Rekap Perjalanan Mindfulness 30 Hari: Apa yang Berubah?

Halo, Teman-teman!

Gak kerasa, ya? Hari ini adalah artikel ke-30 dari tantangan one day one post bertema mindfulness yang aku mulai sejak awal Januari 2026. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya baru kemarin aku menulis niat awal untuk lebih “hadir” di setiap detik kehidupan.

Awalnya, aku bikin tema ini karena ingin melatih diri. Aku ingin membiasakan hidup yang lebih pelan, lebih sadar, dan gak melulu dikejar-kejar oleh kecemasan. Tapi, setelah 30 hari berjalan, apakah aku berhasil?

Jujur saja: Masih jauh dari sempurna.

Realita 10 Hari Pertama vs “Grasak-Grusuk” Bangun Rumah

Kalau boleh jujur-jujuran, rasanya cuma 10 hari pertama aku benar-benar bisa menikmati ritme mindfulness ini. Saat itu, segalanya terasa masih di bawah kendali. Aku bisa bangun lebih tenang, menulis dengan fokus, dan benar-benar merasakan napas.Tapi begitu masuk ke minggu-minggu berikutnya, realita menghantam. Karena momen mudik kali ini dibarengi dengan urusan bangun rumah, kepalaku mulai dipenuhi daftar belanja bahan bangunan yang belum terbeli, koordinasi tukang, sampai cuaca yang terus memburuk yang bikin progres proyek jadi terhambat.

Di titik itu, aku mulai kehilangan skala prioritas. Aku kembali menjadi diri aku yang lama: grasak-grusuk, gelisah, dan merasa semua harus selesai dalam satu waktu. Ternyata, menjaga kesadaran di tengah urusan keramik itu levelnya jauh lebih sulit daripada saat kita sedang duduk tenang di pojok kopi.

Menarik Kembali Kesadaran di Tengah Macet Paiton

Meski banyak gagalnya, ada satu perubahan besar yang aku sadari: Aku jadi lebih cepat “bangun”.Dulu, kalau ada hal buruk terjadi, aku bisa kesal seharian. Tapi sekarang, aku punya semacam “rem darurat” di kepala. Contoh paling nyata adalah saat aku terjebak macet total akibat banjir di Besuki kemarin dalam perjalanan mudik ini. Bayangkan, berjam-jam diam gak bergerak! Kendaraan-kendaraan pun berasa parkir di jalan raya.

Awalnya? Jelas panik. Pikiran sudah lari ke mana-mana: “Nanti sampai rumah jam berapa?”, “Gimana kalau urusan rumah jadi terhambat?”. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, aku tiba-tiba tersadar. “Oke, aku gak bisa mengontrol banjir, aku gak bisa mengontrol macet. Yang bisa aku kontrol adalah responku.”

Akhirnya, aku dan suami memilih untuk menepi. Kami beristirahat, mematikan mesin, dan benar-benar mengistirahatkan badan serta mental. Ternyata, menerima keadaan jauh lebih menenangkan daripada melawannya dengan rasa marah yang sia-sia.

Tantangan Terberat: Meja Makan dan Gadget

Nah, ini dia “musuh” terbesarku selama 30 hari ini: makan tanpa memegang ponsel. Ternyata, kebiasaan scrolling sambil mengunyah itu sudah mendarah daging banget. Berkali-kali aku kecolongan, tahu-tahu tangan sudah meraih HP padahal mulut masih penuh makanan.

Lucunya, aku justru menemukan ritme makan yang lebih baik selama menginap di rumah ipar di Bondowoso ini. Lingkungan baru ternyata memberiku suasana yang berbeda. Di sini, suasana makannya lebih tenang, yang secara gak langsung memaksaku untuk meletakkan gadget dan benar-benar menikmati setiap suapan.

Apa yang Benar-Benar Berubah?

Setelah 30 hari, apakah aku mendadak jadi orang yang super tenang bak biksu di puncak gunung? Oh, tentu tidak. Realitanya, aku tetap seorang Dian yang masih bisa overthinking tengah malam, masih sering panik kalau ada material bangunan yang belum sampai, atau mendadak bad mood kalau cuaca lagi gak kompromi buat beraktivitas di luar.

