto rumah yang sudah siap ditempati!

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment