Kemunculan “Stecu Stecu” dari Faris Adam terasa seperti kejutan yang pelan-pelan tapi menghantam. Awalnya cuma seliweran di beberapa video pendek, lalu mendadak lagunya ada di mana-mana. Orang yang awalnya cuma dengar sepintas, lama-lama hafal. Bukan karena dipaksa algoritma semata, tapi karena lagunya memang nempel di kepala. Di situlah rahasia mengapa “Stecu Stecu” Faris Adam bisa viral.
Hal pertama yang membuat “Stecu Stecu” cepat menyebar adalah hook yang sangat kuat. Dari awal lagu, pendengar langsung dikasih bagian yang gampang diingat. Tidak muter-muter, tidak kebanyakan intro. Sekali dengar, otak langsung menangkap polanya. Lagu seperti ini cocok dengan cara orang sekarang mengonsumsi musik, cepat, singkat, dan langsung kena.
Rahasia kedua ada di gaya vokal yang santai tapi jujur. Faris Adam tidak terdengar terlalu “dibentuk”. Vokalnya apa adanya, terasa dekat, seperti orang cerita sambil bercanda. Justru di situ daya tariknya. Pendengar merasa ini lagu dari orang nyata, bukan produk yang terlalu dipoles. Kedekatan emosional ini membuat lagu mudah diterima, terutama oleh anak muda.
Ketiga, aransemen yang sederhana tapi efektif. “Stecu Stecu” tidak penuh lapisan instrumen. Beat-nya ringan, ritmenya konsisten, dan ruang vokalnya lega. Kesederhanaan ini membuat lagu mudah dipakai ulang untuk berbagai konten. Mau dipotong 10 detik, 20 detik, atau diputar full, semuanya masih enak. Ini faktor penting dalam ekosistem viral hari ini.
Keempat, permainan ritme yang bikin nagih. Ada bagian-bagian tertentu yang terasa repetitif, tapi bukan membosankan. Justru pengulangan ini yang membuat pendengar tanpa sadar ikut mengulang lagunya. Repetisi yang tepat adalah senjata lama di musik pop, dan “Stecu Stecu” memakainya dengan sangat efektif.
Kelima, identitas yang kuat tanpa terlihat memaksa. Lagu ini punya ciri khas, baik dari lirik, pengucapan, maupun nuansanya. Tapi ciri khas itu tidak ditonjolkan berlebihan. Ia hadir natural. Pendengar tidak merasa sedang “diajari” atau “dipameri”. Ini membuat lagu terasa ringan, mengalir, dan mudah masuk ke berbagai latar belakang pendengar.
Keenam, momentum dan timing yang pas. “Stecu Stecu” muncul di saat banyak orang mencari hiburan yang sederhana, fun, dan tidak berat. Lagu ini menjawab kebutuhan itu. Ketika satu lagu berhasil menangkap suasana zaman, viral biasanya hanya soal waktu.
Kalau ditarik benang merahnya, viralnya “Stecu Stecu” bukan karena satu faktor tunggal. Ini hasil dari keputusan-keputusan kecil yang tepat: memilih hook yang kuat, aransemen yang tidak berlebihan, vokal yang jujur, dan kemasan yang relevan dengan kebiasaan mendengar musik hari ini. Lagu ini membuktikan bahwa tidak harus rumit untuk bisa besar. Yang penting tepat sasaran.
Di bagian paling bawah ini, sedikit catatan saja. Banyak lagu sebenarnya punya potensi seperti “Stecu Stecu”, tapi gagal keluar karena aransemen dan proses rekamannya tidak mendukung. Lingkungan rekaman yang paham karakter lagu bisa membuat ide sederhana terdengar jauh lebih kuat. Escapia Mount Recording hadir untuk membantu musisi menangkap potensi itu, dengan pendekatan yang fokus pada karakter, rasa, dan relevansi karya, bukan sekadar rekam lalu selesai.


aku tau lagu stecu-stecu juga dari backsound video di sosmed yang sering lewat, lama-lama banyak juga penyanyi lokalan yang nyanyi lagu ini dan akhirnya ya tau
banyak lagu baru sekarang yang mungkin pake bahasa daerah di mix gitu, terus cepet viral, karena lirik dan musik juga enak