Tapi, ada pergeseran halus di dalam sini. Sesuatu yang kecil, tapi dampaknya luar biasa besar buat kewarasan mental aku. Ada tiga hal utama yang benar-benar berubah:

1. Berdamai dengan “Si Pengkritik” di Kepala

Dulu, aku adalah musuh terbesar bagi diriku sendiri. Kalau aku gagal disiplin, atau ada hari di mana aku merasa “gak mindful banget,” aku bakal down parah. Rasanya seperti gagal ujian. Muncul suara-suara di kepala: “Gimana sih, katanya mau latihan mindfulness tapi kok masih grasak-grusuk?”

Sekarang, aku mulai belajar untuk mematikan suara si pengkritik itu. Aku sadar kalau mindfulness itu bukan kompetisi siapa yang paling tenang, dan bukan juga soal nilai sempurna. Ini adalah soal observasi.Kalau hari ini aku gagal, ya sudah. Aku belajar melihat kegagalan itu sebagai awan yang lewat aja. Gak perlu ditarik, gak perlu diratapi. Cukup disadari, tarik napas lagi, dan mulai lagi. Ternyata, bersikap baik pada diri sendiri adalah kunci supaya latihan ini gak jadi beban baru di tengah padatnya urusan bangun rumah.

2. Menemukan “Alarm” di Tubuh Lebih Cepat

Ini perubahan yang paling terasa secara fisik. Dulu, aku baru sadar kalau aku stres setelah kepalaku pusing atau maag-ku kumat. Sekarang, berkat latihan 30 hari ini, aku jadi punya “sistem deteksi dini” yang lebih sensitif.

Aku mulai peka pada sinyal-sinyal kecil. Misalnya, saat lagi koordinasi sama tukang atau mikirin budget bangunan yang membengkak, aku tiba-tiba sadar kalau bahuku mulai naik menegang sampai ke telinga, atau napasku mulai pendek-pendek.

Dulu sinyal ini aku abaikan sampai meledak. Sekarang? Begitu bahu terasa kaku, aku langsung ambil jeda. Berhenti sebentar, tarik napas panjang, atau sekadar minum air putih sambil melihat langit Bondowoso yang luas. Jeda 5 menit ini ternyata lebih ampuh daripada kopi mana pun untuk mengembalikan fokus.

3. Merayakan “Ruang Antara”

Hal paling “ajaib” yang aku rasakan adalah cara aku memandang waktu tunggu. Jujur saja, menunggu itu membosankan. Menunggu hujan reda supaya tukang bisa kerja lagi, menunggu material datang dari luar kota, atau puncaknya: terjebak macet 6 jam di Besuki.Dulu, momen-momen “di antara” seperti ini aku anggap sebagai waktu yang terbuang sia-sia (waste of time). Aku biasanya bakal scrolling HP sampai pusing atau ngomel-ngomel sendiri.

Tapi sekarang, aku mencoba mengubah “waktu tunggu” menjadi “waktu jeda”. Menunggu macet atau hujan bukan lagi gangguan, tapi kesempatan untuk kembali ke diri sendiri. Aku belajar menikmati suara rintik hujan, memperhatikan napasku sendiri, atau sekadar mengamati lingkungan sekitar dengan lebih detail. Ternyata, saat kita berhenti mengejar waktu, dunia justru terasa lebih luas dan tenang.

Perjalanan Baru Dimulai

Tiga puluh hari ini hanyalah bab pembuka. Meskipun tantangan one day one post bertema mindfulness ini selesai secara teknis di artikel ke-30, praktiknya akan terus berlanjut seumur hidup. Apalagi selama beberapa bulan ke depan aku masih akan di Bondowoso memantau rumah impianku selesai.

Terima kasih ya buat kamu yang sudah mengikuti tulisan-tulisanku selama sebulan ini. Semoga dari kegagalanku dan sedikit keberhasilanku, ada hal yang bisa kamu ambil manfaatnya.

Sampai ketemu di tulisan-tulisan berikutnya dengan tema yang mungkin lebih beragam, tapi tetap dengan semangat yang sama: hidup dengan lebih sadar.

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment